Skenario Hidup Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Hujan yang deras ini adalah saksi bisu yang menyaksikan kali pertama kita menangis bersama, dan saksi bisu yang menyaksikan kita tertawa bersama sambil bermain air untuk yang kesekian kalinya. Kita memang segila ini kan? dari awal kita memang berteman karena sama tidak warasnya, aku tersenyum kecil. “Tifanny! Ayo kita melompat ke sungai!” Teriak Arini salah seorang temanku dengan rambut pendek sebahu.

Aku mengangguk dan berlari ke arah mereka, seragam sekolah kami basah kuyup orang-orang pasti mengira kami adalah para siswa SMA yang memiliki masa kecil yang kurang bahagia. “Ah aku tidak peduli!” Pikirku masih sambil berlari ke arah jembatan tanpa mempedulikan orang-orang yang memperhatikan kami. Masalah yang kami tangisi sebelumnya telah lenyap entah ke mana seperti tidak pernah terjadi saja, begini cara kami hidup, aku membenarkan letak kacamataku.

“Hei.. hei… yang sampai ke air paling lambat harus traktir sup hangat yah!” Ujar Eza seorang gadis berambut panjang dengan Twaintail di sebelah kanan dan kirinya. Kami berlima mengangguk tanda setuju. “eh…tapi bukankah itu artinya aku yang ringan akan kalah?” komentar Fanny yang badannya memang paling kecil di antara semuanya, aku tersenyum geli.
“Itu deritamu” Stella berpendapat sambil tersenyum kemenangan.
“Jahat!” Fanny memasang wajah manyunnya.
“Kalian siap?” Kali ini Gennie membuka suaranya. “Ayo hitung!” ujarnya, aku hanya mengangguk setuju.

1.. 2.. 3..

Byurrrrr!!! mereka berenam tanpa ragu terjun ke sungai yang dingin melalui jembatan penyeberangan, belum lagi hujan belum benar-benar berhenti, orang-orang yang lalu-lalang hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka yang sangat kekanakan.
“Eh… Kacamataku hilang?” ujarku, semuanya sontak menoleh ke arahku, dengan keadaan masih di dalam Air yang gila dinginnya, lalu kami semua tertawa.
“Mungkin kacamatamu tidak suka dipakai oleh orang bodoh” Eza berkomentar pertama kali.
“Hei, padahal jelas-jelas rankingku yang paling atas di antara kalian semua!” aku membela diri dengan ranking 11-ku itu.

“Kalau terus bercanda kita tidak akan menemukan kacamata Tifanny, bisa-bisa kita dicincang Ayahnya” ujar Stella membenarkan situasi.
“Eh?” yang lain langsung memandang Stella.
“Apa Ayahmu semengerikan itu?” Mereka semua mendadak bertanya padaku, aku lalu tersenyum licik.
“Di kehidupan ini. Ayahku memang adalah seorang tukang cincang” ujarku menakuti mereka.
“Yang serius?” Fanny bertanya dengan wajah takut-takut, aku mengangguk mantap.
“Kemarin saja Ayahku sudah menjagal banyak kepala” ujarku menambahkan, membuat suasana tegang di antara semuanya.

“Ah… aku tidak percaya!” Arini yang masih rasional dengan mudah menyangkal itu, “Palingan juga tukang cincang Daging” tambahnya. Aku tersenyum lebar “PING… PONG” ujarku membuat semuanya langsung menyerangku dan mendorongku menyelam ke dalam air. “Hei.. hei…Tifa bisa mati!” Stella meminta semuanya untuk menyudahi kegiatan itu.
“Habisnya!” lagi-lagi Eza mengeluarkan komentarnya.

“Ah… aku menemukanya!” Fanny berujar sambil mengangkat sebuah kacamata, dia memang tidak ikut-ikutan mengerjaiku. ‘teman yang pengertian’ pikirku.
Lalu kami semua naik ke permukaan, setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing untuk makan sup di rumah sendiri-sendiri, yah kau tahu? kami lupa melihat tentang siapa yang kalah, jadi anggapp saja semuanya seri.

Aku membuka pintu rumahku, di dalamnya sangat sepi dan berantakan. ‘mereka berkelahi lagi?’ pikirku. Aku lalu berjalan ke ruang cucian dan mencuci bajuku. Sekali lagi air mata jatuh, rasanya hatiku sangat sakit mengingat semua masalah yang menggandrungiku. Ayah dan Ibu yang bertengkar setiap hari, dengan kata cacian di setiap kalimatnya. Ku dengar Ibu sedang mengurus surat cerai dan Ayah pulang ke kampung halamannya.

Belum lagi uang SPP-ku belum dibayar dan aku diancam sekolah tidak akan bisa mengikuti semester selanjutnya jika masih tidak membayarnya sampai liburan selesai. Ke mana aku harus mencari uang untuk bulanan itu? Ah! aku benci. Aku lalu memakan Mi instanku, sangat hangat dan nyaman, mungkin akan lebih baik jika aku tidak pulang ke rumah. Aku lalu duduk di kursi ruang tamu menunggu Ibu pulang dan mengatakan tentang uang sekolahku. Aku terus menunggunya.

Sejam.. Dua jam.. Tiga jam.. Empat jam..

Aku menunggunya sampai mataku tak bisa dibuka lagi. “Ibu… cepat pulang..” gumamku sambil memandangi Televisi yang menampilkan acara malam yang tidak ku mengerti. Aku lalu terbangun di keesokkan paginya. Ibuku masih belum pulang. Aku melihat sekeliling rumah ku benar-benar berantakan dan tidak terurus. Aku mulai mengambil vakum cleaner dan membersihkannya agar saat pulang nanti Ibu tidak akan marah-marah. Aku juga mencuci semua pakaian di ruang mencuci dan memasak nasi untuk membuat omrice. Ayah pernah bilang dulu saat aku kelas 3 SMP kalau Omrice buatanku sangat enak.

Ting.. Nong..

Bel rumahku ditekan seseorang. Mustahil itu Ibu atau Ayah karena mereka memiliki kunci sendiri. Aku lalu berjalan ke depan pintu dan membukanya, ternyata seorang Kurir yang mengantarkan sebuah Surat, tanpa membukanya pun aku sudah tahu Surat apa itu. Pasti Surat cerai yang dibuat Ibu, dan apa maksud kurir tadi? Seharusnya ini diambil kemarin langsung oleh yang bersangkutan, tapi karena tidak bisa dihubungi jadi dia mengantar langsung ke rumah. Aku kembali duduk di depan televisi sambil memakan Omrice yang ku buat, bagian untuk Ibu dan Ayah ku masukkan di kulkas agar nanti kalau mereka pulang dan lapar bisa langsung dihangatkan, aku masih menunggu Ibu.

Ting.. Nong..

Aku bangkit dan membukakan pintu, ah! ternyata mereka rasanya aku lebih hidup.
“Hey.. Tiffa! kenapa Hp-mu tidak aktif ku pikir kau mati!” Eza berujar seperti biasa.
“Kau tidak lupa kan kalau hari ini kita akan jalan-jalan?” Arini mencoba memojokkanku yang masih memakai pakaian casual, aku memukul kepalaku.
“aku Lupa!” Pekikku lalu mempersilahkan mereka masuk, sedang aku bersiap-siap.
“Tiffa! aku minta minum!” teriak Gennie dari dapur sambil membuka kulkas dan mengambil Cola.

“Fanny… kau kalah lagi” ujar Eza, lalu menyentil kepala Fanny karena kalah bermain game VS online di gadget mereka. “Ada apa Stella?” tanya Arini, ketika melihat Stella agak aneh.
“hmm Tidak ada..” ujar Stella, jelas-jelas dia menyembunyikan sesuatu.
Aku lalu ke luar dengan pakaian yang lebih baik lengkap dengan sebuah topi di rambut panjangku. Kami lalu berjalan ke luar dan bermain di banyak tempat. Mulai dari taman hiburan, karaoke, game center dan bermain sepeda semuanya terasa sangat menyenangkan.

“ini…” ujar Stella menyerahkan sebuah es krim padaku, dan bisa ditebak semuanya sudah belepotan dengan es krim apalagi Eza yang memang konyol dari sananya.

Aku lalu melirik sebuah Televisi yang terpampang di Game center, betapa terkejutnya aku melihat berita itu. “Sepasang suami istri ditemukan Tewas di danau, diduga karena si suami ingin menyelamatkan istrinya, berikut foto mereka dan kartu identitas yang ditemukan di lokasi.” aku terduduk terkulai lemah. Ini tidak salah lagi. Es krim yang ku pegang jatuh bersamaan dengan air mata lututku gemetar.

Teman-temanku melihat ke arahku dan melirik berita itu lalu mereka semua mendadak memelukku dan menutup telingaku. “Jangan dengarkan lagi.” bisik Eza yang menutup telingaku. Gennie lalu memelukku erat dan tak berkata apa-apa. “Mereka sudah pulang… kau tidak perlu menunggu mereka lagi.” ujar Stella, Arini, dan Fanny ikut memelukku dan tak mengatakan apa-apa, atau lebih tepatnya tidak sanggup mengatakan apa-apa.

“Ibu, Ayah. Kenapa kalian malah pulang ke sana? bukanya ke rumah kita?” Tanyaku sendiri.

Cerpen Karangan: Rahimatus Sania
Facebook: Rahimatus Sania

Cerpen Skenario Hidup Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inilah Hidup Ku

Oleh:
Perkenalkan nama ku Riana Dewi, panggil aja aku ana. Aku terlahir dari keluarga yang biasa, dan aku mempunyai kakak perempuan, serta adik laki-laki. Tapi kakak ku sudah lama menikah

Memandang Lewat Matamu

Oleh:
Aku bisa merasakan betapa dingin tangannya. Aku juga bisa mendengar alat pendeteksi detak jantung dengan nada putus putus di sampingnya. Entah di samping mana. Kiri atau kanannya aku tidak

Memori

Oleh:
Hari masih gelap, tetapi sekolah sudah terlihat ramai. Hari itu murid-murid kelas 3 akan berdarmawisata, sekaligus akan mengadakan acara perpisahan di Sukabumi. Aku dan teman-teman pagi-pagi sekali sudah tiba

Karena Kita Sahabat

Oleh:
“Tya?” Aku menolehkan kepalaku ke arah orang yang memanggilku. Oh, itu Ibuku. “Ada apa, Bu?” Aku menghampirinya, membantunya mencuci piring bekas makan siang kami. “Besok Disa dan Werli kesini.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *