Sono Ame no Hi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 1 May 2017

Hari ini hujan rintik-rintik. Suasana suram masih menyelimuti langit Februari. Jendela kaca di kamar rumah sakit nomor 107 ini berembun karena hujan dan juga hawa dingin di luar sana. Meski aku berada di ruangan yang berpenghangat, seolah-olah masih bisa merasakan udara beku di luar sana. Pandanganku beralih ke sosok yang terbaring diam di atas ranjang khas rumah sakit lengkap dengan infus, alat bantu pernafasan, dan berbagai peralatan penunjang hidup lain yang terpasang di sosok itu. Ia tak bergeming, hanya dadanya yang dulu bidang itu terlihat naik turun, menunjukkan kalau ia masih bernapas. Menunjukkan kalau dia masih hidup.
Dilihat dari segi manapun (jika tanpa semua alat dan selang-selang yang terpasang di tubuhnya) laki-laki yang terbaring di depanku ini tampak seperti orang yang sedang tidur pulas. Wajahnya tampak tenang dan tanpa beban, seolah-olah ia terjebak dalam mimpi panjang yang begitu indah sehingga ia enggan untuk bangun. Namun dia telah sangat lama tidur. Terlalu lama.

Sebuah papan putih kecil bertuliskan ‘Sasaki, Torao – 27’ tergantung di kaki ranjang. Dan Sasaki Torao ini adalah kakakku yang sudah sepuluh tahun lamanya ‘tertidur’ dan tak kunjung bangun. Sepuluh tahun yang lalu, dan aku masih ingat kejadian mengerikan itu seperti baru kemarin terjadi. Hari dimana aku kehilangan seorang pelindung, hari dimana aku melihat seragam gakuran milik kakakku yang tersemat pita kelulusan berlumur merah.

“Hei, hei! Bangun Torao! Jangan tidur sembarangan di tengah lantai begitu!” suara ibu terdengar lantang dari ruang tamu. Aku sedang asyik menonton TV di ruang keluarga bersama kak Naomi. Aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar sedangkan kak Naomi duduk di kelas 2 SMP. Kami adalah tiga bersaudara dan kak Torao adalah anak sulung di keluarga kami, dia sudah menyelesaikan pendidikan SMA-nya dan besok adalah hari upacara kelulusan.
“Bangun Torao! Jangan tiba-tiba ambruk dan tidur sembarangan dengan seragam sekolah dan juga sepatu masih dipakai begitu!” omelan ibu terdengar lagi dan hanya terdengar gumamman tidak jelas dari kak Torao. Aku yang penasaran akhirnya mengintip ke ruang tamu dan kulihat kakak sulungku itu sedang tidur dengan posisi tengkurap lengkap dengan seragam sekolah dan sepatu di tengah lantai ruang tamu. Aku geli melihat tingkah kakakku itu, namun akhirnya ia mau bangun juga setelah ibu mati-matian menyeretnya dari ruang tamu menuju ke ruang tengah.
“Aku lelah bu… ada banyak persiapan ini itu… gladi bersih upacara kelulusan… bla.. bla.. bikin capek saja!” keluh kak Torao setelah akhirnya bangun dan melepas sepatunya.

Kakak laki-lakiku adalah seorang remaja tujuh belas tahun yang bertubuh tinggi, dengan rambut hitam cenderung kecoklatan dengan potongan agak cepak, badannya cukup berotot karena ia ikut klub Kendo dan dia juga pernah ikut Karate waktu SMP dulu, alis yang cukup tebal dan menukik tajam serta mata yang dalam membuat penampilannya cukup sangar.
“Tapi bukan berarti kau bisa tidur sembarangan begitu kan? Dasar.” Kak Naomi menimpali dari depan TV. Kakak perempuanku ini berperawakan sedang, berwajah bundar dan cantik, rambutnya panjang dan hampir selalu dikuncir. Karena kecantikannya itulah, sering kali ada teman laki-laki yang mendekatinya dan tentu saja mereka akan segera lari terbirit-birit setelah mendapat satu tatapan tajam dari kak Torao. Karena hal ini juga yang membuat kedua kakakku ini sering bertengkar. Pada dasarnya mereka memang sering bertengkar, meskipun hanya karena hal-hal kecil. Kak Naomi memang gadis yang cerewet dan kadang-kadang galak.
“Cerewet kau Naomi. Daripada duduk-duduk tidak berguna begitu mending kau cucikan kaos kakiku saja. Nih!” dan secara mengejutkan kak Torao melemparkan kaos kaki kotornya ke arah kak Naomi yang berteriak jijik. Aku tertawa melihat kejadian itu tapi malah mendapat lemparan kaos kaki kotor dari kak Naomi. Dan meletuslah perang lempar-lemparan kaos kaki yang akhirnya dihentikan oleh ibu.

“Torao, Naomi, Takeshi! Hentikan itu atau kalian tidak dapat jatah makan malam.” Dan tentu saja kami semua langsung menghentikan peperangan itu. Meski kak Torao dan Naomi masih saling mengancam.
“Torao! Pergi mandi sana! Dan Naomi bantu ibu menyiapkan makan malam! Takeshi, bantu ibu mengupas wortel! Ayah kalian sebentar lagi pulang jadi hentikan semua keributan ini.” Mendengar hal itu kami pun bergegas melaksanakan tugas masing-masing. Kami semua setuju bahwa Ayah yang marah adalah hal yang menakutkan. Ayah kami seorang pegawai kantor biasa dengan gaji yang tidak seberapa. Kami memang bukan keluarga kaya, namun kami adalah keluarga yang bahagia. Tapi siapa sangka kebahagiaan kami akan berakhir, tak lama lagi.

“Kak Tora, cepat sedikit sarapannya! Aku bisa terlambat!” kak Naomi berteriak dari ambang pintu depan. Kami sudah siap berangkat sekolah dan tinggal menunggu kak Torao yang masih sarapan karena bangun kesiangan. Kami akan berangkat sekolah bersama, memang tidak biasanya. Tapi entah kenapa hari itu kami ingin berangkat sekolah bersama-sama.
“Iya, iya! Aku sudah selesai makan! Ayah, ibu, ittekimasu!” terdengar teriakan kak Torao dari dalam rumah.
“Itterasshai!” ayah dan ibu menjawab serentak.

Kami berjalan bertiga, dengan diwarnai pertengkaran kecil antara kak Torao dan kak Naomi. Kak Torao bertugas mengantarku dulu karena sekolah kami yang berdekatan. Di tengah persimpangan jalan kami bertemu dengan pemuda yang tampaknya seorang siswa SMA, aku tidak tahu dari SMA mana tapi sepertinya salah satu teman kak Torao yang pernah main ke rumah memakai seragam yang sama. Penampilan pemuda itu sangat modis, dengan gaya rambut yang mirip artis dan senyumannya yang mengembang begitu melihat kakak perempuanku. Kak Naomi pun kelihatan sangat berbunga-bunga dan kak Torao berwajah muram.

“Selamat pagi, Naomi.” Sapa pemuda itu dengan riang. “Selamat pagi, Sou.” Jawab kak Naomi dengan tersipu-sipu. Dia tampak sangat senang bertemu dengan pemuda itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa jadi aku hanya diam sambil memegangi ujung baju seragam kak Torao. Lalu sepertinya pemuda itu menyadari keberadaan kami dan menengok ke arah kami dengan senyuman terpaksa.
“Selamat pagi,” sapanya kepada kami. “Selamat pagi,” aku menjawab salamnya namun kak Torao hanya diam dan menatap pemuda itu. Kak Naomi yang menyadari itu buru-buru berdeham. Namun bukannya menjawab salam pemuda bernama Sou itu, kak Torao malah bertanya dengan suara rendahnya yang menakutkan.
“Ada urusan apa kau dengan adikku, Nakamura?”
“Aku mau mengantarnya.”
“Apa hubunganmu dengan Naomi sampai mau mengantarnya segala?”
“Aku pacarnya.”
Dan tanpa basa-basi sebuah pukulan mendarat di wajah tampan Sou. Aku terkejut bukan kepalang bahkan kak Naomi sampai memekik kaget.
“Kau! Jauhi adikku!” Kak Torao berkata sambil menunjuk ke arah Sou yang tersungkur di jalanan.
“Kakak! Apa yang kau lakukan!?” kak Naomi berteriak marah dan segera menghampiri Sou dan membantunya berdiri. “Kau tidak apa-apa?” Sou hanya menggeleng namun wajahnya jelas-jelas menahan sakit. Kak Naomi dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca menengok ke arah kak Torao.
“Kakak! Teganya kau memukul Sou tanpa alasan!” ia berteriak kepada Kak Torao.
“Berapa kali aku harus bilang untuk menjauhinya Naomi! Dia bukan laki-laki baik-baik!” kak Torao menjawab tajam.
“Darimana kau tahu dia bukan laki-laki baik-baik hah!? Dari mana!? Kau selalu mengaturku! Kau selalu merusak kebahagiaanku! Dasar kurang ajar! Kau bukan kakakku!” dan dengan itu ia melenggang pergi bersama Sou yang masih meringis kesakitan namun tidak berani menatap apalagi melawan kak Torao.
“Naomi! Naomi tunggu dulu!” kak Torao berusaha memanggil kak Naomi namun ia sama sekali tak menggubris dan pergi begitu saja meninggalkan kami di persimpangan jalan.

Dengan wajah suram kami pun melanjutkan perjalanan dalam diam. Jujur saja waktu itu aku sangat takut melihat kak Torao yang tiba-tiba memukul pemuda itu dan sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku tak berani memandang wajah kak Torao.

“Nah, baik-baik di sekolah. Aku nanti yang akan menjemputmu.” Kak Torao berkata padaku begitu kami tiba di depan gerbang sekolah. Aku hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum kepadanya dan waktu itu aku melihat kak Torao juga tersenyum kecil meski gurat kekhawatiran samar-samar terlihat di balik senyumannya. Setelah menepuk bahuku dengan cukup keras, ia pun berlari pergi menuju sekolahnya. Aku memandangi punggung seragam gakuran kakakku itu sampai sosoknya menghilang dari pandanganku. Entah kenapa waktu itu aku merasa takut.

Bel terakhir tanda sekolah usai sudah berdentang, namun hujan turun dengan derasnya di luar sana. Dengan menghela nafas panjang aku pun bersiap-siap untuk pulang.
“Takeshi, kau sedang menunggu ibumu ya?” tanya Bu Guru Tanaka saat melihatku berdiri sendirian di teras depan sekolah sambil menatap gerbang. “Tidak, aku sedang menunggu kak Torao. Hari ini dia akan menjemputku.” Jawabku sedikit bergumam.
“Ooh, begitu. Ditunggu di dalam kantor saja. Di sini dingin, nanti kamu bisa masuk angin lho.” Kata bu guru dengan nada khawatir.
Aku memang sudah menunggunya cukup lama dan dia tidak muncul-muncul juga. Lalu aku teringat bahwa hari itu kak Torao tidak membawa payung karena buru-buru berangkat, jadi kupikir ia tidak bisa segera ke sini karena terjebak hujan.

“Sepertinya kakak saya lupa bawa payung, bu. Jadi saya saja yang akan ke sekolahnya.” Kataku pada bu guru.
“Apa tidak apa-apa ke sana sendiri hujan-hujan begini? Perlu ibu antarkan? Sekolahnya di SMA Murasaki Utara kan.” Bu Tanaka menwarkan. Namun aku menolaknya karena aku merasa sudah besar dan berani.
“Saya berani sendiri kok bu. Lagipula sekolahnya di dekat sini. Oh, tapi karena kakak saya lupa membawa payung, apa saya boleh pinjam payung sekolah? Payungku kecil jadi tidak akan muat untuk kami berdua.”
Dengan senyuman hangat Bu Tanaka pun mengambilkan sebuah payung dari dalam kantor dan berpesan agar aku hati-hati. Dengan semangat untuk menjemput kakakku yang lupa membawa payung di musim hujan itu, aku melangkah pasti menuju SMA Murasaki Utara.

Hujan masih saja turun, namun sudah tidak sederas tadi. Aku berjalan sambil menggumamkan lagu kartun favoritku dan saat melewati sebuah gang kecil aku melihat sesuatu yang teronggok di tengah gang. Ketika aku memperhatikan dengan lebih jelas betapa terkejutnya, ternyata itu adalah seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Aku nyaris berteriak dan berlari kembali ke sekolahku untuk meminta bantuan namun sesuatu menghentikanku. Sosok itu seorang laki-laki, seorang siswa yang yang memakai seragam gakuran SMA Murasaki Utara, sebuah pita kelulusan yang ternoda darah tersemat di dadanya, dan sebuah tas sekolah tergeletak begitu saja di sampingnya. Darah bercampur air hujan tergenang di sekitar kepala orang itu, lalu aku mengenalinya.
Kak Torao.

Aku tak terlalu ingat apa yang selanjutnya terjadi. Ada begitu banyak hiruk pikuk, sirine ambulans, teriakkan, jeritan, tangisan dan deru hujan semuanya bercampur menjadi satu. Aku ingat kak Naomi menangis histeris di depan pintu ruang operasi, ibu yang berusaha menenangkannya namun juga terisak-isak sendiri, ayah yang terus menerus mengelus kepalaku namun pandangannya menerawang jauh, dan aku yang bersandar membisu di bahu ayahku. Hatiku hancur hari itu. Namun aku tidak menangis. Belum. Dan ketika aku melihat kembali wajah kakakku yang selalu kuat itu tergolek lemah dengan mata terpejam di ranjang rumah sakit, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menangis dan terus menangis sambil memohonnya untuk bangun. Aku memohon agar dia bangun seperti tidurnya yang biasa dan berkata ‘Oh, sudah pagi ya?’. Lalu kami akan kembali bercanda bersama, makan bersama, memancing bersama, tertawa bersama…
Namun itu cerita sepuluh tahun yang lalu. Dan dia tak juga bangun dari tidurnya.

“Takeshi, makanlah dulu. Kau dari tadi belum makan kan? Ini ibu membawa bentou.” Suara ibu membuyarkan lamunanku. Aku menengok ke arahnya dan kudapati ibuku yang tampak semakin tua dan lelah namun seulas senyum samar menghiasi wajahnya yang mulai keriput.
“Nanti saja, bu. Aku sudah makan di kereta tadi.”
“Kau harus makan lagi biar tumbuh tinggi dan gagah seperti…” kata-kata ibu terhenti.
“Seperti kak Tora.” Sebuah suara yang familier terdengar. Seorang wanita cantik yang membawa seikat bunga mawar putih berdiri di depan pintu dan menatap lembut kak Torao lalu tersenyum kepada kami.
“Naomi!” ibu berseru bahagia dan segera memeluk erat kakakku yang yang kini sudah bekerja di sebuah bank di Yokohama itu. Dia tidak tinggal bersama ayah dan ibu lagi, begitu juga aku yang sekarang kuliah di Tokyo namun kami berkunjung kemari sesering mungkin, untuk bertemu ayah dan ibu juga kakak sulung kami.

“Kukira kau tidak jadi datang,” ibu berkata setelah melepaskan pelukannya dari kak Naomi.
“Tentu saja aku datang untuk menemui kakak dan adikku yang usil itu,” katanya sambil menunjuk ke arahku dan kak Torao. Aku menjulurkan lidahku ke arahnya dan dia membalasnya. Ibu tertawa kecil melihat tingkah kami.
“Kalian memang tak berubah.” Tukasnya geli. “Baiklah, ibu mau keluar sebentar ya. Biar kalian berdu- bertiga bisa bertengkar dengan bebas.” Dan ibu pun meninggalkan kami. Suara debam pelan pintu yang terbuka lalu tertutup terdengar, kemudian sunyi.

“Hari ini hujan terus ya,” kak Naomi berkata sambil berjalan pelan menuju meja kecil di samping ranjang, lalu mengganti bunga lily yang sudah layu di atas meja itu dengan mawar yang dibawanya. Rambut panjangnya tergerai, wajah bundarnya tampak lelah dan bibirnya agak bergetar. Entah karena hawa dingin atau apa aku tidak tahu.
“Kau baik-baik saja kan, Kak Tora?” ia bertanya pada kak Torao yang tentu saja tidak menjawab lalu menyentuh pipinya yang cekung dengan lembut. “Aku rasa kau baik-baik saja, cuma semakin kurus saja.” katanya sambil tertawa kecil lalu ia pun duduk di sampingku.
“Kau sehat kan Takeshi?” tanyanya padaku yang masih sedikit bengong. “Oh, ya. Tentu saja.” jawabku sedikit terkejut. “Kakak sendiri?” Kak Naomi tersenyum lalu tanpa kuduga-duga mengacak rambutku. “Aku selalu sehat, Takeshi-kun!” jawabnya riang.
“Kau sudah besar ya sekarang, “ kak Naomi berkata sambil memandangku. “dan semakin mirip kak Tora.” Lalu dia tertawa sendiri. Wajahku sedikit memerah karena kata-katanya itu, dan aku mengernyitkan dahi. “Tapi wajah dan suaraku tidak sesangar kak Torao.” Sangkalku dengan wajah serius namun akhirnya aku ikut tertawa juga.
“Tampangnya memang sangar, tapi dia sebenarnya orang yang sangat baik.” Wajah kak Naomi tiba-tiba berubah sedih. “Seorang kakak yang sangat baik.” Sebutir air mata jatuh dari mata kak Naomi, dan dia pun mulai terisak.
“Tapi aku bukan adik yang baik. Aku tak pernah mau mendengarkan nasehatnya. Ka-kalau saja, kalau saja aku..” kata-katanya terpotong dan dia mulai menangis. Air matanya jatuh berderai-derai, bibirnya bergetar hebat, tangan dan bahunya gemetaran, dia berusaha menangis tanpa suara. “Maaf… maafkan aku… kak Tora… kakak…” Aku merangkul bahunya dan menepuk-nepuknya dengan lembut. “Ini bukan salahmu kak, ini bukan salahmu.”

Hatiku terasa sakit melihat kakakku itu menangis untuk entah keberapa kalinya. Ia selalu menangis saat berkunjung ke sini, dia menganggap ini semua kesalahannya dan terus-menerus meminta maaf. Orang yang membuat kak Torao mengalami koma selama sepuluh tahun ini adalah Nakamura Sou. Mantan pacar kak Naomi. Dialah orang yang membayar beberapa berandalan untuk menghajar kak Torao, dialah orang yang membuat kami kehilangan sosok kakak yang senantiasa melindungi kami. Sou merasa kesal karena kak Torao selalu berusaha menghalanginya untuk berhubungan dengan kak Naomi. Karena kak Torao tahu, Sou adalah laki-laki jahat yang memiliki tujuan buruk kepada adik perempuannya meski dulu kak Naomi tak pernah percaya. Hingga hari itu.
Polisi berhasil menangkap para berandalan itu, juga berhasil mengorek informasi dari mereka bahwa Nakamura Sou-lah yang menyuruh dan membayar mereka untuk memberi pelajaran kepada Sasaki Torao. Menurut pengakuan mereka, mereka tidak bermaksud membuatnya terluka sampai seperti ini, namun karena kak Torao membela diri dengan sangat tangguh, salah satu dari mereka memukul kepalanya dengan sebuah pipa besi dari belakang. Melihat korbannya tersungkur dalam genangan darah dan tak bergerak lagi, mereka pun melarikan diri. Meninggalkan kak Torao terkapar di tengah hujan sampai aku menemukannya.

“Ka-kalau… kalau sa-saja aku mendengarkannya… kalau saja a-aku menjauhi laki-laki itu…” kata-kata kak Naomi terbata-bata di sela isak tangisnya. Aku terus memeluk sambil menenangkannya. Kami semua menyesali kejadian ini, namun apa daya. “Sshh.. jangan menangis kak. Kita sekarang hanya bisa berharap dan berdoa agar kak Torao segera sadar dan kembali bersama kita. Jangan terus menyesali masa lalu, dan jangan terus-menerus menyalahkan dirimu, ya? Kak Torao pasti tak ingin melihatmu seperti ini.” kak Naomi tak menjawab tapi hanya mengangguk sambil berusaha menghentikan tangisannya. Setelah itu kami terdiam. Yang terdengar hanya isakkan kak Naomi yang semakin mereda dan bunyi alat pendeteksi detak jantung yang terpasang di tubuh kak Torao.
“Aku mau ke kamar mandi dulu.” Kak Naomi buru-buru berdiri dan meninggalkan kamar. Langkah kakinya semakin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi. Suasana kembali sepi.

“Kau tak ingin melihat kak Naomi terus seperti itu kan, kak?” Aku bertanya pada satu-satunya orang yang masih ada di ruangan itu. “Cepatlah bangun. Aku mohon.” Tak ada reaksi. Kak Torao masih terbaring diam dengan mata terpejam. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu ketika aku menangis dan memintanya untuk bangun. Dengan menghela napas panjang aku bangkit dari dudukku.
“Aku keluar sebentar,”
Setelah sekali lagi memandang wajah kakakku itu, aku berbalik hendak menuju pintu kamar. Namun, aku menangkap sesuatu dengan ekor mataku. Aku kembali menengok ke tempat dimana kak Torao terbaring, dan aku melihatnya. Jari tangan kak Torao bergerak. Sekali, dua kali, dan semakin jelas bahwa itu bukan cuma imajinasiku saja. Aku segera mendekati ranjang kak Torao dan dengan tangan gemetar aku menggenggam tangannya. Air mataku jatuh tak terbendung lagi.
“Nii-san?” suaraku nyaris hanya sebuah bisikkan.

Perlahan kelopak matanya terbuka, dan sepasang bola mata cokelat tua yang sudah begitu lama tersembunyi itu berkilat-kilat di bawah cahaya redup dari jendela kaca. Setelah berkedip beberapa kali mata kak Torao memandang ke arahku. Suaraku tercekat, aku hanya bisa menangis sambil tersenyum kepadanya. Meski dari balik alat bantu pernafasan, aku berani sumpah kak Torao berkata
“Oh, sudah pagi ya?”

The End

Cerpen Karangan: R. Safir
Facebook: Not all who wander are lost

Cerpen Sono Ame no Hi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepotong Donat Untuk Ayah

Oleh:
Hari ini hujan mengguyur tidak terbendung, sekitar pukul tiga subuh Ia mulai turun hingga pukul sepuluh siang ini belum juga reda. Mungkin benar, seperti yang diberitakan oleh media-media minggu

Ketika Ibu Menangis

Oleh:
Aku adalah anak terakhir dari 5 bersaudara, keempat kakak ku semuanya sudah menikah dan bekerja di luar kota. Kini rumah terasa begitu sepi semenjak kepergiaan Ayah 2 tahun silam.

Kontes Dangdut Semilyar (Part 2)

Oleh:
Dan, starting with kunci nada. Satu minggu untuk menghafal dan menghayati dengan story lagu dari sang empunya. Setelah pembubaran kelas hari ini, aku mulai mendekati Farhan. Hanya untuk sekedar

Hormati Ayah

Oleh:
Senandung adzan mengiang-ngiang di telinga menandakan umat muslim untuk solat, namun aku tak memperdulikannya. Menutup telinga dengan guling layaknya mendengarkan musik pop dengan headphone. Belum usai suara adzan, Ayah

Telephone Number 1

Oleh:
“boleh ya.. please…” ucap Liza di depan Zaldi sambil memohon. “nggak ah aku nggak mau..” ucap Zaldi acuh, padahal ia ingin sekali memberikannya pada anak tomboy di depannya ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Sono Ame no Hi”

  1. Violet D Viola says:

    Sugoi! Ini baru yg namanya cerita

  2. Yukinoshita says:

    Sugoi!!! WE LOVE KAK TORAO!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *