Sophia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 January 2019

“aku tidak mau menanggung malu ini sendiri. kau juga harus merasakannya” ucap Laras membelakangi Endra.
Hening tanpa ada sahutan dari Endra.
“kau besarkan bayi ini. Pastikan dia tetap bersamamu sampai aku menemuimu. Jangan buat dia melupakanku. Beri dia nama Sophia Narendra. Suatu saat aku akan kembali untuknya” sambung Laras.
“apapun. Apapun itu akan aku lakukan untuk kita” ucap Endra memandang mata indah bayi yang digendongnya.

Sekelebat kenangan 6 tahun lalu mengurai pikiran Laras. Selama 6 tahun itu buah hatinya besar tanpa buaiannya. Rasa sesal terkadang menguasainya. Perasaan berdosa karena hamil diluar nikah dan meninggalkan anaknya. Setelah kejadian itu ia tak lagi tahu bagaimana ia harus menata hidupnya. Sampai akhirnya Sania datang membantunya menyusun kembali serpihan kehancuran hidupnya.

Di depan jendela kaca apartmen lantai 13 itu, bocah kecil Endra yang kini sudah besar tengah tertegun. Rambutnya terurai panjang dan kulitnya putih bersih. Endra memang cukup pandai berperan sebagai ‘ibu’ untuk Sohia, meski tidak sepenuhnya.
“ting” suara lift berhenti. Biasanya itu adalah tanda bahwa Endra sudah pulang.

Mbak Kasih, pembantunya yang begitu setia melayani Endra dan putrinya, mulai saat dia masih bujang sampai kini dia sudah menikah dan suaminya juga ikut bekerja dengan Endra, membukakan pintu untuk tuannya dan diikuti suaminya dibelakang Endra. Tidak seperti biasanya, Sophia hanya tetap pada posisinya tanpa menyambut kedatangan ayahnya.

“sayaaang” ucap Endra menghampiri Sophia.
Sophia memalingkan badannya. “ayah, apa ibu sudah mati?”
Semua orang di ruangan itu terkejut. Bagaimana mungkin anak sekecil itu melontarkan pertanyan demikian. Aahh.. tapi itu tidak terlalu aneh juga bagi anak yang sekian lama atau bahkan selama hidupnya kini tak pernah melihat ibunya.
“jika benar. Maukah ayah mengantarkan aku pada ibu?” sambung Sophia.
“tidak, sophia…”
“ayah tidak mau?” potong Sophia. “ayah gak sayang sama ibu dan Sophia” sophia berlari ke kamarnya dan mengunci pintu.
Endra mengejarnya dan mengetuk pintu berharap Sophia membukakan pintu untuknya.

“sophia, maksud ayah, ibu tidak mati. Ibu masih hidup. Dan ibu pernah berjanji pada ayah bahwa dia akan kembali untuk sophia” Endra menjelaskan sepotong ucapan Laras.
Sophia membuka pintu kamarnya dan memeluk ayahnya. Terasa sekali kerinduan seorang anak pada ibunya, apalagi Sophia belum pernah sedikitpun memandang wajah ibunya.

Pagi ini terasa ada yang berbeda di ruang keluarga Endra. Sophia antara terkejut dan bahagia serta terus memandangi foto perempuan, ada yang sendirian dan ada yang bersama dengan ayahnya yang terpampang di dinding dan meja.
“apa ini ibu?” tanya sophia pada dirinya sendiri.
“benar, sayang. Ibu cantik kan?” jawab Endra yang tiba-iba datang di belakangnya dan memeluknya.

Di sekolah, Sophia membawa foto ibunya dan terus memandangnya. Dengan senyum kecil dan dengan lembut dia mengelus wajah ibunya di foto itu. Rasa rindu Sophia sedikit terobati meskipun seharusnya dia benar-benar berada dipelukan ibunya saat ini.

Derai hujan membasahi jendela bus kota bahkan tak jarang partikelnya menembus kaca jendela. Dengan senyum kecil dan sedikit rasa resah, Laras memandangi foto yang ia selipkan di buku hariannya. Ada dirinya dan Endra sewaktu mereka masih kuliah. Nampak wajah bahagia dari kedua belia itu hingga bahagia itu membuat mereka lupa diri. Laras sebenarnya sangat mencemaskan keadaan Sophia karena dia hanya meminum air susu darinya selama 2 bulan. Anak yang minum ASI sampai batas waktu yang ditentukan saja kadang bermasalah, apalagi Sophia yang hanya 2 bulan. Itu menambahkan rasa sesal dalam hatinya.

Saat ini ia tak punya tujuan untuk tinggal, kecuali di rumah mendiang orangtuanya di Sukabumi. Rumah ini nampak tidak buruk. Rumah ini selalu dirawat oleh mbok Tin, tetangganya yang ia pesani untuk menjaga rumah ini sampai ia kembali. Wajah berkeriput itu masih memiliki kekuatan darah muda. Entah apa rahasianya. Laras mencium tangannya yang beraroma melati. Sudah seperti anak sendiri, mbok Tin memeluk Laras dan membelai rambutnya seakan beliau tahu beban dalam hati Laras. Karena beliau percaya bahwa tidak ada anak muda di kampung itu yang akan pulang tanpa masalah. Bukan kutukan tapi memang sudah sering terjadi. Laras salah satunya.

Laras mulai membuka ingatannya untuk mulai melacak keberadaan Endra dan putrinya. Karena ia merasa inilah saatnya ia datang untuk peri kecilnya. Bu Listi adalah orang yang muncul dalam pikirannya. Beliau adalah pemilik kost, tempat Endra tinggal semasa kuliah dulu. Pagi ini Laras segera pergi ke Bogor untuk menemui bu Listi. Beruntung dia masih sempat bertemu dengan bu Listi walau beliau duduk di kursi roda.

“kalau kontak atau alamat terakhir Endra, ibu tidak tahu. Dia tiba-iba pergi dan meninggalkan uang sisa kostnya. Itu terjadi 6 tahun lalu. Ibu tidak tahu apa yang terjadi padanya dulu. Tapi ibu punya alamat Iwan, teman 1 kamarnya. Kabar terakhir Iwan sudah berkeluarga dan dia sudah menetap di Lampung. Cukup jauh memang. Tapi jika masih di negara sendiri tidak akan terasa jauh kan?” ucap bu Listi menceritakan kesedihannya karena Endra adalah orang yang sangat disayangi olehnya. “ini alamatnya” sambung bu Listi sembari memberikan secarik kertas bertulliskan alamat Iwan, sahabat Endra. Laraspun juga sangat dekat dengannya. Tapi berita buruk itu tak didengar oleh siapapun, hanya Endra dan Laras saja yang tahu. Pandainya mereka menutupi rahasia seerapat dan serapi ini.

Booking tiket sudah selesai, Laras tinggal terbang besok ke Lampung. Berharap perjalanannya kali ini membuahkan hasil yang baik. Mengingat Iwan adalah sobat dekat Endra, kemungkinan besar Iwan tahu dimana Endra. Dihari yang sama, Endra berencana datang ke rumah Iwan di Lampung dengan harapan yang sama, inginnya sih curhat aja minta solusi gimana caranya ia bisa mempertemukan anaknya dengan ibunya. Namnya juga bos, mau curhat aja kalo emang butuh banget pasti didatangi walau arus ke Lampung sekalipun. Di Lanud yang sama mereka landas. Hampir saja mereka bertemu karena hanya saling membelakangi tapi karena Sophia menjatuhkan bonekanya ketika sedang mengantre untuk mengambil tas ranselnya, alhasilmereka tidak jadi bertemu saat itu juga. Tiba-tiba Sophia ingin ke kamar mandi. Di kamar mandi antrean cukup banyak sehingga tidak mungkin Endra ikut menemani Sophia ditengah kerumunan wanita. Untung saja Sophia anak yang pemberani jadi dia tidak merengek minta ditemani ayahnya ke kamar mandi. Sophia sudah berada diurutan kedua dari antrean tiba- tiba ada ibu-ibu yang menyerobot antrean.

“ibu kok nyerobot antrean sih? kan saya duluan” ucap Sophia memberontak.
“masih kecil marahin orang tua” jawab ibu itu tidak mau mengalah.
Laras yang berada di antrean belakang mendengar pertengkaran mereka. Dia langsung menghampiri mereka.
“ibu tidak seharusnya seperti itu ya! apa ibu tidak malu dengan anak kecil yang rela antre hanya untuk buang air sedangkan ibu yang sudah berumur yang seharusnya mengajari anak-anak untuk berbuat tertib justru menyorobot antrean? Sekarang biarkan dia masuk atau saya panggilkan security agar ibu dipermalukan di sini?” ucap Laras memberitahu ibu itu dengan suara agak tinggi.
Ibu itu pun akhirnya kembali ke posisinya semula.

“tante, nanti tante ikut aku ya ketemu sama ayah aku karena tante udah nolongin aku?” ajak Sophia.
“ya udah kamu masuk dulu. Kalau udah nanti kamu tunggu di bangku depan toliet itu ya. Kan tante masih antre” jawab Laras sembari membelai rambut Sophia dan kembali ke belakang.

Laras sudah selesai. Benar, Sophia benar-benar menunggu Laras di depan toilet. Laras sungguh kagum dengannya ternyata anak ini menepati janjinya.
“udah, sayang” ucap Laras.
Sophia masih saja memandangi Laras yang masih berdiri dihadapannya. Memandangi wajah Laras, sekedar menoleh ke kanan dan ke kiri. Hampir mirip dengan foto ibunya. Tapi itukan foto enam tahun yang lalu, pastinya sudah sangat berbeda dengan sekarang. Yang masih sedikit mirip itu bagian mata dan lesung pipit sebelah kanan.
“ayo tante ikut aku” ucap Sophia menggandeng tangan Laras.
Mereka berjalan menuju ruang tunggu di bandara. Nampak Endra tengah menelepon Iwan bahwa ia sudah berada di Lampung dan akan datang ke rumahnya.

“ayah, ini ada tante yang nolongin aku” ucap Sophia sambil menarik baju Endra dari belakang.
Endra menutup teleponnya dan menoleh kebelakang. Badannya lemas seketika, matanya terbelalak, bahkan handphonenya sampai jatuh berceceran. Laraspun begitu terkejut. Ternyata anak yang dia tolong, yang menunggunya, yang membawanya pada ayahnya adalah Sophia. Mereka bersama-sama memandang Sophia. Inilah yang mereka harapkan dari sekian jauh perjalanan mereka. Mereka dipertemukan dengan tujuan yang sama, bertemu dengan Iwan.

“kenapa ayah sama tante liatin Sophia?” tanya Sophia yang bingung karena ia menjadi sorotan dari dua pasang mata yang ternyata ayah dan ibunya.
Endra yang tersadar, sekejap memandangi wanita yang berada disamping putri kecilnya dengan mulut sedikit terbuka. Rasanya seperti mimpi, mereka dipertemukan dengan cara yang indah.

“mas Endra?” ucap Laras yang masih melotot memandang Endra yang sekarang menjadi pria yang super rapi dengan balutan kemeja yang disetrika dengan klimis.
“ayah…” ucap Sophia membangunkan ayahnya dari lamunan.

Endra langsung mengangkat putrinya dalam pelukannya dan segera meraih Laras, mendekap mereka dalam hangatnya pelukan yang sama. Tentu saja, air mata tumpah ditengah hangatnya pertemuan antara ibu dan anak plus dengan ayahnya yang dulu adalah kekasihnya. Penuh dengan rasa haru, rindu, dan tak pernah terbesit rasa benci dalam hati Sophia pada Laras karena ia tak pernah hadir dalam hidupnya sampai dia tumbuh sebesar ini. Meskipun dulunya banyak ‘tante’ yang hendak mencoba menggantikan ruang yang masih ‘kosong’ di hatinya untuk ‘ibu’ yang tak kunjung kembali menepati janjinya. Tapi ia lebih memilih bermain dan dirawat ayahnya sendiri walau kadang dibantu dengan Mbak Kasih. Mbak Kasih kan disini kerja, bukan mau merebut posisi ibu.

“jadi kalian sudah bertemu. Lalu sekarang pikirkan rencana indah untuk membahagiakan Sophia. Karena ia tidak mungkin menyaksikan ayah dan ibunya berpisah lagi” ucap Iwan menggoda mereka setelah mereka mengungkapkan semua hal yang terjadi pada mereka.
“menikah?” Laras dan Endra saling berpandangan.
“demi Sophia” ucap Iwan lagi.

Di rumah Iwan mereka menyusun sebuah rencana yang indah untuk pernikahan mereka. Laras ingin sahabatnya, Sania menyaksikan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Seketika itu dia video-call an dengan Sania dan menceritakan semuanya, mulai saat ia kuliah, saat ia terpuruk, hingga dia membangun semuanya dengan bantuan sahabatnya ini. Dan Laras juga meminta Sophia untuk menyalami Sania.

“halo, tante Sania. Aku Sophia. Ibuku cantik kan? dia sangat baik dan kuat” sambil menunjukkan model otot lengan pada Sania. Antara bahagia dan sedih mendengar lika-liku perjalanan sahabatnya. Bahagia karena kini sahabatnya mendapatkankan bahagia yang sempet ‘macet’ di jalan gara-gara ‘lupa dirinya’ itu. sedihnya ya itu tadi, kisahnya tragis. Pakai acara ‘lupa diri’.

Cerpen Karangan: Noviatun One Aziz Zah

Cerpen Sophia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Surah Untuk Kepergianku

Oleh:
Senja kembali menghadirkan warnanya yang indah, warna merah dengan kuning keemasan dan memantulkan cahayanya di lautan hingga tidak nampak lagi lautan biru. Angin meniup kerudungku seakan ingin membawanya bersamanya,

Lighter (Part 1)

Oleh:
Ku temukan janji manis dari kumpulan kata-katanya, teduh dari gema suara baritonnya. Seperti gulali dari toko manisan di depan rumah, manisnya mengikat lidah. Seperti pohon besar menjulang tinggi di

Mother, I Love You

Oleh:
Tak pernah terbayangkan jika aku akan kehilangan sesosok wanita yang melahirkanku. Namaku Lia, aku memiliki seorang ibu yang sangat lembut dan baik hatinya bak seorang bidadari yang tak bersayap,

Tangisan Seorang Ibu

Oleh:
Namaku Adinda Adya Shinta, kalian bisa memanggilku Dinda, aku sekarang ini masih duduk di bangku kelas 1 SMP, aku tinggal bersama ayah dan ibuku, kebetulan aku anak tunggal loh.

Kebahagiaan Singkat

Oleh:
Ini kisah tetang alasan dibalik nama gue. Nama gue boleh lo panggil Randy. Gue siswa salah satu SMA di Jakarta. Dari gue kecil gue selalu di tanya arti nama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *