Spesial Dari Tuhan Di Hari Ulang Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 December 2015

Cairan bening berhasil meloloskan diri dari bendungan di mataku. Tubuhku lemas. Diriku merasa telah tak memiliki tempat untuk bersandar lagi. Ucapan–ucapan tajam yang saling dilontarkan oleh Papa dan Kakak dalam pertengkarannya masih terekam di kepalaku. Aku menguatkan diriku sendiri. Pertengkaran seperti ini memang sudah biasa dan kadang terjadi secara tak terduga.

Tapi mengapa? Mengapa harus hari ini? Mengapa hal ini terjadi pada hari dimana seharusnya mereka mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ dengan bibir yang tertarik ke atas dan nada gembira. Mereka justru tak memedulikanku. Aku melihat sekeliling. Halaman rumah yang menyimpan memori indah kini terasa berbeda. Seperti keluarga ini, yang mulai berubah sejak kejadian 3 tahun lalu.

“Kejora, Ayo sini!” seru Mama dengan nada riang yang membuyarkan lamunanku karena tidak dipedulikan oleh siapa pun sepanjang hari ini.
“Ada apa, Ma?”
“Kucing kesayanganmu lepas dari kandang. Ayo kejar bareng Mama! Jangan sampai kucingnya ke luar pagar!” Ajak Mama dengan nadanya yang menghibur dan menyemangati seperti biasanya.
“Ayo, Kejora! Ayo kejar kucingnya!” ucap Mama dengan suara nan halus dan nada penuh semangat.

Tangannya menggandeng tanganku, berlari mengejar seekor kucing putih mengelilingi halaman. Aku yang lincah dan selalu tersenyum mempercepat lari. Tawaku dan Mama menggema di halaman tersebut. Tawa tersebut semakin riang saat aku berhasil memeluk kucing tersebut.
“Hap! Ma, Kejora berhasil! Ahahaha!”
“Yeay! Mana tangannya?”

Telapak tanganku pun menepuk telapak tangan Mama yang berada di bawahnya. Kemudian giliran telapak tanganku yang berada di bawah ditepuk olehnya. Setelah itu, kami memegang hidung satu sama lain. Dengan bibir yang tertarik ke atas, dan mata yang menyipit, Kami menikmati kebersamaan ini. Dua laki-laki berusia 11 dan 37 tahun datang menghampiri kami. Mereka adalah Kak Andro dan Papa. Kak Andro membawa dua buah kotak kado berwarna biru dan merah. Sedangkan Papa membawa sebuah kue cokelat dengan lilin berbentuk angka 7.

“Selamat Ulang Tahun, Kejora!” ucap Papa, Mama, dan Kak Andro serempak.
Mama yang pertama kali memberi kecupan dan pelukan untukku. Mulutku semakin ke atas dan melebar. Ku keluarkan tawa riangku. Kemudian Papa menghampiriku bersama pelukan hangatnya dan sebuah kecupan. Aku tak menyangka kejutan ini. Apalagi sejak tadi, Kak Andro dan Papa sibuk memperdebatkan suatu hal (yang menurut pendengaranku lebih pantas disebut masalah) tanpa memedulikanku. Jujur, sebenarnya aku bahkan tak ingat kalau hari ini adalah ulang tahunku.

“Yang biru ini dari Kak Andro. Kalau yang merah dari Papa. Ini!” ucap Kak Andro sambil memberikan kadonya.
“Makasih, Pa… Makasih juga, Kak!”
“Kejora..” ucap Mama sambil melepaskan kalung dengan berlian putih keunguan dari lehernya.
“Ini kalung dari Nenek. Walaupun terlihat sederhana, tapi ini spesial bagi Mama. Sekarang, Mama kasih ini ke kamu sebagai hadiah ulang tahun. Kejora suka?”
“Iya, Ma!” ucapku sambil mengangguk. Wajah cantik Mama yang tersenyum membentuk bayangan di mataku.
“Sekarang, buka dulu hadiah dari Papa sama Kak Andro,” ucap Papa.

Tanganku mulai merobek kertas yang membungkus kado dari Papa. Tampak sepasang sepatu roda yang selalu ku impikan. Aku menunjukkan senyum kagum kepada Papa yang sudah tersenyum mendahuluiku. Mataku bergeser dari wajah Papa ke kado yang diberikan Kak Andro. Kertas biru berpola polkadot yang menyelimuti kado tersebut mulai ku robek. Benda berwarna merah muda yang biasa disebut jam weker menampakkan dirinya. Aku pun tersenyum senang bercampur jengkel.

Aku senang karena Kak Andro menepati janjinya untuk membelikanku jam weker. Tapi, aku juga merasa jengkel mengingat tujuan Kak Andro membelikannya agar dia tak perlu mengomeliku yang selalu bangun terlambat. Saat tiba waktunya makan kue, kami saling bergurau. Aku dan Kakak bermain coret-coretan krim kue. Sedangkan Mama dan Papa tertawa melihat tingkah kami. Sungguh, Hari Ulang Tahun ketujuhku merupakan hari penuh canda tawa dan kasih sayang yang paling spesial.

“Kamu jadi anak itu yang baik, jangan bantah orangtua aja!”
Terdengar suara Papa yang keras dan bernada kasar memarahi Kak Andro. Suara tersebut membuyarkan lamunanku mengenai kenangan indah 3 tahun lalu.

“Papa sendiri aja bukan orangtua yang baik! Gimana bisa Papa nasihati anaknya jadi orang baik? Lagian, aku lebih baik dari Papa!” kini giliran Kak Andro yang mebentak. Air mataku menetes semakin deras. Tanganku memegang kalung yang dulu diberikan mendiang Mama kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku yang ketujuh. Ulang Tahun ketujuh… aku baru saja melamunkan kenangan indah itu. Kebersamaan, tawa, gurauan, dan kasih sayang memenuhi momen spesial itu. Tapi sayang, kini hal itu hanyalah kenangan semenjak Mama pergi untuk selamanya. Tepatnya seminggu setelah momen indah itu. Mama meninggal saat menyelamatkanku dari tabrakan mobil.

Tidak ada lagi Keluarga Harmonis. Tak ada lagi tawa dan canda gurau. Yang ada hanyalah pertengkaran dan keluhan Kak Andro mengenai sikap Papa yang kurang peduli. Kedekatan Kak Andro dengan Mama sama dengan kedekatanku dengan Mama juga. Sehingga Kak Andro kurang bisa menerima sikap Papa yang agak berbeda dari Mama. Mama. Mengingat kata itu, aku langsung menuju ke luar pagar. Seperti biasa, aku pergi ke makam Mama. Langkah kakiku tak karuan, sama seperti pikiranku yang berantakan dan hanya berisi kesedihan.

Hujan tiba-tiba mengguyur tubuhku. Bekerja sama dengan air mata untuk membasahi wajahku. Pandanganku semakin kabur, isak tangisku semakin kencang. Saat berada di tengah perempatan, aku baru mendengar suara klakson mobil yang sepertinya sudah dari tadi memperingatkanku. Namun, terlambat. Aku melongok ke arah mobil itu. Dan, brraakkk… Aku terguling. Darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuhku dan mulai berceceran di aspal. Mataku menutup secara perlahan. Aku tak sadarkan diri.

Aku merasa seperti terbangun, tidak… tidak… aku tidak merasa mataku terbuka. Ku rasa ini hanya mimpi. Namun, suasana ini terlalu sepi untuk dikatakan sebagai mimpi. Selama ini, mimpiku selalu mengenai hal-hal yang aneh. Namun di sini, sangat sepi, tak ada suara. Tunggu! Aku mendengar suara, seperti nada yang naik, dan semakin mendekat. Aku berusaha memfokuskan diriku untuk mengetahui di mana aku berada. Aku merasa semakin sadar. Hanya ada satu ruang di sini. Ruang penuh cahanya yang semakin terang bersamaan dengan naiknya nada tersebut. Aku merasa mengenal nada itu. Oh, aku ingat! Tiba-tiba cahaya tersebut membundar, seperti portal. Mengeluarkan seorang perempuan, perempuan yang paling berharga dalam hidupku.

“Mama!” ucapku senang sembari meneteskan air mata.

Wanita tersebut hanya mengangguk sambil menampilkan senyum halusnya yang khas. Dia semakin mendekat. Mengelusku. Dia seakan membuatku mendengar pikirannya. “Jadilah anak yang baik, bantulah orang lain. Tuhan telah memberikan cahaya untukmu. Supaya Bintang Kejora dapat bersinar lagi, bahkan lebih terang,” ucapnya. Aku mengangguk. Walaupun belum begitu memahami maksudnya. Aku merasa sangat bahagia. Senyumnya semakin lebar. Namun, tiba-tiba cahaya tersebut seakan menghisapnya. Ia melambaikan tangan. Senyumnya seakan tak bisa lepas.

Matahari kini telah datang lagi. Mengusir mendung yang dulu menyelimutiku. Canda gurau yang telah lama terkubur kini terdengar kembali. Yaa… di balik musibah pasti ada hikmahnya. Kecelakaan yang menimpaku menyadarkan Papa dan Kakak mengenai sifatnya. Mereka kini berlomba-lomba untuk memperbaiki keburukannya masing-masing. Tak ada lagi bentakan, atau hinaan. Yang ada hanyalah tawa, kasih sayang, dan rasa syukur. Terima kasih, Tuhan… telah memberikan anugerah di hari ulang tahunku. Aku memahami pesan Mama, “Jadilah anak yang baik, bantulah yang lain. Tuhan telah memberikan cahaya untukmu. Supaya Bintang Kejora dapat bersinar lagi, bahkan lebih terang,” Tuhan mempertemukanku dengan Mama kembali di hari ulang tahunku.

Aku patut bersyukur dengan cara memanfaatkan anugerah yang diberikan-Nya untuk membantu orang lain. Lebih tepatnya, orang yang sudah meninggal untuk menyampaikan pesan mereka kepada orang yang berharga. Walaupun terkadang aku merasa takut karena melihat hal yang menyeramkan. Namun, keluargaku selalu berada di sisiku. Merekalah yang menyebabkan Bintang Kejora bersinar lebih terang. Terima kasih, Tuhan untuk segalanya.

Cerpen Karangan: Yuliani Setyo Wilujeng
Facebook: Yiping

Cerpen Spesial Dari Tuhan Di Hari Ulang Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Surah Untuk Kepergianku

Oleh:
Senja kembali menghadirkan warnanya yang indah, warna merah dengan kuning keemasan dan memantulkan cahayanya di lautan hingga tidak nampak lagi lautan biru. Angin meniup kerudungku seakan ingin membawanya bersamanya,

Mother, I Love You

Oleh:
Tak pernah terbayangkan jika aku akan kehilangan sesosok wanita yang melahirkanku. Namaku Lia, aku memiliki seorang ibu yang sangat lembut dan baik hatinya bak seorang bidadari yang tak bersayap,

Anak Kerbau

Oleh:
“Kasian juga aku liatnya, Mak.” ujarku. Isteriku tak menyahut, ia asik mengaduk nasi dalam periuk. Aku menghisap rokokku dan mengepulkannya ke atas. Daguku terangkat tinggi, kepalaku bersandar ke daun

Sebuah Kisah Klasik

Oleh:
Kuraih sebuah buku hitam berlapis debu, Tertera sebuah tulisan di sampul buku yang sudah sangat kumuh termakan oleh waktu. Kubersihkan beberapa debu yang menutupi tulisan tersebut. “Perpisahan”, Buku tersebut

Di Saat Ku Diabaikan

Oleh:
Di suatu perkotaan, tinggallah sabuah keluarga sederhana, keluarga tersebut beranggotakan 5 orang. Yaitu ayah, bunda, kak ramadhan (kakak pertama), kak chintia (kakak kedua), dan amel (aku). Keluarga ku terkadang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *