Step Mother (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 12 May 2019

Tasha dan Cika adalah dua sahabat yang tak terlepas dari setiap perdebatan yang selalu timbul di tengah-tengah mereka dari hal yang sangat sepele sampai hal-hal yang mereka anggap tidak tabu. Tahsa yang keras kepala dengan hati yang sedingin es sedangkan Cika dengan argumentnya yang dari feel of heartnya. Dua perbedaan antara fikiran dan hati yang menjadikan keduanya saling menutupi satu sama lain atau saling bersimpang jalan.

“Tas, lo yakin nanti malem nggak mau dateng?”
“Gue sibuk, Cik.”
Cika memutar matanya malas dengan alasan Tasha yang selalu seperti itu tiap kali Cika membujuknya untuk makan malam dengan ayah dan pacar ayahnya.
“Kurang kreatif alasan lo. Sibuk, sibuk, sibuk, sibuk mulu.”
“Habisnya gue males. Dan gue nggak sudi liat mukanya.” Tasha menjatuhkan punggungnya ke kursi dan menaruh cola yang tinggal setengah gelas di atas meja bundar kecil di antara mereka.
“Lo kan belum kenal sama dia. Siapa tahu dia emang baik kaya yang bokap lo omongin.”
Tasha terkekeh. “Baik?,” memalingkan pandangan ke penjuru caffe. “emangnya lo udah pernah ketemu sama tuh cewek? Baru setahun cik. Ini bahkan masih terlalu awal tapi bokap gue udah mau nyari penganti nyokap gue. Baru juga kering kuburannya.”

Jauh di dalam sana, dengan perasaan yang selalu menghangatkan Tasha. Cika selalu mengambil andil kekosongan Tasha dari sudut pandang seorang teman. Tapi seorang Tasha dengan sifat digin semenjak kematian ibunya sudah menutup rapat hatinya pada sosok pria. Hatinya sudah terlalu sakit akibat ulah ayahnya yang belum lama ini mengenalkannya dengan pacar barunya sekaligus sekertaris pribadinya di kantor. Sang ayah memang tak pernah memaksa Tasha untuk langsung menerima Lisa sebagai pacar ayahnya, yang mungkin nanti akan dijadikannya ibu untuk Tasha. Ayah Tasha awalnya tak pernah berkeinginan untuk menjalin hubungan lagi, namun melihat perubahan dari putrinya yang sangat manis dan ceria menjadi pendiam dan menyendiri setelah kepergian istrinya, dia memikirkan dua kali untuk mencari sosok ibu bagi anaknya. Yang bermula pada alasan itu dan berakhir ditambah alasan lain, suka.

“Tas, dengerin ayah dulu!” Ayah menarik tangan Tasha yang beranjak dari meja makan. “Ayah minta maaf kalo buat kamu sedih. Tapi ini juga demi kamu nak. Kamu kebanggaan ayah dan kamu jadi pendiam, ayah tahu kamu selalu kangen sama ibu. Tapi ayah juga nggak mau kamu kehilangan kasih sayang seorang ibu. Ayah nggak mau kesibukan ayah nantinya akan menjadikan kamu kesepian dan jauh dari Tasha ayah yang dulu.”
Tasha menatap ayahnya sedih namun penuh ketajaman dan ayah melepaskan tangan putrinya, mengangkat tangannya menyerah.
“Oke. Ayah nggak akan maksa kamu. Tapi setidaknya fikirkanlah ayahmu ini. Suatu saat nanti kamu pasti akan memilih jalanmu sendiri dan hidup dengan keluargamu sendiri. Lalu ayah? Ayah hanya nggak mau jadi beban kamu nanti.”
Tasha menatap ayahnya tercengang dengan penuturan sang ayah. Tasha tahu benar ayahnya melakukan itu untuk dirinya, tapi yang tak pernah terfikir olah Tasha suatu hari itu pasti akan tiba. Dan kenapa Tasha harus meninggalkan ayahnya? Darimana ayahnya berfikiran dirinya akan meninggalkan sang ayah seorang diri. Dengan sekuat tenaga Tasha menahan gejolak dalam dadanya yang terus berperang dengan dirinya. Wajahnya sudah memerah menahan air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk matanya.

Baru juga membuka pintu. Tasha lagi-lagi harus dibuat marah dengan kegaduhan di dalam ruang tengah. Ditemukannya ayahnya duduk berdua di atas sofa ditemani sosok siluit tinggi cantik dengan pembawaan yang anggun menyandarkan tubuhnya di atas sofa keluarganya. Ditemani laki-laki seusianya yang duduk tak jauh dari mereka. Tertawa bersama.
Rahang Tasha mengeras dengan kepalan tangan di tali tasnya. Matanya rasanya panas melihat pemandangan aneh di depannya. Sesak di dadanya. Ingatanya berputar bagaimana seharusnya tempat itu milik ibunya seorang. Dia, ayah, dan ibunya. Bukan perempuan tak dikenal.

“Tasha!”
Tasha tersentak dengan panggilan ramah laki-laki seusianya yang berdiri menuju ke arahnya dengan senyum lebar. Namun hanya dibalas dengan tatapan datar milik Tasha. Dan diteruskan dengan kepergian Tasha pergi ke kamarnya tanpa suara.

Setelah menutup pintu, Tasha menjatuhkan tasnya di ambang pintu dan merosot di samping ranjangnya. Kedua tangannya saling berpaut bertumpu pada kedua kakinya yang ditekuk ke dadanya. Pautan tangannya ditempelkan di keningnya berharap rasa pening di kepalanya terasa ringan.

Diputarnya kembali ingatan saat dia mendatangi seorang teman. Sebelum kepulangannya Tasha dan Cika sore tadi dari caffe, Cika menyarankan Tasha bertemu dengan Andre yang notabennya seorang psikiater. Ragu-ragu Tasha menerima tawaran Cika tapi Tasha mendatangi Andre di rumah sakit.

“Eh Tas, ayo masuk!” sapa Andre di kursinya kepada Tasha yang berdiri di ambang pintu.
Tasha duduk dengan senyum simpulnya. Matanya menangkap tak seorangpun di kantornya. “Asisten lo ke mana?”
“Baru keluar tadi setelah pasien terakhir.”
“Lo udah mau pulang, ya?”
“Sebenernya sih satu jam lagi tapi udah nggak ada pasien, jadi aku mau pulang. Tapi tadi Cika telfon aku katanya kamu mau kesini jadi ya nanti aja sekalian lah.” Andre mengangkat bahunya.
“Oh, Cika?”
“Ya, jadi?”
“Jalan aja yuk! Ngobrol di luar aja.”

Di tengah-tengah jalanan jakarta, Tasha merasa sedikitnya beban meringan melihat banyaknya manusia berlalu-lalang di hadapannya. Mengingatkannya sekali lagi dengan ucapan sang ayah yang suatu hari nanti pasti dari ribuan orang di depannya akan menjadi kekasih ataupun suami baginya, mengingatkannya bahwa tidak ada kemungkinannya dia kesepian walau di dalam hatinya dia ingin memiliki sedikit ruang untuk dirinya tetap sendiri. Namun di sisi lain pula dia akan diingatkan di dalam dirinya nanti yang tidak kesepian ayahnya yang akan kesepian tanpa adanya dirinya yang mungkin suatu hari akan sibuk dengan dunianya sendiri. Dan membuat ayahnya seorang diri. Dia jelas sekali tak akan membiarkan itu, tapi siapa yang tahu masa depan? Dan diingatnya lagi wajah pacar ayahnya dan laki-laki yang tempo hari sering dilihatnya di sofa rumahnya. Hatinya kembali sakit teringat ibunya yang belum lama ini meninggalkannya. Fikirannya terus berubah-ubah, malah bisa dia yang kesepian setelahnya. Ayahnya akan terlalu sibuk dengan pekerjaan dan istri barunya. Dan nanti membayangkannya melihat saudara tirinya setiap hari akan mengingatkannya menjadi anak yang melupakan orang paling berjasa dalam hidupnya dengan posisi orang lain. Dia sadar benar pemikirannya begitu dangkal. Itu kenapa dia sudah jarang menggunakan rasa dan lebih mengutamakan pikiran. Baginya tanpa ibu disisinya, semua pasti baik-baik saja. Daripada melihat ibu lain dan membuatnya menjadi anak yang melupakan ibunya sendiri saat sudah terbuai oleh kasih sayang.

“Lebih baik?”
Andre menyodorkan es kream pada Tasha di sampingnya. Tasha mengambil es kream dan tersenyum pada Andre.
“Kau tahu Tas? Ini pertama kalinya lo senyum sama gue sejak terakhir senyum itu gue lihat.”
“Gue bahkan nggak inget terakhir kali tersenyum.”
“setahun yang lalu di acara reunian.”
Tasha senyum masam mengingat reunian yang merupakan terakhir kali dia merasa gadis paling bahagia di dunia. Karena sehari setelah itu ibunya meninggal karena kecelakaan dengan mobil yang dikendarainnya saat menjemputnya di rumah Cika sepulang acara reuni.

“Cika udah cerita semuanya. Gue tahu ini berat buat lo, kalo gue jadi lo, gue mungkin nggak setegar lo. Bisa terus kerja seperti biasa. Ketemu orang yang sama yang ngingetin kebiasaan sama nyokap.”
Tasha tetap diam menatap lampu-lampu jalan jakarta di malam hari di balik kursi pedagang kaki lima.
“Tapi Tas, Cika juga ada benernya juga. Ayah lo ngelakuin itu juga perlu pertimbangan dan tentunya buat lo juga. Biar lo nggak kesepian saat dia sibuk kerja nanti. Gue denger dia juga punya anak seusia lo.”
Tasha menoleh ke arah Andre dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Membuat Andre mengerutkan keningnya tak mengerti. Andre menelengkan kepalanya ke kanan untuk mencari arti tatapan Tasha, dia mengangkat dagu Tasha yang mulai menunduk.
“Apa itu Tas?”
Tasha menggeleng.
“Tas, ceritain ke gue! Kita teman kan Tas?”

“Sebenernya,” Tasha menarik nafasnya berat. “gue setuju aja sama bokap gue. Tapi lo tau gue, Ndre. Gue udah muak sama berbagai macam rasa sakit. Dan sakit tiap kali gue ngeliat mereka duduk bersama di sofa yang biasa gue, nyokap, sama bokap tempati. Rasanya ada yang salah.”
Andre tetap diam menunggu.
“Gue bakal diingetin sama ribuan kasih sayang ibu gue dalam kenangan di sudut rumah itu. dan suatu hari setiap sudut itu akan terisi memori gue sama orang lain yang gue panggil ibu. Gue akan teringat gimana rasa sakitnya ibu gue di surga ngeliat anaknya begitu cepat ngelupain ibunya yang makamnya aja baru kering. Lantaran terbuai rasa sayang ibu yang lain, aku lupa kodratku sebagai anak.”
Tasha menatap Andre dengan mata yang entah sejak kapan sudah basah oleh air mata. Andre mengangkat tangannya, mengusap airmata Tasha dengan rasa sakit di dadanya melihat gadis yang sudah lama bersemayam di dadanya secara diam-diam ini terluka dari bentuk rasa sakit yang cukup panjang semenjak ibunya meninggal dan mantan pacarnya pergi keluar negeri tanpa ada kabar sampai sekarang.

“Dan lo tahu, Ndre. Gue punya ingatan yang lemah sejak gue kecil. Gimana kalo suatu hari nanti gue ngelupain nyokap gue?”
“Ssstt..” Andre menyeretnya dalam pelukannya. “gue punya cerita.”
Tasha mengangkat wajahnya memandang Andre yang masih dalam pelukannya.
“Ini cerita pasien gue.”
“Ndre?” Tasha mengingatkan Andre tentang kode etik dokter.
“Nggak papa. Ini pasien pertama gue. Dia hampir punya cerita yang sama kaya lo, Tas. Ibunya meninggal saat usianya sangat muda. Dia hidup sama ayah dan adik laki-lakinya. Saat lulus SMA, ayahnya minta izin buat nikahi pacarnya. Dia menentang keras soal itu, tapi yang tidak diduga. Caranya menentang tak pernah terfikirkan sebelumnya. Dia hanya gadis yang kehilangan kasih sayang ibunya lantaran ayahnya yang sibuk bekerja. Gadis itu yang setelah kepergian ibunya menggantungkan segala kasih sayang dan cintanya kepada sang ayah menjadikannya tak mau membagi ayahnya pada siapapun. Diapun menawarkan diri dengan hubungan intim dengan ayah.”
Tasha melotot kaget. “Apa?”
Andre semakin mengeratkan pelukannya pada Tasha lantaran Tasha yang hampir terjungkal ke belakang.
“Mereka sering melakukannya. Dan tanpa sengaja adik laki-lakinya memergokinya dan melaporkan ayah dan kakaknya sendiri ke kantor polisi yang dikiranya kakaknya mendapatkan perlakuan tak pantas dari sang ayah. Adiknya tak tahu kalau itu ulah kakaknya sendiri. Kakaknya pun gila dan ayahnya dipenjara. Adiknya sekarang hidup seorang diri, putus sekolah demi mencari nafkah.”
Tasha menganga tak percaya. Bagaimana mungkin dia melakukan itu pada ayahnya sendiri? Pikirnya.

Sejenak Andre mulai melepaskan tautan tangannya di tubuh kecil Tasha. Tasha yang terlalu fokus pada cerita Andre tak menyadari sedari tadi Andre merengkuh tubuhnya.
“Pasien kedua, ada anak laki-laki kecil yang sejak kecil orangtuanya bercerai. Ibunya meninggalkan dia sama sang ayah. Anak itu tumbuh dengan kemanjaan yang diberikan dari kekayaan ayahnya. Suatu hari neneknya menikahkan kembali ayahnya dengan wanita muda yang cantik dan penuh kasih sayang.”
Sedetik wajah Andre berubah dengan senyum penuh arti.
“Anak itu tak suka dengan istri baru ayahnya yang suka mengatur ini itu. Sampai suatu hari kasih sayangnya yang tulus meluluhkan hati anak itu serta ayahnya. Lalu terjadilah kesalah fahaman anatara suami dan istri itu yang membuatnya harus mengusir istrinya pergi. Sang anak yang mulai menyayangi ibu tirinya sedih. Sang ayah akhirnya mengalah dengan keegoisannya dan menjemput istrinya kembali. Tak lama setelah itu ayah anak itu meninggal dalam kecelakaan. Anak itu begitu sedih, dan yang paling membuatanya tambah sedih setiap malam dia harus melihat ibunya menangis memandang foto ayahnya. Anak itupun menyuruh ibunya untuk menikah lagi agar tidak sedih namun ibunya menolak.
Dengan segenap hatinya, ibu tirinya membesarkan anak itu seorang diri. Anak dari mantan istri almarhum suaminya. Ibunya mengolah bisnis menggantikan ayahnya. Menggantikan sosok ayah sekaligus menjadi sosok ibu di rumah. Kalau ibunya mau dia akan meninggalkan anak itu dan membawa semua harta suaminya pergi. Tapi tak di lakukannya, dia meilih menerima takdirnya dengan membesarkan anak suaminya dengan ikhlas. Jadi,” Andre beralih menatap Tasha dengan tatapan penuh lamunan. “apa yang sama dari dua pasienku, Tasha?”

Cerpen Karangan: Anggun Septa Devita Sary
Facebook: Anggun Sedery II

Cerpen Step Mother (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mama

Oleh:
Namaku Syarah Agustin, keluarga dan orang terdekat memanggilku Ayang. Seorang wanita yang bekerja sebagai staff administrasi, dan seorang istri dari Tn. Fajarudin Ansori. Sebelum resmi menikah mama sedang sakit

Perjuangan Seorang Adik

Oleh:
TAK TAK TAK, Suara langkah kaki terdengar di atas jembatan kayu penghubung antara sebuah desa dengan desa yang lain. Seorang anak laki-laki yang masih berusia 15 tahun baru saja

Ayah

Oleh:
Seperti biasa ketika liburan sudah mulai tiba aku selalu menginap di rumah nenekku, kebetulan ketika itu aku sedang kesal kepada ayahku karena ayah tidak mengizinkanku pergi ke dunia fantasi

Penyesalan

Oleh:
Kini aku takut untuk menghadapi kehidupan di dunia ini, dunia yang dipenuhi dengan nafsu belaka. Aku bingung, kemana akan aku tujukan arah tatapan sinar mataku ini, sinar yang dipenuhi

Ella

Oleh:
Pagi itu, Ella kembali mengikat tali sepatunya dengan tangkas. Seperti hari-hari sebelumnya, ia harus sampai di sekolah sebelum pukul setengah tujuh. Tak ada sosok yang setia menghantarkannya. Ketidakterlambatannya datang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *