Step Mother (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 12 May 2019

Tasha terjaga hingga tengah malam masih dengan posisi yang sama saat dia pulang. Dia mengeluarkan sebotol pil tidur yang dibelinya sebelum pulang setelah menemui Andre. Dia memegang dengan gemetar kotak obat itu. memejamkan matanya, disusul dengan cairan bening yang sedari tadi sudah deras mengalir. Dengan gemetaran tangannya menumpu tubuh dan kakinya untuk berdiri. Dilihatnya jarum jam yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia melangkahkan kakinya ke luar kamar. Sepi. Dan lampu ruangan juga sudah dimatikan semua. Tapi satu ruangan yang dilihatnya masih nyala terang. Tasha mendekati ruangan itu dengan gontai. Dilihatnya sang ayah tertidur bertumpu tangan di dadanya sambil bersandar di kursi putarnya di balik meja kerja. Tasha menatap ayahnya sayang dan sedih melihat wajah ayahnya yang sangat lelah, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya. Tasha memasuki ruang kerja ayahnya dan membereskan meja kerja sang ayah. Dan mendekati ayahnya, membelai wajah ayahnya yang sangat dirindukannya. Dia juga rindu saat dia dan ayahnya tertawa dan menghabiskan banyak waktu bersama. S emenit, lima menit, tigapuluh menit, Tasha mematikan lampu ruang kerja ayahnya.

Hari ini Tasha berangkat lebih pagi dari biasanya. Pakainnya beda dari biasanya. Lebih rapi, lebih elegant dengan dress pendek selutut dan cardigan yang lengannya diangkat sampai ke siku. Rambutnya ditata rapi ke atas dengan kuncir kuda rambut ikalnya.

Tinn..
Tidak seperti biasanya juga Andre menjemput Tasha untuk pergi ke kantor. Andre melihat perubahan itu dari wajah Tasha yang lebih ceria. Andre terkejut sekaligus senang perubahan itu datang. sepertinya Tasha memang kembali seperti setahun yang lalu tapi dengan dirinya yang baru.

“Well, gue rasa ini pagi yang baru, Tasha?”
Tasha tersenyum ceria yang disambut dengan keterkejutan yang kesekian kalinya dari Andre.
Yang bahkan bukan Andre tapi juga Cika dan semua rekan kantornya, kurasa. Mereka merasa heran dengan perubahan Tasha yang tiba-tiba begini semenjak turun dari mobil Andre. Cika bahagia tapi sekaligus takut, jangan-jangan terjadi sesuatu yang lebih parah kepadanya.

“Lo yakin nggak papa?”
“Lo fikir gue kenapa.”
Cika membuntuti Tasha berjalan di sebelahnya sedari tadi sambil melihat ekspresi Tasha.
“Lo aneh.”
“Aneh gimana?” Tasha menoleh ke arah Cika dan masih berjalan di lobi menuju meja resepsionis. “harusnya lo senang kalo temen lo berubah terlihat lebih bahagia kan?”
“Tapi tiba-tiba berubah drastis itu juga perlu dipertanyakan Tasha.”
“Udah ah. Lagian hidup itu masih berjalan sekalipun gue trus-terusan stay di tempat yang sama. Gue nggak mau buang waktu buat hidup yang nggak bisa buat gue jadi lebih baik dan maju kedepan.”
Cika menatap tercengang dengan ucapan Tasha. Sejenak dia berhenti di tempat melihat pungung Tasha yang berjalan di depan sambil bertegur sapa dengan karyawan lainnya. Senyum Cika mengembang, mengerti atmosfer apa yang mengubah temannya ini. Dia senang dengan keputusannya menyuruh Tasha bertemu Andre.

“Tas, kamu udah bangun?”
Tasha tersadar dari pingsannya setelah tadi pulang kantor dia ditemukan ayahnya pingsan di kamar dengan basah kuyup karena kehujanan. Tasha mengerjapkan matanya dan menemukan ayahnya, Andre, dan Cika sudah berada di dekatnya.
“Kamu pingsan di kamar waktu ayah pulang.”
Tasha berusaha mengingat-ingat namun gagal dan membuat kepalanya berdenyut-denyut, dia menyerah dan mengabaikannya.
“Tasha, maafkan ayah,” Ayah Tasha tiba-tiba menangis sambil memegang tangan Tasha. “harusnya ayah nggak boleh egois.”
Tasha semakin mengerutkan dahinya tak mengerti dan bergantian menatap Andre dan Cika dengan tatapan sedih ke arahnya. Ada apa?
“Ayah janji. Ayah nggak akan maksa Tasha buat nyetujui hubungan ayah sama tante Lisa. Ayah nggak mau kehilangan putri kecil ayah satu-satunya.”
“Ayah ini ngomong apa sih?” Tasha semakin kebingungan. “memangnya aku ngapain? Sampai ayah kehilangan aku. Oh ayolah, aku cuma pingsan.”
“Tasha, ayah tahu kamu mau minum obat tidur buat…”
“wait, Obat tidur?” sela Tasha.
“Ayah nemuin banyak obat tidur berserakan di lantai kamar kamu.”
Tasha tampak berfikir lama.
“ini yang gue takutin, kenapa tiba-tiba sikap lo berubah drastis.” Sahut Cika kemudian. “apa perlu sejauh itu sih Tas?”
“Eh, nggak… enggak. kalian fikir aku mau bunuh diri gitu? Enak aja.”
Seketika wajah mereka berganti bingung melihat tingkah Tasha seperti pagi tadi.
“Tasya..”
“Enggak Ndre. Gini ya, gue masih terlalu waras buat acara aneh begitu. Bener, gue emang beli obat tidur. Tapi,” Tasha beralih menatap ayahnya. “itu karena akhir-akhir ini aku sering lembur jadi ke kantor selalu kesiangan. Aku aja belum sempet make nya.”
Tampak helaan lega dari wajah ayahnya. Tasha kini semakin yakin, mungkin ada baiknya jika ayahnya memang harus menikah lagi dengan melihat keadaannya sekarang. Bajunya kusut, rambutnya acak-acakan, dan tentunya Tasha tahu ayahnya pasti suatu saat akan membutuhkan seseorang di sampingnya jika sesuatu terjadi dengannya. Seseorang butuh di sampingnya agar bebannya lebih ringan.
“Syukurlah!” ucap ayah.

Tasha menatap lekat mata ayahnya. Dan diambilnya sebelah tangan ayahnya yang memegang erat jemarinya. Di genggamnya tangan itu.
“Ayah, apa ayah sayang sama ibu?”
Ayahnya kaget dengan pertanyaan Tasha yang tiba-tiba. Ayah membisu. Dengan kebisuan itu Tasha mengerti jawaban ayahnya dari mata sang ayah yang menyiratkan ‘Ayah selalu sayang Tashya dan Ibu’.
“Apa ayah bahagia sama tante Lisa?”
“Tas..”
“Ayah cuma perlu jawab ya tau tidak.”
“Ayah akan bahagia, kalau Tasha juga bahagia.”
“Ayah, terlepas dari itu. Untuk diri ayah sendiri, Tasha mohon kejujuran ayah.”
Dengan ragu ayah mengangguk ke arah Tasha. Tasha tersenyum dengan jawaban Ayah.

“Ayah. Bagi Tasha, ayah adalah segalanya. Saat segala milik Tasha hilang dan cuma ada ayah yang Tasha miliki. Tasha akan tetap bahagia untuk itu. tapi Tasha juga seorang putri yang tugasnya juga membuat ayah bangga dan bahagia. Dari awal Tasha tak keberatan dengan tante Lisa. Ini hanya masalah Tasha dengan kenangan ibu.” Tasha memperhatikan wajah ayahnya hati-hati. “Tasha hanya takut kalau suatu hari nanti karena terlalu bahagia dengan keluarga baru bisa membuat Tasha lupa dengan ibu. Tapi seseorang pernah bilang ‘kasih sayang seorang ibu itu tak ubahnya seperti sungai yang tak akan habis dimakan masa sekalipun seluruh duniamu hilang dalam ingatan’.”

Tasha beralih menatap Andre yang tersenyum penuh arti kepadanya. Ayahnya terharu dengan ucapan Tasha yang begitu lebih dewasa, karena dalam ingatannya Tasha memang menolak hubungannya dengan kekasihnya namun tak pernah mengatakan apapun yang menyakitkan hati dan memendamnya sendiri dalam diamnya. Tanpa Tasha ketahui, ayahnya selalu melihatnya menangis setiap malam di kamarnya yang gelap sambil memandang fotonya dan ibunya.

“Jadi Tasha mau, ayah bawa tante Lisa ke rumah sebagai ibu Tasha.”
Ayah menangis haru dengan menempelkan tangan putri tercintanya ke wajahnya dengan sayang. Tasha tersenyum lega. Seolah batu besar yang menyumbat hatinya leleh jadi kepingan bunga di dalam matanya melihat sang ayah bisa tersenyum bahagia lagi.
Cika ikut tersenyum bahagia melihat kebahagian antara temannya dan ayahnya, sekaligus melihat tatapan Andre untuk Tasha.

Jauh di dalam hati Tasha memang akan ada rasa sakit merindukan ibunya dan melihat orang lain di sisi ayahnya. Tapi itu bukan apa-apa saat dihadapkan pilihan antara kebahagiannya atau sang ayah. Sepanjang usianya ayahnya telah menuruti semua keinginan Tasha, apa hanya satu permintaan ini lantas Tasha melupakan kodratnya sebagai seorang anak yang membaktikan diri kepada kebahagiaan sang ayah. Tak apa, kadang butuh sesuatu untuk direlakan agar tahu artinya ikhlas. Termasuk merelakan kepemilikan tempat mendiang ibunya. Toh, masih ada orang yang akan mengingatkannya kepada sang ibu.

Tasha memandang ke dalam manik coklat Andre yang menyiratkan senyum bangga padanya. Tasha tersenyum bahagia.

SELESAI

Cerpen Karangan: Anggun Septa Devita Sary
Facebook: Anggun Sedery II

Cerpen Step Mother (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Apa Dengan Mimpi Ku

Oleh:
Semalam aku terbangun dari tidur ku, hanya karena aku mimpi buruk, “ya allah, kenapa mimpiku malam ini sangat buruk” ujar ku. Aku terdiam sejenak dan mencoba kembali tidur. Mentari

Kuliah Atau Mencari Jodoh

Oleh:
Kuliah dan Mencari Jodoh sama-sama diinginkan oleh setiap laki-laki maupun perempuan, dahulu mungkin mencari jodoh adalah hal Yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi seiring berkembangnya jaman, wanita seolah

Pergi Tuk Selamanya

Oleh:
Mungkin tak semua orang sama dengan diriku. Aku berbeda sekali dengan mereka. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara sekaligus cucu pertama dari pihak ayahku. Keberadaanku sangat diharapkan oleh

Bagaimana Mungkin?

Oleh:
Sinar matahari menembus kaca kamar dan membuatku harus terpaksa bangun. Pertama membuka mata dan “Selamat ulang tahun Diniiiii”, sorak ketiga temanku, Ibu, Ayah dan Tri. Hari yang bersinar ini

Ibu

Oleh:
Lagu “Afika – you’re my everything” mengalun mesra, Senja kembali hadirkan suasana hening, cahayanya menembus jendela kaca menerpa mataku. Aku terbangun dengan cepat ketika guyuran air comberan menggigilkan tubuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Step Mother (Part 2)”

  1. moderator says:

    Heart touching banget nih…

    makasih buat ceritanya ya dev ^_^
    Istimewa…

    ~ Mod N

  2. Fatimah Azzahra says:

    Keren alurnya, tapi bagian Tasha bener2 bimbang antara setuju sm ayahny dan kehilangan ibunya kurang terasa, tingkatin trs yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *