Story 3 Days From 5 Years To 4 Hours (354) Part 1

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 September 2016

Tuesday
Pagi yang cerah, mengisi relung kamar Indah dengan sinar mentari yang menghangatkan setiap kehidupan. Begitu juga untuk Indah, pagi itu ada wanita paruh baya membuka gorden kamarnya, seberkas sinar menyusup memasuki celah-celah jendela kamar Indah. Cahaya itu terus memancarkan sinarnya sampai ke mata bulat Indah. Sinar itu memberikan warna yang indah di matanya, membuat gadis remaja itu terbangun. Mata Indah sedikit terbuka menatap dunia yang begitu menyakitkan baginya, tak ada senyuman dibibir tipis merah merona gadis tersebut di pagi-paginya, selalu begitu.
Perempuan tua itu selalu menahan gejolak di hatinya, setiap kali dia membangunkan anak majikannya ini. Bangun dengan kehampaan, kesepian, tak ada warna dalam hidupnya, bagai langit tanpa bintang.

“Non. Ayo bangun. Nanti non terlambat loh!” Kata seorang wanita paruh baya dengan mengelus lembut kepala gadis tersebut, dengan wajah keriput yang lelah perempuan tua itu menarik-narik selimut yang membaluti tubuh Indah dan terus mengucapkan kata “Ayo bangun!”.
“Indah gak mau bangun! Ibu ini bawel. Indah pingin tidur saja sekarang. Indah mau bangun tapi nanti.”
“Non. Tuan dan nyonya sudah menunggu non di bawah loh.”
“Iya! Benarkak bu!” seru gadis tersebut, dan langsung berlari meninggalkan wanita tua itu di kamarnya.

“Aduh non. Maafin ibu karena harus berbohong seperti ini, ini semua demi non Indah.“ kata wanita tua tersebut sambil duduk di kursi belajar yang berada di kamar gadis itu. Terlihat wajahnya yang sedih, dan tanpa terasa buliran air mata menetes dan membasahi pipinya yang sudah mulai keriput. “Ya Allah, berikanlah kebahagian dalam kehidupan gadis malang ini.”

Indah langsung turun ke bawah, dia melihat di sekeliling dalam rumahnya mencari-cari seseorang yang ia sangat rindukan. Langkah kecil mengiringi jalan kaki Indah yang lemas, bosan dan tak ada harapan. “Ibu. papa dan mama kemana? Kata ibu mereka menungguku.” Kata Indah sambil duduk di tangga rumahnya dengan wajah yang sangat kecewa.
“Maaf non, tuan dan nyonya sudah berangkat kerja Non, tadi ibu bohong.” Kata wanita paruh baya itu sambil memberikan seragam sekolah rapi siap untuk dipakai gadis tersebut.

Tak ada jawaban yang terukir dari bibir manis Indah, sepertinya ia sudah terbiasa dalam momen pagi ini. “Non. Sarapan dulu ya?” Kata wanita tua itu sambil duduk di samping Indah. Indah hanya menganggut kecil, sambil mengeluarkan senyum hangatnya. Hal itu jelas membuat wanita tua itu terkejut, senyum yang selama ini telah menghilang bagai ditelan ombak, sejak sahabatnya pindah ke Amerika, kini telah terukir kembali di wajahnya yang manis dan lugu itu. Indah pun menikmati sarapannya, meski dia merasa bosan, tapi dia berusaha menyenangkan kembali hati ibu.

Ibu, kata yang sangat sepesial di telinga kita, ibu adalah wanita paruh baya yang telah mengasuhnya sejak kecil, ia bekerja dengan tulus, mengabdi pada majikannya yang sangat dermawan, sudah hampir setengah hidupnya ia habiskan untuk bekerja di rumah Indah, ia sebatang kara, diusir oleh suaminya karena ia mandul, ia merantau dan mencari kerja kesana kemari, lalu ia menemui orangtua Indah, ia diizinkan bekerja dan tinggal di rumah mewah Indah. Karena ia orang yang jujur dan penyayang, ia dipasrahi untuk merawat Indah dari kecil hingga sekarang, dan kata Ibu memang cocok bagi wanita paruh baya itu, karena ketulusan cinta, kasih dan perhatian yang ia berikan penuh seutuhnya untuk Indah.

“Ibu, tengok Indah. Hari ini Indah pucat kan? Indah sakit bu. Jadi bikinkan surat izin sekolah untuk Indah ya bu.” ucap Indah dengan kedua tangan yang digenggam yang berada di depan hidungnya (tanda memohon).
“Itu cuman alasan non Indah saja, biar non Indah tidak sekolah, iya kan?” Jawab ibu dengan senyuman tulusnya.
“Ayolah bu, sekali ini saja, Indah pingin habiskan waktu sama Ibu pagi ini.” Gumam Indah dengan tingkah ke kanak-kanakannya.

Ting tong.. Ting tong.. suara pintu depan rumah Indah.
“Ya. Ibu buatin, tapi ibu mau buka pintu dulu, sepertinya ada tamu. Indah mandi dulu sana, bau loh!” Ucap Ibu dengan melangkah menuju pintu depan.

Jegrek…
Suara pintu yang dibuka. Seketika itu wanita paruh baya yang membuka pintu langsung terbengong, memandang sosok pangeran yang memiliki paras cantik rupawan bagai aktor korea. “Bu. Siapa? Kok ibu diam sih!.” Seru Indah dari belakang dengan menepuk pundak wanita tua itu. Sehingga membuat wanita tua itu tersadar dari keheranannya dan lamunannya, wanita tua itu menggelengkan kepalanya dan menghadap ke Indah sambil berkata
“Ini non, anuh, aduh!” suara ragu dari ibu yang masih bingung karena heran melihat sosok pangeran tadi.
“Hist ibu ini, coba Indah lihat, ibu awas dulu.” mata Indah pun berbinar ketika melihat laki-laki yang berada di depannya saat ini.
“Hay Indah. How are you?” Sapa laki-laki cantik tersebut. Tapi Indah masih terdiam dan terus menatap mata laki-laki itu.
“Indah. Are you alright? you forget me? Indah!” Seru laki-laki itu yang membuat Indah terkaget.
“Ouch.. Sorry, who are you?” jawab Indah dengan wajah polosnya. “You forget me? I who love you called panda. kung fu panda!” bentak laki-laiki itu dengan memegang kedua pundak Indah berusaha membuat Indah ingat semuanya.
“Kak Lee? What you kak Lee?.” jawab Indah dengan ragu.
“Finally, you remember me now. What I look different from four years ago?” sahut laki-laki itu dengan wajah berseri-seri dihiasi senyum manisnya.
Indah tanpa berkata langsung memeluk sosok laki-laki berwajah cantik itu, dengan menghentak-hentakan kakinya penuh kegirangan.

Lee Nam Yong adalah sahabat Indah dari kecil, mereka bertetangga. 5 tahun yang lalu Lee harus meninggalkan Indah karna papanya Lee harus mengurus perusahaannya yang ada di Amerika, sehingga memaksa Lee untuk pergi dengan papanya. Lee Nam Yong nama yang aneh bagi orang Indonesia, karena ia memang bukan orang Indonesia. Lee dibesarkan di Indonesia sejak lahir, kedua orangtuanya sudah jatuh hati pada Indonesia, karena itu keluarga Lee memutuskan menetap di Indonesia. 5 tahun yang lalu, Lee masih memiliki postur tubuh yang gemuk dengan wajah yang cantik dan mata yang khas korea. Dari kecil Lee dipanggil Panda oleh Indah, karena memang bentuknya seperti Panda. Tapi kini Lee berubah menjadi pria yang tinggi, berotot dan gagah. Sehingga membuat siapa saja tak mengenalinya, Lee yang dulu seperti Panda kini menjadi seperti model. Lee memiliki saudara kembar yang bernama Kim Na Yong tapi Kim ikut dengan kakek neneknya di Korea dari kecil.

Betapa senangnya wanita tua itu melihat Indah sekarang, sahabat yang Indah nantikan, kini telah hadir di sisinya.
“Non. Ibu mau buatin surat ijin sekolah dulu, dan mengirimnya ke rumah Dita. Den Lee, silahkan masuk. Ibu nitip Indah ya.” ucap ibu dan bergegas pergi dari kedua remaja itu.

Detik berganti menit, menit berlalu, hampir 2 jam kedua remaja itu berbincang, banyak sekali cerita yang mereka ucapkan.

“Ibu. Kemarilah, duduk di sampingku. Ikutlah bercanda dengan kami bu.” seru Indah ketika melihat wanita tua itu lewat ruang tamu.
“Ibu mau masak non. Tadi tuan telepon, katanya malam ini tuan dan nyonya akan pulang dan menginap di rumah.” jawab Ibu dengan senyum bahagia.
“Benarkah bu? apa ibu tidak membohongiku?” Gumam Indah dengan mata yang berkaca-kaca dan menoleh ke arah Lee.
“So happy are you? like a long time not only meet with mom and dad.” Ucap Lee dengan bibir manyunnya.
“I really have not met with them kak Lee.” jawab Indah dengan ketus.

Mama dan Papa Indah adalah orang yang selalu Indah rindukan dan ia nantikan. Kedua orangtua yang seharusnya menghabiskan waktunya untuk anak dan keluarganya, malah dihabiskan untuk karir mereka, mereka disibukkan dengan dunia bisnis sehingga lupa akan tanggung jawab mereka yang sebenarnya. Indah hanya diberikan uang uang dan uang, apapun yang Indah inginkan akan terpenuhi kecuali waktu bersama mereka. Jelas Indah membutuhkan kasih sayang dari seseorang yang lebih tua, sehingga pekerja wanita paruh baya itu lah yang menjadi pengganti orangtua Indah, dia adalah Ibu.

Lee menarik pundak Indah dan memeluknya, pelukannya begitu hangat dan penuh arti.

Bersambung

Cerpen Karangan: Yuliani Nur Indah
Facebook: Yuliani Nur Indah
Namaku Indah..
aq salah satu pasien di Rumah Sakit Dr. SOETOMO..

Cerpen Story 3 Days From 5 Years To 4 Hours (354) Part 1 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Pun Menangis Ayah

Oleh:
Sang fajar mulai bangun dari peraduannya, kicauan burung pun mulai terdengar saling bersahutan. Para ayam jantan sudah mulai bertengger dan berkokok dengan suara nyaring mereka untuk menandakan bahwa hari

Untuk Ayah

Oleh:
Gadis kecil itu adalah Nina, terlihat sedang duduk di sebuah kursi roda. Matanya menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang. Seolah meminta harapan untuk dirinya. “Nina, masuk yuk,

Cukup Disadari

Oleh:
Kak Zain harus pergi, sekarang! Ya, untuk sebulan ke depan. Dia saudara kandungku satu-satunya. Lalu, aku bercerita pada siapa? Kak Zain Permana Pratama, masih SMA kelas 2 di SMAN

Forgetting All

Oleh:
“Assalamualaikum,” ucap Felly saat ia tengah membuka pintu rumahnya. “Waalaikumussalam,” jawab Anjani. Mama Felly yang masih terduduk di ruang tamu. “Mama! Tumben belum tidur, Ma? Biasanya, setiap Felly pulang

Pertemuan Yang Singkat

Oleh:
3 tahun sudah berlalu, saat itu hari minggu, hari yang membahagiakan untukku. Membahagiakan? Ahh entahlah… Pada hari itu kakakku mengajak aku untuk bertemu dengan seseorang. Dan ternyata orang itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *