Suara Seram

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

Sani terlihat sangat gelisah di tempat tidurnya. Malam ini, Sani tidak bisa memejamkan matanya. Nenek yang sangat disayanginya meninggal kemarin malam dan baru dimakamkan tadi pagi. Sewaktu Sani kembali dari pemakaman nenek, Sani mendengar percakapan beberapa orang yang ikut mengantar jenazah nenek ke pemakaman.

“Biasanya, pada malam ketiga dan ketiga setelah seseorang meninggal, orang itu akan mengunjungi keluarganya di rumah. Jadi, jangan heran jika nanti kita mendengar penggorengan yang berbunyi pada malam hari. Itu pertanda orang yang sudah meninggal itu memasak makanan untuk keluarga yang disayanginya.”
“Kalau dia laki-laki bagaimana?”
“Dia akan melakukan kebiasaannya. Mungkin, dia akan membaca koran di ruang keluarga atau di teras rumahnya.”

“Ah, masa sih?”
“Benar, dulu aku pernah mengalaminya. Sewaktu Kakekku meninggal. Kursi goyang yang biasa didudukinya bergoyang-goyang sendiri. Tapi, karena aku sudah dikasih tahu oleh Tanteku, aku tidak takut lagi.”
“Ah, barangkali kamu sedang bermimpi.”
“Tidak, aku tidak bermimpi.”
Percakapan itu terngiang di telinga Sani. “Hiii, seram. Kenapa mama tidak memberi tahuku, ya?” Batin Sani dalam hati. Sani berusaha memejamkan matanya sambil memeluk guling Spongebob kesayangannya.

“Krenk… Krenk… Krenk…”

Sani terlonjak kaget. “Su..a.. Suara apa itu? Apakah itu suara Nenek yang sedang memasak?” batin Sani. Wajah saji pucat. Dia menutup telinganya dengan sangat rapat. Mulutnya berkomat-kamit membaca doa agar dia tidak takut mendengarkan suara itu. Beberapa saat kemudian, bunyi yang menyeramkan itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.
“Krenk… Krenk… Krenk…”
“Mamaaa. Sani takuuuutt!” Teriak Sani dengan sekuat tenaga. Sani berlari ke kamar mama. Mama yang baru saja tertidur segera terbangun begitu mendengar teriakan Sani.

“Ada apa, Sayang?” Tanya mama ketika membuka pintu kamar sambil mengernyitkan alisnya.
“Ma, ada Nenek sedang memasak di dapur. Sani mendengar bunyi panci penggorengan!” Ucap Sani.
Lalu, mama mengajak Sani duduk di tempat tidur. Papa yang sudah tertidur pulas juga ikut terbangun mendengar teriakan anak semata wayangnya.
“Barangkali, Sani bermimpi.” Celetuk papa, lalu meneruskan tidurnya.
“Sani tidak bermimpi.” Tegas Sani.
“Coba ceritakan pada Mama apa yang Sani dengar.” Mama menatap putrinya.

Sambil memeluk mama, Sani menceritakan semua tentang suara yang baru didengarnya dan perbincangan beberapa orang yang mengantar jenazah nenek ke pemakaman tadi. Mama mendengarkan sambil membelai rambut putrinya yang masih kelas satu SD itu. Tiba-tiba, suara itu terdengar lagi. “Krenk… Krenk… Krenk…”
“Itu ma, suaranya datang lagi.” Sani memeluk mama dengan sangat erat. Kali ini, suara itu terdengar agak jauh.
“Ohh… suara itu, ya?” Ujar mama tersenyum. Mama berdiri, “Ayo, kita lihat ke luar! Suara itu berasal dari jalan di depan rumah kita.”

Mama mengajak Sani ke luar rumah. Sani mengikuti langkah mama sambil memegang tangan mama. Mama membuka pintu pagar. Lalu, mama meminta Sani melihat seseorang yang sedang berjalan. Dari kejauhan, terlihat orang itu berjalan dibantu tongkat yang ada di tangan kanannya. Dia memegang dan mengguncangkan kaleng dengan tangan kirinya. Saat orang itu mengguncangkan kaleng, bunyi yang sama terdengar kembali.

“Siapa itu, Ma?” Tanya Sani setelah mengerti bahwa bunyi yang didengarnya berasal dari kaleng yang dibawa oleh orang tersebut.
“Itu adalah Pak Kirman sayang. Bapak itu adalah tukang pijat tunanetra. Sani tahu kan, apa itu tunanetra? Setiap malam, Pak Kirman keliling kompleks untuk menawarkan jasanya bagi keluarga yang ingin dipijat. Dengan membunyikan kaleng yang diisi kerikil itulah, Pak Kirman memberitahu bahwa dia menerima jasa pemijatan.”

“Ohh… begitu ya Ma? Tapi, mengapa orang yang di pemakaman tadi bercerita seperti itu? Sani kan jadi takut.”
“Sayang, semua yang sudah meninggal, ruhnya akan kembali ke sisi Allah. Jadi, tidak ada ruh yang kembali ke rumahnya. Sani tidak usah mendengar cerita mereka. Mereka menakut-nakuti orang lain saja. Sebaiknya, kita doakan saja orang yang sudah meninggal itu agar selalu tenang di sisi Allah. Sekarang, Sani tidur ya. Sudah larut malam, besok Sani sekolah.” Mama mengajak Sani ke kamar.

“Ayo, doa mau tidur dulu dong. Agar Allah selalu menjaga kita selama kita tidur!” Ajak mama ketika mereka sudah berada di kamar Sani. Sani berbaring di tempat tidurnya. Mama menyelimuti dan mencium kening Sani. “Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Wa Amut.” Sani memejamkan matanya. Setelah itu, dia menambung doanya untuk nenek yang sudah tenang di sisi Allah Swt.

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Facebook: Tita Larasati

Cerpen Suara Seram merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelukan terakhir

Oleh:
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-12. Aku tidak tahu apakah Kak Rey, Mama, ataupun Papa akan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Kriing… Kriiing… kriiing Jam yang terletak

Lomba Menggambar

Oleh:
Namaku Anggita Chacha. Teman-temanku biasa memanggilku Cha-Chan. Aku punya kakak namanya Nina Chacha. Aku memanggilnya Kak Nina. Suatu hari, aku dipilih untuk ikut lomba gambar. Aku senang sekali. Aku

Hijrah

Oleh:
Rintik-rintik hujan begitu deras menghantam atap rumah yang sudah sangat reot itu. Hampir lima belas tahun aku merasakan kepahitan hidup dibawah garis kemiskinan. Semua berawal ketika aku masih berusia

Sayap Bidadari (Part 1)

Oleh:
Tangan mungil itu menggenggam sang bunda dengan erat. Seakan berada dalam detik-detik perpisahan yang membuatnya kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Seakan ia akan kehilangan sentuhan lembut yang

Ratna Sahabat Rena

Oleh:
Rena ingin sekali bersahabat dengan Ratna, teman sekelasnya. Ia sebangku dengan Ratna. Namun ketika ia ingin mengatakaanya ia merasa kehabisan keberaniannya. Semburat merah muncul ketika ia mengatakan, “Ra.. Ratna,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *