Suara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 November 2018

Cristabel terbangun dari tidurnya. Jam dinding warna pink menunjukkan pukul 1 dini hari. Ah, dasar… desah Cristabel. Lagi-lagi ia mendengar suara itu, untuk yang ke sekian kalinya. “Cristabel… Cristabel…” suara wanita yang memilukan, membuat sekujur tubuh gadis berambut panjang itu gemetaran. Sudah 3 hari ini ia terus mendengar suara itu. Jika di hari sebelumnya Cristabel hanya akan menepis suara itu jauh-jauh, kembali tidur dan tidak memerdulikannya, beda dengan hari ini. Sudah cukup. Gadis yang akrab disapa Abel itu tidak tahan lagi dengan orang jahil dan tidak punya sopan santun karena membangunkan orang di tengah malam.

Selimut putih dengan renda pink yang sedari tadi menutupi tubuhnya, kini ia jauhkan, dan perlahan Abel berdiri. Mengendap-endap padahal ia berada di kamar sendiri. Sejujurnya, Abel tidak seberani itu. Sedari tadi jantungnya berdegup sangat cepat dan dahinya dibasahi keringat. Tidak. Tidak hanya hari ini, tapi juga dengan hari-hari sebelumnya. Saat suara itu mulai memanggil namanya. Ia takut.

Yang aneh dari suara itu, ketika Abel terbangun, suaranya akan hilang. Jika Ia tertidur lagi, suaranya akan muncul kembali. Tidak adanya suara itu membuat Abel sedikit kesulitan untuk menerka, dari mana asal-muasal suara itu. Ia terdiam, mengingat-ingat di mana persisnya tempat yang menjadi sumber suara itu. Ah! Jendela! Abel sangat ingat kalau suara itu berasal dari balik jendela.

Kini, jendela bertirai pink berada di hadapannya. Entah kenapa, bukannya takut Abel malah menjadi semakin penasaran juga kesal. Dengan beraninya, tanpa berfikir dua kali, Ia sibakkan gorden pink yang menutupi jendela. Menunjukkan suasana gelap halaman samping rumahnya. Kaca jendela yang tertutup, ia buka juga. Tapi nihil, Abel tak menemukan apapun. Hanya suasana gelap, juga bunyi jangkrik dan udara dingin. Sontak Abel terkejut, begitu udara dingin itu menyentuh lengannya. Buru-buru ia tutup kaca juga hordeng dan mundur kembali ke tempat tidur. Ia terus berfikir, apa-apaan itu. Jantungnya kembali berdetak kencang, bulir-bulir keringat meluncur dari dahinya.

Tok, tok, tok.. “Abel?” suara yang familiar mengejutkan Abel. “Kamu gak pa-pa, nak?” Abel menghembuskan nafas lega yang tadi sempat tercekat. Ia yakin itu suara ibunya. “Iya, Ma. Gak pa-pa kok.” “Oke.” Suara di balik pintu itu lenyap, bersamaan dengan suara langkah kaki yang menjauh.

Seketika Abel tersadar. Kenapa Ia tidak memberitahukan tentang suara pengganggu itu pada ibunya. Dengan langkah mantap ia menghampiri pintu bercat putih yang akan mengantarkannya pada ibunya. Perlahan rasa takut Abel pun memudar. Digantikan oleh keyakinan serta keberanian.

Dan.. tanpa diduga. Satu kata yang terlintas di fikiran Abel saat pintu kamarnya terbuka adalah “waw”, kemudian “hebat”, selanjutnya “luar biasa”. Tapi kemudian Ia tersadar. Apa-apaan ini?? Ruang keluarga yang seharusnya terlihat ketika pintu kamar terbuka tergantikan oleh pepohonan rindang. Mungkin akasia, damar, ataupun pinus. Entahlah, Abel tak paham jenisnya. Tapi yang Abel pahami, ruang keluarga sebelumnya tidak terlihat seperti.. seperti ‘ini’.
Dengan perasaan kaget, takjub, bingung, Abel berjalan. Perlahan menuju ruang tamu -ralat- hutan dengan berbagai tumbuh-tumbuhan itu. Sebenarnya Abel tidak yakin, apa pemandangan di hadapannya ini bisa disebut dengan ‘hutan’, hutan yang normal pastinya. Karena, keadaan di sini benar-benar jauh dari kata ‘normal’. Semak-semak warna pink? Memangnya ada? Pohon yang buahya seperti kelapa namun daunnya lebar, memang ada? Entahlah… jika ini mimpi Abel ingin cepat terbangun.

Tunggu.. Abel menghentikan langkahnya. Jika ini mimpi… mimpi… mimpi… berarti satu hal yang harus Abel lakukan agar kembali ke dunia nyata adalah bangun. Iya, bangun! Tapi bagaimana caranya?

“Kau, apakah kau mau kembali ke kenyataan?” astaga, suara itu lagi. Abel berjingkrak, memutar badannya mencari siempunya suara. “Siapa kamu? Tak bisakah menampakkan wujudmu? Kau tahu, hal seperti itu sungguh tidak sopan?” hening. Tidak ada jawaban dalam beberapa menit. Abel mulai khawatir, bagaimana jika ia terjebak di sini? Bagaimana jika ia tidak bisa bangun? Bagaimana kalau ini mimpi buruk… mimpi buruk untuk selamanya.

“Mimpi buruk adalah mimpi juga.” Abel terkejut. Pandangannya kembali menyapu sekeliling, dengan lebih waspada dan teliti. “Untuk mengakhirinya, kau harus menghadapinya. Hadapi, dengan penuh keberanian.” Percuma saja. Abel lelah untuk terus mencari, hasilnya nihil. Suara itu mungkin memang tidak memiliki wujud. “Apa yang harus aku hadapi?” dengan suara sedikit bergetar, Abel memberanikan diri untuk bertanya. Ia sudah lelah. Ingin segera kembali menghadapi realita.
“Yang harus kau hadapi…” tepat seperti dugaannya. Suara itu kembali menjawab. Strategi yang bagus, Abel. Fikirnya. “Ketakutanmu.” Abel membelalakan mata. Belum sempat ia berbicara, tubuhnya langsung jatuh ke dalam lubang yang seketika muncul dari bawah kakinya. Ia menjerit. Lubang itu menelannya! Bagaimana inii… fikir Abel. Matanya terpejam. Angin menerpa-nerpa wajahnya dan menghamburkan rambutnya.

Tak lama, angin berhenti menerpa wajahnya. Ia mendarat di atas sesuatu yang empuk. Abel membuka mata. Tampak suasana familiar serba merah mudah di sekelilingnya. Abel menghela nafas, akhirnya. Ingin menangis rasanya ketika pintu kamar kembali terketuk dan suara familiar kembali muncul. “Abel?” Mama. “kamu kenapa, sayang?” dan yang ini Papa. Abel sangat yakin. Tanpa fikir panjang ia langsung menuju pintu, membukanya lebar-lebar dan mendapati… ayah ibunya. Benar, Abel yakin itu Mama dan Papa. Tapi.. wajah mereka.. wajah mereka… berbulu coklat dengan mata hijau serta gigi-gigi yang lancip. Abel menjerit. “Kau bukan mama papakuu!!!” dengan ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya, Abel berteriak. “Apa-apaan kamu Abel, ini Papa.” Kalimat itu tak kunjung membuat rasa takutnya hilang. Tanpa fikir panjang Abel berlari, tidak mempedulikan orangtua palsu yang terus meneriaki namanya. Rumah. Kali ini suasana berubah persis seperti di rumah. Tidak ada pepohonan rimbun maupun semak belukar.

Bruuukk… Abel terjatuh. Lagi. Ia lupa kalau ruang tamunya beralaskan karpet. Dan saat Ia berdiri, suasana berubah. Bukan sofa dan meja tamu yang ia dapati, melainkan kursi-kursi coklat serta meja dan suasana ramai kelas. Oh, sekarang sekolah. Fikir Abel. Ini kelasnya. Ia yakin. Abel berjalan menuju tempat duduknya. Nomor tiga di dekat jendela. Seperti biasa, duduk di sana seorang lelaki, sebaya Abel, membaca buku dengan kacamata menggantung di hidungnya. “Rizki…” Abel tersenyum lega. Sahabatnya sedari TK itu masih persis seperti sebelumnya. Tanpa bulu ataupun mata hijau.

Ditepuknya pelan pundak kutu buku itu. Entah kenapa, setiap bertemu Rizki perasaan Abel menjadi tenang. Rizki menoleh. Namun tak seperti yang Abel bayangkan, Rizki yang biasanya tersenyum sumringah saat Abel tiba, kini hanya menatapnya kosong. Tanpa ekspresi sedikitpun. “Hei? Rizki?” Abel mulai panik. “Kau kenapa?” Rizki tetap tidak menjawab. Seketika raut wajahnya itu berubah. Senyum sinis tergambar di wajahnya. “Kau, aku gak kenal, dengan orang yang suka membully saudaranya sendiri.” Abel terkejut. Apa-apaan… bully? Saudara sendiri? “A..apa yang kamu maksud, Ki? Bully? Aku gak membully siapapun!” “Ya. Kau tidak membullynya secara fisik. Tapi Kau, menyakiti hatinya.” Suara dingin Rizki itu menusuknya dalam. Abel sungguh tidak percaya, Rizki yang selama ini menjadi sahabatnya, sahabat yang paling awet selama bertahun tahun kini tidak mempedulikannya. Bukan rasa marah yang ada dalam hati Abel. Tapi rasa takut. Takut, jika Abel kehilangan Rizki. Takut, jika ia tinggal seorang diri tanpa teman.

Tak kuat menahan air mata, Abel berlari meninggalkan kelas. Perasaannya kacau. Orangtua, sahabat, apalagi nanti?? Air mata bercucuran membasahi pipinya. Tak dihiraukannya suara-suara yang memanggil namanya. Abel pusing. Sungguh muak dengan semua ini. Jika ini mimpi, untuk yang kesekian kalinya, Abel berharap agar cepat-cepat bangun.

“Kak Abel?” sebuah suara menghentikannya. Abel tidak ingat pernah mendengar suara itu. Suaranya lembut, merdu dan entah kenapa membuat Abel berhenti berlari. Jalannya jadi semakin lambat, dan tak lama benar-benar berhenti. Abel menoleh. Ia yakin sumber suara itu berada tak jauh darinya. Benar sekali dugaannya. Seorang gadis lebih muda beberapa tahun dari Abel berdiri, tepat di depan cermin besar yang entah sejak kapan berada di situ. Abel membelalakan mata, menyadari siapa gadis di depan cermin itu. “Kak Abel?” gadis itu kembali berbicara. Abel benar-benar kaget. Gadis itu… bisa bicara? Ia mempercepat jalan, menuju gadis yang berpakaian serba ungu.
Abel ingin sekali berteriak. Namun aneh. Apa yang terjadi padanya? Ia telah membuka mulut selebar mungkin, namun nihil, tidak keluar sedikitpun suara dari mulutnya. Jangan-jangan… Abel kembali menangis. Hatinya sakit. Sakit sekali… ia jatuh terduduk di lantai, kakinya seakan tidak kuat menopang berat tubuhnya. Air matanya terus mengalir, matanya panas, hatinya sakit. Abel tak tahu harus apa. Lengkap sudah semua ketakutannya terwujud.

“Kak Abel.. jangan menangis.” Gadis yang tadi ada di hadapan Abel kini duduk di sampinya. “Aku… sayang kakak. Kakak gak akan sendirian, aku pasti selalu ada buat kakak.” Dengan mata basah, Abel menatap gadis kecil di hadapannya itu. “Bhita.” Ia berucap tanpa suara. Di dekapnya erat adiknya itu. Benar adiknya… adiknya yang penyandang tunarungu sejak bayi. Adik, yang selama ini Abel malu untuk mengakuinya. Adik, yang selama ini dibencinya, karena Mama dan Papa terlihat lebih sayang pada Bhita ketimbang Abel.

Abel terus menangis. Ia sadar sekarang. Tahu bagaimana rasanya tidak bisa bicara itu. Betapa sulitnya… betapa tidak enaknya… Abel tahu sekarang. “Maaf Bhita… Maafin kakak…” jika Abel bisa bersuara, mungkin kata-kata itulah yang tak hentinya Ia ucapkan. Bhita yang sedari tadi memeluknya, kini memandang Abel. Matanya turut berkaca-kaca. “Bhita, gak pernah membenci kakak. Bahkan Bhita sering berharap Bhita bisa cerita-cerita sama kakak, ngobrol bareng, dan yang lainnya.” Abel masih terisak. Rasa bersalah menumpuk sangat banyak diatas kepalanya. Ia memandang Bhita. Menyesal karena selama ini tidak belajar bahasa isyarat agar bisa lebih banya mengobrol dengan adiknya itu.

Kemudian Abel ingat sesuatu, ia ingat pernah mempelajarinya beberapa kali. Dulu.. dulu sekali. Tangannya yang basah kini mempraktikkan bahasa isyarat, dengan gemetaran dan takut salah. Melihat itu, Bhita tersenyum. Ia cantik. Dan baru sadar kalau ia sedikit banyak mirip Abel. Bhita mendekatkan bibirnya di telinga Abel, ia berbisik. “Aku maafin kakak. Dan aku, sayang kakak.” Dua kalimat itu benar-benar membuat Abel tenang. Ia berhenti menangis. Matanya terpejam.. hangat yang ia rasakan juga nyaman.

“Abellll!!! Mau tidur sampai kapann!!” kali ini, suara yang satu ini benar-benar membuat Abel terlonjak. Lagi-lagi ia jatuh. Untuk yang kesekian kalinya. Bokongnya sakit dan matanya silau. “Cristabel!!” dan lagi, suara itu makin menyeramkan. “Iya maaa, Abel bangun.” Sontak, Abel kaget. Sangat amat kaget.. suaranya… kembali!

Bergegas ia membuka pintu kamar. Ruang keluarga, ruang tamu, semua kembali seperti semula. “Abel? Ayo sarapan.” Seorang pria berdiri tepat di hadapannyya. Membuat Abel kaget, lagi-lagi. “Papa…” dan kali ini, tanpa bulu dan mata hijau. Abel kemudian bergegas menuju ruang makan. Didapatinya Mama sedang menuang susu, dengan rambut sebahu dan mata coklat. Astaga.. Abel mendesah. Semua kembali seperti semula. Nampaknya aku benar-benar mimpi. Fikir Abel.

Dan di sana, duduk di kursi sebalah Papa, gadis kecil persis seperti dalam mimpinya, mengunyah roti berselai coklat. Dengan wajah berseri dan senyum sumringah Abel menghampri gadis itu, memeluknya erat. Gadis yang dipeluknya itu kaget, Mama dan Papapun sama. “Bhita.. nanti belajar sama kakak, yuk atau main game bareng, atau apapun itu lah…” Abel masih bersemangat. Berceloteh ini itu. Mama dan Papa tersenyum. Bhita merasa sangat senang walau tak mengerti apa yang diucapkan oleh kakaknya itu. “Abel…” Mama mengingatkan, bahwa Bhita tidak bisa mendengar. “Oh iya Ma, Abel terlalu semangat. Kira-kira gimana ya bahasa Isyarat buat ngomong kayak begitu..” Papa dan Mama tertawa. “Wah, kamu mau belajar bahasa isyarat nih?” tanya papa. “Mau pa!” mata Abel langsung berbinar. “Wah, kebetulan sekali. Kak Eva baru saja datang.”

Tak lama, seorang wanita berparas aggun masuk ke dalam ruangan, menyapa mereka satu persatu mulai dari Bhita dan yang terakhir Abel. “Hai Abel? Tidurmu nyenyak?” wanita itu tersenyum. Abel terkejut. Suara itu…

-selesai-

Cerpen Karangan: Syifa Fadhilah
Blog / Facebook: Syifa Fadhilah

Cerpen Suara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mesin Waktu

Oleh:
Pada tahun 2026 dimana dunia sudah mulai dikuasai teknologi canggih, ada 3 sahabat yang bernama jack, nicole dan alex. Mereka baersekolah di sekolah yang sama tepatnya di smp ABC,

I Like You Like I Like a Lake

Oleh:
Namira menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur dengan kasarnya. Menumpahkan semua air matanya disana. Kesedihannya memuncak sudah. Sesekali Ia berteriak histeris dengan menutupkan bantal ke wajahnya. Tak terbayangkan

Kepergian Ibu

Oleh:
Tiara pergi ke kamarnya dan menumpahkan rasa kesedihannya. Penyesalan yang ada di pikirannya saat diberitahukan bahwa ibunya telah tiada. Dia mogok makan, dan tak mau keluar dari kamar. “ya

Edelweis

Oleh:
Lagi-lagi aku harus meninggalkan pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam 09:25, aku

Apakah ini Mimpi?

Oleh:
Malam itu terasa sangat mencekam. Saat hujan turun, kudengar suara tangisan Adly, adik sepupuku. Dia terus menangis tanpa henti, saat itu ia berumur dua bulan, ia hanyalah seorang bayi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *