Sun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 April 2019

Ayus berjalan tergopoh-gopoh menghampiri rumahnya. Keadaannya sungguh mengenaskan. Luka lebam menghiasi sekujur tubuhnya, bahkan setetes darah keluar dari sudut bibir tipisnya. Pakaiannya hampir tak terlihat seperti pakaian mahal bermerk yang biasa ia kenakan setiap hari. Kain satin mahal itu terobek hampir di semua bagian. Matanya memandang rona merah jingga yang terpapar di langit dengan sendu. Ia lelah seharian ini. Cukup lelah bahkan hanya untuk tersenyum sekalipun. Yang ia pikirkan saat ini hanya kasur besar bergaya Eropa miliknya itu. Ia mempercepat langkahnya semampu yang ia bisa. Ingin sekali rasanya tubuh ini jatuh di atas tumpukan busa empuk nan nyaman itu segera, batinnya bergemuruh.

Kejadian yang ia alami seharian ini membuatnya kehilangan seluruh tenaganya. Anak lelaki yang baru merayakan ulang tahun ke enam belasnya dua bulan lalu itu, yang biasanya selalu energic sekarang terlihat loyo. Ia bahkan kesulitan saat menaiki anak tangga yang mengantarnya menuju kamar. Ck, tangga bodoh. Seandainya rumahku seperti rumah Sun yang jarak antara pintu depan dan kamar hanya beberapa langkah saja, mungkin aku tidak harus capek-capek menaiki tangga seperti sekarang, rutuk Ayus dalam hati.

Dengan perjuangan yang cukup panjang akhirnya pemilik wajah indo Eropa-Asia itu berhasil sampai di kamarnya. Tanpa basa basi ia jatuhkan tubuh kecilnya di atas kasur ekspor yang merk-nya sulit sekali diingat oleh Ayus. Mungkin akibat ia sering mangkir dari kelas bahasa Perancisnya dan lebih memilih mendekam seharian di rumah Sun yang membuat ayahnya selalu murka pada anak semata wayangnya itu. Sebenarnya Ayus bukan anak yang nakal. Ia terbilang anak baik dan penurut. Sampai ia bertemu dan kenal dengan Sun. Anak lelaki yang umurnya beberapa tahun di atas Ayus. Yang ia kenal saat pertama kali menginjakan kaki di tanah Paris dua tahun lalu.

Ayus meringis, merasakan sekujur tubuhnya berdenyut sakit. Tulangnya serasa remuk, linu di mana-mana. Ia menggeliat pelan, matanya menatap lekat langit-langit kamarnya yang bercat putih bersih. Pikirannya kembali menerawang pada anak laki-laki berkulit hitam yang telah menjadi temannya selama dua tahun. Sun, si hitam manis yang menjadi alasan dibalik kejadian yang menimpa Ayus hari ini. Alasan terciptanya lebam dan memar yang kini terlihat makin membiru di kulit putihnya itu. Pemuda yang beberapa minggu ini tidak dilihatnya. Pemuda yang akhir-akhir ini tidak lagi bercerita penuh semangat tentang cita-citanya kepada Ayus. Tidak lagi melantunkan suara sumbangnya di depan Ayus. Tidak lagi membacakan puisi-puisi picisan ciptaannya untuk Ayus. Tidak lagi bersinar secerah arti dari namanya, Sun yang dalam bahasa Inggris berarti matahari. Matahari tanggung itu seakan redup, terbenam di ufuk timur dan tak terbit lagi keesokan harinya. Menyisakan dingin di setiap pagi seorang Lucius Alfaro Frenkcort atau yang lebih kita kenal sebagai Ayus.

Ke mana perginya pujangga kawakan itu? Ke mana perginya pembuat lelucon yang selalu berhasil membuat perut Ayus kesakitan setiap kali mendengarkannya. Ke mana calon revolusioner itu menghilang? Ke mana? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Ayus saat tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Matanya memandang sekilas ke arah sosok pria pertengahan tiga puluhan yang memasuki kamarnya. Abraham Frenkcort duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan anaknya yang terbaring, tak mempedulikan kedatangannya sedikitpun. Ia menghela napas beratnya, bingung harus bagaimana lagi menghadapi tingkah putra kesayangannya itu.

“Hentikan Nak, sampai kapan kau akan seperti ini?” suara berat dari ayahnya memecah keheningan yang terjadi beberapa menit lalu.
“Seperti apa Ayah? Aku baik-baik saja.” balas Ayus malas, kini rasa kantuk melandanya. Ayus benar-benar ingin menutup matanya cepat-cepat.
Rasa sakit, lelah dan mengantuk benar-benar membuatnya kehabisan tenaga.
“Kau tidak baik-baik saja anakku, kau sakit. Apa lagi yang kau lakukan hari ini? Menyakiti diri dengan cara mengganggu preman-preman itu sampai mereka memukulimu habis-habisan?” tuding ayahnya mulai tak sabar.
“Mereka mengganggu Marry merampas uang gadis kecil itu, aku hanya tidak suka melihatnya.”
“Kenapa kau tidak memanggil paman Hugo saja, bukankah rumahnya tidak jauh dari sana? Kemarin kau baru saja keluar dari rumah sakit setelah cedera kakimu akibat gigitan anjing yang kau ganggu tempo hari, untung saja kau tidak kena rabies.”
“Anjing itu gila, tiba-tiba saja menyerangku.” Gumam Ayus.
“Anjing itu tidak akan menyerangmu kalau kau tidak dengan sengaja menginjak ekornya, Ayus.” Tukas Abraham geram.
“Aku tidak sengaja, ekornya tak terlihat waktu itu.” Ucapnya membela diri.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu Ayus? Ceritakan padaku agar aku bisa menolongmu Nak, ayah rindu putra ayah yang dulu. Lucius Alfaro Frenkcort yang penuh semangat.” Tanya Abraham melembut, berusaha membujuk.

Tak ada jawaban dari Ayus. Ia benar-benar sudah tak kuat menahan rasa kantuk yang semakin menjadi ini.

“Apa ini semua karena Sun?” pertanyaan ayahnya kali ini membuat tubuh Ayus menegang, rasa kantuk tiba-tiba menghilang.

Jantungnya berdegup kencang. Denyut kesakitan makin bertambah ketika nama itu terdengar lagi. Seakan luka di seluruh tubuhnya bukan apa-apa dibanding perih di hatinya yang selalu ia rasakan jika mengingat tentang Sun. Matanya terbuka lebar, terasa panas. Ia menahan isakan itu. Sun.

“Aku rindu mom,” ucap Ayus pelan sebelum ia menutup kelopak matanya. Genangan air di ujung matanya jatuh tanpa aba-aba.

Cerpen Karangan: Warnengsih
Blog / Facebook: Warnengsih
penggemar cerita bergenre fantasi tapi tidak bisa membuat cerita fantasi. wkwkwkwk

Cerpen Sun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diam Diam Suka

Oleh:
Aku… Siswa biasa yang bersekolah di SMA favorite. Entah apa yang aku harapkan saat itu. Kenapa aku bisa masuk SMA, yang notabennya adalah siswa-siswa famous dan berprestasi. SMA Tuna

Bungkusan Kertas Cokelat

Oleh:
Satria berjalan menyusuri lorong kantin sekolah, matanya tertuju pada selembar uang seratus ribu yang tengah tergeletak di lantai. Dia tengok kiri kanan (gak ada yang tahu!), lalu menghampiri uang

Perjuangan Ayahku

Oleh:
Perjuangan seorang ayah baru disadari Abeng sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dirinya baru menjelang melihat pergulatan ayahnya mencari penghidupan sebagai Pegawai Negeri. Sementara temannya

Untuk Satu

Oleh:
Benci, demikian yang ku rasa. Apa hal yang membuatku terjauhi? Inikah yang dilakukan oleh sang Kuasa? Tak adil rasanya. Aaah, apa daya. Orang bilang kita tak boleh menyalahi Tuhan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *