Supercake

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 February 2016

Lelah. Hanya itu yang dapat ku ungkapkan selama sehari penuh. Noda bekas cream cake, air, mentega, tepung, tumpahan telur, dan berbagai karya seni hari ini yang dapat ku buat di celemek merah kesayanganku. “Delta!!! Aku pulang!!!” seperti biasa Aku berteriak di depan pintu untuk menyuruh Delta membukakan pintu karena barang bawaanku banyak sekali.

“Ckrek!” Pintu pun dibuka oleh Delta dengan muka malas-malasan. Tetapi, karena dia melihat donat yang dibawa aku dia menjadi bersemangat. “Donat..” itulah kata-kata yang biasa diucapkan Delta ketika aku pulang. “Nanti ya, sekarang kamu mandi dulu sana.. nanti baru boleh makan donat..” ujarku sambil tersenyum kepada Delta.

Namaku Cake. Sesuai dengan namaku, aku sangat menyukai roti dan pandai membuat roti. Kini, aku bekerja di toko roti milik ibuku. Walaupun aku sedang liburan kelulusan sekolah akademi musik, aku tetap melanjutkan pekerjaanku niat liburan masih di-‘labil’-kan oleh keluargaku. Sore ini, setelah mandi aku masuk ke dalam kamarku dan membuka jendela kamarku. Udara hangat kali ini mendatangi diriku dan menghilangkan rasa lelah yang menumpuk pada hari ini. Melayani pembeli, membuat roti, membantu kasir dan pelayan lainnya, belanja ke sana-sini membuatku lelah seharian ini. Dalam hatiku, aku merasa bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi waktu untuk bersantai dan merilekskan tubuhku sejenak menghilangkan rasa lelah. Aku berjalan ke lemari es di ruang makanku lalu mengambil sebuah kotak roti bewarna cokelat dan berpita marun. Ku bawa masuk ke kamarku dan ku buka kotak itu.

“Huft..” Aku mendesah lega. Aku mencium aroma krim roti itu. Enak sekali. Tapi, tiba-tiba sebuah hal yang baru terlintas di pikiranku. Ku makan roti itu dan berjanji pada diriku sendiri untuk membuat roti itu pada keesokkan harinya. Keesokkan harinya… “Hoamm..” hari sudah pagi dan aku beranjak bangun untuk cepat-cepat mandi untuk langsung berangkat ke toko roti ibuku. Setelah mandi, giliran Kesha, adik kecilku itu minta disuapi sesuap bubur oat yang sangat menjijikkan itu. Aku berpamitan kepada ibuku dan langsung pergi menuju ke toko roti ibuku. Beruntung toko roti ibuku ini jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku sehingga tidak memakan banyak waktu ketika berjalan kesana dari rumahku.

Sesampainya di toko, aku membersihkan meja dan semua peralatan yang ada di toko roti ibuku, mengelap kaca pintu dan jendela, membalik papan ‘close’ menjadi ‘open’, menyalakan dispenser kopi, dan lain-lain. Karyawanku sudah banyak yang datang dan langsung membantuku membersihkan serta mempersiapkan segalanya. Mulai dari melakukan apa yang aku suruh dan juga membuat berbagai macam cake sebelum para pelangganku datang. “Ting!” Bel toko rotiku berbunyi, artinya ada pelanggan yang baru saja datang. Aku menyuruh satu karyawanku untuk melayani pelanggan itu terlebih dahulu. Tak lama kemudian, karyawanku memberi tahuku apa yang dipesan oleh pelanggan tadi.

“Sugarcake, creamy milkshake, crispy french fries.”
“Okay!”

Aku langsung menyiapkan bahan untuk membuat sugarcake. Ternyata bahan-bahan kemarin masih tersisa (cream cake dan white chocolate). Pelayanku masuk dan langsung membantuku membuatkan crispy french fries dan membuat creamy milkshake. Dapur toko roti ibuku memang sudah biasa menjadi tempat suara mixer, minyak panas, teriakan para pelayan, blender, kompor yang menyala, dan lain-lain. Tapi, semua hal itu tidak menggangguku sama sekali yang penting pelangganku puas dengan rasa dan pelayanan di toko roti ibuku ini. Tak ku sadari, aku terus mengocok adonan sugarcake dan memasukkan ke dalam cetakan roti bulat. Setelah bahannya teraduk dengan rata, ku pre-heat oven dan ku masukkan sugarcake itu ke dalam oven. Menunggu 15 menit, aku menyiapkan cream, gula, white chocolate, pecahan permen lollipop serta berbagai topping lainnya yang harus aku persiapkan.

“Kring!”

Ku percepat langkahku menuju ke oven dan memakai kaus tangan anti panas lalu ku buka penutup oven dan mengambil sugarcake lalu ku diamkan sejenak agar hangat. Setelah hangat, ku lapisi sugarcake dengan krim putih lalu ku taruh ceri di atasnya dan ku taburkan white chocolate di atas sugarcake itu dan ku tempeli pecahan permen lollipop di samping sugarcake itu. “Selesai sudah.” batinku dalam hati. Lalu ku siapkan piring kecil dan memotong sugarcake itu dengan membentuk velvet kecil.

Pelayanku datang dan mengambil sendok kecil lalu menaruh sugarcake itu di nampan marun itu dan mengantar ke pelanggan itu. Giliran creamy milkshake yang belum ku beri toping. Ku ambil whipped cream lalu ku semprotkan di atas creamy milkshake itu dan ku taruh ceri di atasnya. Satu lagi, ku beri wafer roll dan sedotan di sebelahnya. Selesai sudah. Giliran pelayan itu datang lagi kepadaku dan mengambil creamy milkshake itu dan crispy french fries lalu sama seperti tadi dia langsung berjalan cepat ke arah pelanggan itu. Aku berjalan ke dapur dan mengambil sugarcake lalu berjalan ke long freezer di depan dapur dan menaruhnya di long freezer itu dengan suhu 12° Celcius. Aku menyuruh pelayan lainnya yang sudah datang untuk membuat berbagai macam roti tart, velvet, daging, dan lain-lain.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 14.30 dan sebentar lagi toko roti akan tutup. Terlintas di benakku tentang hal yang kemarin. Aku segera berjalan ke long freezer dan mengambil sugarcake buatanku tadi siang. Ku potong dengan bentuk velvet dengan hasil yang terbaik demi membuat Delta senang. Ku ambil kotak berwarna pink muda dan ku letakkan sugarcake di kotak itu lalu menutupnya dan melapisi kotak itu dengan pita warna putih ke merah-merahan. “Semoga dia senang dengan apa yang ku berikan ini..” harapku dalam hati sambil tersenyum.

Semua pelayanku membereskan toko roti dan mencuci piring dan gelas yang telah digunakan oleh para pelanggan yang banyak hari ini. Karena terlalu banyak pelanggan di toko rotiku, aku sampai tak menyadari bahwa ada banyak sekali pekerjaan yang aku lakukan seharian penuh ini. Setelah semuanya beres dan para karyawanku telah pulang, ku matikan lampu dan AC lalu berjalan ke luar dan mengunci pintu toko rotiku. Ku masukkan kotak berwarna pink muda itu dan berjalan menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, aku melepas sepatuku dan mencari Delta. Delta langsung senang ketika bertemu denganku.

“Donat?” tanya Delta. Seperti biasanya. Aku hanya tersenyum lalu menarik tangannya menuju ke kamarnya. Delta yang sedari tadi bingung dan menarik-narik bajuku untuk memberikan isyarat bahwa ‘gak boleh makan donat di dalam kamar’.

“Tutup pintunya..” suruhku pada Delta. Delta menurut dan menutup pintu kamarnya, lalu duduk di sampingku. Kemudian, aku mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink muda itu yang berisi velvet sugarcake itu dan memberikannya pada Delta. Mata Delta membulat dan senyum lebar menghias wajahnya yang lucu itu.
“Supercake..” kata Delta untuk pertama kalinya mengatakan kata-kata yang baru selain papa, mama, kakak, dan donat. Lalu Delta memelukku dengan erat dan dengan wajah yang berseri-seri.

Cerpen Karangan: Aurelia Meidhiana
Facebook: Aurelia Meidhiana
Hai! namaku Aurel! aku berumur 13 tahun dan lahir di Purwokerto, 9 Mei 2002. Aku bersekolah di SMP Susteran Purwokerto. Hobiku menulis cerpen dan novel ^_^ oh ya, jika kalian ingin lebih dekat dengan aku, kalian bisa hubungi aku di:
Facebook: Aurelia Meidhiana, Aurelia Priadi, Aurelia Meidhiana II
Twitter: @aurel_lion21
Line: @aurel_lion21

Cerpen Supercake merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Izinkan Aku Menangis dalam Senyummu

Oleh:
Langit begitu muram, membakar awan hingga tampak merah menganga. Menyulut hingga dasar hatiku, membakat rongga-rongga dada hingga jantungku. Membuat hatiku murka pada Kekuatan Abadi yang memaksa bapakku kembali ke

Dia Kakak Ku

Oleh:
“Ly, kamu baik aja kan?” Lily segera mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia mencoba tersenyum pada Mimi, sahabatnya. “Aku baik aja kok” “Yakin?” tanya Mimi lagi. Lily mengangguk. “Pulang,

Kata Sayang di Dinding

Oleh:
Prang! Prang! Prang! Bia kembali menerbangkan gelas ke kanan dan ke kiri dinding hingga pecah. Gadis tak waras itu selalu melakukan hal tersebut ketika tengah mengamuk. Gadis yang baru

Semua Karena Nayla (Part 2)

Oleh:
“Ibu kok nangis?” tanya Nayla melihat air mataku jatuh saat menatap foto pernikahanku dengan Mas Amran delapan tahun silam. “Ndak, Ibu ndak nagis kok,” kuusap air mata yang sedari

Surat Kecil Buat Tuhan

Oleh:
“Klik” aku mematikan lagu yang sedari tadi menusuk kuping ku. Air mataku tak berhenti jatuh.. mataku bengkak dan rasanya aku ingin mati. “Took… toook… tooook,” yuni ayo makan dulu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *