Surat Dari Bapak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 December 2015

“Budi tolong kau ambilkan emak kayu di belakang.” Teriak seorang wanita yang asyik berkutat dengan tungku arangnya.
“Iya emak, sebentarlah aku sedang merapikan mainan Adik yang berantakan,” Teriak Budi dari dalam kamar Adiknya.
“Cepatlah, Emak butuh kayu-kayu itu untuk memanaskan air,”
“Iya mak, sebentar lagi. Aku segera ke situ,”

Budi yang sibuk memindahkan kayu dari luar menuju dapur, terkejut setelah ada seseorang yang memanggilnya dari seberang jalan rumahnya.
“Budiii, Budi ooh Budi, kau tengoklah apa yang aku pegang ini,” sambil melihatkan sepucuk surat dari seberang jalan.
“Heyyy, kau dapat dari mana surat itu, cepat berikan padaku,” sambil berlari menuju Ucok.
“Tadi emakku ke kota, dia mendapatkan surat ini untukmu. Benarkah ini surat dari Bapak kao?” Tanya Ucok kepada Budi pertanda ingin tahu.

“Sudah lama, aku tunggu surat ini. Aku sudah bolak balik ke kota naik sepeda tapi aku belum mendapatkan surat itu, iya itu surat dari Bapakku di Malaysia,”
“Oh jadi kapan Bapak kao pulang, sudah 2 Bapak kao bekerja di sana tapi sampai sekarang dia tak kunjung datang,”
“Aku tak tahu cok, kapan Bapakku pulang. Sudahlah aku pulang dulu. Belum selesai aku membantu emakku, nanti dia marah lagi padaku,”
“Oh baiklah, salam untuk emakmu yaa,”
“Iya cok,”

Budi yang begitu antusias menerima surat itu langsung menghampiri Ibunya.
“emak, coba kau lihat apa yang aku pegang ini,”
“Surat. Lantas?”
“Iya ini surat dari Bapak di malaisya,”
‘Benarkah? Coba kau bacakan surat itu untuk emak,”
“Okelah mak, sebentar.

“Assalamualaikum, Apa kabar kau anakku? Bapak harap kau, Adik dan emakmu akan baik-baik saja. Bapak rindu pada kalian semua. Jaga kesehatan yaa. Bapak akan mengirimkan uang untuk kalian bulan depan. Ayah di sini baik-baik saja jadi jangan cemaskan Bapak. Belajar yang rajin, salatnya juga, jaga Adik dan emakmu baik-baik yaa. Salam rindu Bapak.”
“Allhamdulilah, Bapakmu baik-baik saja di sana nak,” kata Ibu sambil mengulas senyum.
“Iya mak, tapi kapan Bapak pulang?
“Entahlah nak, emak juga tak tahu. Kau baca sendirikan di surat tadi. Bapakmu tak memberitahu kapan dia akan pulang?”
“Iyaaa mak, Budi tahu,” Ujar Budi yang tertunduk lemas serta wajah yang memuram sedih.
“Sudahlah, kau temani saja Adikmu main di luar. Kasihan dia hanya main seorang diri,”
“Iya mak,”

Budi dan emaknya adalah sepasang Ibu dan anak yang harus berpisah dengan pemimpin keluarga mereka yang mengadu nasib di Negeri Jiran Malaysia. Berharap agar kehidupan mereka bisa jauh lebih baik dari sebelumnya. Adalah Budi, anak yang tak pernah menuntut apapun dari orangtuanya. Berkumpul dan bisa bercengkerama dengan sang Ayah, ia rasa sudah cukup. Walaupun di hati Budi selalu meronta ingin bertemu dengan sang Ayah. Dia hanya bisa pasrah dan berdoa pada sang illahi, agar sang Ayah selalu sehat dan cepat kembali ke pelukannya. Sudah banyak surat yang ia tulis untuk sang Ayah, namun sayang niat yang ia ingin lakukan sejak dulu untuk mengirim surat tersebut kepada sang Ayah tak pernah terlaksana, sehingga surat-surat itu menumpuk di atas meja belajarnya.

“Budi, untuk apa kau tulis surat sebanyak itu?” Tanya Ibu kepada Budi.
“Untuk Bapaklah, mak,” Ujarnya singkat sambil menulis.
“Bapak kau saja baru mengirimkan suratnya sekali, dan kau mau mengirimkannya puluhan surat itu untuknya. Ckckck susuh Nak. Lagi pula biaya posnya mahal.”
“Budi akan bekerja mak, dan mengumpulkan uang untuk mengirimkan surat itu kepada Bapak,”
“Mau kerja apa kau? Umurmu saja baru 10 tahun. Masih terlalu kecil untuk bekerja,”
Budi tertunduk lemas.
“Sudahlah, dari pada kau pikirkan itu. Mending kau ambilkan emak air di sumur, pinggang emak sakit kalau harus menimba air,”
“Iyaaa mak,”

Lagi-lagi semangat Budi untuk mencari uang harus dipatahkan oleh Ibunya sendiri, alasannya masih terlalu kecil. Sangat susah jika tinggal di desa yang kurang terjamah oleh dunia luar. Perjalanan ke luar desa untuk menuju ke kota kurang lebih 3 jam, itu pun harus menggunakan kendaraan bermotor. Menaiki bukit dan sedikit jalanan berlumpur. Budi adalah anak yang sangat pandai di sekolahnya, tak kurang dari beberapa piala ia dapatkan setiap tahunnya. Piala tersebut untuk Bapak katanya, sebagai pembuktian kalau dia adalah anak yang rajin dan pandai. Dan hadiah dari sekolah, karena sudah memenangkan lomba cerdas cermat sekelurahan, ia pun mendapatkan sebuah sepeda. Tak terlalu cepat memang, jika dibandingkan dengan motor namun benda tersebut ia rasa cukup untuk mengantarkannya ke kota.
“Terima kasih ya Allah, akhirnya doaku terkabulkan, mendapatkan sebuah sepeda,” Ujarnya dalam hati. Sambil menaiki sepeda barunya.

Tak terasa, genap sebulan sudahpasca surat dari ayahnya lalu yang katanya akan mengirimkan uang untuknya dan sang Ibu. Tanpa membuang waktu, Budi yang pada saat itu sedang menaiki sepeda menuju rumah langsung berbelok dan menuju kota. Perjalanan itu, memakan waktu kurang lebih 5 jam sangat lelah memang, namun ia yakin jika mendapatkan surat dari sang Ayah pasti rasa lelahnya akan hilang seketika.
“emak, Budi pulang assalamualaikum,” sambil mengetuk pintu dapur rumahnya.
“Dari mana saja kau anak nakal. Kau tak lihat ini sudah jam 10 malam. Sepeda siapa yang kau curi itu ha?”

“Emak jangan marah dulu, Budi habis dari kota mengambil uang dan surat dari Bapak dan ini sepeda adalah hadiah dari guru Budi.,”
“Astagfirulahalazzim, Nak. Kenapa kau begitu nekat. Perjalanan ke kota sangatlah jauh,”
“Tak apalah mak, ini semua demi Bapak,”
“Iya nak, cepat kau bacakan surat itu untuk emak,”
“Iya mak,”

“Assalamualaikum, salam sayang dari Bapak untuk istri dan anak-anakku, Bapak ada pekerjaan baru di malaysia. Bapak sekarang bekerja di pertambangan emas, jadi gajinya jauh lebih banyak ketimbang Bapak harus menjadi buruh pabrik. Itu ada uang sebanyak 5 juta, kerja Ayah selama satu tahun menjadi buruh pabrik di sini, tolong gunakan uang itu sebaik-baiknya, jaga kesehatan kalian dan jaga diri baik-baik yaaa, salam dari Bapak di perantauan,”

Sepucuk surat itu membuktikan jika, Ayah Budi baik-baik saja. Mungkin sedikit doa Budi telah dikabulkan oleh sang pecipta, berdoa agar Ayahnya selalu diberi kesehatan, namun satu doa Budi yang belum sama sekali terjamah adalah kedatangan Ayah Budi ke Indonesia, dan kembali berkumpul bersama mereka. Mungkin surat itu adalah surat terakhir dari sang Ayah tercinta. Hingga pada suatu ketika, Ayah Budi mengalami kecelakaan kerja. Dan mau tak mau harus kehilangan nyawa, akibat tertimbun oleh bebatuan. Berita buruk itu tak pernah Ibu Budi beri tahu kepada Budi, karena ia tahu semangat Budi untuk mengisi hari-harinya ada di sang Ayah. Sampai saat ini jasad Ayah Budi belum ditemukan, itu pun jika ditemukan kondisi jasadnya sudah tidak utuh lagi. Dan terpaksa harus dikubur di malaysia.

Hari demi hari, minggu demi minggu hingga bulan-bulan telah berlalu, Budi selalu menunggu kedatangan surat dari sang Ayah, taksedikit waktunya pun ia luangkan untuk pergi ke kota menaiki sepeda. Namun sayang, seperti yang kita tahu, Ayah Budi telah tiada. Sehingga tak ada seorang pun yang mengirimkan surat untuknya. Dua kali dalam seminggu, bolak-balik desa menuju ke kota. Berharap agar surat yang ia tunggu akan segera datang, namun hasilnya nihil. Kini surat yang ia tunggu-tunggu itu pun tak pernah datang hingga setahun berlalu.

“Budi kau mau ke mana?” Tanya emak kepada Budi.
“mau ke kota mak, biasalah mau mengecek apakah surat dari Bapak sudah ada atau tidak,”
“Apa kau tak tahu, di luar sedang hujan deras,”
“Iya Budi tahu, Budi sudah terbiasa terkena hujan. Dan hujan itu sama sekali tak pernah membuat Budi sakit. Karena hujan tahu, jika ia membuat Budi sakit. Budi tak akan bisa mengambil surat dari Bapak,”

“Sudahlah nak, surat yang kau tunggu-tunggu itu tak akan pernah datang,”
“Hahaha, kenapa mak? Tidak seperti biasanya emak seperti ini padaku,” Tanya Budi heran.
Sudah setahun setelah meninggalnya Ayah Budi, sang Ibu pun belum pernah mengabari kabar sebenarnya tentang sang Ayah kepada Budi. Sehingga Budi harus bolak-balik ke kota untuk mengecek surat. Mungkin inilah saat yang tepat untuk menceritakan semua yang terjadi kepada anaknya.

Budi, yang melihat Ibunya hanya terdiam di samping pintu langsung berjalan dan memegang sepeda di sampingnya.
“Heyy, heyyy, heyyy sudah emak katakan jangan pergi,” ujar emak, berusaha melarang Budi untuk pergi.
“Emak, kau kenapa jadi aneh begini?” Jawab Budi, sambil melepaskan sepedanya ke tanah.
“Iya, Bapak kau sudah tak ada. Bapak kau meninggal nak. Ia meninggal setahun silam akibat kecelakaan kerja di tambang emas,” kata emak, dengan nada intonasi yang tinggi.
Budi terpaku sambil membelakangi Ibunya.

“Maafkan emak sejak dulu tak memberitahumu nak, emak cuma takut kau akan kehilngan semangat,”
Budi tersungkur ke tanah dan menangis sekencang yang ia bisa. Anak berusia 11 tahun itu sangat tepukul, mengetahui berita duka yang ia terima. Ia tak habis pikir, mengapa sang Ibu begitu tega. Baru memberitahu kabar tersebut setelah setahun berlalu. Kini tak ada lagi sang penyemangat hidup Budi. Sosok kepala keluarga yang menjadi panutannya.

“Budi mengirimkan surat ini untuk Bapak, Budi rindu Bapak. Kapan Bapak pulang? Kini rindu Budi sudah tidak bisa tertahankan lagi. Bapak, Budi menang dari perlombaan sains dan matematika. Sebagai hadiahnya Budi diberi hadiah sepeda dari Ibu guru, Budi sudah menuruti apa kata Bapak untuk menjadi anak yang baik, pandai, dan menuruti apa kata orangtua. Sekali lagi Budi rindu Bapak, cepat pulang yaa. Sekian dari surat anakmu, Budi Antono.”

Selesai

Cerpen Karangan: Eka Yunita Rahayu
Facebook: -Eka Bieberr’ Stewart Pattinson-

Cerpen Surat Dari Bapak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Someone Like You

Oleh:
Di suatu pagi yang cerah… “LIA! SINI KAMU!” teriak wanita yang sudah setengah baya itu “Apa lagi sih ma? Lia kan gak sengaja” balas perempuan yang bernama Lia itu

Runi

Oleh:
Sinar pagi sudah merekah. Matahari yang sudah terbit, menyerap melalui celah-celah kecil jendela. Dinda membuka gorden jendela yang ditemani senyuman manisnya. “Haaaah… indahnya!” seru Dinda melonjak senang. Dinda melepaas

Rindu Emak

Oleh:
Perempuan tua itu termenung seorang diri. Bukan hanya sekali, bahkan hampir setiap hari. Tak akan ada suara yang ke luar dari mulutnya jika tak disapa. Usianya hampir tujuh puluh

Postingan Facebook Dan Buku Diary

Oleh:
Sore itu, aku tiba di rumah. Perlahan ku buka pintu rumahku. Ku dapati kedua orangtuaku telah menungguku dengan raut wajah yang mengerikan. Ibaratkan seekor singa yang siap menyerang musuhnya.

1 Jam Saja

Oleh:
Ini tentang Dia. Tentang seseorang yang membuat waktu Lisqia tersita dengan perlahan. lisqia tak pernah ingin meminta kepada tuhan untuk menyegerakan waktu itu cepat berakhir. Karena lisqia ingin menikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *