Surat Dari Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 February 2016

Semilir angin dari kipas angin di kamar kostku yang sempit menepa wajahku, meniup rambut ikalku yang sebahu. Bungkus-bungkus makanan dan botol-botol plastik bekas minuman mineral berserakan di lantai. Televisi masih ku biarkan menyala tanpa suara. Acara-acara khas tengah malam di televisi swasta. Sunyi. Hanya terdengar detak jam di dinding. Dua ekor cicak terlihat berkejaran di sekitar jam dinding itu.

Ku lirik angka dalam jam dinding tua itu. Pukul dua pagi. Ku coba mengangkat tubuh ini. Oh.. entah ke mana tenagaku. Ku paksa otot-otot di lengan dan kakiku untuk bangkit. Berat. Mengapa otot-otot ini gagal mengangkat tubuh cekingku? Bahkan tak sanggup mengangkat kepalaku. Terasa lebih berat dari biasanya. Ku coba lagi. Akhirnya aku berhasil. Walau sekedar untuk duduk. Dengan sedikit menunduk, aku memaksa tubuhku untuk merayap menuju pinggir dipan. Suara berderak kayu dipan yang khas. Terdengar lebih nyaring di malam ini. Aku berhasil duduk di sisi pembaringan. Ah.. bahkan di kota sebesar ini, terasa sunyi saat malam tiba. Aku mencoba berdiri, ku angkat tubuh ini dan mulai berjalan ke kamar mandi di ujung kamar.

Suara berderak kembali terderak ketika ku buka pintunya. Kemudian aku masuk dan membasuh wajahku. Dingin air ku rasakan. Dingin yang kemudian berganti segar terasa di syaraf-syaraf wajahku. Ku lirik cermin kecil kusam yang tergantung di dinding kamar mandi. Ku tatap wajah yang muncul di sana. Wajah lelah dengan mata yang sembab. Wajah letih, bahkan hanya karena berjam-jam terbaring di tempat tidur. Ku seka wajahku yang basah dengan dengan handuk kecil yang di balik pintu kamar mandi.

Aku melangkah kaki ke luar kamar mandi, mataku tertuju pada tempat tidurku, kemudian memandangnya agak lama dan langkahku terhenti. Kertas-kertas berserakan di atasnya. Bahkan beberapa jatuh ke lantai. Air mata ini tak tertahankan, membasahi mata dan hidung, membentur butiran lalu perlahan jatuh dari ujung mata, turun ke pipi lalu melewati dagu dan jatuh ke lantai. Ku lanjutkan langkah, dan ku hempaskan tubuhku. Beberapa waktu ku pertahankan posisi itu. Ku tumpahkan semua rasa ini kepada kasur kapuk ini, kepada bantal dan guling yang selalu setia menemaniku selama ini.

Setelah puas, ku balikkan badan dan mengambil salah satu kertas yang bertebaran di antara tempat tidur dan diriku. Surat dari Ibu. Ku pandangi, dan mulai membaca. Terbayang kemudian saat ku terima surat ini beberapa bulan lalu. Masih dapat aku rasakan betapa bahagianya hatiku ketika menerimanya dari induk semang yang kebetulan tinggal berdekatan dengan kost-kostan ini. Beliaulah yang selama ini menjagaku, membantuku dari segala kesulitan materi ataupun segala urusan tektek bengek yang ku hadapi. Beliau sudah seperti orangtua buatku di sini.

Gempol, 02 Agustus 1997
“Anakku sayang, Anakku, bagaimana kabarmu di sana? Semoga dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Kami keluargamu di sana dalam keadaan sehat semua dan berada dalam lindungan-Nya tak kurang suatu apa pun. Semua berkatmu Nak. Uang kirimanmu sudah Ibu terima. Alhamdullilah terima kasih Nak. Lebih dari cukup untuk makan kami dan sekolah Adik-adikmu. Nduk, kapan kamu pulang? Adik-adikmu selalu menanyakanmu. Mereka kangen. Ibu kangen. Entah sudah berapa tahun kamu tidak pulang. Serasa seumur hidup Ibu tidak melihat wajahmu Nak. Rindu sekali Ibu.”

“Minggu lalu Ibu telepon, kangen ingin dengar suarumu Nak. Bu Parmi yang angkat. Kamu gak ada. Katanya kamu belum pulang. Lembur katanya. Akhir-akhir ini kamu sering lembur. Buat kami ya Nak? Ibu merasa sedih dan sakit sekali di hati ini. Maafkan Ibu ya Nak. Karena kami, kamu harus banting tulang di sini. Tapi kalau boleh Ibu beri saran, jaga kesehatanmu. Kamu itu perempuan. Kita perempuan punya keterbatasan. Jangan kamu paksa tubuhmu. Kalau bisa istirahat, sebaiknya lebih banyak beistirahat Nak. Kalau kamu sakit, bagaimana kamu bisa kerja, siapa yang ngurus kamu di sini Nak?”

“Adik-adikmu dua minggu lalu sudah mulai sekolah lagi. Si Hasan sudah naik kelas 2 SMP, si Amir sekarang kelas 6, akhir ini dia ujian ke SMP. Mereka semangat sekali dengan baju seragam baru yang kamu belikan. Si amir juga Ibu belikan sepatu seperti yang kamu minta Nak. Buku-buku tulis, pulpen, semua sudah ada. Ibu bahagia sekali melihat senyum dan semangat Adik-adikmu. Terima kasih ya Nak. Semua berkatmu. Ingat Ardi Nak? anak sepupumu Hadi dikhitan kemarin. Dia sudah besar sekarang.”

Sampai di situ aku berhenti. Ku seka air mataku. Tidak bisa aku gambarkan bagaimana perasaan ini. “Tinah, teman sekolahmu dulu, bulan lalu dilamar nduk. Besok pernihakannya. Ada pemuda dari kampung sebelah datang melamarnya. Kamu kapan? Ibu sudah pengen momong cucu keburu ibu mati Nak..” Ku hempaskan tubuhku. Kertas tersebut ku geletakkan entah di mana. Aku sudah tidak kuat lagi membacanya. Air mata deras mengalir dari mataku membasahi seluruh wajahku. Ku benamkan dalam-dalam kepalaku di bantal tidurku. Ku luapkan semua perasaanku. Ku tumpahkan di bantal itu.

Setelah lelah, ku angkat wajahku. Sedikit lega rasanya. Ku edarkan pandangan ke seluruh kamarku ini. Kamarku yang telah ku tinggali bertahun-tahun ini. Kamar tempatku bernaung, tempat segala kegiatanku selain di tempat kerjaku. Kamar yang memisahkan aku dengan ibuku. Ku ambil kertas lain yang tergelak di pembaringanku dan mulai membacanya. Namun, sebelum bisa ku baca kata demi kata, kepalaku terasa berat dan pandanganku berkunang-kunang. Lalu ku baringkan tubuhku menghadap langit-langit kamar. Pikiranku melayang-layang. Khayalku pergi meninggalkan ragaku menuju rumahku menemui ibuku, menemui adikku-adikku.

Suara bising kendaraan dan teriakan-teriakan seseorang menyadarkanku. Mataku mencari dinding kamar, mencari jam dinding. Sudah jam 7 pagi. Aku tertidur. Badanku masih terasa lemas, kepalaku masih agak berat. Ku angkat badanku dengan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Segar. Segera ku kumpulkan pakaianku dan memasukkanya ke dalam tas ransel. Ibu aku pulang.

Makassar, 17 Agustus 2015
Buat mama di surga, selamat ulang tahun Semoga kebahagiaan selalu bersamamu.

Cerpen Karangan: I Gede Abdi Negara
Facebook: www.facebook/Abdi Negara

Cerpen Surat Dari Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal Rara

Oleh:
Rara, itu lah namaku. Nama yang merupakan pemberian terakhir dari ibuku. Ya aku adalah seorang anak yang sudah tak lagi memiliki sosok seorang ibu, ibuku meninggal dunia setelah beberapa

Ijinkan Aku Jatuh Cinta

Oleh:
Dea terlelap dalam tidurnya. Hingga ia tak sadar ketika matahari sudah hampir berada di titik teratasnya. Semalaman ia tak tidur, baru setelah adzan subuh Dea bisa terlelap. Dea membuka

Kamu, Doa yang Terus Disemogakan

Oleh:
Aku kelu. Dalam ribuan alasan kepergianku, aku menjadi bisu. Di hadapan bayangmu, rindu itu melepaskan kekuatannya yang begitu kuat, merengkuhku dalam pelukannya. Kamu dan pias wajah yang menenggelamkanku dalam

Surat Untuk Harry

Oleh:
Aku menulis surat ini untukmu Harry, aku tahu kamu tak membuka dan membacanya tapi aku percaya kau melihat dari sana aku sedang menulis surat ini dengan tawa dan senyumku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *