Surat dari Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 July 2019

Hujan yang semula gerimis menjadi lebat seketika. Diiringi bunyi atap seng yang berdentam-dentum karena diterobos derasnya hujan, suhu di kamar kos kecil nan sumpek ini menjadi dingin bukan main. Aku tergopoh-gopoh mencapai jendela kayu lapuk di depanku. Rintikan hujan telah merembes masuk ke dalam kamarku dan membasahi semua kertas tugasku.

Setelah berjuang melawan angin, jendela lapuk ini akhirnya menutup sempurna, walaupun dengan susah payah ia berjuang dengan bunyi decitan disetiap aku membuka atau menutupnya. Decitan itu tak asing lagi di telingaku, aku menyebutnya decitan kehidupan. Karena, decitan itu dapat membuka hariku yang baru. Hari yang lebih baik.

Ting! Ting!
Terdengar suara kecil diantara derasnya hujan, aku segera meraih handphone jadul seken yang layarnya berkedap-kedip seperti lampu diskotik. Sebuah tanda pesan masuk terlihat.

Suf, nggak ke toko? Jangan jadikan hujan sebagai alasan. Cepat kesini! Bundo mau pergi, ada urusan.

Aku menghela napas panjang. Tugas kuliahku masih banyak, apalagi kertas hasil print tadi basah karena hujan. Besok harus dikumpulkan, itu pun aku sudah terlambat mengumpulkan karena sibuk mencari penghasilan untuk menghidupi diriku sendiri di sini. Tapi, mau diapakan lagi? Jika sudah membuat keputusan, harus dijalankan.

Tanpa ba-bi-bu aku mengetik balasan untuk Bundo dan segera mengambil ember untuk menampung tetesan air di dekatku serta kuraih jaket tebal satu-satunya yang kupunya, karena aku tak pernah memiliki payung.

“Suf, hujan-hujan mau kemana kau?” Tanya Andi samar-samar dengan santainya duduk dengan secangkir kopi di tangannya sambil menikmati derasnya hujan saat aku sampai di muka pintu. Tapi dengan logat bataknya yang keras itu aku mendengarnya sangat jelas.
“Mau ke toko, Ndi!.” Balasku setengah berteriak ke arah Andi yang mengerutkan dahi di seberangku. Kosan Andi yang berada di seberang kosanku terlihat gagah melawan derasnya hujan. Tidak seperti kosanku yang gentengnya bocor kemana-mana. Tapi, aku punya tempat tinggal saja sudah bersyukur.
“Ha?! Kecil kali suara kau! Tak dengar aku!”
“Ke to – ko!” Balasku kencang sampai-sampai mengalahkan suara derasnya hujan. Andi di seberangku manggut-manggut sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.
“Eh eh! Tunggu sebentar, Suf! Tunggu di sana!” Teriak Andi tiba-tiba saat kakiku baru saja ingin melangkah keluar teras. Andi meletakkan cangkir kopinya di atas kursi yang didudukinya dan tergesa-gesa masuk ke dalam kos. Aku hanya mengikuti perintahnya untuk diam.

Setelah satu menit, Andi datang dengan langkahnya yang besar dengan payung besar hitam di tangannya. Ia berjalan sampai di muka teras dan mengayunkan payung besar itu pelan.
“Yusuf! Tangkap, Suf!”
“Biar saya saja ke sana, Ndi! Nanti kena muka saya lagi!” Teriakku was-was, aku masih mengingat dengan jelas, bagaimana tangan berotot Andi melempar buku tugas setebal enam ratus halaman dari jarak sekitar lima meter dari hadapanku.

Aku berlari kesana kemari mengikuti arah datangnya buku tebal itu, tapi sialnya buku itu malah menimpuk wajahku. Saat itu, aku langsung terjatuh dan hidungku berdarah. Semenjak itu, aku merasa trauma setiap melihat orang melempar apapun yang berada dekat denganku. Terutama saat melihat tangan kekar Andi, aku tiba-tiba merasa pusing.

“Ha?! Kau bilang apa? Yang jelas kalau ngomong!”
“Jangan dilem-“
“Tangkap, Suf!”

Dengan modal nekat, aku menerobos hujan dan mengikuti arah datangnya payung besar itu. Saat payung itu di udara dan tepat di atasku, aku merasa kepalaku berkunang di atas guyuran hujan. Saat aku terpejam sesaat, aku merasa aku memegang sesuatu. Payung! Payung itu. Aku berhasil menangkapnya.

“Wah! Jago juga kau! Aku kira kau bakal pingsan lagi. Hahaha.”
Aku senyam-senyum seperti orang yang baru menemukan harta karun, dengan bangga aku buka payung hitam besar itu dan segera kuberlindung di bawahnya. Walau bajuku sudah basah, setidaknya tidak terlalu basah.
“Makasih, Ndi!”
Andi manggut-manggut dengan ekspresi datar. Mungkin dia kira aku sudah gila karena bisa menangkap payung. Aku tak peduli. Sekarang, aku bisa melawan traumaku. Terimakasih Payung!

“Maaf ngerepotin, Bang. Sampe basah kuyup gini. Bundo udah pergi, ada urusan mendadak.” Baru saja sampai di minimarket yang cukup besar ini, sapaan lembut yang memanggil aku ‘Abang’ terdengar di telingaku. Jantungku lagi-lagi naik turun, aku yang kedinginan berusaha tenang. Setenang air mengalir.
“Kan sudah tugas Abang menjaga toko. Kalo masalah hujan-hujanan udah biasa.” Balasku lantang, padahal hatiku berat hujan-hujan begini menjaga toko padahal bukan jadwalku dan aku juga kedinginan bukan main.
“Nih, handuk. Udah Asmi siapin pas tau Abang ke sini.” Ucapnya malu-malu, tapi semalu-malunya Asmi, aku yang malah makin malu dan pipiku bersemu merah. Lelaki macam apa aku ini?
“Yaudah, Asmi kedalam sebentar ya, Bang.” Aku manggut-manggut sambil menutupi wajah merahku dengan handuk yang diberikan Asmi tadi. Asmi, kita udah saling sapa dengan sapaan Abang-Adik, andai kita bisa memanggil panggilan itu bukan sekedar perbedaan umur empat tahun, tapi panggilan untuk seorang suami terhadap istri, atau sebaliknya. Ah, andai kamu tahu perasaanku, Asmi.

“Bang, ini minum teh hangat dulu.” Ucap Asmi mengagetkanku. Baru beberapa menit detak jantungku normal, detak tak normalnya malah kembali.
“Terimakasih.” Ucapku sambil mengambil secangkir teh hangat dan segera menyeruputnya dengan kasar. Seingat aku, sudah sebulan aku tidak menyicipi manisnya teh. Karena uang sakuku tak mampu membeli panganan sampingan seperti ini.

“Oh, iya Bang. Asmi pengen ngomong sesuatu.”
Deg!
Haduh. Kalau di sinetron, ini pasti bakal mengarah ke mengutarakan perasaan. Haduh, jantungku, bertahanlah.
“Hm, ngomong aja, Dik. Gak usah minta izin.” Ucapku berusaha tenang. Ia mengangguk pelan, tapi dari tatapan matanya, itu buka mengutarakan perasaan, ada sesuatu yang mengganjal.
“Ini, ada surat untuk Abang. Dari..,”
Deg!
Surat? Selama aku merantau ke Jakarta untuk meneruskan kuliah dengan modal beasiswa yang aku capai mati-matian, dengan modal nekat dengan uang lima puluh ribu, aku sampai di Jakarta. Dan selama itu, aku belum pernah menerima surat. Dari keluargaku. Terutama Bunda.
“Emm…, Maaf Bang. Asmi nggak bermaksud mau tahu, tapi pas surat ini sampai kemarin sore, memang nggak di lem. Jadi, Asmi buka. Maaf ya, Bang.” Asmi tertunduk, aku terdiam tanpa suara.
“Abang marah ya? Aduh, Asmi nggak sengaja, Bang. Takut surat ini dari orang nggak bener.” Aku mengangguk pelan dan menatap mata Asmi bagai pangeran yang menemukan sang putri tidur.
“Abang nggak marah. Cuman kepikiran siapa yang ngirim.” Asmi terlihat menghembuskan napas lega. Ia segera menyerahkan surat lusuh itu dan meninggalkanku pergi.

Setelah menaruh ember kecil satu-satunya yang kupunya di lantai tepat di bawah genteng yang bocor dengan perkiraan mata hati dan sedikit dibumbui rumusan kimia, aku bergegas menutup jendela dengan kasar. Bunyi decitan jendela yang meronta tak kuhiraukan. Pikiranku kemana-mana, fokusku entah kemana. Rasanya pusing sekali kepala ini.

Rintik-rintik hujan mulai berdatangan, baru sedetik, ia berubah menjadi derasnya hujan. Aku tak bodoh lagi, sudah kupersiapkan agar air yang merupakan anugerah dari Tuhan yang jatuh dari langit itu tak merusak barangku lagi.

Aku duduk di kursi dan menyandarkan badanku, aku memijat pelipisku pelan. Mungkin, pusingku bisa berkurang. Perkataan Andi mengalun pelan namun menusuk hatiku, perkataan itu mengalun seperti kaset rusak yang terus-menerus berputar tanpa henti, “Kalau kau sudah mengambil keputusan, kau harus berani menerima resiko. Cita-cita memang perlu kau capai, dan kau memang harus memperjuangkannya. Tapi, tanpa restu orangtua kau takkan jadi apa-apa. Bunda kau pasti tau yang terbaik buat kau, mungkin dia punya jalan lain. Bunda kau pasti tak pernah bermaksud untuk menghalangi cita-cita tinggi kau itu.”

Aku menghela napas saat teringat ucapan Andi kemarin sore, setelah aku bercerita bahwa ada surat dari Bunda, dia banyak menanyakan prihal keluargaku. Aku memang belum pernah bercerita kepada siapapun, baik itu Asmi atau Andi. Tapi, setelah bercerita, bukannya lega, Andi malah menoreh luka di hatiku. Memang memeperjuangkan cita-cita salah? Aku memang tak tau rencana Bunda, tapi ini jalan yang kupilih.

“Ya Tuhan, bagaimana ini?” Lirihku pelan. Aku terus memandangi surat yang terkulai lemah di atas meja, ini sudah seminggu, tapi tanganku tak berani sedikitpun menyentuhnya. Walaupun, kata hatiku sudah berkali-kali ingin membukanya.

Ting! Ting!
HP bututku bergetar, aku segera meraihnya. Sebuah pesan. Dari Andi.
“Belum juga kau buka?”
Aku sudah menebak isi pesannya. Dengan malas aku ketik balasan untuk Andi. “Apa lagi pedulimu?”. Aku tahu ini sedikit kasar, tapi sudahlah aku memang tak peduli.

Belum sempat HP ini aku banting, agar dia tamat selamanya, lagi-lagi HP ini bergetar, getarannya mengalun mengiringi nada dering yang berputar. Ada telepon. Dari Andi.
“Apa lagi mau kamu, Ndi?” Ucapku sambil memandang HP horror. Angkat tidak? Ah, sudahlah.
“Halo?” Ucapku dingin.
“Halo? Suf!”
“Iya kenapa?!”
“Halo?! Suf suf!”
“Iya kenapa?!!” Balasku geram. Moodku benar-benar buruk.
“Eh, maaf, sinyalnya tadi jelek.”
“Langsung aja.”
“Emm, aku minta maaf kemarin aku marah-marah ke kamu. Mungkin aku baru tau semuanya, jadi aku belum biasa dengarnya. Emm…,”
Aku diam seribu bahasa, aneh, logat Batak Andi hilang seketika. Tutur bahasanya halus, nada bicaranya lembut. Melebihi kembang desa di Sunda.

“Kamu belum buka suratnya?”
Senyum yang baru ingin mengembang, sekarang mengempis.
“Oh, sebenarnya itu aja tujuan kamu telfon? Aku matikan.” Sambarku dingin, tombol merah sudah meraung-raung agar dipencet. Namun, si bawel yang berbicara tak jelas ini menyambung lagi.
“Sebentar, Suf!!”
“Apa lagi?”
“Aku tau kamu sayang sama Bunda kamu. Suf, denger ya.”
“Iya iya!”
Ada helaan napas sesaat sebelum Andi melanjutkan bicaranya.
“Emm, aku tau kamu khawatir tentang isi surat itu. Tapi, lebih khawatir Bunda kamu yang nunggu balasan surat kamu, Suf. Bunda kamu pasti khawatir. Denger! Asmi beberapa kali nelfon aku hanya karena nanyain apa kamu udah buka suratnya, katanya dia khawatir kalo kamu belum tau isinya. Suf, aku udah tau apa isi surat itu. Yusuf, kamu orang kuat, Suf. Kalahkan ketakutanmu demi Bundamu.”
Tut Tut!!
Dan si butut mati begitu saja.

Roda bus yang kunaiki berdecit, sudah beberapa kali roda bus ini seperti ingin lepas dari tempatnya. Kami yang berada di dalam tak pernah bisa tidur nyenyak, bahkan untuk tenang pun tidak. Bus ini pontang-panting melewati jalanan, bunyi mesinnya keras sekali, seperti bunyi odong-odong tua. Kami hanya bisa was-was sambil berusaha tenang di dalamnya.

Sudah sekitar lima jam aku berada di bus ini, setelah menyebrangi pulau, setelah ongkosku dibantu Andi dan Asmi, setelah sekian lama, tiga tahun lamanya, aku sadar kalau aku akan pulang. Benar-benar pulang. Tangan kananku aku genggam agar tidak memberonta untuk memberhentikan bus, sedari tadi pikiranku tak tenang, aku benar-benar tak ingin pulang. Bukannya kacang lupa dengan kulitnya, tapi kacang yang takut akan keadaan kulitnya sekarang.

Dengan basmallah aku tarik napas sedalam-dalamnya, berusaha memejamkan mata walau bayang-bayang itu selalu ada. Sambil memegang surat lusuh dari Bunda, aku menghela napas lembut, dan mataku mulai terpejam dengan bayangan wajah wanita tua yang sedang tersenyum jauh disana.

Plak!!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kananku, aku meringis dan segara menoleh marah ke orang yang berani menamparku begitu saja. Apa salahku?

Baru satu detik menoleh, aku terdiam seribu bahasa. Di depanku, di hadapanku, berdiri seorang gadis manis dengan rambut acak-acakan dan selendang hitam dibahunya, ia menatapku ganas dengan mata sayu dan basahnya itu. Dia Laila, adikku satu-satunya, adikku yang kutinggalkan, selama tiga tahun.

“Masih ingat pulang?!” Segaknya, aku menatapnya datar. Laila yang kalem dan lembut tak nampak di hadapanku sekarang, remaja cantik di depanku telah berubah seutuhnya, buktinya rambut keritingnya telah lurus tegang, bibirnya dipoles merah, bajunya modis, dan cara bicaranya. Semuanya. Karena aku.
“Maafkan Kakak, Ila.” Lirihku pelan. Ia menatapku nanar dengan mata merahnya, entah sudah berapa lama adikku ini membanjiri matanya dengan air mata.
“Kak, maksudku Yusuf. Kamu tahu seberapa susahnya hidup kami di sini?” Aku tertergun, kepalaku yang tertunduk langsung menoleh saat adikku sudah tak sudi memanggilku dengan sebutan ‘kakak’. Tapi, aku sadar aku pantas menerimanya.

Laila menarik napasnya sejenak, aku yang bodoh ini entah mengapa tidak bisa berkata-kata.
“Bunda sakit karena kepikiran laki-laki tidak penting seperti kamu. Ayah sudah meninggal, siapa lagi yang kami jadikan harapan selain kamu? Tapi apa?! Kamu dengan egoisnya pergi begitu saja mengejar beasiswa bodoh itu tanpa memperdulikan Bunda!”
Aku tiba-tiba menangis. Kata-kata itu seperti menampar keras diriku yang jika dipikir benar-benar bodoh. Ya Allah bagaimana ini? Aku menarik napas menatap dalam mata Laila yang sendu namun panas. “Ila, Ka…,”
“Jangan sebut namaku lagi! Aku tidak sudi mempunyai Kakak seperti kamu! Sejak tiga tahun aku menunggu kedatanganmu dan sudah aku sampaikan apa yang harusnya aku sampaikan. Pergilah ke kuburan Bunda setelah itu jangan pernah kembali lagi ke sini. Aku bisa menghidupi diri sendiri dan ada Paman yang menjagaku. Eh, untuk apa aku memberitahu? Kamu juga tidak akan peduli.”
Dan aku benar-benar menangis sekarang, tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa menggeleng dan memegang lengan adikku pelan walau dia menepisnya berkali-kali.

Ia menarik napas panjang, menatapku sejuk, berbeda dengan tatapan kasar tadi. Ia tersenyum lirih diiringi air matanya yang terus turun, begitu juga aku. Ia sekali lagi menarik napas dan berkata, “Selamat tinggal, Kak. Terimakasih sudah membuat sedikit kenangan di hidup Ila.”

Dan detik ini juga, aku hanya ingin Tuhan mencabut nyawaku karena dosa besar ini sudah tidak akan terampuni. Aku terduduk lemah di teras kayu rumah sambil menatap punggung Ila yang semakin menjauh. Beberapa orang yang tengah sibuk di rumahku hanya melintas dan tak mempedulikanku. Aku tertunduk, menangis dan meraung seperti orang gila. Hatiku berteriak keras. “Bunda! Maafkan Yusuf!”

Dan aku sudah tak sadarkan diri.

Cerpen Karangan: Irfa Fee
Blog / Facebook: Irfa Luthfia Rahmani
Nama lengkapnya Irfa Luthfia Rahmani, nama penanya Irfa Fee. Ia hanya seorang perempuan yang mempunyai hobi menulis. Untuk kritik dan saran bisa dihubungi lewat aplikasi line dengan id feeyalr089.

Cerpen Surat dari Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Kenyataan Dalam Sebuah Mimpi

Oleh:
Ku jatuhkan tas besarku ke lantai. Ku rebahkan tubuhku di sofa ruang tengah. Punggung terasa pegal seperti habis membawa berkilo kilo batu. Sore ini aku benar-benar di gembleng dalam

Keadilan Dalam Ledakan

Oleh:
Tidak pernah terbesit walau sekilas, bahkan di zona terliar benakku sekalipun bahwa aku akan melakukan ini. Saat pertama kali mendengarnya dari atasan hati kecilku menolak tegas tapi tidak dengan

Pintu Negeri Atas Awan (Part 2)

Oleh:
Aku beranjak meninggalkan tempat ini dan berjalan menuju homestay. Hari ini, sudahi saja sampai disini. Aku membuka pintu kamar, dan ternyata Pras belum tidur. “Besok kita ke Prau lagi

Senja Untuk Ayah

Oleh:
Aku Dita, usia ku 12 tahun, aku lupa kejadian terakhir yang menyebabkan saat ini aku harus dirawat di Rumah Sakit, ayah ku bilang aku kemarin pingsan dan sempat mimisan

The Everlasting Love

Oleh:
Kebencianku padanya, tak ku sangka merupakan awal dari kisah sedihku ini. – Ashley “Siapa yang tahu, apa itu besaran?” Bu Emma bertanya kepada kami. Ku pandangi sekeliling kelas, tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *