Surat Izin Mengikuti LDKS

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Jam baru menunjukkan pukul 05.30 pagi. Matahari belum menampakkan wajahnya ke dunia. Terlihat Vino, seorang remaja laki-laki sedang sibuk mengacak-acak meja belajarnya untuk mencari sesuatu. Sudah 15 menit berlalu, barang yang ia cari belum juga ditemukan olehnya. Karena merasa kesal, Vino pun memanggil sang adik. Siapa tahu dia mengetahui apa yang sedang dicari sang kakak.

“Hana!” teriak Vino memanggilnya.

Karena Hana sedang membuat susu, jadinya dia tidak mendengar panggilan dari Vino. Kemudian, Vino pun kembali memanggilnya. Kali ini dengan teriakan yang lebih kencang dari yang tadi. Barulah ia mendengar panggilan dari Vino. “iya Kak, tunggu sebentar!” sahutnya sambil mengaduk susu yang sedang ia buat.
“ada apa sih, Kak? Pagi-pagi gini udah teriak-teriak?” tanya Hana ketika sampai di kamarnya.
Bukannya menjawab, Vino malah berbalik tanya. “kamu pasti lihat surat izin Kakak, kan?”
“surat izin apa?” tanya Hana yang kebingungan. “surat izin mengikuti LDKS!” jawab Vino sambil menatapnya.
“aku tidak melihatnya..” Hana menggeleng.

“bohong? Pasti kamu melihatnya? Tadi sore kamu kan yang merapikan kamar Kakak?”
“tadi sore memang aku yang membersihkan kamar kakak, tapi aku tidak melihat surat izin Kakak..”
“tidak mungkin, kamu pasti melihatnya. Karena surat izinnya Kakak taruh di atas meja belajar Kakak..”
“benar, aku tidak melihatnya Kak..” Vino tetap menuduh Hana yang sudah menghilangkan surat izinnya. Sampai pada akhirnya mereka beradu mulut. Pertengkaran mereka terdengar oleh ibu yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ibu langsung menuju kamar Vino, anak pertamanya.

“ada apa sih, Kakak, Adik? Pagi-pagi kok udah ribut?” tanya ibu. “dia sudah menghilangkan surat izinku!!” jawab Vino sambil menunjuk Hana. Hana yang tidak terima dituduh seperti itu langsung angkat bicara. “tidak, Bu, Kakak salah. Bukan aku yang menghilangkan suratnya..”
“alah, bohong kamu? Pasti kamu iri kan sama Kakak? Kakak diizinin ikut LDKS sedangkan kamu tidak..” ucap Vino dengan marah. “sudah, sudah. Benar kamu yang menghilangkannya?” tanya ibu pada Hana. “tidak, Bu, bukan aku..” jawabnya.

“udah, deh, kamu jangan bohong. Jawab yang jujur!” sambung Vino. Hana tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan untuk membuat Vino percaya padanya. Ia jadi menangis, karena Vino terus menerus menyalahkannya.
“sudah, Kak, jangan menyalahkan Adikmu seperti ini. Kasian kan Adik kamu..” ucap ibu yang menenangkan Hana dalam pelukannya. “Ibu tidak bisa mengerti perasaanku. Kenapa sih Ibu selalu membela dia? Kapan Ibu membelaku?” kata Vino sambil pergi mengeluari kamarnya dengan hati yang marah.

Seminggu lagi, di sekolah Arif Rahman Hakim akan mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Di sekolah itu memiliki dua tingkatan, SMP dan SMA. Di sana Vino kelas 1 SMA, sedangkan Hana 1 SMP. Ayah mengizinkan Vino untuk mengikuti kegiatan itu, tetapi tidak dengan Hana. Ayah bilang, Hana masih terlalu kecil untuk mengikutinya, dan tempatnya pun lumayan jauh. Para peserta yang ikut sudah mendapatkan surat izin mengikuti LDKS dua hari yang lalu. Batas pengumpulan surat izinnya tiga hari lagi, dengan tanda tangan perizinan orangtua yang membolehkannya ikut. Jika tidak diizinkan oleh orangtua ataupun suratnya hilang, peserta tidak bisa mengikuti LDKS. Vino ingin sekali mengikuti kegiatan itu, karena ia termasuk siswa yang senang dalam berorganisasi.

“kamu kok belum siap-siap? Nanti ketinggalan mobilnya loh.” tanya ibu pada Vino ketika ia sedang memainkan ponselnya di ruang tengah. “biarin aja, hari ini aku mau naik motor berangkat sekolahnya..” jawabnya.
“ya sudah. Tapi kamu jangan lupa sarapan ya!” kata ibu sambil berlalu meninggalkannya.

Tidak lama kemudian, Vino menuju meja makan untuk sarapan. Tapi, langkahnya terhenti setelah tahu Hana sedang sarapan. Akibat hilangnya surat itu, hubungan Hana dengan Vino jadi tidak baik. Vino bersikap dingin terhadap Hana, Hana pun begitu. Sebenarnya, Hana tidak ingin hubungannya dengan kakaknya jadi seperti itu, karena ia sangat menyayangi Vino. Biasanya mereka selalu berangkat sekolah bersama, semenjak hilangnya surat itu tidak lagi. Vino lebih memilih berangkat sendiri naik motor daripada naik bus sekolah bersama Hana.

Tiga hari kemudian.. Pagi ini, baru Vino yang terlihat di meja makan. Hari ini juga hari terakhir pengumpulan surat izin mengikuti LDKS-nya, tapi Vino belum memegang surat itu.
“pagi Kak.” sapa ayah padanya. “pagi juga, Yah.” jawab Vino.
“oiya, nih, Kak, surat kamu..” kata ayah yang mengangsurkan selembar surat pada Vino.
“surat apa, Yah?” tanyanya yang kebingungan
“surat izin mengikuti LDKS!” jawab ayah sambil menduduki bangku dan memulai sarapan.
Vino terkejut mendengar jawaban sang ayah. “jadi suratnya sama Ayah?”
“iya, sama Ayah. Waktu itu kan kamu kasih ke Ayah. Maaf ya, Kak, kelamaan.” jawab ayah.

Vino baru ingat kalau suratnya sudah ia kasih kepada sang ayah pada saat ia menerimanya untuk ditanda tangani. Ayah biasa pulang kerja tiga hari sekali, sebab itulah yang membuat Vino lupa dengan surat yang sudah ia kasih. Seketika itu, hatinya berdebar kencang. Ia merasa bersalah sudah menyalahkan Hana yang menghilangkan suratnya. “jadi aku sudah salah menuduh Hana? Maafin Kakak, Dek..” batinnya.

Selesai sarapan, Vino langsung bersiap-siap berangkat sekolah. Seperti tiga hari yang lalu, ia berangkat sendiri menggunakan motor. Sesampainya di sekolah, teman-temannya sudah banyak yang mengumpul di aula. Ia langsung menuju ke sana untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata mereka sedang mendapat arahan untuk LDKS nanti dan juga pengumpulan surat izinnya. Sekitar 30 menit mendapat arahan, para murid diberi waktu bebas.

Hari ini sekolah tidak belajar, karena waktunya digunakan untuk mempersiapkan LDKS. Di sela-sela waktu, Vino berniat menemui Hana untuk meminta maaf karena sudah menyalahkannya yang menghilangkan surat izinnya. Tapi, Hana tidak terlihat hari ini. Biasanya ia suka melihat mading untuk sekedar membaca dan ke kantin untuk jajan. Vino langsung menuju kelas Hana, untuk memastikan sang adik ada di sekolah hari ini. Namun, Hana benar tidak ada di kelasnya. Kata teman-temannya pun ia tidak sekolah dan tidak tahu ia ke mana.

Vino khawatir dengan keadaan adiknya, sampai-sampai ia meminta izin pulang lebih dulu untuk mengetahui keadaannya. Di perjalanan, marahan yang ia pernah kasih kepada Hana terbayang di pikirannya. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah membentak apalagi bersikap dingin. Karena Vino sangat menyayangi adik perempuannya. Sampainya di rumah, Vino langsung bertanya pada ibu tentang keadaan Hana. Sampai ia lupa mengucap salam. “Bu, Hana kok tidak sekolah? Hana kenapa?” tanyanya. “Adik kamu sakit. Badannya panas, karena kehujanan kemarin.” jawab ibu dengan sedih.

Vino ingat dengan hari kemarin. Ketika pulang sekolah hujan turun dengan deras. Vino yang membawa motor, pulang sendiri tanpa mempedulikan Hana yang sedang menunggu hujannya reda. Tapi, hujannya tidak kunjung reda. Hana pun nekat pulang dengan hujan-hujanan. Vino langsung menuju kamar Hana. Dengan mata yang berkaca-kaca Vino memasuki kamarnya. Tangisnya pecah setelah melihat adiknya sedang terbaring lemah di tempat tidurnya. Vino mencium kening Hana yang panas tubuhnya sampai terasa pada bibirnya. Ia pegang tangannya juga menciumnya. “maafin Kakak, Dek. Maafin Kakak!” ucapnya sambil terus menciumi tangan Hana.

Hana yang merasakan kecupan bibir sang kakak langsung terbangun dari tidurnya. “Kakak!” betapa senangnya Hana melihat Vino berada di sampingnya. “iya Dek, ini Kakak. Maafin Kakak ya, Kakak sudah jahat sama kamu. Kakak sudah menuduh kamu yang menghilangkan surat izin untuk mengikuti LDKS. Kakak juga sudah ngebiarin kamu pulang sekolah kehujanan sendirian. Maafin Kakak ya, Dek.” maaf Vino yang menyesal telah melakukan itu semua pada Hana.

Tanpa disadari, diam-diam ibu memperhatikan mereka. “Hana sudah maafin Kakak, kok. Jangan seperti itu lagi ya, Kak.” kata ibu sambil berjalan menghampiri mereka. “iya, Bu. Kakak janji tidak akan mengulanginya lagi. Maafin Kakak juga ya, Bu. Kakak sudah marah-marah sama Ibu waktu itu.”

Mulai saat itu Vino berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu, ia tidak akan lagi menggunakan emosinya untuk menyelesaikan masalah. Karena emosi hanya bisa membuat seseorang menjadi tidak punya jalan ke luar untuk menyelesaikan masalah, sehingga kemarahan yang dapat ia keluarkan. Hari keberangkatan LDKS pun tiba. Vino sangat bersemangat mengikutinya. Baginya, LDKS adalah salah satu cara bagaimana seorang pemimpin bisa menjadi pemimpin yang baik, yang mau dipimpin dan memimpin. Yang memimpin anggotanya, dan yang lebih utama memimpin dirinya sendiri.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Surat Izin Mengikuti LDKS merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Love In Paris (Part 1)

Oleh:
Terik matahari perlahan mulai menyinari kaca jendela kamarku yang mengarah ke tempat tidurku. “Nelly..” teriak mama yang super cerewet dari bawah. Mama dari dulu memang cerewet, itu keturunan nenekku.

Jam Weker Sialan

Oleh:
Kring… Kring… Kring… Berisik alarm dari jam weker yang mungkin tak lama lagi umurnya itu terdengar nyaring di telingaku. “Hooaam” protesku pada jam weker bentuk burung hantu yang selalu

Bodoh

Oleh:
Hidup ini memang dipenuhi kebodohan. Orang yang merasa dirinya pandai, dialah yang sebetulnya orang bodoh. Pagi ini misa berangkat ke kampus dengan wajah lesu. Tadi sebelum berangkat ke kampus

Love Hour (Part 4)

Oleh:
Segelas teh limun dingin menyegarkanku kembali setelah berkutat dengan dua matakuliah memusingkan di hari Senin ini. Kevin nampak menikmati biskuit gandum krim cokelatnya -satu pak ukuran besar yang nampaknya

Padun

Oleh:
“Dun, mau kemana kamu?” tanya mbak Ayu sambil menarik tanganku. “Merantau, aku ora tahan nak kaya gini terus. Hidup dalam kemiskinan bukan tujuanku mbak” ketusku sambil melepas gegaman tanganya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *