Surat Terakhir Darinya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 May 2014

Hembusan angin malam dan suara ombak yang menghantam karang membuat aku terpaku di keheningan malam ini. Kegelapan menutupi diriku dari terangnya cahaya di sudut desa ini. Duduk di tepian pantai sambil mengukir gambaran abstrak di atas halusnya pasir.

Berlibur bersama keluarga boleh dibilang telah menjadi rutinitas bagi keluargaku. Satu bulan sekali pasti orangtuaku mengajak kami untuk berlibur dimana yang kami inginkan. Mungkin ini cara mereka meminta maaf kepada kami. Mungkin juga liburan ini adalah acara dimana kami bisa bertemu mereka secara langsung dan berbicara tentang banyak hal. Pasti kalian bingung apa yang aku maksud dalam perkataanku barusan.

Ayah dan mama adalah seorang dokter di Rumah Sakit yang terkenal di Nusantara ini. Mereka berangkat kerja sangat pagi ketika aku dan adikku belum bangun dari tidur kami dan pulang disaat kami telah tertidur lelap sambil meringkuk merindukan mereka yang dulu, mereka yang ada disaat kami membutuhkan kasih sayang, mereka yang selalu ada disaat kami ingin bertanya dan berbagi tentang banyak hal dan tidak seperti sekarang!. Itulah arti dari kalimatku, Mereka mengajak kami berlibur agar kami bisa memaafkan mereka. Memaafkan mereka karena mereka telah bekerja terlalu sibuk dan kurang memperhatikan kami. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka dan tidak memikirkan kebahagiaan anak-anaknya, bisa dibilang mereka terlalu sibuk sampai-sampai tak ada waktu untuk kami kecuali disaat liburan ini. Berbagai perasaan aku rasakan sekarang, perasaan kesal, perasaan benci, perasaan menyesal memiliki orangtua seperti mereka. Mungkin bagi Reza adikku yang baru berumur 5 tahun belum mengerti keadaan ini maklum anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang masalah orang dewasa.

Batu-batu koral yang berada di sekitar ku, aku lambungkan ke tengah laut sana melampiaskan kekesalan, amarah dan penyesalan yang aku rasa saat ini. Air mata mengalir dari asalnya dan menetes di kesunyian malam ini. Menekukkan kedua kaki sambil menaruh kepalaku di atasnya dan terus menangis sebagai hal yang aku lakukan untuk mengeluarkan amarah dalam diri ini.

Suara kicauan burung membuat aku terbangun dari malamku yang dihiasi amarah. Tiba-tiba aku terbangun dan merasa tak asing lagi dengan tempat ini. Yang jelas tempat yang berbeda ketika aku tak sengaja tertidur semalam. Aku baru ingat ini vila keluarga kami yang ada di pinggir pantai. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku melangkah mencapai pintu kamarku untuk membukakan pintu, ternyata ayah yang mengetuk pintu kamarku. Ayah menanyakan keadaanku tapi aku hanya diam tak menanggapinya tiba-tiba mama muncul dari balik tirai yang menghubungkan ruang keluarga dengan ruang makan dan bertanya kenapa aku aku bisa tertidur di tepi pantai. Mereka bilang Kang Herman yang menemukan aku disana dan mengendongku kembali ke Vila ini. Kukira mereka yang membawaku kesini aku sangat kecewa kepada mereka. Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan semalam apakah mereka masih mengerjakan pekerjaan mereka sampai-sampai tak sadar bahwa aku sedang tidak ada di Vila. Apakah mereka tak khawatir dengan keadaan anaknya bila terjadi apa-apa? apa mereka tak peduli lagi dengan ku?. Sungguh rasa kecewa kembali menyelimuti perasaan ini. Aku hanya dapat memendam rasa ini, aku hanya menahan linangan air mata yang ingin menetes.

Segala pertanyaan dari mereka aku hiraukan tak ada yang aku tanggapi. Aku menatap mata mereka dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan, mereka hanya mengernyitkan dahi ketika aku menatap mereka. Apakah mereka masih tak menyadari bahwa aku sangat kecewa kepada mereka yang terlalu sibuk?. Aku langsung bergegas pergi menuju meja makan dengan menahan amarah. Aku duduk di kursi meja makan sambil mengambil nasi dan lauk pauk. Mereka duduk di depanku tapi aku tak mengaggap kalau mereka ada di depanku. Aku makan seperti orang yang sangat kelaparan. Nasi berserakan dimana-mana, suara sendok yang mengenai piring kaca terdengar sangat jelas dan hal itu kulakukan terus menerus sampai mereka akan menegurku. Tiba-tiba ayah naik darah melihat perlakuanku tapi ibu melarangnya dan menyuruhnya untuk duduk lagi. Ibu memarahiku dengan lembut tapi tetap saja hatiku tidak luluh bahkan aku makin menjadi-jadi. Kali ini ayah naik darah lagi ia tak segan-segan memarahiku di depan adikku yang masih kecil sampai-sampai Reza menangis melihat pertengkaran kami.

Sungguh aku tak bisa menahan ini lagi aku sudah sangat kecewa dengan perlakuan mereka. Disaat ayah memarahiku tiba-tiba handphone ayah berbunyi ayah buru-buru mengangkat telpon tersebut ternyata itu adalah perawat yang bekerja di rumah sakit tempat ayah dan mama bekerja. Perawat tersebut memberi tahu kepada ayah dan mama bahwa ada pasien yang harus segera dioperasi. Setelah mendapat telpon tersebut mereka sepertinya akan bersiap-siap menuju rumah sakit. Disanalah puncak kemarahanku. Aku membanting piring ke lantai hingga piring itu pecah berantakan. Mereka serentak kaget melihat perbuatan ku itu. “kalian akan pergi bekerja lagi? Kalau begitu silakan tak usah lagi mengurusi anak-anakmu ini biar saja kami hidup sesuka hati kami, ini waktu untuk keluarga kita berlibur ayah ..mama.. bisa tidak kalian luangkan waktu kalian sedikit saja untuk kami biar kami dapat merasakan kasih sayang dari orangtua, agar kami dapat merasakan apa yang teman-teman kami rasakan, mendapatkan kasih sayang penuh dari orangtuanya” aku hanya bisa berkata seperti itu kepada mereka sambil menangis tersedu-sedu. Aku berlari dari ruangan tersebut dan meninggalkan vila tersebut. Aku berlari sekuat tenaga ke tempat yang sejauh mungkin. Aku memilih berlari menaiki bukit aku terus berlari untuk pergi meninggalkan mereka.

Aku lelah sungguh lelah berlarian sekuat tenaga tanpa ada energi yang mencukupi. Di atas bukit aku duduk di sebuah batu besar yang menghadap pemandangan yang sungguh luar biasa, aku termangu melihat ciptaan dari tuhan yang ini. Pemandangan pantai dan perbukitan sungguh menakjubkan. Tiba-tiba ponsel ku bergetar dari kantong celana. Aku melihat siapa yang menelpon, ternyata mama. Perasaan marah kecewa mulai muncul lagi ke dalam benakku ini padahal baru saja aku sekejap melupakannya. Aku melempar ponselku sejauh mungkin dengan sekuat tenaga. “aku benci punya orangtua seperti kalian, aku tidak mau menjadi anak kalian, pekerjaan dan pekerjaan selalu dinomor satukan sedangkan anak kalian? Kalian telantarkan begitu saja kan…” kalimat itu aku lontarkan aku ingin semua yang ada di sekitarku tahu bahwa aku ini marah, aku kecewa kepada orangtuaku, aku ingin mereka memperhatikan anak-anaknya bukan hanya memperhatikan pekerjaan saja. Aku menangis lagi sekencang-kencangnya hingga aku merasa lemas.

Tiba-tiba kepalaku dilempar kelikir yang entah datang dari mana. Aku mencari siapa yang melemparnya dengan perasaan kesal. Enak saja dia melempar kerikil ke kepalaku memangnya ia siapa berani-beraninya orang itu. Seorang gadis muncul dari balik batang pohon besar yang ada di belakang batu besar itu. Aku serentak kaget melihatnya karena aku tak tahu dia itu siapa dan tiba-tiba muncul seperti itu. “siapa kau? seenak-enaknya saja melempar kepalaku, apa aku punya salah dengan mu?” bentakku kepada gadis tersebut. “kau ada salah denganku, kau telah membangunkanku, sungguh berisik sekali sampai-sampai aku tak tidur dengan tenang” balasnya dengan membentak juga. Aku mengalah karena aku sadar bahwa aku memang salah telah menganggu tidurnya. Aku meminta maaf kepada gadis tersebut untung saja gadis tersebut memaafkanku.

Gadis tersebut mendengar apa yang telah aku teriakkan tadi. Mendengarkan apa saja yang telah aku katakan tadi tentang aku benci kepada orangtuaku, telah menyesal menjadi anak mereka dan tidak mau memiliki orangtua seperti mereka. Air mata tak dapat lagi aku pendam, aku menangis lagi kali ini di hadapan gadis yang baru saja aku kenal.

Gadis itu mengelus-ngelus punggungku menyabarkanku dan membuatku menjadi tenang sedikit. Namanya Naya. Gadis mungil yang mempunyai wajah oriental. Gadis ini memang keliatan cuek tapi aku merasa ada sesuatu hal yang membuat ia tidak bersikap seperti itu kepadaku. “aku telah lama merasakan apa yang engkau rasakan” tak sengaja aku terdengar ucapan itu dari bibir mungilnya itu. Benar tebakanku, aku merasa Naya telah mengalami hal seperti yang aku rasakan saat ini dan ternyata itu benar. Ternyata Naya telah lama tinggal sendirian di bukit ini, ia tinggal di sebuah pondok dekat dari sini rupanya. Naya juga pergi meninggalkan orangtuanya yang terlalu sibuk di dunia bisnis. Naya memilih jalan ini karena ia rasa memilih jalan pergi meninggalkan keluarga dan hanya berdiam diri di rumah sendirian sama saja. Tapi di bagian cerita inilah yang entah mengapa sampai-sampai membuat Naya mengeluarkan air mata. Orangtua Naya berusaha mencari Naya namun disaat proses pencarian Naya orangtuanya malah terjatuh dari atas bukit dan menyebabkan mereka meninggal dunia. Disaat itu Naya merasa sangat menyesal mengapa ia meninggalkan orangtuanya jika ia tahu bakal terjadi kejadian ini Naya pasti lebih memilih untuk sendirian di rumah dari pada orangtuanya meninggal. Namun takdir tak bisa diubah dan akan terus berjalan. Naya hanya bisa terpukul saat itu. Oom dan tantenya Naya berusaha membawa Naya pulang namun Naya tak mau karena dengan alasan ia ingin menenangkan diri sejenak. Tepat seminggu yang lalu kejadiannya. Disana hati Naya sangat terpukul. Naya merasa dialah yang telah membunuh orangtuanya sendiri. Orangtuanya meninggal disaat mencari keberadaan dirinya. Naya menceritakan kronologis kejadian tersebut disana lah aku mulai merasakan tubuhku menjadi dingin dan terdiam. Ia sangat sedih dan terpuruk. Menyesal adalah hal yang pertama dirasakannya dan Naya tak mau aku merasakan hal yang sama seperti dirinya. “kembalilah, temuilah dan meminta maaf kepada mereka, mereka tidak salah, mereka sebenarnya bingung bagaimana mengatur waktu dengan kalian. Tolong hilangkan egomu untuk saat ini Nayla, apa kau mau mengalami nasib sepertiku dan merasakan penyesalan seumur hidup?” ucapnya kepadaku. Aku bingung harus bagaimana aku memang kesal kepada mereka tapi aku tak mau kekesalan itu membuat aku kehilangan mereka. “ya benar, aku tak mau meskipun aku marah kepada mereka tapi aku masih ingin menghabiskan hidup ku dengan mereka” jawabku dengan hati yang gelisah. “kalau begitu kembalilah, secepatnya sebelum hal yang sama terjadi” ungkap Naya dengan nada yang sangat dalam.

Aku pun bergegas berlari turun dari bukit itu. Aku baru teringat jika aku meninggalkan Naya begitu saja. Aku pun berbalik badan dan bilang padanya kalau aku berjanji akan kembali lagi kebukit ini dan menemui dirinya lagi besok.
Senja pun menghiasi perjalananku untuk kembali ke Vila. Aku tak tahan untuk segera kembali ke Vila. Aku ingin menemui mereka meminta maaf kepada mereka atas ke egoisanku selama ini. Tibalah aku di rumah, pintu vila seperti biasa selalu tertutup. Hanya ada Kang Herman yang sedang memotong rumput di depan vila. Kang Herman terkejut melihat kedatangan ku. Ia memberi tahu bahwa ayah dan mama sedang pergi ke rumah sakit karena ada pasien yang segera dioperasi. Saat kondisi seperti ini aku boleh saja marah tapi itu jika aku berfikir menggunakan ego. Untuk saat ini aku tak mau mengambil tindakan dengan memakai ego oleh sebab itulah aku memilih menunggu di dalam rumah untuk menanti kedatangan mereka.

Azan maghrib pun berkumandang aku terbangun dari tidurku walau sebentar tapi bisa membuat hatiku sedikit tenang. Aku menggerakkan badan untuk bangkit lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. “ya allah maafkan lah hambamu ini ampunkan lah dosa hambamu ini, ya allah lindungilah kedua orangtuaku dalam perjalan mereka menuju vila, ya allah semoga ayah dan mama bisa memafaakan kesalahan Nayla. Amin” kalimat demi kalimat doa, aku curahkan kepada allah di akhir sholat, aku berdoa sepenuh hati, ketulusan, keikhlasan aku limpahkan sepenuhnya. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki garasi. “Itu pasti mama dan ayah” besitku dalam hati. Mereka pun mengetuk pintu vila, dengan perasaan legah atas keselamatan mereka, aku membukakan pintu. Ayah dan Mama kaget melihat aku, mereka meminta maaf jika mereka tidak mencariku ke bukit tadi siang. Mama dan ayah lansung memelukku sampai-sampai aku sesak untuk bernafas. “mama dan ayah tega sampai-sampai tidak mencari Nayla, tapi tidak apa-apa toh sekarang Nayla sudah pulang lagi. maafin nayla juga ya ayah.. mama.. Nayla menyesal melakukan itu, Nayla takut mama dan ayah kenapa-napa jika harus mencari Nayla tadi” kuungkapakan segala kalimat yang telah aku susun jika akan bertemu dengan mereka. Mereka bingung mengapa aku takut jika mereka mencariku ke bukit tadi, akhirnya aku pun menjelaskan segala yang aku alami, tentang Naya pun aku ceritakan. Gadis itulah yang membuat aku kembali lagi ke vila ini. Dialah gadis yang membuat aku sadar akan kerasnya egoku.

Besok aku berencana untuk mengajak keluarga ku menemui Naya di atas bukit sana mereka merasa Iba kepada Naya atas musibah yang dialaminya. Aku pun segera bersiap-siap untuk pergi ke alam mimpi, aku terlelap dan menikmati indahnya hidup ini. Walau segala masalah datang tapi akhirnya akan berujung pada penyelesaian, dan itulah sebagian dari jalan hidupku.

Kicauan burung kembali membangunkan ku, jendela dan gordeng yang telah terbuka membuat suasana pinggir pantai sangat terasa, angin pagi yang sejuk ditambah sinar matahari pagi membuat aku ingin tidur lebih lama lagi namun aku ingat kalau hari ini aku akan mengunjungi Naya.

Aku pun bergegas siap-siap, mandi dan memakai pakaian, semuanya telah aku lakukan dan saatnya untuk mengisi perutku yang dari kemarin telah menunggu makanan-makanan. Saat membuka tudung nasi aku terkejut tak ada satu pun makanan yang tersedia. Tiba-tiba dari halaman depan mama memanggilku dan memberi tahu jika ia telah menyiapkan semuanya, sarapan telah ia siapkan di dalam mobil. Mama memang sengaja berbuat seperti itu agar kami bisa sarapan bersama-sama dengan Naya. Ayah telah siap untuk menyetir mobil ke bukit. Ia telah membusungkan dadanya itu menujukkan bahwa dia telah siap dan ingin segera pergi menemui Naya. Ayah penasaran mana gadis yang telah membuat aku menjadi begini sekarang dulu yang selalu berfikir memakai ego kini tidak lagi.

Mobil pun meluncur menuju bukit “Naya aku datang” besitku dalam hati. Suasana perbukitan di pagi hari mungkin kalian tahu rasanya. Sinar matahari dan udara yang sejuk bagai menemaniku di perjalanan kali ini. Tibalah kami di atas bukit. Aku berlari menuju tempat dimana aku pertamakali bertemu dengan Naya tapi aku merasa aneh. Banyak polisi yang berdatangan di tempat ini seperti sedang mengintrogasi kasus saja. Aku mulai kebingungan sebenarnya apa yang terjadi. “permisi pak apa yang terjadi?” rasa penasaran telah menyelimuti pikiranku saat itu. Salah satu pak polisi pun memberi informasi apa yang terjadi, iya berkata bahwa ada seorang perempuan yang bunuh diri disini, ia melompat ke dalam jurang dan mayatnya ditemukan warga sekitar bukit. Aku berdecak kaget apakah itu Naya. Setauku yang tinggal di bukit ini hanya Naya seorang.

Aku berlari meninggalkan keluargaku, aku menuju batu besar tempat aku pertama kali bertemu dengan Naya. Aku berteriak memanggil namanya namun Naya tak menjawab. Akhirnya aku sampai di batu besar itu, disana aku menemukan sepucuk surat. Aku membuka surat itu dengan tangan yang bergetar dan saat kubaca “Nayla ini aku Naya, mungkin ketika kau kesini lagi kau tak dapat bertemu lagi dengan ku, maaf aku telah memilih jalan yang salah bagimu namun itu jalan yang benar bagiku, aku telah menyusul kedua orangtuaku ke surga, sampai jumpa Nayla semoga kita bisa bertemu lagi” air mata pun tak dapat aku bendung lagi. Teman yang aku temukan hanya satu kali ini telah membuat perubahan pada hidupku tapi aku tak dapat membalas jasanya. Aku pun terjatuh dan terduduk di rerumputan, orangtuaku memelukku dan menabahkan hatiku. Mereka telah tahu bahwa itu Naya karena mereka tadi bertanya kepada salah satu warga sekitar.

Selamat tinggal Naya terimakasih atas bantuanmu. Semoga kita bisa bertemu lagi untuk dikehidupan kedua nanti. Aku pun membalikkan badan untuk melihat tempat dimana aku dan Naya pernah bercerita yang pertama dan terakhir kalinya. Aku melihat sosok Naya di antara pepohonan sambil melambaikan tangannya kepadaku dan kubalas dengan senyuman.

THE END

Cerpen Karangan: Nisrina Luthfiyah
Facebook: Nisrina Luthfiyah

Cerpen Surat Terakhir Darinya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Bukan Jodohku

Oleh:
Pov Shila Aku menyesap choco hezelnut, minuman yang disediakan oleh kedai coffee and chocolate. Asapnya mengepul, aku mencium aromanya dan meminum kembali choco hazelnut. Aku melirik arloji yang ada

Kapsul Cita-Cita

Oleh:
Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan

Rahasia Dibalik Pena Nenek

Oleh:
Mentari telah bangkit meraih angkasa. Burung-burung bersenandung merdu penuh makna. Terlihat sesosok wanita tua sedang asik memandang ke arah langit. Tersenyum anggun namun penuh arti. “Nek! Nenek! Lala berangkat

Anakku Bukan Anakku (Part 1)

Oleh:
Taburan bunga yang penuh warna di atas karpet merah, mengisi setiap lorong dan jalan menuju altar. Tempat duduk dan meja yang cantik dengan hiasan sepasang burung merpati bercat emas

Rezeki Dari Sepatu Butut

Oleh:
Pagi itu Rizky sedang menalikan sepatunya semangat paginya untuk sekolah surut karena melihat sepatunya yang sudah jelek dia termenung melihat sepatunya. “andaikan sepatu Rizky gak butut pasti Rizky gak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Surat Terakhir Darinya”

  1. Venisya zahra says:

    Seru,Bagus,Keren,Sampai aku terharu,,,,lanjutkan !!!!

  2. Nisrina Luthfiyah says:

    Terimakasih Venisya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *