Surat Terakhir Untuk Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Mama menangisi makam Papa yang baru saja Papa dimakamkan disana siang ini, aku yang berada di samping Mama hanya bisa memeluknya dari samping. Papa meninggal karena kecelakaan, saat itu Papa sedang mengejarku yang keluar dari rumah sakit. Aku saat itu sedang mengambek karena sebal disuruh begitu banyak minum obat yang pahit-pahit dalam satu hari, tetapi Papa dan Mama tetap membujukku tapi hari itu aku sama sekali tidak ingin minum obat makanya aku mengambek dan berlari ke arah luar rumah sakit. Lalu aku yang sedang marah tanpa pikir panjang menyeberang jalan tanpa menoleh kiri dan kanan, tanpa kusadari ada mobil dalam keadaan kencang yang ingin menabrakku. Papa dengan spontan menyelamatkanku dan mendorongku ke pinggir jalan, namun na’as Papa yang menyelamatkanku malah tertabrak mobil hingga mental kepalanya membentur pinggir selokan.

Dokter mengatakan Papa mengalami pendarah di dalam otaknya dan tidak bisa ditolong lagi, hari itu juga aku menyesali perbuatanku sendiri. Kak Nana dan Mama begitu nangis sesenggukan sambil memeluk jasad Papa, aku hanya bisa melihat dari luar kaca jendela saat Papa berada di ruang ICU yang tertutup selimut rumah sakit mukanya dan seluruh badan. Aku mulai menyalahkan diriku sendiri karena telah menyebabkan kecelakaan itu, dan bukan aku saja bahkan aku merasa kak Nana dan Mama juga menyalahkan aku yang telah membuat peristiwa itu terjadi.

Pulang dari pemakamman Mama langsung masuk ke dalam mobil bersama kak Nana, tapi aku dilarang tidak boleh satu mobil sama Mama katanya Mama tidak mau satu mobil denganku. Akhirnya aku naik mobilnya pak RT dan diantar sampai depan rumah, di rumah Mama dan kak Nana masuk ke dalam kamarnya masing-masing mereka menangis di kamarnya masing-masing.

Oh iya, namaku Viro Dion Putra aku masih kelas 5 SD di SD swasta SD Cahaya Hati, aku mengidap penyakit kanker hati makanya setiap hari harus meminum obat-obatan yang begitu banyak. Aku melihat Mama dan kak Nana tertidur di kamarnya masing-masing mungkin mereka kecapekan, jadi aku berniat memasak untuk makan malam Mama dan kak Nana. Aku hanya bisa memasak nasi goreng kesukaan Mama (karena hanya itu yang aku bisa.h ehehe), setelah selesai aku membangunkan Mama dan kak Nana.

“Na, kita makan di luar aja yuk!” Ajak Mama padahal aku sudah memasak untuk mereka,
“Tapi mah, kan udah aku masakin..” kataku pada Mama.
“Aku sama Mama nggak mau makan masakan anak durhaka kaya kamu!” Kata-kata kak Nana menusuk jantungku,
“Ayuk, Na.!” Mama dan kak Nana pergi meninggalkanku sendiri.

Hari-hari berlalu Mama sama kak Nana masih bersikap ketus dan terkadang mereka tak pernah menganggapku ada, yang membuat aku sedih kenapa mereka berubah kepadaku? Apa mereka sudah membenciku? Dimana mereka yang dulu dan perhatian kepadaku? Aku merindukan masa-masa saat ada Papa dulu andai aku tidak bertingkah seperti dulu. Setiap malam hanya bisa menangis menahan sakit yang kuderita, aku tak berani bilang kepada mereka karena belum tentu peduli kepadaku. Mereka yang sekarang bukan seperti yang kukenal dulu bukan Mama yang dulu yang selalu memanjakanku dan khawatir kepadaku, kak Nana juga bukan yang kukenal dulu yang selalu membuatku tertawa disaat aku sedang sedih dan yang selalu menangis melihatku kesakitan.

‘PRAAAANNG!!!’ Suara piring pecah gara-gara tersenggol kak Nana aku yang sedang berada di situ bersama kak Nana hanya diam sampai Mama datang menghampiri kami,
“Ada apa ini?! Ya ampun ini kan piring kesayangan Mama!” histeris Mama melihat piring kesayangannya pecah.
“Itu mah, Viro yang melakukannya!” Tunjuk kak Nana dan membuatku terbelalak sambil menggeleng kepada Mama dengan panik,
“Memang kamu anak nggak tau diri!!”
‘PLAAKK’ Mama menamparku dengan kencang sekali sampai aku terjatuh ke lantai.
“Bersihin sampai bersih saya nggak mau tau!!” Perintah Mama,
“Hahahaha.. emang enak!” ledek kak Nana.

Aku membereskan pecahan-pecahan beling piring itu sambil menangis, rasanya baru pertama kali Mama menamparku keras sekali sampai sakitnya tidak hilang-hilang. Belum sempat hilang rasa sakit di pipiku tiba-tiba tanganku tergores beling tak sengaja, rasanya aku tak kuat bila Mama dan kak Nana terus memusuhi dan membenciku seperti ini aku ingin mereka yang dulu yang selalu ada buatku yang selalu baik padaku.

Pagi hari pukul 3.00 pagi aku terbangun dari tidurku karena penyakitku kambuh sampai aku tak kuat bangun rasanya, aku mencari-cari obatku di dalam laci tapi kulihat ternyata habis. Membuatku panik karena aku tak tahan menahan rasa sakit yang teramat sakit ini, hidungku saja sampai keluar darah. Aku langsung ke luar kamar menuju kamar Mama dan menggedor-gedornya, karena Mama masih tertidur dan tertutup kamarnya.
“Mahh.. mahh… mahh bukaa…” Suaraku benar-benar lemas bahkan berdiri saja aku lemas,
“Aaaakkhh!!! Ada apa sihh!!?” Mama membuka pintu sambil marah-marah.
“Mah, obat ku habis… penyakitku kambuh..” Aku menunjukkan botol obat yang kosong,
“Ohhh.. habis? Ini makan tuh obat!!” Mama melempar botol obatku hingga pecah.
“Dan kamu pergi sana! Ganggu orang tidur aja!” Mama mendorongku hingga ku terjatuh ke lantai,
“Udah sana saya mengantuk!” Mama membanting pintu kamarnya.

Hari itu aku tidak masuk sekolah karena tak kuat untuk bangun dari tempat tidur, aku ditinggal sendirian di rumah. Mama pergi ke rumah temannya dan kak Nana seperti biasa berangkat ke sekolah (kak Nana masih kelas 1 SMP), Mama yang biasa merawatku saat sakit seketika hari itu tidak perduli sama sekali. Aku melirik foto Papa, Mama, aku dan kak Nana yang berada di taman saat itu, aku rindu mereka yang dulu kenapa mereka cepat berubah? Maafkan aku yang waktu itu tidak bersyukur memiliki mereka. Di foto itu Mama dan Papa sedang menciumku dan kak Nana berada di samping Mama sedang memeluk Mama dari samping, pah, seandainya Papa tidak pergi apa semuanya tak akan berubah? Aku kesepian pah di sini.

Aku sedang bermain bola bersama teman-temanku di sekolah, sebenarnya kondisi ku belum fit tapi aku tak mau menghabiskan waktuku hanya di tempat tidur. Sekarang aku lebih senang berada di sekolah karena ada banyak teman yang baik padaku, dan ada juga banyak guru-guru yang selalu perhatian terhadapku dan muridnya. Aku termasuk anak yang berprestasi di sekolahanku, selalu mendapatkan juara 1 atau 2 dalam hal pelajaran. Aku juga mau mengikuti olimpiade matematika sekecamatan yang akan dilaksanakan minggu depan di sekolahku dari berbagai penjuru sekolah mengikuti olimpiade ini, tapi hanya aku yang mewakilkan dan dipercaya sama guru-guru di sekolahku. Saat aku sedang bermain bola tiba-tiba tanpa aku sadari hidungku keluar darah segar dan mengotori baju seragam putihku (aku tidak memakai kaos olahraga karena bukan pelajaran olahraga), kepalaku terasa pusing sekali membuat pandanganku menjadi gelap. Aku langsung di bawa ke UKS semua teman-temanku dan guru-guruku panik melihatku, guruku mencoba menelepon Mama tetapi katanya Mama sedang sibuk dan tidak bisa datang ke sekolah menjemputku. Akhirnya aku diantar pulang oleh wali kelasku, Mama yang melihat aku diantar pulang langsung berterimakasih kepada wali kelasku.

“Nih, cuci sendiri!” Mama melempar baju seragam putihku ke arahku yang sedang mengerjakan PR di ruang tamu siang itu,
“I..i..iya.. mah” jawabku terbata-bata karena takut dengan bentakan Mama.
“Baju putih bagus gitu bisa jadi merah semua, dasar jorok!” Ucap Mama padaku aku hanya terdiam dan menundukkan kepala tidak berani melihat Mama,
“Ma.. maaf mah..” ucapku pelan tapi Mama langsung pergi meninggalkanku di ruang tamu.

Hari berlalu setiap harinya aku selalu belajar untuk olimpiade 2 minggu lagi, aku tak mau mengecewakan semua yang berharap kepadaku. Sepulang sekolah aku melihat jam tangan mewah perempuan seharga Rp. 500.000 di toko jam tangan dekat sekolah, aku jadi teringat ulang tahun Mama 2 minggu lagi. Sesampai di rumah aku langsung memecahkan celenganku yang berbentuk ayam, aku menghitung uang yang ada di dalam celenganku cuman ada Rp. 300.000. Masih kurang Rp. 200.000 lagi, aku punya ide untuk kerja part time di rumah makan menjadi pelayan. Dibayar perhari Rp.25.000 kerja dari jam 12.30 sepulang aku sekolah sampai jam 10.00 malam, pulangnya aku langsung mencuci pakaianku karena Mama tidak mau mencucinya lagi seperti dulu aku selalu dicucikan untung saja pakai mesin cuci jadi bisa sambil belajar.

Setelah 8 hari kerja uangnya terkumpul juga, sepulang dari sekolah aku membeli jam tangan mewah itu untung saja belum laku terjual. Tapi gara-gara aku terlalu capek bekerja tubuhku mulai melemah badanku sering sakit dan penyakitku mulai sering makin menjadi kambuh, bahkan terkadang tanganku tidak bisa digerakkan karena kaku sekali aku takut tidak bisa mengikuti lomba olimpiade. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba aku ikut lomba olimpiade berangkat sendiri bersama wali kelasku, peserta yang lain bersama Mamanya dan wali kelas tapi gara-gara Mama tak mau mengantarku jadi aku hanya berdua dengan wali kelasku. Aku mengatakan Mama tak bisa mengantarku alasannya Mama tak enak badan, padahal ini lomba sekaligus hasil tesnya. Dan pada akhirnya aku dinyatakan juara 1 lomba olimpiade matematika sekecamatan, aku menelepon Mama agar ia bisa segera datang untuk menyaksikan aku naik ke atas panggung Mama malah tidak mengangkat teleponnya.

Namaku dipanggil dan disebutkan aku juara 1 olimpiade matematika sekecamatan, wali kelasku berlinang air mata bangga dan memelukku aku sendiri pun menangis bangga sambil membalas pelukan wali kelasku. Saat aku mau naik ke atas panggung ternyata teman-temanku menyusul kami ke lokasi lomba, teman-temanku sekelas berlari memelukku sebelum aku sampai ke atas panggung. Aku merasa bahagia walau tak ada kehadiran Mama atau pun Papa dan kak Nana di sini, yang penting aku bisa membawa harum nama keluargaku. Aku naik ke atas panggung lalu diberikan medali dan piala penghargaan sebagai juara olimpiade matematika tingkat kecamatan, jujur selama ini aku memang suka matematika dan cita-citaku ingin seperti Papa menjadi seorang arsitektur. Tiba-tiba saat dipanggung hidungku mengeluarkan darah lagi dan pandanganku menjadi gelap, aku terjatuh pingsan piala yang kupegang terjatuh pecah.

Aku langsung dibawa ke ruang ICU semuanya panik wali kelas dan teman-temanku panik semua, aku merasakan mereka menangisiku dari luar ruang ICU. Wali kelasku menelepon Mama tapi tak mendapatkan jawaban dari Mama, wali kelasku panik dan berusaha menghubungi guru-guru yang lain agar ke rumahku memberitahu Mama. Dalam keadaan komaku aku bermimpi aku sedang bermain-main kejar-kejaran sama sosok yang paling kurindukan yaitu Papa, dalam mimpiku Papa mengajakku tinggal bersamanya disana. Disana Papa mempunyai istana dan katanya itu istana untuk kita berdua tinggal nanti, aku senang kalau aku tinggal sama Papa disana aku pasti tidak akan merasakan sakit, kesepian dan rasa bersalah yang selalau menghantui. Papa bilang aku harus izin dulu sama mereka Mama, kak Nana, guru-guruku dan teman-temanku yang saat ini sedang mengkhawatirkanku, nanti kalau sudah izin aku boleh tinggal bersamanya di dalam istana yang megah itu. Lalu aku tersadar dan terbangun aku sedang di ruang ICU memakai peralatan ICU yang sangat aku benci, badanku lemas sekali rasanya hanya bisa diam lalu dokter yang melihat aku sadar langsung memanggil wali kelas dan temanku perwakilan 3 orang masuk ke dalam ruang ICU untuk melihatku sadar.

“Viro.. viro… alhamdulillah kamu sudah sadar?” Ucap walikelasku dengan wajah bahagia melihatku sadar,
“Ma..Mama.. ma..na..” suaraku lemas terbata-bata dan kurang jelas karena tertutup selang oksigen di mulutku tapi walikelasku mengerti apa yang aku ucapkan.
“Mamanya Viro bentar lagi datang kok, Viro jangan kuatir ya!” Walikelas membohongiku supaya aku tak sedih,
“Aku.. a..ku.. mau…” omonganku terputus karena sulit mengeluarkan suara.”A..ku.. mau.. pa..mit…”
“Viro.. kamu mau pergi kemana?” Tanya salah seorang dari 3 orang temanku sambil menangis,
“Ke.. sur..ga.. ber..sama Papa” ucapku lalu disusul suara tangis teman-temanku semakin keras.
“Viro.. kamu jangan pergi..!!!” Temanku bilang begitu sambil menangis histeris,
“A..ku.. titip.. kado.. un..tuk Mama ya….”

Setelah memeberikan dan menitipkan kado untuk Mama kepada teman-temanku aku langsung menghembuskan nafas terakhir, disusul dengan tangisan walikelasku dan teman-temanku. Mungkin ini yang terbaik untuk Mama dan kak Nana karena tak akan ada lagi anak yang menyusahkan Mama, dan tak ada lagi adik yang selalu membuat kesal kak Nana. Aku berlari menuju Papa yang sedang menungguku di depan istana kita, saat melihat kedatanganku Papa menyambutku dengan senyuman yang paling kurindukan. Di istana ini aku pasti akan bahagia bersama Papa tak akan ada lagi darah yang keluar dari hidungku dan sakit setiap hari yang kurasa, di sini aku bisa bahagia bersama Papa seperti dulu.

Di pemakaman Mama dan kak Nana hanya menangis melihat ke makamku, mereka menyesal telah jahat kepadaku sampai aku menghembuskan nafas terakhir pun mereka tak melihatku. Itu pun tau aku sudah tak ada guruku langsung datang 2 kali ke rumahku, awalnya guruku datang untuk menyuruh datang ke rumah sakit tapi Mama bilang tidak bisa karena sedang pusing. Dan yang kedua kalinya guruku datang untuk mengatakan aku sudah tak ada, Mama dan kak Nana sempat tak percaya mereka berdua langsung bergegas ke rumah sakit dan melihat mukaku dan badanku tertutupi kain selimut rumah sakit.

“Tante ini dari Viro!” Salah seorang teman yang kutitipi kado memberikan kepada Mama yang masih menangis di makamku,
“Sudahlah bu, penyesalan tak akan ada artinya, ikhlaskan saja biar dia bahagia di alam sana bersama ayahnya.” Ucap Mamanya temanku yang tadi memberikan kado titipanku kepada Mama.
“Makasih..” Kata Mama lalu Mamanya temanku tersenyum dan meninggalkan kak Nana dan Mama di pemakamman,
“Ini dari Viro mah?” tanya kak Nana dengan suara serak karena ia habis menangis lalu Mama hanya mengangguk dan membuka kado itu di dalamnya ada surat ucapan dariku.

Dear Mamaku sayang..
Happy birthday Mama sayang!!! semoga Mama suka kado jam tangan dari ku ya.. Mama di ultah yang ke 35 tahun ini semoga mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah ya.. mah, maafin aku ya udah buat Mama sedih terus.. tapi sebenernya aku sayaang banget sama kak Nana dan Mama, sekali lagi selamat ulang tahun yaa..
Salam manis

Viro

Dua minggu sudah kepergianku membuat Mama semakin murung, Mama selalu memakai jam tangan pemberianku. Kak Nana pun menjadi semakin selalu teringat aku ia selalu berada di kamarku dan melihat foto-foto kami saat semuanya masih belum berubah, saat Papa masih ada dan aku masih ada. Hari itu Mama makan di suatu rumah makan yang pernah aku bekerja disitu, memang itu suatu rumah makan langganan kami makanya aku bisa diterima kerja disitu.

“Ibu, sudah lama ya, tidak makan di sini. Oh iya si Viro gimana kabarnya?” Tanya yang punya rumah makan saat melihat Mama makan disitu bersama kak Nana,
“Viro kan sudah nggak ada..” jawab kak Nana karena Mama tak mampu menjawabnya.
“Innaillahi… sejak kapan? Pantes ia sudah tak pernah kerja paruh waktu lagi disini..” Ucapnya begitu kaget,
“Kerja? Kerja maksudnya pak?” tanya Mama bingung.
“Iya waktu itu si anak ibn si Viro kerja paruh waktu sampe malam disini, katanya sih ingin mengumpulkan uang untuk ulang tahun ibu.” Jelasnya pada kak Nana dan Mama,
“Astagfirullah… Viro…” Mama yang menangis langsung bergegas pergi dan tidak jadi makan hanya meninggalkan uang sebagai ganti rugi makanan yang dipesannya.

Mama mengajak kak Nana ke makamku, Mama langsung menangis sambil memeluk batu nisanku. Mama benar-benar menyesal atas perbuatannya padaku, Mama sampai janji bila waktu bisa diputar ia tak akan melakukan hal yang sama. Kak Nana pun juga ikut menyesal ia tak ingin mengulang menjadi kakak yang jahat, perbuatannya kemarin kepadaku sungguh keterlaluan. Andai waktu memang bisa kita putar sesuka kita pasti waktu disaat kita bersama dengan orang-orang kita sayang, waktu dimana kebahagiaan yang selalu membuat kita tersenyum yang paling ingin kita ulang.

Selesai

Cerpen Karangan: Absharina Arifah
Facebook: Absharina Arifah II
Nama: Absha
tinggal: tegal
pin bb: 5e69082e

Cerpen Surat Terakhir Untuk Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Khansa

Oleh:
Sebuah jam berbentuk lingkaran yang menempel di dinding menunjukan pukul 07.15, tetapi pelajaran Matematika pagi ini belum dimulai seperti biasanya. Bu Nur Guru Matematika sekaligus wali kelasku belum juga

Menggapai Cita Cita

Oleh:
Kukuruyuukk!! kukuruyuuukk!! kukuruyuuukk!! Seperti biasa ayam jantannya Putra berkokok jam 4 pagi, tidak punya jam alarm, ayam jantan pun jadi, Putra bangun menurut kokokan ayamnya. “Huuaahh, hemmzz. Zzz, Zzz”

Kisah Pak Hery

Oleh:
Matahari mulai memancarkan cahayanya dan menandakan kalau pagi sudah datang, seperti biasa Pak Hery bersiap untuk berangkat bekerja. beliau adalah seorang pekerja keras, beliau bekerja dengan gigih hanya untuk

Berharap Hujan

Oleh:
Langit mendung enggan mengguyurkan hujan tuk membasahi bumi. Hanya sesekali terlihat kilat dan Guntur terdengar menggema menyelimuti hari. Hari bertambah larut namun hujan tak kunjung datang. Tanaman yang haus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Surat Terakhir Untuk Mama”

  1. rara says:

    aku nangis bacanya… huhuhu hiks… tetap semangat ya bikin cerpennya! aku dukung kok,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *