Surat Terakhirku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 August 2015

Angin bertiup kencang dan meniup daun-daun pohon mangga yang sudah tua. Ketika aku pulang sekolah, aku melihat Ayah dan Ibuku yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ibu yang sedang memasak di dapur dan Ayah yang sedang mengerjakan tugas kantornya yang amat banyak itu.

Aku mempunyai sahabat yang bernama Rara, aku selalu bersama-sama dengan Rara, saling curhat bersama, ke kantin bersama, bahkan pulang sekolah pun kami bersama. Tetapi satu hal yang Rara tidak tahu, yaitu penyakit leukimia yang sudah lama kualami, bahkan Ayah dan Ibuku tidak tahu penyakitku, aku sebenarnya mau mengungkapkannya pada Ayah dan Ibuku, tetapi aku tak mau Ayahku terganggu akan kerjaan kantor yang amat banyak itu tidak selesai karena memikirkan penyakitku.

Ketika aku dan Rara pergi ke kantin, aku batuk dan ternyata batukku mengeluarkan darah, aku pun tersentak dan berusaha menyembunyikannya dari Rara dan lari ke kamar mandi, Rara kebingungan akan tingkah lakuku, Rara pun menyusulku ke kamar mandi tetapi saat Rara sampai aku telah selesai membersihkan tanganku. Aku dan Rara pun melanjutkan pergi ke kantin untuk makan, tetapi belum sempat kami ke kantin, kepalaku terasa sakit. Aku pun bilang ke Rara bahwa aku sedang tidak enak badan dan Rara pun mengerti.

Saat pulang sekolah, aku pun langsung pulang ke rumah, tak seperti biasanya kalau pulang sekolah aku masih singgah di rumah Rara, tetapi untuk hari ini tidak. Aku pun teringat dengan penyakitku dan aku memutuskan untuk pergi ke dokter, aku kaget setelah mendengar apa yang dikatakan dokter kalau penyakitku sudah stadium akhir dan diperkirakan sisa waktuku hanya tinggal 3 bulan lagi, aku hanya pasrah dan terus berdoa pada Tuhan.

Setelah mengetahui kalau penyakitku sudah stadium akhir dan sisa waktuku tinggal 3 bulan lagi aku mulai murung, tak seperti dulu aku yang selalu ceria dan bersemangat. Semua orang sudah curiga dengan tingkah lakuku saat ini termasuk Ayah, Ibu, bahkan sahabatku Rara. Tetapi Ayahku belum sempat menanyakan tentang kecurigaannya ini kepadaku karena belakangan ini Ayah masih sibuk untuk kerjaan kantornya.

Suatu saat Ayah menyuruh Ibu untuk bertanya padaku, aku hanya menjawab kalau aku sedang tidak enak badan. Ibu sebenarnya tak percaya, tapi aku berusaha untuk menyembunyikannya hingga Ibu percaya.

Aku pun sudah lelah dengan penyakitku ini dan putus asa, karena sisa waktu hidupku tinggal satu minggu lagi, aku sudah tidak tahan lagi rasa sakit yang kualami ini, hingga akhirnya aku telah di panggil Tuhan.

Saat Ibu masuk ke kamarku untuk memanggilku makan siang, aku tak menjawabnya, saat Ibu tak sengaja membangunkanku, Ibu memegang tanganku tepat di urat nadi, Ibu tersentak kaget karena anak satu-satunya ini telah meninggal dunia. Dengan cepat Ibu menelpon Ayah untuk segera pulang dan tak lupa juga Ibu menelpon sahabat dekatku untuk datang ke rumah.

Saat Ayah datang, semua orang sudah menangis di dalam rumah hingga akhirnya Ayah bertanya pada Ibu, Ayah pun kaget saat mendengar kalau anak satu-satunya ini meninggal. Rara pun meminta izin kepada Ibu untuk pergi ke kamarku, saat Rara melihat kertas di atas meja belajar ia pun tak segan-segan membacanya. Saat Rara selesai membaca ia pun menangis, tak lupa ia juga memberikan surat itu pada Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu pun membacanya.

To : All
Ayah, Ibu dan Rara sahabatku. Aku mau bilang sama kalian semua kalau aku mau minta maaf, selama ini aku bohong sama kalian terutama Ayah dan Ibu. Aku sebenarnya mau bilang sejujurnya pada kalian tapi aku takut karena kalau nantinya hanya menyusahkan kalian, apalagi Ayah, belakangan ini Ayah banyak kerjaan kan? Aku hanya nggak mau Ayah terganggu kerjaannya. Sekali lagi aku mau minta maaf, nggak lupa juga aku mau bilang, selama ini aku mengidap penyakit leukimia yang sudah stadium akhir, aku hanya pasrah pada Tuhan. Dan akhirnya ajal telah menjemputku, doain aku ya Ayah Ibu dan Rara, semoga aku tenang di sisi Tuhan, kalian juga jaga kesehatan.
Salam: Adhelin

Setelah Ayah dan Ibu membaca surat dari anak mereka yang terakhir, mereka menangis apalagi Ibu yang sangat dekat dengan anaknya yang sudak tak ada lagi. Tak lupa juga Rara yang menangis karena sahabatnya sudah tak ada lagi.

TAMAT

Cerpen Karangan: Adhelin Regitha Octaviany
Facebook: Adhelyn Regitha

Cerpen Surat Terakhirku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kicauan Burung Beo

Oleh:
“Ma kelihatannya hari ini Eliz tidak bisa masuk sekolah” kata Eliz “Lho kenapa?” tanya Mrs. Nisha, ibu Eliz “Tubuh Eliz susah untuk digerakan dan kepala Eliz pusing” Jelas Eliz

Bintang di Langit

Oleh:
Suatu malam, dua sahabat sedang makan malam di Sheila Resto. Nama kedua sahabat itu Bintang dan Langit. Makan malam mereka dipenuhi canda tawa. Hingga pernyataan dari Bintang yang membuat

Bendera Kuning

Oleh:
“Risya.. uhuk uhuk.” “Iya bu.” “Tolong ambilkan obat di laci ya, Nak. Uhuk uhuk!” Risya segera berlari kecil ke arah laci, untuk mengambil obat Ibu. Risya kebingungan, obat Ibu

Misteri Waktu

Oleh:
Hal yang membahagiakan di dunia ini adalah dimana seorang manusia memiliki cinta, cinta akan seseorang yang kita sayangi, cinta terhadap keluarga dan cinta pada diri kita sendiri. Aku sendiri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *