Surat Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 March 2014

Rintik hujan semakin deras mengiringi malam yang semakin mencakar perkampungan Sambi Linggih. Tanah-tanah yang berdebu seakan hilang kekuatannya untuk menahan pijakan makhluk alam. Potret alam terpancar tiap lima menit sekali. Gelegar guntur berbondong menggetarkan seluruh kaca jendela.

Tarsinah, wanita paruh baya tanpa daya yang tengah berduka duduk termangu memandang tirai hujan. Di usianya yang menginjak angka 50, Tarsinah sudah tak bisa berbuat apa-apa selain menghabiskan sisa hidupnya dengan teman barunya; kursi roda. Untuk buang air, ia harus minta bantuan Tris, buah hati satu-satunya yang masih bertahan untuk tetap menjaga Tarsinah.

Tris tahu, ibunya sangat merindukan Kesih, anak sulung Tarsinah yang sudah sebulan merantau ke negeri seberang. Keadaan ekonomi yang menghimpit mereka, membuat Kesih harus mengikuti jejak sang bibi untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita. Hingga sebulan Kesih meninggalkan sang ibu dan adiknya, tak ada sepatah kata yang tersurat sebagai tanda bahwa Kesih baik-baik saja.

Bak seorang buta kehilangan tongkatnya, jiwa Tarsinah mulai terguncang. Gundah, gelisah dan resah menjadi satu paket yang menghantam jiwanya yang hampir karam di lautan penderitaan. Tarsinah patut bersyukur masih mempunyai sosok buah hati tangguh bernama Tris.

Sebagai bocah putus sekolah, di usianya yang beranjak 15 tahun, Tris sedikit demi sedikit mampu menghasilkan uang dari peluhnya sendiri. Entah itu menjadi kuli panggul di pasar, hingga membantu mencangkul di sawah milik warga. Bocah seperti Tris seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak dan menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di sekolah. Kadang, kemiskinan yang menjerat perekonomian keluarga membuatnya terpaksa membanting tulang sejak kepergian ayah menghadap Sang Khalik, dan kakaknya, Kesih, hampir satu bulan ini tak memberinya nafkah.

Bagi Tarsinah, Tris adalah mutiara jiwa yang tersisa guna mengisi kepingan yang hilang dalam hidupnya. Setelah sang suami pergi untuk selamanya, kini Kesih pun tak kunjung memberi kejelasan mengenai keberadaannya.
Hingga pada suatu hari, di malam yang sunyi, datanglah sepucuk surat lusuh.

Bu, maafkan aku, baru sekarang aku bisa mengabari ibu dan Tris. Kesih di sini baik-naik saja, Bu. Ibu tak perlu mengkhawatirkanku. Oh iya, Bu, Kesih juga minta maaf kalau Kesih tidak lagi mengirimi ibu uang. Kebutuhan di sini semakin banyak, harga-harga semakin tinggi. Uang yang Kesih dapat sebagai penjaga toko kelontong tidak sebarapa, Bu. Uangnya hanya cukup untuk membayar kontrakan dan uang makan sehari-hari. Jadi, ibu harap maklum ya.
Kesih Purwasih

“Tidak apa-apa, Nak. Mendengar kabarmu saja, ibu sudah bahagia. Lega rasanya hati ibu,” batin ibu.
“Tris, kapan kakakmu mengirim surat ini?”
“Emm.. itu..” bingung mengulum lidah Tris.
“Tris dapatkan surat itu tadi pagi, Bu. Pak Pos yang mengantarkan surat itu.”
“Kalau begitu, ibu harus balas surat dari kakakmu, nanti kamu antarkan surat ini ke kantor pos ya.” Suruh Tarsinah dengan nada sumringah. Tris hanya mengangguk pertanda setuju.

Bu, aku sudah terima surat dari ibu. Syukurlah kalau ibu dan Tris baik-baik saja di sana. Sekali lagi Kesih minta maaf ya, Bu, Kesih belum bisa mengirimi ibu dan Tris uang. Bulan kemarin Kesih mendapatkan pemotongan gaji, karena toko majikanku sedang sepi pembeli. Ibu harap maklum ya.
“Kasihan sekali kakakmu, Tris. Sudah gajinya kecil, sekarang malah kena potongan gaji dari majikannya.” Keluh Tarsinah. Nada bicaranya melemah, tidak seperti tadi saat menerima surat.
“Iya, Bu. Kasihan Mbak Kesih.”
“Kita doakan saja kakakmu. Mudah-mudahan ia cepat pulang, ya. Ibu sudah kangen sekali.” Ucap Tarsinah sembari mendekap surat di dadanya.
“Iya, Bu.” Jawab Tris sederhana.

Senja mulai turun di ujung barat. Gelap malam perlahan menyelimuti langit di atas perkampungan Sambi Linggih. Tarsinah berulang kali mengikuti rangkaian aksara yang tertulis pada sehelai kertas lusuh dari Kesih, seolah sedang bercengkrama dengan anak perawannya itu.

Tris penuh lemah lembut memijat pundak Tarsinah yang sudah menonjolkan tulang-tulangnya yang rapuh. Mata Tris menerawang mengikuti jejak mata Tarsinah. Tris terlihat gusar.

“Tris, ambilkan ibu pulpen dan kertas. Ibu ingin membalas surat kakakmu.”
“Ini sudah malam, Bu. Besok saja, ya. Sekarang ibu istirahat saja dulu.”
“Ibu mau sekarang. Pokoknya surat ini harus segera ibu balas. Mumpung ada waktu. Ayo cepat!” perintah ibu sedikit memaksa.
“Tapi, Bu…”
“Sudah, cepat Tris!”
“I.. iya Bu…”

Tris segera meraih ballpoint di kamarnya dan secarik kertas lusuh lantas disodorkan pada ibunya. Dengan senyum rindu, Tarsinah mulai merangkai kata demi kata di atas putihnya kertas. Meski hanya lulusan sekolah dasar, Tarsinah terlihat begitu piawai menggoreskan tinta pena. Ballpoint mengayun-ayun mengikuti gerakan tangan Tarsinah.

Setengah jam berlalu, Tarsinah sukses membalas surat Kesih.
“Masukan ke dalam amplop. Besok kau antarkan surat ini ke kantor pos.”
“Iya, Bu.”

Tris mematung sambil meraba-raba apa isi surat yang ditulis ibunya. Sementara, Tarsinah sudah berlalu ke kamar.
Malam semakin menyentuh langit, menjadikannya hitam pekat, sepekat tinta hitam yang dituangkan Tarsinah di atas kertas putih. Perlahan irama riak hujan mendayu-dayu mengiringi malam yang begitu senyap. Prajurit malam; sekawanan jangkrik dan kodok, silih bersahutan memerdukan malam yang syahdu.

Semua gelap. Semua hitam. Malam yang basah, membasuh Tarsinah yang merindukan sosok Kesih. Merindukan kasih dari seorang Kesih.

Tarsinah terjaga mendahului turunnya sang fajar di ufuk timur. Satu dua ekor kokok ayam jago milik tetangganya memekakan telinga Tarsinah. Kini, prajurit alam mulai berkurang celotehnya. Sayup-sayup adzan menggema dari ujung kampung. Para prajurit malam berhenti mengoceh, seiring sinar mentari yang menjilati seluruh pelosok kampung. Awan tebal mulai bergumul meninju langit yang biru memesona.

Sebulan berlalu, Tarsinah telah berulang kali menerima kabar tersurat dari Kesih. Berulang kali pula Tarsinah membalasnya tanpa rasa bosan dan mengeluh. Semakin hari, semakin sering ia menerima surat, semakin melanda rindu yang menggebu hingga menusuk kalbu.

Kadang, Tarsinah tak kuasa menahan bendungan air mata hingga akhirnya bobol juga, basah menggerayangi setiap inci lekukan keriput di pipinya. Sedih mengingat Kesih yang hanya dapat berbicara melalui sepucuk surat yang lusuh. Surat yang begitu berarti untuk Tarsinah.

Di suatu sore yang mendung, kesabaran Tarsinah mulai menemui titik jenuh. Jenuh hati menunggu, gelora ingin bertemu. Tarsinah hanya berharap pasrah pada setiap detik penantian yang kelam.

Bola matanya menerawang pada fajar yang mulai tenggelam. Siluet-siluet jingga laksana wajah Kesih yang menatapnya penuh rindu.

Tarsinah masih tetap mematung memandang alam dari balik jendela kamar Tris. Kamar penuh sosok Kesih yang harum melalui kenangannya. Tak sabar jua wanita paruh baya pemilik tahi lalat di bawah bibir ini ingin segera beradu rindu pada anak perawannya.

Senja kian padam. Malam hendak menemani Sambi Linggih. Jendela usang dengan beberapa bagian yang sudah tak utuh lagi, kini sudah menutup dirinya rapat. Serapat kerinduan Tarsinah pada Kesih.

Kedua bola mata Tarsinah tertuju pada suatu tumpukan koran. Iseng menanti Tris datang dari surau, lembaran demi lembaran tumpukan koran ia susuri. Mata Tarsinah terbelalak ketika kedua bola matanya menjilat di tengah tumpukan koran.

“Assalamu ‘alaikum…” Salam agak panjang mencumbu telinga Tarsinah dari kejauhan. Salam khas ala Tris.
“Sudah pulang kau, Tris?”
“Ibu sedang apa di kamarku?”
“Tidak. Ibu hanya santai saja. Karena di kamar itu, ibu bisa lebih dekat dengan kakakmu. Dulu kan kalian sering tidur bareng.”
Senyum khas ibu yang sederhana, tapi begitu mewah bagi Tris. Meski mulai tumbuh keriput di wajahnya, Tarsinah tak bisa menyembunyikan kesegaran pada setiap inci wajahnya. Kesegaran yang membuatnya tetap bertahan dari himpitan beban yang bersarang empuk di hidupnya. Beban yang ia tahan demi perjumpaannya dengan Kesih suatu saat nanti.
“Tris.”
“Iya, Bu.”
“Kakakmu dimakamkan di mana? Ibu ingin berjumpa malam ini juga.”

Degup kencang di dada Tris bertambah tinggi. Getaran jantung berpacu melebihi gempa yang melanda Aceh 2006 silam, ketika ibu melempar tumpukan koran mengenai jatuhnya pesawat yang ditumpangi Kesih. Semua penumpang tewas. Surat-surat ibu robek berhamburan.

Cerpen Karangan: Banyu Ozora
Blog: banyuozora.blogspot.com
Facebook: Day Banyu Ozora

Cerpen Surat Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Berujung Denganmu

Oleh:
Sejuk senyap embun pagi menemani hati dalam rindu. Perlahan angin berhembus menerbangkan dedaunan menuju titik perhentian. Seiring dengan itu riuhan kicauan burung mengisi ruang pendengaran. Aku sudah lama menanti

Bintang Benderang

Oleh:
Aku siswa kelas 3 SMA yang sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian di PTN untuk mencari fakultas kedokteran. Orang lain biasa memanggilku Ida. Hari aku sedang mencari buku-buku kedokteran di

Putri Pelangi

Oleh:
Tinta pena hitam itu masih terus diukir di atas sebuah kertas putih bersih. Itu adalah kebiasaannya yang sulit dihilangkan, menulis di buku diary yang selalu setia menemaninya setiap saat.

Sepucuk Surat Untuk Emak

Oleh:
Liana. Begitu orang memanggilku. Ya. Aku adalah gadis desa yang biasa diejek oleh teman-temanku. Mengapa tidak? Andai kamu tahu aku tidak bisa membaca dan menulis meski usiaku telah 13

Molly, Kisah Sahabat Sejati

Oleh:
Memang tempat yang tak layak untuk binatang lahir, berteman sepi, dan dingin tanpa ibu di siang hari saat perut waktunya diisi dan malam hari saat badan terjaga di pelukannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Surat Untuk Ibu”

  1. imam says:

    bagus sob , cerpennya,, ni, Q , ghi buat insya alah tar kirim ,

  2. Banyu Ozora says:

    Terima Kasih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *