Surat Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 August 2016

Pagi berembun pengingat masa kecilku. Ketika ibu bercerita bahwa sebelum diinjak oleh orang lain ibu berusaha membangunkanku untuk berjalan di air embun pagi itu. Kasih sayang ibu tak terbalas sepanjang masa dan terabadikan sepanjang hayat. Tak pernah memaksakan kehendak pada anaknya namun tak pula menuruti kemauan anaknya. Perempuan berkulit putih berwajah manis yang selalu menyambutku dengan senyuman di depan pintu rumah merupakan sosok ibu yang luar biasa. Jika teringat kembali cerita ibu bahwa air embun membuat seorang balita lekas berjalan bagiku hanyalah sebuah mitos. Tapi aku tak ingin mengecewakan dan memotong ceritanya. Cerita tentang kami anak-anaknya semasa kecil, yang selalu membuat keributan tapi tak pernah dimarahi malah bertambah kasih sayangnya.

Kupu-kupu lenyap sudah ditelan revolusi industri, udara bersih hilang ditelan karbondioksida. Kehidupan berganti, teknologi canggih dan hidup serba instant sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Aku pun menginjak usia remaja akhir di zaman serba ada ini. Kembali bernostalgia dengan januari 2012. Sebab di tahun itu hati dan jiwaku lumpuh. Hidup simpang siur berbelok ke kanan dan ke kiri, jikalau bertemu sebuah persimpangan aku pun masuk. Tak peduli dengan jeritan hati, perkataan jiwa dituruti, nafsu dipuaskan sudahlah mirip dengan binatang.

Berawal dari januari dan berakhir di Mei. Selama itulah diri ini tak lagi tentu akan rasa, tak lagi cemas dengan dosa namun yang terpenting memikirkan cara ibu sehat kembali. Aku merasa tak berguna ketika belahan jiwa ini berbaring tak berdaya bu. Anak macam apa aku ini bu?

Disaat Wanita yang telah memberikan seluruh hidupnya padaku tergeletak tak berdaya aku hanya bisa membanjiri pipi ini dengan air mata. Andai aku bisa mengulur waktu. Aku ingin kita berganti posisi. Aku yang sakit bu dan merasakan semua penderitaanmu. Sebab tiadalah pantas engkau belahan hatiku pelengkap jiwaku merasakan itu semua.
Di bulan mei aku berbicara keadilan dengan tuhan

Pagi yang sejuk dan sebuah senyuman yang meneduhkan hatiku terpancar dari wajahmu. Setelah sekian lama aku menantikannya, saat matahari terbangun seolah-olah kau telah kembali seperti dulu. Gigitan buah apel yang engkau makan secara perlahan membuatku hidup kembali. Kulangkahkan kakiku menuntut ilmu agar bisa menjadi seorang dokter yang kau inginkan.

Kau pun berpesan padaku “Hati-hati ya nak rajin-rajin belajar”.
Hidupku mekar kembali jiwa yang mati telah bergelora sebab senyum yang hilang telah kembali di wajahmu saat itu bu. Tapi tiada kusangka senyum itulah yang memisahkan kita. Langit seakan pecah di hari itu bu. Berulang kali ku menuntut keadilan kepada tuhan saat engkau kesakitan menghadapi sakaratul maut. Tapi tuhan hanya diam, tak menjawab. Kutuntut lagi keadilan untuk kesekian kalinya agar engkau hidup sepanjang hayatku. Tapi tetap saja tuhan diam bu. Hingga aku berdoa, “Aku ikhlas akan kepergianmu bu”. “aku ikhlaskan beliau permudahlah jalannya menghadap engkau Ya Robb!”
Doaku terijabah, dua kalimat syahadat menghantar kepergianmu.

Jiwaku telah pergi bersama dengan dirimu.

23 05 12
Aku tidak lupa bu
Aku belum iklas dengan kepergiannmu

Hingga 23 05 15
Aku mengerti alasan engkau diambil kembali oleh sang khalik
Aku merindukanmu sepanjang hidupku bu
Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa dirimu
Itulah yang terpikir olehku saat engkau pergi
Tiada tempat mengadu, berkeluh kesah lagi
Senyum yang terlihat sepanjang hari tinggal duka
Bahkan aku lupa caranya hidup dengan baik
Simpang siur hidupku, tak tentu arahnya

23 05 12 – 23 05 15
Itulah saksi kekhilafanku
Saksi rapuhnya aku tanpamu
Bumi seolah-olah terbelah bu
Ketika lisan tak bisa bicara
Hatilah yang tersiksa
Ketika bulan tak lagi tersenyum
Bintang tak lagi melihat
Apakah aku masih bisa tertawa
Apakah aku masih bisa bersuara?

Hidup dalam kegelapan
Tiga tahun tersesat dalam kebodohan dan kebebasan
Tak peduli apa yang terjadi
Hingga tuhan membuka hatiku

Ibu
Aku sudah lepas dari penindasan jiwa
Dan pemberontak rasa telah lenyap
Aku sudah bahagia di rumahku surgaku

26 September 2015

Cerpen Karangan: Rif’il Husniyah
Facebook: Rif’il Husniyah

Cerpen Surat Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkat Tauge

Oleh:
Gubrak! Ine membanting HP BW (Black and White) singkatan yang biasa digunakan siswa sekolah Ine untuk menyebut HP berlayar hitam-putih yang sama sekali tidak tren di zaman sekarang, benda

Pilihan Terbaik

Oleh:
Aku masih tak percaya dengan keputusan ayah dan bundaku untuk menjodohkanku dengan seorang pria, seorang pria yang sama sekali tak ku kenali. “Ayah, apakah harus aku menikahi pria pilihanmu

Seribu Cintaku Untuk Ayah

Oleh:
Surga memang berada di telapak kaki Ibu. Tetapi pernahkah terlintas sejenak dalam pikiran kalian, bahwa seorang Ayah juga punya peran yang sangat berharga dalam kehidupan kalian? Ya, memang benar

Ayah

Oleh:
Matahari menarik kembali sinar-sinarnya dan digantikan oleh sinar sang rembulan. Malam yang terasa kelam dan redup meski sebenarnya malam ini cerah. Namun hati yang risau ini membuat menjadi kelam.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *