Surat Untuk Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 July 2014

25 Januari, jam 00.00
Asa masih terjaga di depan meja belajar dengan sebuah pulpen di tangannya dan sebuah kertas di hadapannya. Asa sedang menulis surat untuk seseorang yang sangat spesial dalam hidupnya. Orang yang mengisi hari-harinya ketika ia kecil. Orang itu bernama Ridho, kakak satu-satunya.

25 Januari 2014

Utuk Kak Ridho…
Selamat ulang tahun yang ke 24, aku harap kau selalu tetap tersenyum dan terus melihatku meskipun sekarang kita jauh.

Kakak…
Tahun kemarin kita masih bisa merayakan ulang tahunmu bersama. Kita bangun tengah malam, dan aku memberikan sebuah mp3 player untukmu. Pagi harinya kita pergi ke pasar bersama, untuk membeli bahan makanan dan merayakan ulang tahunmu bersama teman-temanmu.

Kak Ridho yang sangat kusayangi…
Ingatkah kau tentang kenangan masa kecil kita?
Saat aku masih berumur 9 tahun, dan kita sedang bermain di taman. Saat itu aku merengek-rengek padamu minta dibelikan eskrim, padahal kau hanya punya uang pas-pasan pada saat itu. Kemudian karena aku terus menangis, akhirnya kau membelikan eskrim itu untukku, dan kau tidak makan eskrim sama sekali. Dan kau mengatakan “aku tidak apa-apa.”

Kak Ridho yang kuat…
Sewaktu aku SMP, dan kita pulang bersama, kau ingat hal itu? Saat itu aku diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal, dan kau melindungiku hingga wajahmu penuh memar dan darah segar mengalir dari mulutmu. Dan kau hanya mengatakan, “aku tidak apa-apa.”

Kak Ridho yang pemberani…
Dulu, aku pernah memukul pelipismu dengan sapu sehingga sapu itu patah. Apa kau masih mengingatnya? Saat itu di minggu pagi, kau membangunkanku dengan lembut untuk mengajakku jogging bersamamu. Aku yang saat itu sedang bermimpi indah, terganggu oleh suaramu yang merdu saat membangunkanku. Saat itu aku kesal dan segera mengambil sapu di dapur, kemudian memukul pelipismu hingga terluka, dan aku langsung pergi meninggalkanmu. Aku tahu kau pasti sangat marah pada saat itu. Siang harinya, saat aku meminta maaf, kau hanya bilang “aku tidak apa-apa.”

Kak Ridho yang sangat kubanggakan…
Ingatkah kau saat ayah dan ibu memutuskan untuk bercerai? Saat itu kau berusaha keras untuk menghiburku, meski dalam hatimu kau jauh lebih tersiksa dengan perceraian ini dibanding aku. Dan kau hanya bilang “aku tidak apa-apa.”

Kak Ridho yang tegar…
Saat ayah dan ibu bercerai, kau memutuskan untuk tidak tinggal dengan salah satu di antara mereka, dan mengajakku untuk tinggal bersama. Saat itu kau baru masuk universitas terbaik dan mendapatkan beasiswa. Untuk hidup sehari-hari, kau bekerja sambilan menjadi pelayan di sebuah restoran di dekat kampusmu. Saat kau tanya “apa kau lelah?” kau hanya menjawab “aku tidak apa-apa.”

Kak Ridho yang baik hatinya…
Kau selalu memperhatikan pola makanku, memperingatiku agar tidak tidur terlalu malam, menanyakan apa masalah yang sedang kuhadapi di sekolah dan mendesakku untuk menceritakannya. Tapi aku, sama sekali tidak memperhatikan pola makanmu, jam tidurmu, bahkan menanyakan masalahmu. Apa kau masih akan bilang “aku tidak apa-apa”?

Kak Ridho yang kuat…
Kakak bekerja membanting tulang untuk kehidupan kita berdua, tetapi apa yang kulakukan untuk menghargai kerja kerasmu? Aku selalu menghambur-hamburkan uang hasil kerja kerasmu untuk bersenang-senang bersama teman-temanku, sementara kau jarang sekali bersenang-senang bersama teman-temanmu. Kau masih akan bilang “aku tidak apa-apa?”

Airmata Asa pun mulai berjatuhan. Membasahi surat yang dia tulis untuk kakaknya tersayang. Kata-kata terakhir membuatnya semakin sedih dan airmatanya semakin banyak yang berjatuhan.

Kak Ridho yang sangat kurindukan…
Ingatkah kau pada pertemuan terakhir kita? Saat terakhir aku mendengar suaramu di telepon? Saat itu aku memintamu untuk menjemputku di sekolah saat sedang gerimis. Saat itu kau baru saja pulang kerja karena kau merasa tidak enak badan. Aku terus mendesakmu, tidak mau mendengar alasanmu sehingga kau harus menjemputku. Namun, satu jam, dua jam, 3 jam aku menunggu, hasilnya nihil. Kau tidak menjemputku. Setelah 4 jam menunggu, akhirnya Kak Nando, salah satu sahabatmu menjemputku dan memberi tahuku bahwa kau mengalami kecelakaan saat perjalanan menjemputku. Kak Nando bilang, sebuah truk menabrak motormu sehingga kau terpental sejauh 15 meter dari motormu. Kau kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit. Kami pun segera pergi ke rumah sakit. Namun sayang, saat aku tiba di rumah sakit, aku dengar dari perawat bahwa kau sudah pergi beberapa menit yang lalu.

Kak Ridho yang sangat kucintai…
Saat itu aku terus menangis, meratapi diri, kenapa aku memaksamu disaat kondisimu sedang kurang sehat. Kenapa kau tidak bersabar sedikit, menungguku yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit? Kenapa Kak? Apa kau marah padaku?

Kak Ridho yang tulus hatinya…
Sekarang aku sudah lulus SMA, masuk universitas dan mendapatkan beasiswa sepertimu. Setelah kau pergi, aku berusaha mencari uang dengan menulis beberapa cerpen dan mendapatkan honor yang cukup. Terimakasih Kak, ternyata kau meninggalkan uang tabungan yang cukup untuk biaya sekolahku sampai SMA. Berkat uang itu, aku bisa lulus dengan hasil yang baik.

Kak Ridho yang sangat baik seperti malaikat…
Apa kau menyesal punya adik sepertiku? Adik yang selalu menyusahkanmu? Yang selalu menyakitimu? Tapi, aku tidak pernah menyesal punya kakak sepertimu. Kau selalu bilang “aku tidak apa-apa” ketika aku menyakitimu. Tapi sekarang, suara itu tidak pernah terdengar lagi di telingaku. Kuharap, aku bisa mendengarnya lagi ketika kita bertemu di surga. Aku sudah sangaaat rindu padamu.

Adikmu
Asa

Asa menutup surat itu dengan butiran airmata yang membasahi pipinya. Asa membacanya, dan Asa yakin kalau Ridho juga membacanya dari surga. Asa pun melipat surat itu, beranjak ke kamar Ridho dan menaruhnya di atas bantal Ridho. Lalu dia segera kembali ke kamarnya, mematikan lampu dan naik ke kasurnya. Berharap dia bertemu dengan Ridho di alam mimpi.

Cerpen Karangan: Asafitri Nurfauzi
Blog: http://asafitriedo.wordpress.com

Nama asli: Aulia Safitri
Nama pena: Asafitri Nurfauzi
Tempat Tanggal Lahir: Magelang, 11 Juli 1997
Alamat: Serpong Terrace A5/7, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan
Sekolah: SMAN 7 Tangerang Selatan

Cerpen Surat Untuk Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebencian Diselimuti Dendam

Oleh:
Hari sudah menjelang sore sekitar pukul 17:00 WIB, namun entah apa yang membuat Mada belum pulang juga dari sekolah, Ibunya sangat mengkhawatirkannya dan pasti dipenuhi rasa cemas. “Bu, sudah

Cerita Masa Laluku

Oleh:
Sering kali aku mendengar pertengkaran kedua orangtuaku. Setiap aku pulang berangkat sekolah, selalu dikelilingi dengan kekicauan mereka. Dan itu membuat sekolahku hancur, rasa tidak semangat, takut, benci semua mengelilingi

Tangisan Bisu

Oleh:
“Aku tidak dilahirkan untuk menangis.” Biarkan aku menonton film romantis yang (katanya) menyentuh sampai berpuluh-puluh judul. Ceritakan padaku cerita-cerita yang (katanya) menyentuh —baik dari video motivasional (yang ternyata iklan

Cobaan Hidup

Oleh:
Tak pernah aku bayangkan, hubungan yang selama ini aku pertahankan akhirnya berantakan juga. Tak terasa sudah hampir 8 tahun aku menjanda. Awalnya aku mengira bahwa keputusanku untuk menikah lagi

Buku Diary Tio

Oleh:
Pada suatu hari, di sebuah rumah mewah, ada sebuah buku lusuh di sudut meja di sebuah kamar kecil sedang menangis bersedu-sedu merindukan sang pemilik yang tidak pernah lagi menulis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Surat Untuk Kakak”

  1. angelica taslim says:

    cerpennya bagus, sangat menyentuh hati.

    GOOD LUCK untuk cerpen berikutnya

  2. renzha lambok says:

    Jatuh air mta qu membaca nya….

Leave a Reply to angelica taslim Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *