Tahun Tanpa Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Rohani, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 June 2013

Namaku Agustuso, aku adalah anak dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bahkan bisa di bilang keluarga yang sangat pas-pasan. Ayahku adalah seorang pengarang dan penulis. Ayahku sudah tidak ada lagi di bumi ini. Ayahku meninggal tepat 3 bulan yang lalu. Dan Ibuku, bisa di bilang ini adalah hari-hari terburuk bagi Ibu. Setelah kepergian Ayah, kondisinya menjadi sakit-sakitan. Kondisinya diperburuk oleh penyakit jantungnya. Lengkap sudah penderitaan keluargaku. Belum lagi sms dari Andini, adikku tersayang.

“Kak, kondisi Ibu semakin memburuk. Aku sudah tidak kuat lagi melihat kondisi Ibu.”

Hanya kata-kata itulah yang selalu teringat di otakku. “Bagaimana cara mencari obat untuk Ibu” kataku dalam hati. Setelah sekian lama aku kesana kemari tanpa tujuan, akupun teringat sesuatu. Yaitu teman Almarhum ayahku yang berada di Jakarta. Namanya pak de Karso, beliau adalah pengusaha laundry yang cukup sukses. Dia juga baik, dan kebaikannya itulah yang memberikan aku dan keluarga secerca harapan.

Dan akhirnya akupun sampai di depan rumahnya, atau bisa lebih disebut sebagai tempat bisnisnya. Memang benar apa yang dikatakan ayahhku dulu, pak de Karso memang cukup sukses. Ini terlihat dari keadaan rumahnya yang selalu sibuk dengan para pegawai yang bekerja dengan sigapnya. Berpuluh-puluh bahkan ratusan kilo baju keluar masuk laundry ini setiap hari. Dengan mengambil nafas berat, aku pun masuk dan bertemu dengan pak de Karso. Dengan wajah yang bersinar, pakaian rapi, dan juga senyum yang selalu mengembang menampakkan betapa baiknya beliau. Kami memang cukup akrab, beliau mengenal baik Almarhum ayahku. Dan tiba-tiba pak de Karso pun menceritakan beberapa pengalamannya saat bersama Almarhum ayahku kepadaku. Aku memandangnya dengan sangat teliti. Dan raut wajahnya seperti berbicara padaku, bahwa mungkin saat-saat itulah saat yang paling bahagia untuknya.

Cerita pun berakhir, kami sempat merasakan hening untuk beberapa saat. Hatiku pun sangat bimbang. Aku merasa tidak enak untuk mengatakannya pada pak de Karso, tapi mengingat kondisi Ibuku di rumah, tekad ku pun kembali bulat. Dengan hela nafas aku mulai bicara “Pak de, saya mohon maaf sebelumnya. Tapi memang keadaan yang memaksa saya. Kondisi keluarga saya sedang parah, Ibu sakit tak kunjung sembuh. Jadi saya mohon pak de untuk bantuannya.”

“Iya, pak de sudah mendengarnya kok” kata pak de.
Aku tertegun ketika pak de mengatakan itu. Tak kusangka, ternyata pak de sudah mengetahui niatanku sejak awal. Tapi pak de tidak pernah menolak sedikit pun untuk memberikan bantuannya. Itulah betapa hebatnya pak de Karso. Tak kusangka, masih ada orang sebaik beliau di dunia ini.
“Sudah jangan dipikirkan” seketika pak de menghilangkan lamunanku. Tangannya yang lembut pun meraih tanganku dan diberikannya amplop tebal berisi uang. Dan seketika tanganku seperti mati rasa. Alangkah girangnya hatiku mendapat seamplop tebal berisi uang. Tanpa membuang waktu lagi, aku pun mencium tangan pak de dan pamit untuk pulang.
“Terima kasih pak de” hanya itulah yang bisa kubalas atas semua pemberian pak de.

Tak terasa haripun mulai gelap. Kumandang adzan Isya sudah mulai lenyap. Langkah kaki yang mulai lelah tetap kupaksakan untuk terus melangkah. Tak sabar bagiku untuk melihat wajah ibu yang mendengar berita ini. Akhirnya akupun mulai menjauhi jalan protokol, mulai masuk ke gang gang sempit perkampungan. Di dalam gang sempit nang gelap, tiba-tiba seseorang menusuk perutku. Menghujamkan pisau ke arah perutku membuat akupun langsung pingsan. Uang dari pak de Karso pun lenyap dibawanya. Akupun tertidur lelap di dalam gang sempit nan gelap. Tidur untuk selama-lamanya. Mungkin memang ini takdir Tuhan, mungkin Tuhan sudah tak tega melihatku hidup sengsara.

Mungkin aku mati mengenaskan, tapi aku sangatlah bahagia. Karena telah diizinkan untuk meninggalkan dunia ini. Namun juga tersisa sedikit kesedihan dihatiku. Tentang adikku yang tak jelas akan masa depannya, serta ibuku yang sakitnya semakin parah. Dan akhirnya hari ini pun tiba, hari yang sangat membahagiakan bagiku. Hari dimana ibu menemuiku. Ibuku wafat karena tak mendapatkan obat. Dan masa depan adikku yang akhirnya cerah. Ia dinikahi oleh anak pak de Karso dan menjalankan bisnis laundry yang semakin sukses di Yogyakarta

— END —

Cerpen Karangan: Sugeng Dwi
Blog: awanirukoite.blogspot.com

Nama : Sugeng Dwi Setiawan
Facebook : Frank Kiberline
TTL : Kediri 05 Oktober 1997
Cerpen ini saya angkat dari sebuah film pendek dari youtube. Jadi mungkin jika sudah ada yang post. Maafkan saya. Dan berhubung saya masih pemula, ini hanya iseng. Dan jika ada kekurangan mohon bantuannya lewat facebook. Terima Kasih.

Cerpen Tahun Tanpa Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mawar Hitam

Oleh:
Terakhir kali aku melihatmu dulu masih jelas terlihat pesona kecantikanmu yang masih memukau hampir setiap orang yang mengenalmu. Semua orang menyayangimu seperti mereka menyayangi orang-orang terdekat mereka. Kau sungguh

Mutiara dan Bunga (Part 2)

Oleh:
Sejak pagi kami semua mempersiapkan pakaian yang hendak dikenakan saat lamaran Halimah nantinya. Aku begitu antusias memilihkan kebaya terbaikku untuk Halimah. Dia tampak senang dan penasaran. Berkali-kali dia menanyakan

Kado Terakhir Untuk Mami

Oleh:
Setiap manusia terlahir berbeda, tak ada manusia yang terlahir sama. Begitu dengan aku dan anak-anak lainnya. Namaku Shakira, aku kelas 3 SMA, aku dari kecil tinggal bersama mamiku dan

Sahabatku Mencintai Pacarku

Oleh:
Haloo. Namaku Frisya Gita Ramadhani. Panggil aja Gita. Aku diam diam suka sama kakak kelasku. Namanya Dylan Pratama. Namun ternyata sahabatku juga mencintai Kak Dylan. Nama sahabatku Zaskia Adriani.

Di Penghujung Jalan Sana

Oleh:
Di penghujung jalan sana, tepat diujung simpang empat arah barat, setiap pagi dapat kulihat, seorang nenek menyokong nampan berisi kue-kue basah yang ia bawa ke Desa kami untuk dijajakan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tahun Tanpa Tuhan”

  1. Nanda Insadani says:

    cerpen nya cukup menyentuh, tapi kok sepertinya judulnya gak sesuai dengan isi nya ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *