Tak Bisakah Aku Seperti Mereka?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 June 2016

Mentari berlalu untuk menyinari dunia kini kegelapan malam mulai nampak hanya sinar rembulan yang begitu indah memancar di balik awan hitam.

Hari ini tepat pada tanggal 30 September 2015 hari dimana 17 tahun lalu aku dilahirkan.
Walau begitu entah kenapa Semuanya nampak sama bahkan kali ini aku merasakan sebuah kehampaan, meski di sekolah beberapa teman memberikan kejutan. Ada senyum yang mengembang saat semua berjalan namun sejujurnya hatiku kosong bahkan menjerit dalam tangis.

Sesaat aku tersadar dari lamunanku, beranjak dari duduk yang sedari tadi memandang langit lalu berbaring di atas tempat tidur.
Ada banyak hal yang ingin aku katakan tapi pada siapa aku ungkapkan sedang selama ini tak satu pun yang mencoba memahami keinginan hati.
“Sudahlah mungkin ini memang mesti kusimpan sendiri.” logikaku mulai berbicara dan mencoba menikam hati yang hampa dengan sadis.
Kali aku mulai berhenti dengan segala kata hati dan mulai menuruti logika untuk menjadi kejam pada naluri. Perlahan mulai kupejamkan mata dan menikmati setiap adegan indah yang tercipta melalui mimpi

Mentari kembali menyambut dan menyisihkan sedikit demi sedikit embun yang masih menempel dedaunan. Aku sudah siap dengan seragam Putih Abu-Abu yang mungkin tinggal beberapa bulan lagi akan kupakai karena saat ini aku tengah duduk bangku kelas 12.

Seperti hari-hari yang lalu aku selalu mencoba menutup hati dan memaksakan senyum mengembang selama berada di sekolah, karena bagiku kesedihan akan diriku cukuplah tersimpan di sanubari dan biarlah keheningan malam yang menjadi saksi airmata yang mengalir.

“Din ke kantin yuk?” ajak Veni teman dekatku
“Yaelah orang baru datang juga.” Ucapku sedikit manyun
“Ayolah Din aku tadi gak sarapan.” Ucapnya memelas “Aku beliin permen deh.” Senyumnya merekah
“Yaelah masak disogok pake permen mulu mbak.” ucapku menggoda
“Ya udah deh kalo gak mau. Entar kalo aku sakit terus pingsan tanggung jawab loh ya.” Tunjuknya kemudian memanyunkan bibir
“Ngambek.” “Ya udah deh, ayo.” Ucapku mendekat kearah telinganya
“Gitu dong” Ia menarik tanganku

Satu-satunya orang yang kuharap akan setia menemaniku adalah Veni. Teman yang sudah 5 tahun terakhir selalu bersamaku. Ada disaat-saat aku membutuhkannya

Hari ini saat jam istirahat sebagian anak-anak berkumpul, bercanda dan berbagi cerita bersama
“Oh iya Din, kemaren kan aku cerita kalo mama aku udah gak pernah lagi nyuapin aku makan.” Ujar Maya dengan semangat
“Iya terus.”
“Eh… tadi malem aku disuapin karena kesibukan belajar sampe lupa makan.” Ucap tersenyum
Aku hanya menanggapinya dengan senyum tipis
“Wiih pasti rasanya beda tuh kalo disuapin sama mama tercinta.” Sambung Windi
“Pastilah. Eh iya hari minggu kemaren aku sama ayah dan bunda pergi jalan-jalan bareng, ketawa-ketawa, bercanda, makan bareng udah gitu aku dibeliin jam lagi” Kini mulai Zera yang bercerita
“Seru banget pasti. Aku sih jarang jalan-jalan tapi kalo waktu bareng keluarga itu banyak banget kita paling sering nonton tv bareng apalagi kalo acara yang dipilih genre komedi udah deh pasti rame itu rumah sama suara ketawa kita.” Chika juga memulai ceritanya

Tawa mereka begitu renyah dan raut wajahnya sungguh sangat bahagia. Perlahan aku menjauh dari kerumunanan itu dan berjalan keluar kelas. Memandang keseluruh arah. Sepedih inikah rasanya, sesakit inikah kenyataan yang mesti aku hadapi Tuhan, mengapa aku berbeda dari mereka, tak bisakah aku sedikit merasakan kebahagiaan yang mereka rasa.
“Din.” panggilan itu mengejutkanku “Aku tau apa yang pikirkan saat ini.” Ucapnya mendekatiku
“Kenapa Ven.. Kenapa aku tak seberuntung mereka, kenapa hanya aku yang tak bisa bahagia bersama orangtua di antara kalian.” “Apalagi yang lebih menyakitkan hati lebih dari ini saat mendengar cerita bahagia dari mereka. Tak sadarkah mereka bahwa ada hati yang merindukan itu semua.” Aku mulai menangis. Hanya dengan Venilah aku berani berbagi masalah keluarga yang selama ini aku emban sendiri
“Aku tau hatimu telah lelah menghadapi semuanya. Tapi aku yakin kamu bukanlah orang yang lemah. Selama ini bukankah kamu menyembunyikannya sendiri tanpa berbicara pada siapapun termasuk aku” ucapnya mengelus lembut pundakku

Aku tersenyum tipis “Terimakasih Ven.”
Ia tersenyum lalu menghapus airmataku.

Untuk pertama kalinya dalam hidup aku bercerita mengenai kehidupanku. Memang sudah bertahun-tahun lamanya Ayah dan Ibuku selalu bertengkar tanpa peduli perasaan anaknya yang hancur saat melihat dan mendengar semua.

Sejak aku menceritakan segalanya pada Veni ia selalu menjadi motivator untuk memotivasi agar aku bisa menjalani semua dengan kekuatan hati yang besar.
Meski begitu jauh di lubuk sanubari aku masih memimpikan kebahagiaan bersama keluarga

Cerpen Karangan: Septi Liana
Facebook: Septii Liana

Cerpen Tak Bisakah Aku Seperti Mereka? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rhyme In Peace Ibu

Oleh:
Dia terbaring lemah tak berdaya di bilik kecil yang terbuat dari bambu. Dulu dia begitu kuat, tak ada satupun keluhannya tentang kahidupan. Namun kini perempuan separuh baya ini mengalami

Butterfly

Oleh:
“Loh pagi-pagi gini kamu kok sudah cemberut, jelek tau…” kata Rima yang melihat Nita yang sudah duduk termenung di bangkunya, teman-teman yang lain juga tampak berusaha menghibur Nita. “Benar,

Luka LDR

Oleh:
Suara gedoran pintu mulai membangunkan gadis cantik itu, terdengar dari luar suara seorang laki-laki yang tak asing lagi baginya, yang sedang memanggil namanya disertai dengan suara ketukan pintu yang

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)

Oleh:
Rom dan Sam masih menodong supir bus yang malang itu. Karena ditodong, akibatnya supir itu tidak konsentrasi dalam menyetir. Seekor anjing tiba-tiba melintas mendadak. Supir bus terkejut bukan main.

The Power Of Aisa

Oleh:
“Bu, aisa pergi sekolah dulu ya”, aku mencium tangan ibuku, “ya” sahut ibuku, begitulah setiap hari, ibuku bukan perempuan yang banyak bicara, ia sangat pendiam, aku selalu berpikir bahwa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *