Tak Pernah Kusadari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 April 2017

Pagi yang dingin menyapaku hari ini, dengan berat hati aku bangkit dari tempat tidurku, langsung kuambil air untuk bersuci dan melaksanakan kewajiban bagi seluruh umat islam (sholat) setelah kewajiban akhirat terlaksana sekarang saatnya melaksanakan kewajiban dunia yaitu membantu ibu walaupun aku selalu melakukan itu karena terpaksa. Mencuci piring, menyapu rumah dan juga masak, kulakukan itu sehari hari. Kuteruskan memasakku di pagi ini dan ibuku meneruskan pekerjaanya di ruang tamu yang menumpuk. Potongan-potngan kain yang siap untuk disambung menjadi sesuatu yang bernilai dan sangat penting bagi kaum hawa untuk menutup aurat mereka.

Karena ibuku terlalu sibuk bekerja jadi nggak pernah ibuku mengurus aku, bisa dibilang aku dan ibu tidak seperti kelurga karena nggak pernah berlaku selayaknya ibu dan anak. Aku terkadang iri dengan teman temanku saat mereka menceritakan kedekatan mereka dengan ibu mereka karena aku nggak pernah dekat dengan ibuku. Sedangkan ayahku sudah meninggal saat aku di kelas 3 SD.

Setelah seluruh pekerjaanku selesai aku langsung siap siap untuk berangkat sekolah. Di sekolah aku bukanlah siswa yang pintar, aku juga hanya belajar bila ada tugas itu pun kalo nggak lagi males, aku termasuk anak yang nakal.

“Dita..k amu telat lagi, sudah berapa kali kamu telat” tegur guru yang sedang mengajar di kelas
Aku hanya berdiri di pintu tanpa merasa bersalah dan siap untuk mendapat hukuman dari guruku ini.

Saat jam olahraga dengan tidak sengaja kulempar bola ke jendela kantor kepsek dan kaca jendela itu pecah hingga aku dipanggil ke kantor, dengan sangat indahnya kuluncurkan kata kata hingga kapsek tidak menghukumku dengan hukuman berat, akhirnya aku hanya disuruh bersihin kamar mandi, itu sih mudah bagiku (udah biasa), bolos kelas itu sudah hobi. Kepsek dan guru BK sudah kayak sahabatku sendiri, hukuman dari guru itu kayak sarapan buatku, nggak enak kalau nggak dihukum. Bahkan diskors itu sudah biasa. Teman temanku memanggilku dengan berandalan cantik. Aku pikir sih nggak cantik tapi lebih mengarah ke cuantik (hahaha..)

“hey dit, main yuk udah lama kita nggak ngetrack bareng” ajak andre sohibku
“boleh tuh, gue bosen nongkrong” jawabku menyetujui andre
Aku berngkat ke tempat yang biasa kumainkan dengan andre dan teman teman yang lain, (nggak asik dong racing kok Cuma berdua aja)
“gimana temen temen yang lain udah loe ajak.” Kataku
“udah, mereka otw ke sini katanya”

Nggak beberapa lama kemudian mereka datang dengan sepeda yang bikin kepala pusing jika nggak biasa dengerin sepeda racing. Setelah puas track trackannya aku pamit pulang karena udah sore, saat di perjalanan aku sengaja mampir ke mushola untuk melakukan ritual wajibku (sholat). Sesampainya di rumah aku mandi dan langsung mengunjungi dunia ke duaku (mimpi)

Aku memang sering pulang malam tapi ibuku nggak pernah memarahiku karena saat ibuku bertanya selalu kujawab habis belajar kelompok dan ibuku selalu saja percaya sama anak tunggalnya, aku tau itu dosa tapi itu demi kebaikanku juga (hahaha).

Sepulang sekolah andre dan oggi mengajakku untuk bermain biliard, mereka itu anak SMK teman satu tongkronganku. Aku memang nggak pernah langsung pulang setelah sekolah. so, aku setuju aja. Aku hanya duduk melihat andre dan oggi yang sedang asik menyodok bola, aku pun tertarik untuk melakukannya, mereka berdua juga tidak sungkan untuk mengajariku bahkan sampai aku bisa bermain bersama mereka. Setelah itu aku sering ngajak andre dan oggi bermain biliard sepulang sekolah. Dengan senang hati mereka nemenin aku. Karena menurut mereka jalan bersamaku itu cukup menyenangkan dan bisa pamer sama temen nongkrong mereka karena kebanyakan dari teman mereka ngefans denganku. Setelah puas aku bermain, aku berniat untuk langsung pulang. Tapi andre dan oggi enggan beranjak dari bangku panjangnya.

“loe berdua nggak pulang?” tanyaku sambil membenarkan tali sepatu.
“loe duluan aja dit, gue sama andre masih ada urusan” ucap oggi
“kayak orang penting loe, urusan segala biasanya juga ngopi, emangnya urusan apaan” tanyaku penasaran.
“ini urusan cowok dita” jawab andre smabil memegang lembut kepalaku.
“ohh, gitu ya main rahasia rahasiaan sama gue”
Andre dan oggi saling menoleh dan berusaha agar aku nggak ngambek.
“kita mau nyerang sekolah lain cintaaah” kata oggi menghampiriku. Aku langsung menoleh, “tawuran maksud loe”
“iya..” kata andre. Aku yang penasaran keadaan siswa SMK yang sedang tawuran aku juga berniat ingin ikut dan melihat secara live
“gue ikut boleh ya” kataku sambil menarik tangan oggi
“nggak! Apaan sih, nanti loe kanapa kenapa lagi” kata oggi
“loe ngapain coba mau ikut, ini itu antara hidup dan mati.” Ucap andre
“pokoknya gue mau ikut. Kalo nggak boleh gue nggak mau pulang” rengekku dengan nada mengancam.
Beberapa saat setelah meraka berunding, akhirnya aku diikut sertakan walaupun mereka seperti terpaksa.

Sesampainya di base camp anak-anak SMK, aku langsung salting karena karena semua anak SMK memandangku dan beberapa dari mereka menyuruhku untuk tidak ikut. Tapi aku masih teguh pendirian untuk tetap mengikuti acara ini.
Setelah mendapat aba aba dari sang kapten tawuran, semua beranjak dan menuju jalan raya untuk menyetop kendaraan. Aku sempat ragu-ragu saat itu tapi udah setengah jalan masak aku harus pulang begitu saja, yang aku pikirkan saat itu bukan keselamatanku tapi betapa serunya menyaksikan tawuran anak-anak SMK. Saat menaiki tronton dan beberapa truk untuk menghampiri sekolah lain, aku sangat dilindungi andre dan oggi. Saat anak-anak sekolah lain sudah kelihatan, teman-temanku langsung menyerang.
Sungguh kejadian yang sangat ironis, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri anak-anak sebaya yang saling baku hantam satu sama lain beralaskan nama sekolah masing-masing. Tak peduli dengan keselamatan, nyawa, bahkan orangtua yang tidak mengetahui perilaku anak mereka.

Tak lama kemudian terdengar suara sirine polisi semua anak-anak bubar menyelamatkan diri masing-masing, aku pun berlari bersama andre dan oggi, saat aku menoleh ke belakang, aku sungguh tersentak kaget sekaligus deg degan melihat beberapa anak yang kepalanya bocor karena terkena gear, samurai, tongkat baseball dan benda tajam lainya. Andre dan oggi pun langsung mengantarkanku pulang.

“dit gimana dikunci nggak, coba loe cek.” tanya oggi
“wah, beneran gi udah dikunci” jawabku
“trus gimana cara loe masuk” tanya andre
“ya manjat lah”
Dengan lihai kupanjat gerbang rumahku dan aku berjalan ala maling di rumahku sendiri. Saat kubuka pintu rumah dengan sangat hati-hati dan ternyata sudah ada ibu ku duduk manis di ruang tamu.
“ibu..?” kataku dengan wajah terkejut. Ibuku langsung nampar wajahku,
“Jam berapa ini..?! Malu-maluin ibu aja, kamu itu anak cewek dita, jam segini baru pulang. Dari mana aja… Ibu itu udah capek ngurus kamu, capek ibu ketemu sam kepala sekolah, ibu malu nak, malu ibu..” tangis ibu memecah suasana
Tapi entah kenapa aku hanya bisa diam, tak bisa berkata apa-apa dan juga nggak menangis.

Keesokan harinya aku hidup seperti biasanya dan melakukan kegiatan rutinku di pagi hari. karena hari ini hari minggu aku berencana untuk pergi ke rumah sasa sahabat karibku walupun rumahnya beda kota denganku entah kenapa aku merindukannya dan ingin mengunjunginya. Dengan berat hari kupanggil ibu agar mndapat restu darinya, itu semua kulakukan karena kejadian semalam agar aku tidak merasa lebih bersalah.
“bu, aku pamit mau ke rumah sasa.”
“jangan ke rumah sasa jauh, kamu baru pulang tadi malem” jawab ibuku yang fokus dengan kain di depanya.
“yah buuu, biasanya kan nggak papa, aku kangen sasa bu”
“udah nggak usah, bentar lagi kamu kan mau UNAS”
“nggak mau, aku tetep mau berngkat, aku juga mau minta doa ke ortu sasa biar sukses UN kita”

Dengan tekad yang kuat aku langsung mengeluarkan beat merahku, kukenakan helm merahku yang penuh dengan stiker. Langsung kutancap gas menuju rumah sasa. Setelah sudah setengah perjalanan, di jalan terlihat sepi langsung kutancap gas hingga kecepatan hampir 100 km/jam. Aku merasakan sepeda beatku kurang nyaman hingga akhirnya sepedaku tak bisa dikendalikan, badanku terhempas dari motor kepalaku terbentur batang pohon yang besar dan tangan kiriku yang tertimpa batang pohon yang patah karena kepalaku, helm yang kupakai sebelumnya sudah hilang entah ke mana, saat kubangkitkan badanku dan kubalikan badan, kulihat motor beat merah di tengan jalan raya yang tergeletak tak berdaya. Kusentuh kepalaku dengan dengan tangan kananku karena aku merasa pusing yang berat, hingga kulihat tangan kananku yang penuh darah keluar dari kepalaku. 2 orang laki-laki menghampiriku, mereka bertanya banyak kepadaku, tak sempat aku menjawabnya mataku terasa berat hingga akhirnya semua gelap.

Saat aku terbangun ibu ku sudah ada di sebelahku, kulihat tangan kiriku yang sudah penuh dengan perban dan badanku serasa hancur tak bisa berbuat apa-apa, terbaring lemas tak berdaya di ranjang rumah sakit, tangan kiriku patah hingga membutuhkan perawatan yang cukup lama. Ibuku dengan sabar merawatku, nyuapin makan untukku, menjagaku selalu, sampai meninggalkan pekerjaannya demi merawatku. Ibuku membawakan buku-buku yang harus kupelajari karena minggu depan aku sudah UN. serius aku belajar saat itu, tak pernah aku belajar seserius ini.

Setelah hampir 2 minggu aku dirawat di rumah sakit hari ini adalah hari penentuanku selama 3 tahun sekolah (UN), dan hari ini juga hari aku keluar dari rumah sakit. Ibuku mengantarku hingga ke depan gerbang dan aku berpamitan kepada beliau terlebih dulu karena restu ibu juga restu allah
“bu, maafin dita yah, kalau selama ini susah diatur, selalu bikin khawatir, keras kepala, nngak mau nurut, suka bikin ibu malu, maaf ya bu aku janji nggak akan ulangi lagi” langsung kupeluk ibuku dengan air mataku yang tak bisa berhenti
“iya sayang, ibu juga minta maaf karena selama ini nggak bisa bahagiain kamu”
“nggak kok bu, aku sayang ibu, ibu adalah orang paling baik sedunia, aku akan bahagia walau tetep sama ibu”
“iyah, iyah, udah masuk sana nanti telat kamunya”
Dengan wajah murung kutinggalkan ibuku di balik gerbang itu, aku berjalan dengan tujuan menatap masa depan yang lebih cerah, dengan belajar dari masalah yang lalu.

Aku sudah sadar selama ini yang ibuku lakukan karena ibu cinta aku, bekerja siang malam agar aku bisa sekolah, walaupun aku selalu membuatnya khawatir, ibu yang selalu menungguku hingga larut malam tak bisa tidur, ibu juga menjagaku disaat aku kesulitan, seorang yang berani mempertaruhkan nyawanya dia adalah ibu, seorang yang tak henti hentinya menyebut namaku dalam doanya. Dan aku sadar untuk sekarang, besok, dan seterusnya aku akan selalu menyayangi ibu. Hingga kelak aku yang akan menjadi seorang ibu.

The end

Cerpen Karangan: Yusnia Pratiwi
Facebook: Yusnia

Cerpen Tak Pernah Kusadari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hal Manis Yang Tak Manis

Oleh:
“Iya … Aku mau.” Jawaban dari gadis itu benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Sekarang aku tak lagi menjadi satu-satunya jomblo di kelas. Semua cowok di kelas sudah memiliki

Cintaku Bersemi di Lorong Hijau

Oleh:
“Laura!” teriakku dengan suara yang membahana. “Astaga Rin, kurang kenceng manggilnya!” katanya dengan nada setengah terkejut. “Hahaha! Jangan ngambek dong!” Laura ini sahabat aku kami udah temenan dari SD

When Love Comes Involuntary

Oleh:
Kata orang cinta itu memabukkan. Namun, bagi Andra semua itu hanyalah omong kosong belaka. Cinta menurutnya seperti kata-kata yang terukir dari tinta, mereka tulis di papan tulis lalu menghapusnya.

Moment of 3 Years

Oleh:
Nama saya Ikbal Fahmi, biasa dipanggil ikbal. 2 tahun yang lalu dimana kita sama-sama mendapatkan kelas baru, teman baru, sahabat baru, dan spesial yang baru. 2 tahun yang lalu

Dan Ini Jawabannya

Oleh:
Senja itu langit menumpahkan hartanya pada bongkahan bulat berisi manusia. Seakan balas dendam dengan datangnya panas berkepanjangan di musim lalu. Duduk termenung mengawasi titik demi titik air, bernostalgia tentang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *