Tak Seharusnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 September 2017

Rumah adalah tempat persinggahan paling nyaman di antara begitu banyak bangunan di dunia. Tiada yang bisa mengalahkan kenyamanan ketika berada di rumah terlebih jika dibanding dengan tinggal di gedung tinggi pencakar langit. Suatu tempat sederhana dengan suasana hangat keluarga diselingi canda tawa. Sungguh sempurna. Beruntunglah bagi kalian yang merasakannya. Namun tidak denganku. Aku rasa kebahagiaan tiada pernah ku rasa selama ku hidup. Tak ada yang bisa kulakukan selain menerima semua ini. Hanya ada 2 pilihan, yaitu bertahan atau menyerah. Sampai sekarang pun belum bisa ku menentukan di antara kedua pilihan.

Seseorang tidak akan pernah bisa memilih akan dilahirkan di mana, kapan, dan oleh siapa. Begitu juga denganku. Tak punya kuasa untukku memilih kehidupan mendatang seperti yang kuinginkan. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku Feri dan adik tersayangku Adinda. Tak lupa ku perkenalkan Papa yang selalu bekerja keras juga Mama yang telah melahirkanku penuh perjuangan pertaruhkan nyawa. Ini ceritaku. Cerita yang ku anggap menarik dalam hidup. Cerita yang begitu luar biasa dariku.

Secara fisik dan penampilan tidak beda jauh dengan anak anak lainnya. Hanya saja sedikit ada perbedaan warna di beberapa bagian kulit tubuhku. Warna biru keunguan yang merupakan luka lebam. Pukulan dan tindak kekerasan bukan lagi hal asing bagiku. Berawal dari kebiasaan Papa yang melampiaskan kondisi hati yang kurang baik padaku dengan sebuah tamparan. Karena ku merasa sakit, aku pun menangis dan berharap Mama atau Kakak mau menolongku. Akan tetapi kenyataan tidak demikian. Yang benar saja, tiada salah satu dari mereka yang menghampiri untuk menolong bahkan sekedar mengusap air mataku saja seakan enggan. Bukan pertolongan yang kudapatkan, melainkan tamparan yang bertubi-tubi.

Di saat usiaku yang belum genap 10 tahun, ingin rasanya bermain dengan teman sebaya. Berlari-larian di taman penuh tawa ria. Akan tetapi semua itu hanya angan semata. Pernah ku sempat mewujudkan impian kecilku dengan bermain akan tetapi sesampainya di rumah, lagi-lagi dihadapkan dengan perlakuan kasar Papa terhadapku. Dari situlah rasa kapok untuk kembali bermain sepulang sekolah. Membosankan memang untuk terus berada di rumah. Sampai sempat ku merasa seperti di penjara. Semua ini hanya caraku untuk tidak lagi membuat Papa marah dan kembali memukulku. Tidak mau lagi ku terkena hantaman tangan keras Papa.

Entah apa yang membuat Papa kembali tak enak hati. Sepulang kerja, dengan nada tinggi Papa membentakku dan tamparan itu kembali mendarat di wajahku, namun terasa biasa saja bagiku. ”Mungkin aku mulai terbiasa dengan tamparan Papa”, gurauku dalam hati. Air mata tak lagi menetes. Tidak ada yang bisa kulakukan. Terlalu takut untukku menangis atau bahkan memandang langsung wajah Papa pun tidak berani. Sifat kaku dan perilaku keras Papa mulai nampak di kepribadian Kakakku. Berita buruk! Kini ada 2 orang yang akan menghajarku di setiap harinya. Yang benar saja, ketika ku luput dari amarah Papa ternyata ada 1 jagoan cadangan yang siap memukulku. Hanya saja, pukulan Kak Feri tak se-dahsyat tamparan Papa.

Warna kesukaan yang dulunya terlihat anggun, sekarang tidak lagi. Sepertinya aku mulai membenci warna ungu. Karena bagiku, warna ungu bukan lagi lambang keanggunan tapi warna yang terasa menyakitkan. Gadis kecil dengan koleksi warna ungu yang kini hampir di seluruh tubuhnya, mulai tumbuh menjadi gadis yang siap memasuki zona keremajaan. Sifat kekanankan aku rasa sudah cukup lama memudar, akan tetapi tidak dengan luka lebam. Tak hanya itu, teringat pula ketika ku sempat mendapat perlakuan yang ah entahlah. Perasaan malu, takut juga sedih kerap terasa begitu bayangan akan kejadian itu seolah diputar kembali. Pelecehan s*ksual yang dilakukan Kak Feri padaku menimbulkan efek kebencian terhadapnya. Lagi-lagi aku terlalu takut untuk melawan juga membuka mulut untuk melaporkan kejadian kala itu. Karena aku tahu, tiada seorangpun yang berada di pihakku. Maka, sampai sekarangpun ku masih bungkam terhadap kejadian kelam.

Pertengkaran antara Papa dan Mama sering kali terjadi. Bukan hanya adu mulut dengan intonasi yang sama tinggi, namun juga diselingi dengan perlakuan kasar Papa terhadap Mama. Hal semacam itu bak tontonan rutin yang mereka perlihatkan secara langsung. Hatiku merasa sakit ketika ku mendengar rintihan kesakitan Mama akibat tamparan yang diberikan Papa. Tak bisa ku menahan semua ini. Langkah kaki membawaku menghampiri Mama dan memeluknya dengan erat. Tak pernah terbayang olehku akan perlakuan serta perkataan Mama. Pada awalnya aku pikir salah dengar, tapi Mama terus saja mengulang kalimat itu sehingga ku yakin bahwa aku benar-benar mendengarnya.

“Pergi! Jangan pernah menyentuhku. Kau anak pembawa sial! Menyesal ku telah melahirkanmu. Kehadiranmu sama sekali tak kuharapkan. Dan ingat, jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan Mama!” Caci Mama padaku ketika itu. Air mata tak lagi terbendung. Masih terngiang akan ucapan Mama, seolah semakin menyulut amarah Papa. Guci biru yang merupakan barang kesukaan Mama pun ia ambil dan melemparkannya ke Mama. Refleks ku merangkul Mama dan guci itu mengenai tepat di kepalaku. Seketika aku merasa pusing, sakit, berat dan gelap. Samar-samar kulihat bayangan Mama dan Papa dari kejauhan mereka tersenyum padaku. Senyuman yang selama ini ingin sekali kulihat. Aku berada di tempat yang indah, namun terasa asing bagiku. Belum juga ku puas menikmati pemandangan sekitar, seolah ku tenggelam dalam pusaran cahaya.

Kembali ku merasa sakit yang teramat sangat pada bagian kepala. Hebatnya, kepalaku sama sekali tidak berdarah namun sakitnya luar biasa. Sedikit ku merangkak menuju ruang tidurku untuk berbaring dan berharap kepalaku tidak lagi terasa sakit. Tak kuat lagi untuk berjalan meski jarak yang bisa dibilang tidak seberapa. “Apa benar aku ini pembawa sial? Apa karena ini mereka memperlakukanku demikian? Kalau memang begitu mengapa mereka tidak langsung saja membunuhku dibanding harus menghabiskan tenaga untuk menghajarku?” rentetan pertanyaan terkait ucapan Mama terus saja berkutat di benakku. “Kalau kehidupanku tidak berarti apapun bagi mereka, lalu mengapa Tuhan masih saja menginginkanku di dunia? Apa harus aku mendahului mereka?” Tidak, bagaimanapun juga mereka tetap keluargaku meski di lubuk hatiku selalu berharap buruk untuk mereka.

Sekali lagi, Tuhan pun seakan tak mau menolongku. Tak peduli pengharapan kecil maupun besar, aku merasa tiada pernah ku rasa seperti yang ku pinta. Hal itu membuatku kecewa. Untuk apa ku hidup jika tak mendapatkan apa yang kuinginkan. Kini aku membenci keluargaku. Papa, Mama dan Kak Feri yang selalu saja tak memberi ruang untukku. Tiada pernah kudapat kata manis atau sekedar senyuman hangat. Sedari dulu hingga ku beranjak dewasa, yang kuterima hanya sebuah perintah, tindak kekerasan, tindak pelecehan dan caci maki tiada bertepi. Sampai kapan mereka berlaku demikian. Aku merasa tak kuat lagi dengan kondisi seperti ini. “Haruskah aku menyerah sekarang?” tanyaku dalam diam.

Kesabaranku hampir habis. Belasan tahun aku mencoba untuk tetap bertahan. Tak selayaknya mereka sebagai orangtua memperlakukanku seperti ini. Papa yang harusnya penuh dengan rasa tanggungjawab dan Mama yang harusnya melindungiku dari buah amarah Papa, sama sekali tidak pernah terlihat. Justru seolah mereka bergiliran untuk menyiksaku. Kak Feri, sebagai kakak yang seharusnya menjadi pahlawan bagiku tapi malah menjadi orang yang kutakuti. Kesalahan besar apa yang telah kuperbuat hingga tiada lagi ampun bagiku. Perasaan dendam tenggelam di dasar nurani. Buat apa ku hidup bersama mereka jika hidup sendiri pun ku bisa. Mereka sama sekali tak mengharapkan kehadiranku. Begitu juga denganku. Andai saja bisa ku untuk memilih, enggan bagiku terlahir dari keluarga ini.

Syukurlah, hari ini ada jam kuliah tambahan. Lebih merasa tenang saat ku di luar dibanding harus berdiam di rumah menyaksikan pertengkaran. Tak seperti biasanya, sedikit terbesit perasaan kurang nyaman. Perasaan yang mulai menggangguku. Tapi, ah entahlah. Hampir malam ku telah menyelesaikan tugas kuliah. Langkah yang sungguh berat jika harus kembali ke rumah. “Apa lagi ini? Huft”, gumamku. Tak seperti biasanya, gelap. Ya, rumahku begitu gelap tak ada satu lampu pun yang nyala. Sebelum membuka pintu rumah, aku mempersiapkan diri untuk menerima tamparan. Untuk mental, tidak perlu persiapan karena ku rasa sudah kebal. Tidak ada tamparan yang menyambut kedatanganku. “Ke mana mereka semua?” tanyaku dalam hati. Sunyi. Benar-benar sunyi.

Tanganku meraba dinding untuk mencari saklar. Nah, aku berhasil menemukan. Dan “Aaaaa!!!”, teriakku histeris. Kakiku terasa lemas, tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Ku berlutut dengan tatapan takut. Air mata tak sempat kuhela. Mana mungkin semua ini bisa terjadi. Papa, Mama dan adikku Adinda, tergeletak bersimbah darah. “Kakak, di mana Kak Feri?” , segera ku mencari di sekeliling ruang. “Ke mana dia pergi. Siapa yang telah melakukan semua ini?” tanyaku sendiri. “Tuhan, inikah akhir dari segala cerita? Mengapa aku? Mengapa harus aku yang merasakan semua ini? Tidakkah cukup penderitaanku? Belum puaskah Kau mengujiku?”, batinku menangis. Ini lebih menyakitkan dari semua perlakuan yang telah lalu.

Dari beribu permintaan, mengapa harus ini yang terjadi. Sepeninggal Papa, Mama serta adikku, kini ku merasa tenang namun juga merasa kesepian. Belum sempat ku melihat senyuman dari mereka. Jika waktu bisa diputar, rela untukku menderita karenanya. Tuhan, maafkan aku. Kesalahan terbesarku adalah mengharap kepergian mereka dalam hidupku. Dan semua itu benar terjadi. Hanya ada aku bersama luka lebamku. Luka ini akan segera hilang jika tiada lagi yang memukulku. Tuhan, sampaikan salam sayangku kepada mereka. Kini tiada lagi yang kumiliki. Hanya seorang kakak namun apa daya. Terlanjur ku sakit hati setelah mengetahui bahwa ia yang telah membunuh Papa, Mama, serta Adinda. Sudah muak ku menahan amarah. Tak sudi lagi ku melihatnya. Inilah saat yang tepat untukmu mempertanggungjawabkan semua perbuatan terhadap mereka juga terhadapku. Abadilah kau di balik jeruji besi. Beribu umpatan dalam hati tak mampu lagi terucap. Hanya air mata yang mampu menggambarkan suasana hatiku. Entah aku harus sedih ataupun bahagia ketika semua berubah seperti yang kuinginkan. Mau tak mau, harus kujalani semua sendiri tanpa ada keluarga yang mendampingi. Papa, Mama, maafkan aku. Semua ini pintaku. Dan sungguh aku menyayangimu. Teruntuk Adinda, semoga kau bahagia di sana. Bermain bersama malaikat bersayap. Maaf, belum sempat untukku membahagiakanmu.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Tak Seharusnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Gadis Keripik Singkong

Oleh:
“Febi, ini keripiknya sudah siap.” Terdengar suara Ibu memanggilku. Aku pun datang menghampirinya di dapur untuk mengambil keripik yang sudah tersusun rapi di keranjang. “Iya, bu. Ya sudah, aku

Sahabat Yang Terlupakan

Oleh:
Sewaktu SD aku dan temanku selalu bersam tertawa bersama. Kita bermain bersam kita berbagi suka duka bersama. SD ku tempat aku bergembira sahabatku alasan aku bahagia, sahabatku orang yang

Apa Yang Terjadi?

Oleh:
Tertidur. Itulah yang sedang dilakukanku tetapi, siapa aku? Di mana aku sekarang? Dan siapa dia? Apa yang terjadi denganku? Dan benda apa ini? “Bertahanlah!” Apa yang ia maksud ‘Bertahanlah!’?

Regret

Oleh:
Biar hujan datang membasahi bumi, aku masih termenung dalam renungku. Terdiam, menatap rintik air berjatuhan ke tanah. Enggan ku, untuk beranjak dari disini. Dari tempat ini. Kilatan petir bak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *