Tak Seorang Pun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 March 2016

“Genaa..!! Sudah jam berapa ini?” Teriakan Ibu membangunkanku di pagi hari yang dingin. Langsung ku bangkit dari kasurku yang agak berantakan dengan sprei sedikit terlepas. Dengan perasaan agak kesal dan mata yang masih sulit dibuka ku lihat jam weker di atas lemari kecil samping kasurku, yang ternyata sudah menunjukkan pukul 05.45. Agak terkejut aku melihat waktu di jam weker tersebut. Segera ku menuju ke bagian belakang rumah untuk berwudu, namun saat melewati dapur, ku lihat Ibuku yang sedang mengelapi piring-piring yang telah dicucinya sambil berceloteh dengan nada agak tinggi.

“Setiap hari kok malah makin parah aja bangunnya..”
“Biarin aja kenapa sih, udah gede ini.” Jawabku sambil menunjukkan wajah tidak suka tanpa melihat ke arahnya. Mendengar itu Ibuku hanya bisa menggelengkan kepala sambil agak kesal. Tanpa mempedulikan itu lagi, ku lanjutkan niatku untuk berwudu kemudian salat.

Selesai ku melaksanakan salat, langsung ku beranjak kembali menuju kamar, namun terhenti saat ku lihat adikku yang sedang membuka buku-buku pelajarannya sembari mengerjakan tugas di meja makan yang tidak terlalu besar, lalu Ibuku yang datang dari ruang dapur tak sengaja lewat sambil berceloteh lagi.
“Kamu gak pernah ada PR apa Gen? Adikmu aja kayaknya sibuk terus tiap hari,”
“Ada tapi kan masih lama, lagian juga hari ini Gena lagi gak ada kelas, jadi santai aja. Si Yesil aja tuh yang lebay.” Jawabku dengan nada meremehkan sambil menunjuk adikku menggunakan mata dan kepala.

Adikku yang mendengar kata-kataku hanya bisa melihatku dengan wajah tak suka tanpa berani berkata. Ibuku tampak tak terlalu mempedulikan dan kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya. Lalu ku lanjutkan langkahku menuju ke kamar, hingga ku rebahkan tubuhku di kasur yang masih agak berantakan tadi sambil menyalakan smartphone yang kemudian digunakan untuk bermain internet seperti biasanya.

“Gena..!!” Suara agak keras dari Ibuku mengagetkanku dan membuatku menyadari bahwa sudah hampir 3 jam aku bermain internet tanpa terasa. Suara tersebut sepertinya berasal dari dapur. “Hadeuh..” keluhku sambil menghela napas, lalu ku jawab panggilan tadi walau sebenernya malas. “Kenapa Mah?”
“Sini..!” Jawab Ibuku setelah mendengar respon dariku. Meski malas namun tetap ku turuti seruannya itu, hingga ku temui ia di dapur yang ternyata sedang memasak sayuran seperti tumis kangkung.

“Tolong belikan kecap dan gula di toko depan!” Seru ibuku saat baru saja melihatku sampai di dapur.
“Yah kok aku si mah, belum mandi malu kalau ke luar. Si Yesil aja tuh yang udah mandi,” Jawabku dengan nada mengeluh sambil menunjuk adikku yang baru saja ke luar dari kamar mandi.
“Dia kan mau siap-siap kuliah, jadi kamu aja gih cepetan!” Kata Ibuku yang sepertinya sedang menahan sabar kepadaku. Daripada ribet berdebat akhirnya ku terima suruhan itu meski terpaksa.

Sambil menuju ke luar rumahku lihat ayahku yang seperti biasa sedang mengetik di depan layar komputer di kamarnya yang paling luas di antara kamar lainnya, yang tak lain juga kamar Ibuku. Lalu ku lanjutkan ke luar rumah menuju toko yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumahku. Sambil berjalan, ku lihat tetangga dan orang-orang cukup ramai di pagi hari ini. Beberapa dari mereka tersenyum ke arahku. Entah kenapa saat itu perasaanku benar-benar sedang Bad mood, sehingga tak ku pedulikan mereka. Kendaraan lalu lalang berkali-kali di jalan depan rumahku yang mengarah ke jalan raya, namun pasti akan sepi jika di siang hari nanti seperti biasanya.

Sesampainya di toko ku belikanlah semua titipan ibuku. “Ini jadi totalnya 9000 rupiah.” Kata lelaki penjaga toko yang sudah agak tua sambil tersenyum sembari memberikan belanjaanku. Tak ku balas senyumannya dengan hanya membayar sambil mengambil belanjaan kemudian pergi. Namun ia masih tetap tersenyum seolah sudah terbiasa. Saat di perjalanan menuju rumah, malah muncul perasaan agak menyesal, setelah ingat bahwa penjaga toko itu adalah orang yang selalu baik kepadaku. Namun apalah peduliku, aku memang sudah dikenal sebagai orang yang tidak ramah, biarkan saja. Ketika hendak masuk kembali ke rumah, aku berusaha hilangkan rasa Badmood ku terlebih dahulu dengan menarik kemudian menghembuskan napas.

“Ini mah pesenannya, beres kan?” Kataku dengan santai saat menemui kembali Ibuku di dapur sambil menaruh belanjaan yang sedikit itu.
“Sip deh, kecapnya yang merek Angsa kan?” Tanya Ibuku dengan tenang sambil melanjutkan memasak.
“Hah? Bukan.. tadi gak bilang,” Jawabku dengan nada kecewa.
“Kan biasanya emang pake yang merek Angsa, kamu emang selalu salah kalau disuruh apa pun!” Kata Ibuku dengan cukup kesal, seolah-olah semua yang pernah aku lakukan selalu salah. “Terus gimana? Gena tuker aja deh..” Jawabku sambil kesal juga.
“Udah gak usah deh, kelamaan.” Kata Ibuku dengan rasa jengkelnya sambil mengambil belanjaan yang barusan aku taruh.

Mendengar itu membuatku menjadi bad mood lagi, hingga aku memutuskan untuk rebahan lagi di kamar. Saat itu aku merasa seperti sangat tidak berarti di keluargaku ini, karena adikku selalu lebih baik dari diriku sehingga aku merasa seperti diremehkan. Hanya adikkulah yang biasanya membuat orangtuaku senang. Aku pun merasa benci pada keluargaku ini. Sempat terpikir bahwa andai saja aku tidak mendapat keluarga yang seperti ini, aku pasti akan bahagia. Rasa kekesalanku itu akhirnya membuatku lelah hingga akhirnya tertidur.

“Klotak!!” Suara jam weker kamarku terjatuh hingga membangunkanku dari tidur pulasku. Segera ku ambil jam weker yang jatuh di samping kasur tersebut dengan memiringkan badan di pinggir kasur agar bisa mencapai lantai di mana jam weker tersebut terjatuh. Namun setelah ku ambil kemudian ku lihat, jarum jam di jam weker tersebut tergantung layu. Bisa ku simpulkan bahwa jam weker tersebut telah rusak total. Ku lihat kamarku agak sedikit gelap, lalu ku lihat cahaya langit dari jendela kamarku untuk menerka waktu. Terlihat langit cukup mendung dan sepertinya sudah agak sore, mungkin sekitar jam 5.

“Haduh, lagi-lagi kelewatan Dzuhur nih.” Keluhku dengan berbicara sendiri. Karena takut akan kelewatan waktu Asar juga, aku bangkit dari kasur dan duduk di tepi kasur sambil merenung sejenak. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa bersalah kepada Ibuku, karena teringat betapa seringnya aku membantah dan membentak Ibuku. Tidak hanya itu, aku juga seperti merasa bersalah terhadap adikku dan ayahku. Aku memang sering merasa diremehkan dan tidak berguna, namun memang karena begitulah aku, pemalas dan menyebalkan. Sehingga aku sempat berpikir untuk minta maaf walaupun masih agak sedikit gengsi.

Di saat itu juga aku menyadari sesuatu yang cukup janggal, yaitu Ibuku tidak membangunkanku untuk salat Dzuhur. Ini jarang terjadi namun hal biasa. Biasanya hanya terjadi saat aku sendiri di rumah, sehingga aku berpikir keluargaku sedang pergi semua. Kemudian aku bangun dari kasur untuk melanjutkan niatku melaksanakan salat Asar. Ku nyalakan lampu sembari ke luar kamar, dan dengan biasa aku lihat jam dinding yang ada di ruang tengah rumahku untuk meyakinkan waktu. Sungguh terkejut aku melihat waktu di jam tersebut ternyata menunjukkan pukul 12.00 siang. Aku sungguh tak mengira ternyata baru jam segitu.

“Pasti bakal hujan gede banget nih, semoga pada gak kehujanan deh.” Kataku sambil agak khawatir pada keluargaku seraya membatalkan niat untuk salat dan kembali ke kamar. Dengan santai ku nyalakan televisi kecil di kamarku sambil rebahan. “Tuuuutt…” bunyi channel TV yang kosong, sehingga ku ganti ke channel yang lain. “Tuuuutt..” lagi-lagi kedapatan channel TV kosong. Namun apa daya, ternyata semua channel yang ku pilih mengalami hal yang sama. Sungguh bingung bukan kepalang rasanya. “Duh masa rusak sih TV-nya, perasaan belum lama dibeli deh,” Hingga akhirnya aku beralih ke smartphone milikku untuk bermain internet. Namun sayangnya, tak ada sinyal sedikit pun didapat. Semakin kesal dan bingung aku dengan yang terjadi. “Lah kenapa sih ini, sial banget deh.”

Akhirnya aku memutuskan untuk ke luar kamar dan duduk di salah satu bangku meja makan yang terbuat dari jati. Aku duduk menghadap jendela besar depan rumahku, sehingga sisi luar rumah dapat terlihat. Ku buka tudung saji yang ada di meja makan, terlihat di situ tumis kangkung yang sudah dingin namun belum ada seorang pun memakannya. Perutku yang lapar membuatku memakan kangkung tersebut. Ku ambil kangkung tersebut dengan tangan kosong dan memakannya sambil melihat ke luar jendela rumahku yang tanpa pagar ini. “Gak mendung gak panas, tetep aja sepi deh kalau siang. Bisa-bisa maling di sini pada beraksi siang-siang.” Kataku sambil tertawa sedikit dengan mulut yang masih mengunyah makanan. Namun setelah agak lama melihat-lihat ke luar jendela, aku menyadari sesuatu yang cukup aneh.

Ku lihat pintu-pintu rumah tetanggaku yang terlihat dari jendela, terbuka semua. Aku bingung dan menjadi penasaran. Sehingga aku ke luar rumah, dan melihat dengan jelas semua rumah yang ada di depan rumahku. Pintu semua rumah tersebut terbuka. Tidak. Tidak hanya rumah itu. Ku lihat ke kiri dan kekanan, semua. Ya. Semua pintu rumah di depan dan samping rumahku terbuka semua. Namun situasinya sangat-sangat sunyi. Tak ada suara sedikit pun selain suara hembusan angin. Ku telusuri jalan rumahku menggunakan mataku dan tak satu orang pun terlihat. Menyadari itu tubuhku agak sedikit gemetar. Dengan rasa masih penasaran, ku telusuri jalan dengan berjalan kaki.

Perlahan langkahku berjalan sambil menengok ke kiri dan ke kanan dengan yakin akan menemukan seseorang. Namun sayang, belum ada seorang pun terlihat, bahkan aku fokuskan pengelihatanku ke dalam suatu rumah, dan tetap tak ada pergerakan sedikit pun dari dalam sana. Aku mulai ketakutan dan keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuhku. Aku serasa tak bisa berkata apa-apa. Sambil ketakutan, ku lanjutkan menelusuri jalan hingga akhirnya sampai di toko langgananku itu. Terlihat toko itu terbuka rapi dengan dagangan-dagangannya yang beraneka ragam. Dengan penasaran aku masuk seolah ingin membeli sesuatu. “Permisi.. Pak saya mau beli!” Seruku sambil penasaran. Namun seperti dugaanku, tak ada seorang pun menjawab, padahal biasanya pak tua penjaga toko itu selalu cepat merespon pelanggannya.

Dengan kecewa, akhirnya aku ke luar dari toko langgananku itu. Lalu ku lihat ke atas langit yang ternyata masih mendung. Aku sempat berpikir untuk kembali ke rumah, namun rasa penasaran membuatku tetap menelusuri jalan. Tanpa terasa aku telah menelusuri jalan hingga ke tepi jalan raya, namun belum ada seorang pun terlihat, bahkan tidak satu pun kendaraan yang lewat. Sunyi, sangat sunyi sekali situasi di sana, tak ada suara sedikit pun, kecuali suara angin yang berhembus lembut. Entah mengapa aku merasa seperti ingin menangis. Sungguh kacau pikiranku. Dengan mata yang berkaca-kaca aku pun berteriak dengan tangan setengah menutup mulut seolah ingin memperbesar suara “Halloo…. ada orang..??” Ku terdiam sejenak dan memfokuskan indera pendengaranku, berharap akan mendengar respon seseorang. Namun sayang tak seorang pun menjawab.

Aku teriak lagi berulang kali, namun selalu tak sesuai harapan. Aku pun mulai putus asa, dan entah mengapa merasa sangat lelah sehingga aku duduk di trotoar pinggir jalan. Air mataku pun tanpa disadari telah mengalir. Aku mulai berpikir bahwa mungkin ada pengevakuasian massal, atau mungkin fenomena aneh, atau bahkan penyerangan alien. Ah! sungguh sangat kacau pikiranku. Bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Jika memang ada evakuasi, mana mungkin keluargaku terutama Ibuku tidak membangunkan dan mengajakku, karena ia sangat peduli padaku. Di saat itu juga aku jadi khawatir pada keadaan keluargaku. Apakah aku tidak akan bisa melihat mereka lagi? Atau mungkin apakah mereka yang tidak akan bisa melihatku lagi? Ratusan pertanyaan muncul di kepalaku karena kejadian aneh ini.

Akhirnya karena kelelahan dan bingung, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang suasana tetap sunyi dan tak ada seorang pun terlihat, hanya terdengar langkah kakiku yang agak terseok. Sesampai di rumah, ku lihat suasananya masih tetap sama seperti saat aku bangun tidur tadi. Lalu ku lihat kembali jam dinding yang ada di ruang tengah rumahku itu. Lagi-lagi aku terkejut melihatnya. Jam tersebut masih menunjukkan tepat pukul 12.00 siang, padahal jam tersebut masih aktif dan berdetik. Sungguh aneh, padahal aku merasa sudah hampir 1 jam aku keluar rumah tadi.

Langit pun masih tetap terlihat mendung, namun hujan tak kunjung turun. Suasanya tetap sama terus menerus, seolah waktu telah terhenti. Aku pun menjadi semakin takut, dan masuk ke dalam kamarku. Aku duduk bersandar di lemari kecil samping kasurku sambil memeluk lutut. Air mata terus mengalir dari mataku, di mana aku sangat merindukan keluargaku. Aku takut jika tidak akan pernah melihat mereka lagi, dan harus hidup sendirian seperti ini. Tangis dan kacau nya pikiranku membuat mataku terasa lelah. Aku berkedip perlahan berulang kali, hingga akhirnya aku tertidur.

“Bip…bip…bip..” Dengan mata masih tertutup ku dengar suara seperti suara alat pengukur denyut jantung. Pikiranku serasa berputar-putar seperti vertigo. Perutku terasa agak sakit seperti sedang kelaparan. Seluruh anggota tubuhku terasa sangat berat untuk digerakkan. Baru ku sadari bahwa aku sedang tidur lemas di atas sebuah kasur. Indera pendengaranku yang seperti baru aktif kembali mulai mendengar suara lain selain suara alat tadi, yaitu suara tangis. Ada seseorang menangis di sebelahku. Bukan. Bukan satu orang, sepertinya lebih. Jantungku terasa semakin berdegup kencang. Lalu ku dengar juga langkah beberapa orang yang sepertinya sedang tergesa. Mataku terasa sangat berat untuk dibuka, namun aku tetap berusaha untuk membukanya.

Sedikit demi sedikit ku mulai melihaya cahaya putih terang di depan mataku yang lama kelamaan meredup seiring pengelihatanku yang semakin jelas. Aku arahkan mataku ke kanan dan dengan pengelihatan yang masih agak buram, aku melihat Ibuku menggenggam tanganku sambil menangis. Sungguh aku baru merasa bahwa tanganku sedang digenggam dengan erat. Ku lihat juga adikku yang sedang menangis sambil memeluk Ibuku dari belakang. Aku juga melihat seorang laki-laki bersandar di tembok sambil menutup matanya dengan satu tangan, yang baru aku sadari bahwa orang itu ternyata adalah ayahku. Tiba-tiba seseorang dengan baju putih datang. “Sudah berapa lama sus?” Tanya orang itu kepada entah siapa. “Sudah hampir 3 hari dok, dan ini tiba-tiba denyut jantungnya meningkat tapi masih belum sadar.”

Apa? Belum sadar katanya? Jawaban dari seorang wanita di samping kiriku itu membuatku seperti kaget mendengar petir. Aku langsung menyadari bahwa itu pasti seorang suster dan aku sedang di rumah sakit. Sehingga aku langsung membuka lebar mataku dan melihat jelas sekeliling ruangan itu. “Hah, Gena!! Dok dia sadar dok.” Kata Ibuku sambil terkejut setengah mati. Mendengar itu semua orang di ruangan itu langsung menghampiri dan menatapku, termasuk juga ayahku yang tadi menutup matanya.

“Loh Mah, Papah, Sesil. Ada apa ini?” Tanyaku dengan nada bingung. Tubuhku yang tadinya lemas, mulai bisa aku gerakan. “Kamu baik-baik saja?” Tanya dokter kepadaku dengan bingungnya.
“Iya gak apa-apa, cuma perut saya agak sakit sama saya agak pusing.” Jawabku dengan polosnya. Keluargaku yang ada di ruangan itu terlihat sangat lega hingga tersenyum.
“Alhamdullilah akhirnya kamu sadar juga Gen.” Kata Ibuku sambil tersenyum bahagia. Belum pernah ku lihat Ibuku sebahagia itu sebelumnya. Aku pun tersadar betapa sayangnya mereka kepadaku dan betapa bodohnya aku hingga bisa membenci mereka.

Hanya beberapa jam setelah aku sadar, aku pun pulih total. Hingga akhirnya Ibuku menjelaskan apa yang terjadi. Ia bilang bahwa aku tak kunjung bangun saat dibangunkan untuk salat Dzuhur pada 3 hari yang lalu. Lalu Ayahku membawaku ke rumah sakit dan selama 3 hari lamanya aku mengalami koma, yang tidak jelas penyebabnya. Aku pun juga menjelaskan apa yang aku alami. Keluargaku seperti bingung mendengar penjelasanku yang tak masuk akal tersebut. Semenjak kejadian itu aku baru sadar bahwa ternyata keluargaku sangat sayang padaku. Aku juga sadar betapa pentingnya mereka untukku. Tidak hanya itu aku juga seperti merasa bersyukur atas kehadiran orang-orang sekitar rumahku yang selalu baik kepadaku. Sehingga semenjak itu pola pikirku berubah untuk bisa menjadi orang yang lebih ramah dan baik.

SELESAI

Cerpen Karangan: Satria Akbar Difa
Blog: hayasudah.blogspot.com
Facebook: Satria Akbar Difa
Line Id: satriaakbardifa

Cerpen Tak Seorang Pun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berubah 180 derajat

Oleh:
Gemmy namanya, remaja berusia 15 tahun ini kini bersekolah di SMP Nusa Persada yang merupakan salah satu SMP favorit di kota ini. Dulu dia adalah siswa yang berprestasi dan

Luka di Hati

Oleh:
Jingga baru saja turun dari mobilnya, dengan anggunnya ia turun layaknya seorang putri dari sebuah kerajaan. Dia tampak cantik dengan gaun putih yang ia gunakan tapi sayangnya tidak akan

Dibalik Kabut

Oleh:
Sudah tiga hari Ari tinggal di kampung halamannya sejak kepergiannya ke kota tempat ia menekuni ilmu. Baru kali ini Ari pernah pulang ke tempat kelahirannya setelah setahun ia berada

Putri Simfoni

Oleh:
Hai… aku bernama Sheila, aku sih anak biasa aja tapi aku suka sekali dengan menyanyi, kalau dulu kata mamaku suaraku bagus sekali, sayangnya entah kenapa orangtua angkatku bilang orangtuaku

Malam Kelabu

Oleh:
Aku tidak berhenti menangis, walaupun orang-orang telah pergi. Aku tetap saja tidak mempercayai kalau Ayah telah tiada, sekarang aku hanyalah seorang diri yang tidak mempunyai ayah dan bunda, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *