Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 December 2016

Sore ini hujan kembali jatuh membasahi bumi, kupandangi tetes demi tetes butiran hujan dan sesekali kuulurkan tanganku untuk merasakan dinginnya hujan sore ini dari jendela kamarku. Angin bertiup seakan berbisik kepadaku, mengingatkanku akan kenangan yang pernah kulalui bersama Fajrul.

Hujan sore ini berhasil membuat air mataku mengalir. Sampai sekarang aku masih tidak menyangka bahwa aku dan Fajrul sudah tidak punya hubungan apa apa lagi. Setahun menjalin kasih dengannya bukan waktu yang singkat bagiku, disaat semua terasa begitu indah bahkan kami telah membahas rencana untuk masa depan dan aku begitu yakin bahwa Fajrul diciptakan untukku. Namun semua itu telah sirna karena ayah menentang hubunganku denganya, hal yang membuat ayahku tidak setuju adalah tentang perbedaan keyakinan antara aku dan Fajrul. Oh Tuhan jika Engkau hanya satu mengapa ada begitu banyak agama di dunia ini. Untuk kesekian kalinya aku mengucapkan pertanyaan ini, pertanyaan yang sampai kapanpun tidak akan dapat kujawab, dan agama sebuah hal sakral yang tidak boleh dipermainkan.

Sebenarnya ayah sudah menentang hubunganku dan Fajrul saat hubungan kami baru lima bulan, namun aku bertahan sampai pada akhirnya aku memilih untuk mengakhiri semuanya. Mungkin dengan begitu aku bisa membahagiakan orangtuaku yang tinggal satu satunya ini, kehilangan ibu sudah cukup menyiksaku dan yang paling membuatku sedih adalah aku belum sempat membahagiakan ibuku semasa hidupnya.

Kuingat malam sebelum hari perpisahan kelas XII tiba aku menyempatkan diri menulis surat untuk Fajrul dan surat itu yang menjadi saksi bahwa hubunganku dengan Fajrul harus berakhir.

14 mei 2016
Hari perpisahan kelas XII. Waktu itu tidak ada siapapun di dalam kelas Fajrul, aku memasukkan surat yang kutulis ke dalam tas miliknya dan menyelipkannya ke dalam buku. Lalu aku bergegas pergi, pergi ke sebuah danau yang sering aku dan Fajrul kunjungi. Aku tidak kuat bila harus melihat wajahnya. Setelah hari itu aku dan Fajrul tidak pernah berkomunikasi lagi.

Jumat 13 mei 2016
Besok adalah hari perpisahan kelas XII, sebulan sudah aku tidak berjumpa dengannya rasa rindu menyiksa batinku. Namun entah mengapa akhir akhir ini dia berubah, dia sudah jarang menjawab telepon dariku, dan pesan singkatku pun jarang dibalas seakan akan dia menjauhiku, entah apalah itu aku harus tetap berpikir positif mungkin dia sibuk.

14 mei 2016
Aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Cristy, mataku memandangi seisi sekolah berharap kudapati sosok Cristy, sampai bel tanda berkumpul berbunyi aku masih belum melihatnya. Semua siswa berkumpul di satu ruangan tempat penyelenggaraan acara perpisahan, aku masih saja sibuk mencari Cristy “eh Na kamu ada lihat cristy gak?” tanyaku kepada Ana teman sekelas cristy “aku dari tadi gak ada lihat Cristy” jawabnya “oh gitu, makasih ya”. Sampai acara selesai pun Cristy tak kunjung datang, entah apa gerangan.

Aku mencoba menghubungi Cristy namun tidak ada jawaban dari seberang sana nomor ponselnya tidak aktif, aku jadi gelisah sebenarnya ada apa dengannya, ingin sekali aku ke rumahnya tapi sekarang sudah malam dan aku baru ingat bahwa masih ada pr bahasa inggris yang harus aku selesaikan. Saat membuka lembaran buku bahasa inggris, sepucuk surat terjatuh segera aku mengambilnya dan membuka amplop surat tersebut

13 Mei 2016
Untuk kamu
Semenjak hadirnya kamu aku gak pernah tertarik untuk menyukai siapa siapa lagi, hati ini udah pasnya di kamu. Hati kecilku berteriak ingin selamanya dengan kamu, namun suara hati kecilku kalah dengan besarnya keinginanku untuk membahagiakan orangtuaku yang tinggal satu satunya yaitu ayahku. aku pernah cerita ke kamu kalau ayah tidak setuju aku berhubungan denganmu, karena kita berbeda, lebih tepatnya karena kita berbeda agama, beberapa waktu lalu aku memilih bertahan, berharap suatu saat ayahku bisa menyetujui hubunganku dengan kamu. Sekarang aku bukan menyerah, tapi aku mengalah, mungkin dengan cara ini aku bisa membahagikannya di usinya yang sudah tak lagi muda, aku sudah dijodohkan dengan pria pilihan ayahku dan mungkin setelah lulus nanti aku akan menikah dengannya. Maaf atas keputusanku ini, maafkan aku yang tidak bisa menepati janji kita dulu, maafkan aku atas semuanya. Satu yang perlu kamu tau sampai kapanpun rasa cinta aku hanya untuk kamu, hanya kamu yang bisa mengisi ruang kosong yang ada di hati aku. Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang pernah kau hadirkan dalam hidupku, maafkan aku bila aku membalas semua kebahagiaan itu dengan menyakiti hatimu. Aku yakin kamu akan dapat pengganti yang jauh lebih baik dari aku. Sekali lagi aku tegaskan sampai kapan pun rasa cintaku ini hanya untuk kamu FAJRUL.
Dari wanita bodoh yang udah nyakitin hati kamu: Cristy

Aku tersadar dari lamunanku, ahh entah mengapa aku masih saja mengingat kejadian itu, kejadian enam tahun yang lalu. seperti biasa selama dua tahun terakhir ini aku merawat ayahku yang terbaring lemah di pembaringan dengan tubuhnya yang kini sudah sangat kurus, penyakit yang disebabkan oleh ribuan, ratusan, mungkin jutaan batang rok*k yang selalu dihisap ayah dari ayah muda dulu, kanker paru paru dan sudah stadium akhir, berbagai pengobatan telah dilakukan demi kesembuhan ayah tapi dokter mengatakan bahwa umur ayah tidak lebih dari dua tahun, dan kusadar bahwa ini sudah 2 tahun lamanya setelah dokter memvonis usia ayahku yang tak lebih dari dua tahun tersebut. Hampir setiap hari aku menangis, aku tak sanggup bila harus ditinggal orangtuaku yang hanya tinggal satu satunya ini, dan jika ayah pergi dengan siapa nanti aku akan tinggal.

Aku masuk ke kamar ayah membawa semangkuk bubur kulihat ayah sedang tidur, aku pun membangunkan ayah tetapi ayah tidak kunjung membuka matanya, hatiku mulai gelisah butiran kristal bening mulai keluar dari sela sela mataku, apa mungkin ayah? Ah tidak mungkin, aku belum siap kehilangan ayah, beberapa saat aku masih merasakan detak jantung ayah. Segera aku meminta bantuan tetangga membawa ayahku ke rumah sakit.

“suster, suster tolong ayah saya suster”
“ibu tunggu di luar biar nanti pasien ditangani dokter”.

Aku menunggu, duduk di bangku dan mencoba menghubungi bibiku namun tidak ada jawaban di seberang sana, air mataku terus mengalir aku berharap masih ada keajaiban untuk ayah. “Cristy” suara itu, aku pernah dengar suara itu, suara yang sama dengan seorang pria yang enam tahun lalu bersamaku “Fajrul” apa aku sedang bermimpi, Fajrul dengan pakaian serba putihnya yang sekarang sedang berdiri tepat di depanku “Cristy ayahmu, ayahmu” “kenapa ayahku? ayahku baik baik saja kan?” “kenapa diam Fajrul, jawab, jawab pertanyaanku” tiba tiba Fajrul memelukku dengan erat “ayahmu sudah tiada Cristy” aku menangis sejadi jadinya

“mengapa ayah tega pergi ninggalin Cristy sendirian? Cristy sayang ayah, Cristy pengen hidup lebih lama lagi sama ayah, hanya ayah satu satunya harta yang Cristy punya, maafkan Cristy yang belum bisa bahagiain ayah” air mataku tidak berhenti mengalir, di sini, di gundukan tanah yang masih baru ini tempat peristirahatan terakhir ayah. “kamu harus sabar cristy, sejak kapan kamu jadi lemah seperti ini? Cristy yang dulu kukenal begitu tegar” “Fajrul” Fajrul mengusap air mataku “segala sesuatu yang pernah ada pasti suatu saat akan kembali ke asalnya, kita sebagai makhluk ciptaanNya harus tabah menerima musibah yang menimpa. Aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua” Fajrul mencoba menyemangatiku

“kenapa kamu sendiri disini? Dimana suamimu? Dari kemarin aku tak melihatnya di sampingmu” pertanyaan Fajrul seakan menusuk jantungku “aku belum menikah” “lantas dulu? Suratmu?” fajrul bingung “hari dimana kami akan menikah calon suamiku mengalami kecelakan, almarhum meninggal di tempat, dan pastinya aku tidak jadi menikah dan…” ucapanku terhenti “dan apa Cristy” Tanya Fajrul “dan semenjak kejadian itu aku tidak punya pikiran untuk menikah lagi, dan kalaupun aku mau” belum selesai aku berbicara Fajrul memelukku air matanya mengalir “dari dulu aku begitu yakin kalau aku dan kamu diciptakan untuk bersama. Jujur sakit memang saat membaca surat darimu enam tahun yang lalu, tapi rasa sakit itu yang perlahan menguatkanku, memberiku motivasi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan yang harus kau tau hanya kau satu satunya wanita yang bisa mengisi ruang kosong yang ada di hatiku” jantungku terasa berhenti “sebelum ayahmu meninggal almarhum menitipkan kamu kepadaku almarhum ingin aku menjagamu, waktu itu aku tidak mengerti perkataannya, tapi sekarang aku sudah mengerti” Fajrul menatapku “dan kalaupun aku mau, aku maunya nikah cuma sama kamu. Begitu banyak pria yang mencoba mendekatiku, tapi aku tidak bisa menerima mereka karena tidak ada yang seperti kamu. Aku pikir kamu sudah bahagia dengan wanita lain, tetapi apa yang aku pikirkan itu salah” aku melanjutkan ucapanku yang terhenti “di hadapan jasad ayahmu yang terbaring di dalam sana, aku melamarmu. CristY kamu mau kan menjadi istriku? Kamu mau kan jadi pendamping hidupku? Aku tidak mau lagi kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya” aku mengangguk menandakan aku mau.

Karena tidak ada satu pun makhluk yang bisa menentang takdirNya, semua yang berasal dariNya akan kembali pula kepadaNya. Sama halnya dengan tulang rusuk seorang jodoh yang tidak mungkin akan tertukar.

Cerpen Karangan: Yumita Phang
Facebook: YumitaPhang
Maaf bila terdapat banyak kekurangan, sesungguhnya cerpen ini di buat hanya untuk hiburan semata.

Cerpen Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bersabar Menghadapi Apapun

Oleh:
Nama aku indah mardianti, aku sekolah di smp puspanegara kelas 96. Aku di kelas duduk bersama teman ku yang bernama Afiah Nurfaridha, afiah selalu care sama aku dia baik

Sabar

Oleh:
Cinta… cinta itu adalah anugerah, cinta itu… mimpi terindah, cinta itu… luas tak ada batas. Tapi dalam cinta itu ada kesaman; menyayangi, memiliki, melindungi dan membahagiakan orang yang kita

Mama

Oleh:
Kini aku membenahi diriku dalam kamar. Aku tak tau akan sikap mama yang berubah. Ia menjadi sering marah tak menentu tanpa aku ketahui sebabnya. Deru mobil ku dengar samar-samar

Ajal

Oleh:
“Apa? Loe gak bohong kan, Sya?” ujar gua. “gak Kar… gua gak bohong!” jawab Syara. “Loe yang sabar ya, Sya. Loe jangan percaya omongan dokter, dokter itu bukan Tuhan

Kenangan Yang Mengganggu

Oleh:
Embun pagi semerbak, bunga-bunga bermekaran. Suasana begitu indah menawan, tapi ada saja yang merasa sakit. Hidup memang tak semulus yang selalu diinginkan seseorang. Ada saja yang membuat rasa sakit.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *