Tanah Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 September 2017

Aku masih diam membisu, berteman dengan duka aku sendiri. Melihat keramaian kota di atas bukit paling tinggi, hamparan rumput hijau dan angin merdu sudah lama menjadi temanku. Duduk di atas bukit ini seakan aku dekat dengan langit senja, dekat dengan awan biru, dan dekat dengan seseorang yang aku rindukan di surga sana. Selalu aku ceritakan pada langit tentang miliaran rindu-rindu yang tidak bersambut ini, menatap langit penuh harapan berharap malaikat turun ke bumi membawa putri kecilku kembali walau hanya sebentar saja.

Hembusan angin merdu menyadarkan aku hingga ke bawah alam sadar hingga akhirnya aku tersadar dari lamunanku dan bergegas untuk berdiri, pergi menuju ke suatu tempat. Tempat dimana, putri kecilku tertidur lelap. Dengan baju long dress dengan selendang hitam serta menggenggam satu ikat bunga warna-warni kesukaan putri kecilku. Menyelusuri jalan yang sedikit becek karena tangisan langit tadi malam, dari kejauhan sudah terlihat “TANAH MERAH” itu. Hingga akhirnya aku sampai di depan gundukan tanah merah itu dengan papan nama yang hampir rapuh dan tulisannya kian memudar. Aku letakan bunga warna-warni itu tepat di atas gundukan tanah merah yang hampir turun itu. Seperti biasanya aku tidak bisa menahan haru, air mataku menetes membasahi gundukan tanah merah itu.

Miliaran rindu yang kian menyiksa membuat aku hampir setengah kurang waras. Beberapa tahun lalu saat aku tau ada janin di rahimku betapa bahagianya aku. Aku jaga dengan sepenuh hati, menjaganya sendirian tanpa campur tangan seorang suami yang aku tidak tau dia ada di belahan bumi mana waktu itu. karena pikiran yang membeban tepat pada tanggal 28 oktober 2014 aku harus melahirkan secara prematur dalam usia kandungan kurang lebih masuk 7 bulan. Tangisan itu menghiasi ruang bersalin, anak kuterlahir dengan kondisi awal sehat, berjenis kelamin perempuan yang aku beri nama “QUENNA AGATHA SUNDARI”. Setelah hampir seminggu kondisi kesehatan quenna mulai menurun. Air mataku menetes saat melihat tubuh quenna dipenuhi oleh selang-selang di dalam inkubator. Sempat menggenggam tangan mungil itu untuk yang terakhir kalinya, tubuhku lemas saat dokter mengatakan “kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi nyawa anak ibu tidak bisa tertolong lagi. maafkan kami bu”. Tepat pada tanggal 8 november 2014 lalu gadis kecilku meninggal dunia.

Aku selalu iri ketika melihat wanita seusiaku bercanda dengan anak-anaknya, sementara aku? aku hanya bisa memeluk ‘TANAH MERAH” itu saat aku rindu. Aku hanya bisa mencium papan nama itu saat aku rindu, dan aku hanya bisa membawakan bunga warna-warni saat ulang tahunnya tiba.

Senja kembali menyadarkan aku bahwa matahari akan mulai terbenam, Senja mengingatkan aku untuk kembali pulang, hampir setengah jam aku berada di depan ‘TANAH MERAH” itu. Aku kembali berdoa untuk putri kecilku “Nak, semoga baik-baik di surga san, selalu beri bunda nafas-nafas ketegaran ya nak! dan suatu saat nantik Allah yang akan menjelaskan apa itu arti prematur”

THE END

Cerpen Karangan: Analisa Sundari
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100010947215347
Indonesia, Riau PEKANBARU

Cerpen Tanah Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matahariku Telah Pergi

Oleh:
Bulan tersenyum padaku, bintang menari-nari di atas awan, terlihat sangat bahagia. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa ku sadari saat ini aku telah berusia 16 tahun lebih, ya sebentar lagi

Takdir Tuhan

Oleh:
Mentari mulai menunjukan sinar indahnya, dimana orang-orang akan memulai aktivitasnya. Hari baru semangat baru, itulah kata kebanyakan orang. Dunia akan semakin indah apabila jika ditemani seorang sahabat yang selalu

Gambaran Penyesalan

Oleh:
“Assalamu’alaikum warahmatullah..” “Assalamu’alaikum warahmatullah..” Tepat dini hari, aku kembali bersimpuh lemah. Menengadahkan kedua tangan di hadapan Sang Kuasa pemberi kehidupan. Berdialog singkat dengan melantunkan Asma-Nya dan tak lupa memberi

Selendang Hijau

Oleh:
Tampak bengkak kedua mata Putri, ia hanya bisa duduk terdiam dan terpaku pada seujung dipan yang memang sedari tadi telah menemaninya. Gejolak batin yang saat ini sedang ia rasakan

The Fight of One Couple

Oleh:
Hari yang membosankan! Orangtua dinas, kakak kencan dan aku? Tentu saja di rumah. Aku harus holiday! Itu nggak adil, mereka jalan-jalan sedangkan aku berada di rumah bersama adik yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *