Tangisan Pilu Dukaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 May 2017

Ilalang malam membingkis kegelapan membentangkan mimpi di dekapan jiwa, Menyisahkan puing-puing duka yang terselip di balik doa. Lagu sendu menjelma dalam muara tangis, celoteh buih jeritan sakal musnah tenggerai dalan lelapan imajinasi yang memuncratkan beribu-ribu kata dalm gubahan ranum asa mimpi yang mengiringi temaram tebing nestapa, merenggut simfoni kasih di ujung kesetiaan purnama, merintihkan sakau yang lenyap di siluet pematang pagi. Namun, bisikku di naungan sang pencipta tak kau hiraukan membiarkan oleng di atas ombak gemulung.

Sampai detik ini pun, ketidakadilan selalu menghantui fikiranku. Seakan diriku dibodohi oleh nafsu yang tak mampu seimbang dengan imanku. Entahlah, hidup ini terlalu naif bagiku untuk kuutarakan pada dunia yang tengah menyapa indahnya pematang pagi.
Hatiku seakan pecah berkeping-keping meratapi kehidupan yang serba amburadul terutama tentang kehidupan keluargaku yang sering sekali dirundung kepedihan. Bukan aku tak mampu melakonkan kisah kehidupan yang penuh dengan rintangan. Namun, aku memiliki keterbatasan kesabaran dalam sandiwara kehidupan.

Hari yang terasa begitu amat syahdu, entah mengapa hari ini ingin aku ceritakan semua kenistaanku di desaku juga pada lembaran demi lembaran lakonku yang selalu menjadi sejarah dalam cerita hidupku. Tentang sebuah rasa hatiku yang tak sanggup lagi kudiami untukku menyimpan serentang kasih dan sejuta rasa yang tertera di maktub fuadzku.

Di kesunyian keheningan malam, telah kembali hadir menyadarkanku tentang satu hal yang selalu kuharapkan dari dulu, tentang cinta dan kasih sayang yang sampai saat ini pun tak pernah terarah dan tergenggam erat di telapak tanganku, kini hanya menjadi bayangan semu dipelupuk mataku, dan hanya mengabaikan puing-puing harapan yang terlahap oleh waktu.
Mereka tak punya cinta dan belas kasih untukku. Mama beserta keluargaku tak sedikit pun menyempatkan diri untuk bersalaman hati denganku, apa lagi waktu untukku, meraka terlalu sibuk dengan pekerjaannya dari pada berbagi kasih sayang padaku. Semuanya hanya menjadi pelampiasan mimpi. Padahal mereka adalah harta sejatiku di dunia ini yang amat aku cintai dan amat aku butuhkan kelak.
Seandainya Ayahku masih bisa bernafas, mungkin saja ia akan mampu bersalaman hati denganku, berbagi rasa cinta dan belas kasih sayang walau hanya semenit. Tapi sayang, Tuhan lebih dulu mengambilnya dariku, saat aku masih berumur dua tahun.

Betapa malangnya nasibku Tuhan, selalu terkhianati dan dicaci maki didunia ini. Karena keterbatasan yang menghalangiku untuk menggapai mimpi. Berbeda dengan Mama yang hanya bisa membentak dan selalu membanding-bandingkan aku dengan Kakakku, Anggi. Aku tau, Kak Anggi lebih pintar dan lebih hebat dariku, bahkan Kak Anggi mendapatkan beasiswa di kampusnya, Universitas Muhammadiyah Malang Jawa Timur.
Tetapi, bagaimanapun keadaanku, aku masih anakmu Ma dan ketekanan Mama itu tak akan bisa membuatku bangkit dan malah membuatku sulit untuk berkelana. Setidaknya Mama selalu memberi dukungan kepada malaikat kecilmu bukan selalu membanding-bandingkan Ma..! jeritku selalu di hati

Saat itu senja kembali ke perpaduannya, menyisakan siluet jingga pada langit birunya, seakan membuatku terbelenggu hingga engan yang mau bangkit dari tempat dudukku diteras depan rumah. Karena begitu asiknya menyambut senyuman senja, tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Mama yang baru saja datang dari mengairi jagung di sawah, ia nampak lesu, keringatnya bercucuran di wajahnya yang kusam dan aku begitu lancang menghentikan langkahnya, tanpa berfikir rasa capek yang di rasakan Mama.
“Mama tunggu, Anggun ingin membicarakan sesuatu” ucapku pelan
“Ada apa Anggun? Mama ngak punya waktu, Mama capek, Mama mau istirahat. Nggak liat apa orang datang dari sawah..?” nada Mama mulai meninggi
“Anggun tau Mama datang dari sawah. Dan Mama pasti lelah, karena bekerja seharian suntuk. Tapi Anggun mohon Ma, beri Anggun waktu untuk berbicara dengan Mama walau hanya sebentar, plis Ma..!” Nadaku memelas sekaligus memaksa.
“Huuef… Anggun mau bicara apa?” ucapnya kecut
“Setelah pelulusan nanti Anggun ingin kuliah Ma, ya maksudnya kuliah sambil kerja Ma, kalau menurut pendapat Mama gimana?” Kupandangi mata Mama yang seakan-akan tak mempunyai keyakinan.
“Apa… kuliah? Kamu mau kuliah di mana? Dan mana bisa kamu kuliah, orang kuliah harus pintar ngak kayak kamu yang bodoh. Nilai raportmu masih ada yang dapat 5, alah.. mimpi kamu bisa kuliah. Malah kehadiranmu di sana hanya bikin ribut. Dan mana ada universitas yang bisa menerima mahasiswa bodoh kayak kamu. Terus kamu mau kerja apa? Kerja di rumah saja nggak becus apa lagi kerja punya orang lain, paling kehadiran kamu hanya jadi berabe di sana, udahlah gak usah banyak mimpi, kamu gak bakal jadi Bu presiden. Apa lagi menjadi seorang penulis, kamu gak bakal menjadi seorang penulis terkenal. Percuma karyamu di publikasikan di beberapa media, wong karyanya menjiplak milik orang lain” Ucap Mama seakan menjatuhkanku hingga membuat mataku nanar, terisak menahan bendungan air mata.
“Kenapa Mama bilang kayak gitu, aku karang sendiri dengan imajinasiku sendiri Ma” ucapku kesal
“Alah.. alasan, bilang saja kalau kamu menjiblak karya orang. Buktikan kalu kamu benar-benar mengarang sendiri. Mama bersumpah kalau karya tulismu dimuat di koran Mama akan bersujud di depan kamu. Kapan sih kamu bisa seperti kakakmu Anggi, dia tampan, pintar, dan menjadi kebanggaan keluarga, sedangkan kamu anak bungsu hanya malu-maluin Mama saja. Mama malu Anggun punya anak yang berbeda seperti kamu.” Ketus Mama jelas, air mataku semakin menderas.
“Akan aku buktikan Ma, bahwa aku pasti bisa seperti kak Anggi anak sulung Mama yang selalu Mama bangga-banggain. Aku mang gak sempurna Ma, aku bodoh. Tapi, aku akan berusaha untuk menjadi yang terhebat dari kak Anggi. Dan aku akan buktikan kepada keluarga disini bahwa aku adalah orang yang terhebat di dunia ini. Mampu berbagi ilmu yang aku miliki, tak seperti kak Anggi yang pelit, angkuh dan sombong untuk berbagi ilmunya. Percuma Ma, kak Anggi itu pintar, tampan dan segalanya, sayangnya dia sombong.” Jelasku, menumpahkan emosiku
“Sudah mimpinya Bu nyai? Mama capek, mau istirahat. Gak mau mendengarkan ceramah kamu yang tak ada gunanya.” Mama pergi meninggalkanku tanpa merasa bersalah

Tuhan, nistakah aku di hati Mama, kenapa dia melahirkanku di dunia ini? Bila saja aku tidak akan dikasihani, apakah mungkin kematianku nanti Mama akan menangis padaku. Nistakah aku, tuhan.. aku ingin seperti teman-temanku yang selalu dicintai dan disayangi oleh keluarganya, aku juga ingin merasakan bagimana rasanya dicium seorang Ayah apalagi rasanya di marahi Ayah. Tapi, kenapa kau ambil dia dariku Tuhan.

Seusai sholat magrib, langsung ku meraih losebook di laci kamarku. Malam ini ingin aku bingkiskan cerita pahitku tentang petaka diujung senja tadi. Entahlah, aku tak tau sampai kapan Mama dan keluargaku akan berhenti mencaci maki keterbatasanku.

Dalam sujudku aku selalu beharap Tuhan secepatnya merenggut nyawaku. Kurasa aku tak ada gunanya didunia ini. Segala apa yang aku lakukan semuanya selalu salah dan nista di desaku. Terutama terhadap kelurgaku.

Aku jadi teringat Gus Faza, seorang penulis terkenal yang selalu memberiku semangat untuk menjadi seorang penulis. Dan bahkan ia selalu menyempatkan diri untuk mengajariku tentang dunia kepenulisan. Tapi, aku merasa cangkolang kepada beliau. Karena pengabdianku padanya bukan ibarat Murid dan Guru. Melainkan ibarat seorang kakak dan adik. Kadang aku merasa tidak pede belajar dengan beliau. Karena dari saking keakrabanku pada beliau hingga membuatku tak pede dan malu. Walau beliau sering mengatakan tak memandang kasta maupun titelenya. Dan bahkan Kevin teman Gus Faza takmir, tak kalah mengajariku baca puisi. Harapanku hanya mereka berdua yang bisa menerjunkan aku ke dunia penulis. tak ada lain, terutamu malaikat hatiku Alif, lelaki yang kuharapkan kelak bisa menjadi imam bagi anak-anakku nanti.

Semakin batinku tertekan oleh omelan Mama, malah aku semakin mesra melukiskan pahit manisku untuk kujadikan sejarah. Berbulan-bulan aku menunggu karyaku bisa diterbitkan di koran maupun media, tapi tak ada satu karya pun yang masuk. Dengan sabar aku terus mencoba mengirim karyaku lagi. Dan aku berharap kali ini karyaku dimuat.

Suasana yang panas, seakan membuat dahagaku haus dan kering ronta. Rasa penat juga menyelimuti tubuhku. Suaraku serak, mungkin karena belajar baca puisi yang terlalu over vokal. Dari kejauhan Gus Faza berlari-lari sembari menjinjit sarung biru bermotif kotak-kotak, berteriak-teriak memanggil namaku.
“Anggun… Anggun…” setiba di depanku ia langsung selonjorkan tubuhnya ke tanah sembari menarik nafas lebar, menyeka cucuran keringat di dahinya. Sementara aku hanya menatapnya tak mengerti.
“Anggun… akhirnya…” sejenak berhenti bernafas. Nafasnya ngos-ngosan. Aku hanya menyerenggitkan dahi tak mengerti.
“Akhirnya.. kamu bener-benar jadi penulis.” ucapnya, tanganku gemetar, air mata haru bercampur senang, melelh di pipiku.
“Tidak.. tidak mu.. mungkin..” langsungku berlari-lari menuju mading koran, melihat karyaku yang dimuat.
“Anggun..” teriak Kevin yang sudah menunggu di mading koran
“Karyamu Anggun… kamu jadi penulis..” ucapnya memandangiku haru.
“Allahu akbar..” kuhempaskan tubuhku untuk sujud syukur, Gus Faza dan Kevin menangis haru memandangiku.

Dengan tidak sabar aku berlari sekencangnya menuju ladang Mamanya tempat Mama mengairi jagung. Sesampai di pematang sawah, tak kunjung kutemui sosok Mama di sana. Kutanya pada Ibu-ibu yang sedang mengairi rumput, ternyata Mama sudah pulang. Tak ada kata lelah dan letih saat itu, aku terus berlari sekuat tenaga, sekali kusipitkan mata mereka-reka kondisi rumahku begitu terlihat nampak sepi.
“Mama..” pelukku erat. Mama sedang asyik menonton TV.
“Ma, akhirnya aku jadi penulis Ma..” kataku terus menitikkan air mata.
“Ohh ya.?. selamat deh.” kata mama ketus melepaskan pelukanku.
“Mama senang kan Ma..?”
“Alah.. Mama sama sekali gak senang, buat apa jadi penulis, gak bisa mendatangkan uang buat Mama.” Ketusnya. Aku pergi meninggalkan Mama dengan penuh rasa kecewa.

Karyaku mulai digemari banyak orang. Kasak-kusuk namaku sudah meliar didesaku. Tapi, mama tetap saja tidak bahagia dan bahkan mama tega mengatakan kepada semua orang, bahwa karyaku hasil jiblaan orang lain. Atau karya kak Anggi yang diambil olehku. Aku tak tau sampai kapan Tuhan memberi Mama hati yang nurani, dan menyadarkan. Kini anaknya sudah menjadi seorang penulis.

Gus Faza tak lagi kutemui sosoknya, Kevin pun juga tak ada kabar dan bahkan ia tak memberikan aku selamat saat aku mendapatkan juara satu lomba baca puisi di sekolahku. Mungkin kevin marah karena telah mempermalukannya di depan teman temannya. Juga ketidak sengajaanku mengatakan ia play boy di depan teman-temannya.
Alif, yang selalu setiap saat menghubungiku. Kini tak lagi ku dengar suaranya. Entah kenapa semuanya berubah padaku disaat aku benar-benar jadi seorang penulis. Tanpa sengaja aku melihat Alif bermesraan di Facebook bersama perempuan yang tak kukenali. Ternya alif menduakanku. Tuhan.. disaat kau sudah mengabulkan semua yang aku impikan, kenapa derita yang kau beri semakin menyiksa batinku. Kenapa aku harus kehilangan semuannya Tuhan?.

Hari itu, pagi nampak cerah. Menggodaku untuk pergi ke pasar membelikan Mama kalung emas dengan hasil honor yang kudapatkan dari media. Kalung bermotif love, mungkin terasa anggun di leher mama. Terbata-bata aku berlari sembari memegang erat kalung di tanganku. Aku berharap mama senang dengan kalung pemberianku. Dan mama akan sayang padaku. Tiba-tiba mobil berlaju dengan kecepatan tinggi menabbrakku.

Gelap yang kurasakan malam ini. Aku tak tau, entah di mana aku sekarang, dan aku tak tau kemana kalung yang kupegang kini terasa hampa. Tuhan.. aku ada di mana, tubuhku remuk terasa sakit sekali.
“Anggun.. kamu sudah sadar.” Terdengar suara Alif di sampingku.
“Gelap Lif, tolong hidupkan lampunya Lif.. aku takut..” keluhku, tapi aku mendengar isak tangisan Alif.
“Kamu kenapa Lif, apa kamu keberatan untuk menghidupkan lampu?”
“Anggun, bukan aku keberatan untuk menghidupkan lampu, lampunya sedang menyala Anggun”
“Tapi, kenapa gelap Lif..? aku tak melihat cahaya apapun.”
“Anggun.. kamu.. kamu.. bu.. bu.. buta.. “
“Apa.. Tuhan, apa salahku.. Tuhan gak adil..” teriakku
“Cukup.. Anggun, jangan kau salahkan takdir..”
“Tuhan gak adil.. alif, Tuhan gak adil..” tangisku menjadi, tak menrima kenyataan
“Jangan kau salahkan takdir indah.. tuhan itu adil..” bentak alif menggoyangkan bahuku keras
“Pergi.. kamu pergi Lif.. pergi” derungku memeluk lututku penuh ketakutan
“Anggun..” terdengar suara Gus Faza dan Kevin menyebut namaku.
“Tuhan gak adil..” ucapku lemas
“Anggun, Tuhan itu maha adil.. jangan kau salahkan takdir.. jangan sampai duniamu nista karena kebutaanmu. Kamu harus bangkin Anggun..” suara lembut Gus Faza membujukku, aku hanya diam membisu.
“Maafkan aku, karena aku tak memberimu ucapan selamat atas juara satu baca puisi di sekolahmu. Aku sangat senang mendengarkan kejuaraanmu. Kamu harus bangkit, masa depan masih panjang” sport Kevin
“Duniaku sudah nista, tujuan hidupku aku hanya ingin membuat Mama bahagia tak ada lagi. Aku ingin membuat Mama bangga padaku. Tapi, Tuhan telah tega membuatku selalu menderita. Tuhan gak adil..” tangan lembut dan halus memelukku seketika menciumku serta menyeka air mataku.
“Malaikat kecilku, tolong ajari aku bagaimana caranya mensyukuri nikmatmu.” Bisiknya
“Mama…” Tanganku meraba-raba wajah Mama.
“Terimakasih kalungnya sayang, terimakasih sudah menjadi kebanggaan Mama. Jangan kau salahkan takdir nak, tuhan sudah merencanakan yang terbaik, Mama khilaf, Mama janji akan selalu menjagamu” Mama semakin mengeratkan pelukannya.

Tuhan.. kenapa cinta dan kasih sayang itu datang terlambat, disaat duniaku telah hilang sirna. Aku ingin sempurna seperti orang lain. Yang bisa melihat kebahagiaan dengan nyata. Tak seperti kebahagian yang ada pada diriku. Disaat aku tak lagi bisa melihat dunia. Aku ingin selalu menjadi yang terbaik di depan mama. Aku memang tak lagi dunia, namun aku yakin. Karyaku sudah berada di jiwa dunia. Dan karyaku seraya menjadi denyut nadiku.

Cerpen Karangan: Intan Elok Okti Wardani
Facebook: Putry Padang Pasir
Intan Elok Okti Wardani biasa disapa Inel, sudah aktif menulis sejak mengayam bangku kelas 4 SD. sekarang ia selain menjadi penulis juga menjadi penyiar radio.

Cerpen Tangisan Pilu Dukaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Terakhir

Oleh:
Senyuman selalu menyimpan makna berarti. Kebahagiaan, keramahan, bahkan kesedihan. Semua bisa disimbolkan dalam bentuk senyuman. Senyuman juga menyimpan banyak luka. Jika kamu tak punya apa-apa lagi untuk hidup, bahkan

Maafkan Aku Sahabat

Oleh:
“Tinna, bangun nak!” Ibu Tinna terus mengguncang guncang tubuh anak semata wayangnya itu. “Ya bu, hari ini Tinna bakal pulang telat deh kayanya bu. Nggak apa apa kan?” Tinna

Light Farewell

Oleh:
Langkah gontai gadis itu membawanya menuju sebuah rumah sederhana. Terlihat jelas raut lelah di wajah cantiknya, kulitnya yang putih semakin putih akibat pucat. Dengan perlahan ia meraih kenop pintu

Scorned Love

Oleh:
Aku melihat berita di televisi pagi ini. Tentang kejadian yang ‘katanya’ sudah sering terjadi pada sekolah-sekolah umum. Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini dianggap biasa. “Gadis yang berinisial

Because You are Our Hero

Oleh:
Aku memiliki sebuah cerita. Cerita ini tentang perjuangan diriku dan teman-temanku dalam meraih mimpi kami. Dan cerita tersebut dimulai pada hari itu. — Terengah-engahlah aku di lintasan lari lapangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *