Tanpa Judul

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 November 2015

Gerlap–gerlip cahaya kehidupan ini membuat diriku bingung untuk menjalankannya. Seolah hidup ini berjalan cepat tanpa kita sadari. Waktu terus berjalan hingga aku tidak bisa mengejarnya. Terkadang aku heran dengan jalan kehidupanku sendiri. Kadang–kadang berjalan lurus ke depan, terputus–putus bahkan berjalan ke belakang. Susah untuk menjelaskan hidup ini secara detail.

Sebuah buku tergeletak di atas meja belajarku yang tak ku sentuh selama seminggu ini. Buku yang dulu paling senang ku baca, tapi karena keadaan yang menghalangiku untuk membacanya. Tidak lain lagi, buku itu adalah buku matematika pemberian dari almarhum Ibuku. Di sisi lain hati ini terasa tertekan, karena beban yang bergitu berat semenjak Ibu telah tiada di dunia ini. Bisa dibilang, aku anak yatim piatu meskipun aku mempunyai seorang Ayah. Hari terus berganti, aku menunggu hingga hari itu tiba. Hari dimana projek Ayahku terselesaikan meskipun tidak sepenuh hati. Sebenarnya projek Ayah kali ini terbilang besar dari beberapa projek sebelumnya. Rasanya senang bisa melakukan projek ini, tapi karena batin ini tidak mendukung terpaksa beban yang berat menimpaku.

Bel sekolah telah berbunyi dengan kerasnya, semua murid sudah memasukkan buku dan alat tulis mereka ke dalam tas mereka masing–masing dan bersiap untuk pulang. Aku masih terdiam di dalam kelas untuk menunggu semua teman–temanku ke luar dari kelas.
“Raffy kamu gak pulang?” Tanya Lisa di depanku.
“Pulang kok Lisa, hanya aku ingin belakangan saja. Kamu duluan saja,” jawabku.
“oh, ya dah. Bye..” jawabnya dan langsung meninggalkanku.

Akhirnya semua orang sudah tidak ada di kelas, waktunya aku untuk pulang. Aku menyusuri koridor sekolah dengan pelan sambil menikmati suasana sunyi di sekolah. Rerimbunan pohon yang menari mengikuti alunan angin dan suara anak burung yang berkicau membuat hati ini menjadi damai. Ini membuat masa laluku selalu terkenang. Kaki ini sudah mengantarkanku ke rumah tempat tinggalku. Aku melihat Ayah di depan teras rumah sambil membawa naskah projek lagi. Tanpa basa–basi aku langsung menerima naskah tersebut dan pergi meninggalkan Ayahku menuju kamarku.

Aku pun membaringkan tubuhku di ranjang kesayanganku dan naskah tersebut ku letakkan di atas meja belajarku. Ku tutup kedua mataku sambil merenungkan hidupku ini. Rasa senang dan tekanan dari beban yang berat membuat hidupku tak jelas ke mana arahnya. Apa yang terjadi bila ini terus terjadi di hidupku? Apakah aku bisa mencapai impianku menjadi aktor internasional? Meskipun itu bukan hal mudah untuk dicapai, tapi aku tetap berusaha. Ku buka kembali mataku dan aku langsung mengambil naskah tersebut. Ku baca dengan detail tanpa ada hal yang ku lewatkan. Aku berulang kali membaca naskah ini hingga aku benar–benar memahaminya. Hingga kelima kalinya membaca naskah, aku baru mengerti secara penuh naskah tersebut. Sekarang tinggal menunggu untuk melakukan syuting di tempat kejadian.

Hari untuk syuting telah tiba, aku harus izin untuk bersekolah demi melakukan pekerjaan ini. Ku lakukan syuting kali ini dengan serius agar aku bisa menikmati kehidupanku sendiri. Baru satu hari setengah dari scene 1 sudah selesai. Aku hanya bisa pasrah untuk masalah ini. Badanku terasa letih dan pegal–pegal. Ini pertama kalinya aku merasakan lelah yang luar biasa dari sebelumnya. Rasanya batin ini sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit. Ku lihat foto Ibuku sambil mengelus pipinya yang ku rindukan.

Hari demi hari telah ku lalui dengan rasa ikhlas yang tertekan. Beberapa scene telah ku selesaikan dan kini aku memiliki waktu istirahat yang cukup buatku. Aku memutuskan waktu istirahatku ku pakai untuk belajar ke sekolah. Pakaian putih abu telah terpasang di tubuhku dan aku bersiap–siap untuk bersekolah. Senang rasanya bisa menikmati kehidupan sendiri tanpa ada tekanan apapun. Aku mulai memperlihatkan senyumku yang ku urung selama beberapa hari ini.

Kebahagiaanku semakin bertambah setelah melihat seseorang yang setia memberiku semangat. Dengan senyum manisnya dan lesung di kedua pipinya, membuat aku ingin membalas dengan senyum manisku. Aku teringat masa dimana dia dan aku duduk di pinggir kolam ikan di depan taman kota. Masa yang tak pernah ku lupakan, masa di saat aku memperlihatkan sebuah pemandangan yang eksotis dan pemandangan yang ia tunggu–tunggu. Dan kini aku hanya bisa memberinya sesuatu yang tidak lebih dari itu. Kebahagiaan itu hanya berlangsung sekejap mata setelah emosi dari seorang Ayah ke luar dan menusuk hati anaknya. Aku hanya bisa menerima semua kenyataan Ayahku sendiri dan mengikutinya. Kebahagian itu datang begitu lama tapi pergi begitu cepat. Kini aku melanjutkan beberapa scene lagi, begitu banyak permintaan dan tekanan serta nasihat yang menusuk hati ku terima.

Sekitar 1 bulan telah berlalu dan projek Ayahku hampir selesai. Dalam benak hatiku, aku begitu senang akhirnya projek Ayah yang ku kerjakan hampi selesai. Segala sesuatu yang ku inginkan sudah ku rencanakan dengan begitu baik. Tapi rencana itu lenyap begitu saja setelah ku dengar sebuah projek baru harus ku lakukan lagi. Aku seperti anak burung yang masih dalam sarang yang hanya menunggu makanan dari orangtuanya tanpa menolaknya. Seperti itulah diriku, aku hanya bisa menerima semua yang diberikan oleh Ayahku dan tidak bisa menolaknya.

Aku langsung mengambil naskah projek baru tersebut dan aku mengurung diri di kamar untuk memahami naskah itu. Begitu banyak aku membutuhkan waktu untuk memahami naskah kali ini. Hatiku langsung berkata lain setelah membaca naskah ini. Aku tidak tahan lagi untuk melakukan projek baru ini. Terlalu banyak adegan yang membuat batinku tersiksa dari melakukan adegan menjadi seorang yang suka terhadap sesama jenis sampai melakukan adegan s*x pada projek ini. Hatiku pun menangis sekeras mungkin hingga ada orang yang mendengarnya. Hidupku seakan rapuh waktu demi waktu, aku tidak bisa lagi mengenal diriku dari sisi fisik. Wajahku sangat pucat dan tubuhku sudah mulai kurus seperti anak burung yang ditinggal oleh orangtuanya.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan pergi jauh dari rumah tanpa tujuan. Kakiku terus mengajakku ke tempat yang ia mau hingga aku tidak bisa menghentikannya. Air mataku terus menetes satu per satu sampai kedua pipiku sudah terbentuk anak sungai air mata. Akhirnya aku sampai di mana kakiku sudah berhenti berlari. Napasku sudah terengah-engah, tubuhku bermandi keringat dan kakiku gemetar karena lelah mengantarkaku ke tempat ini.

Aku berdiri di atas ladang rumput yang luas. Angin sejuk memainkan beberapa helai rambutku, membuat aku menutup mata sambil membayangkan kenangan terindah bersama Ibuku. Bibirku memperlihatkan senyumnya saat mata ini melihat sesosok wanita berdiri di depanku. Wanita yang tak asing bagiku, wanita yang paling ku sayangi di dunia tiba-tiba muncul di depanku. Air mataku sudah tidak menetes lagi setelah tangan lembutnya mengusap air mataku.

Ingin ku merasakan pelukan hangatnya, tapi ku sadari itu hanya halusinasiku saja. Ku lihat ke dunia nyata, terlihat sebuah sungai mengalir yang berada di bawah mataku. Mungkin ini jalan yang terbaik bagiku untuk mengakhiri semua kesengsaraan ini. Ku langkahkan kakiku dan ku rebehakan tubuhku hingga aku menyentuh sungai yang berada jauh di bawah. Memang benar kehidupanku seperti anak burung yang berada pada sarangnya, hanya bisa menerima apa saja tanpa menolaknya hingga angin menerbangkan sarangnya sampai ia jatuh untuk mengakhiri hidupnya.

Cerpen Karangan: Agus Febri

Cerpen Tanpa Judul merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dad Is My Hero

Oleh:
Aku bernama Sherilla Cintyana. Aku mempunyai seorang Dad. Mom-ku sudah 3 tahun lalu meninggal. Dad-ku sangat menyayangiku. Ia sangat setia mengurusku. Tapi, Dad-ku juga selalu mengajariku disiplin. Menurutku aku

Pelangi di Hari Kelabu

Oleh:
Di sinilah hidup seorang gadis remaja yang cantik, di sebuah rumah sederhana yang awalnya merupakan tempat yang tidak layak untuk ditempati namun ia bisa menyulap tempat itu menjadi tempat

Kisah Sepotong Kue Brownies

Oleh:
Andai kejadian ini tak terjadi, dia pasti tak akan bersikap seperti ini padaku. Andai dulu kisah ini tak terukir, pasti dia tak kan meninggalkanku berlarut dalam sepi. Kini kebersamaanku

Yang Terakhir

Oleh:
Lantunan melodi membuat hati Liora seakan-akan memutar kembali semua kisah yang pernah dilewati. Kebersamaan, kegembiraan, rasa kasih sayang yang begitu hangat bahkan hingga saat ini masih membekas di hati

Because Time

Oleh:
Duduk di kursi kamarku dengan alis berkerut. Seperti biasa, aku kembali dimarahi oleh ibuku yang galak ini. Tidak tau jelas apa kesalahanku padanya, hampir setiap hari ia memarahiku. Bahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *