Tanpopo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Seperti bungan dandelion. Kamu begitu rapuh. Tanpa pegangan, tanpa arahan. Kamu mengikuti ke mana angin membawamu, dimana ia pula yang dengan tanpa dosa telah menggugurkan kelopakmu yang terkenal rapuh. Begitu menyedihkan. Tatkala kelopak mungil itu terhempas jatuh tak berdaya, mendarat mulus ke permukaan tanah dan ditinggalkan oleh sang angin yang pergi melalang buana. Tapi kenapa kamu hanya diam? Apa kamu merasa terlalu kecil untuk menghadang sang angin agar tidak meninggalkanmu? Dandelion.. Mengapa takdirmu harus seperti ini?

“Cukup Radith!” Aku menangis pedih. Hatiku bagai dihujam ribuan belati tak kasat mata. Jantungku berdetak tidak karuan, serta mataku tidak hentinya mengeluarkan cairan bening yang meluncur bebas mengaliri kedua pipiku.

Mataku terpaku pada sepasang adam dan hawa yang tengah bersitatap. Wajah si gadis yang memerah, dengan uraian air mata. Kurang lebih sepertiku, namun kondisinya lebih mengkhawatirkan dibanding denganku. Dia menatap sang lawan bicara yang hanya terdiam, menunduk sambil menatap ke arah sepatu yang tengah ia kenakan, tidak berani menengadahkan wajah rupawannya untuk memandang gadis itu. Hatiku remuk redam. Melihat semua itu membuat duniaku seakan remuk seketika. Seperti kehilangan napas, dadaku terasa lebih sesak saat mengambil napas.

“Pergi! Aku tidak butuh lelaki sepertimu! Karena aku yakin, tanpamu pun aku masih bisa bertahan hidup!” Gadis itu berbalik dan mengambil langkah lebar. Meninggalkan lelaki itu dengan keheningan luar biasa. Sedangkan aku? Hanya mampu melihat semua adegan itu di balik pintu kamarku. “Radith?” aku terpekur tatkala nama itu ke luar dari bibirku. Lelaki itu -Radith, tanpa ku sadari sudah menghilang dari tempat dimana dia berdiri berhadapan dengan.. Layla.

Aku melangkah menyusuri lantai keramik, menaiki satu persatu anak tangga yang mengarah pada satu tempat. Tempat di mana ia melabuhkan semua emosi yang tengah ia rasakan, suka, duka, ia selalu menjadikan tempat itu yang pertama menjadi saksi perasaan yang tengah bercokol pada hatinya. Aku mendesah pelan, tidak terasa kakiku sudah menapaki lantai depan di mana tempat itu berada. Mataku mendapati pintu besar yang menjadi pembatas ruang, menatapnya seperti aku mampu melubangi kayu kokoh itu dengan tatapan mataku. Tok. Satu ketukan, tanganku mengambang di udara. Indera pendengaranku menajam ketika suara derai tangis mengalun begitu lirih. Aku terpejam, merasakan denyut jantungku yang semakin bergerak cepat hingga menimbulkan sensasi panas hingga ke seluruh wajahku.

“Layla..”

Sontak tangisnya berhenti. Terdengar langkah kaki yang mendekati pintu, hingga akhirnya aku mampu melihat kondisinya dari jarak dekat. Wajah tirusnya begitu menyedihkan dengan sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi. Tak ayal matanya begitu bengkak seperti habis terkena sengatan lebah. Ia menatapku, dan dengan lirih memanggil sebutanku. “Ibu,” Layla langsung menghambur memelukku.

Bibirnya tidak berhenti mengucapkan kata maaf dan berkata bahwa ia sangat menyesal telah mengecewakanku. Ya Tuhan, hatiku berdesir tatkala ucapan itu terus terngiang di telingaku. Antara rasa haru dan sedih, semua itu menjadi satu saat ini. Ku elus puncak kepalanya dengan sayang, berharap mampu memberikan ketenangan untuknya. Ku kecup keningnya, memberitahu bahwa aku akan selalu melindunginya. Ya anakku, berhentilah menangis dan lihatlah ibumu. Semua akan baik-baik saja selagi masih ada aku, percayalah.

“Bu. Hukumlah aku. Aku telah gagal menjadi anak yang berbakti, aku telah gagal menjadi anak yang baik. Aku– aku begitu membuatmu kecewa, maaf Bu.. Maaf.”
“Dengar sayang, Ibu sudah memaafkan semuanya, Ibu sudah mengikhlaskan hal itu Nak. Percuma menyesali karena itu sudah terjadi, tak apa, kita akan baik-baik saja selagi kita berdua mau berjuang. Ibu akan selalu berada di sisimu.” Layla memelukku lagi, dan kali ini lebih erat dari yang sebelumnya.
“Maaf Bu..” hatiku kembali teriris. Mataku memandang langit-langit kamar dengan menerawang. Tidak henti hentinya tanganku mengelus punggung rapuh anakku.

“Kamu kuat sayang.” Hanya itu yang dapat ku ucapkan ketika tenggorokanku semakin tercekat. Perlahan, aku bangkit. Memberikan senyum tabah untuk putri semata wayangku, kemudian bangkit berdiri dan meninggalkannya. Memberikan Layla waktu untuk sendiri. Kakiku bergetar menuruni tangga, rasa dingin begitu menyelimuti saat aku menginjak satu per satu undakan lantai yang dingin. Begitu menusuk. Dengan pasti aku berjalan menuju kamarku. Namun ketika ku hampir sampai di depan pintu, tubuhku ambruk seketika.

Aku sudah tidak punya tenaga lagi, kakiku melemas sudah. Sekelebat bayangan tadi kembali menggangguku, membuat lubang-lubang kecil di dasar hatiku. Aku menengadahkan wajah, menangis dengan pilu sambil memukul-mukul dadaku yang sudah renta. Menangisi lagi jalan hidup yang ku alami, menangisi lagi jalan hidup yang Layla alami. Begitu amat menyakitkannya saat aku tahu aku belum bisa menjadi ibu yang sempurna, bahkan aku tidak bisa menjaga anakku dengan baik. Hingga ini terjadi.

‘Bu, aku hamil.’

Duniaku runtuh. Aku telah gagal menjadi ibu.
Aku gagal.

Dandelion. Bolehkah aku berharap? Di mana pun kamu berada. Meskipun kamu ditinggalkan oleh sang angin, bisakah kamu tetap hidup? Bukankah kelopakmu yang berguguran itu mampu tumbuh lagi pada tanah baru yang kamu tempati? Dandelion. Ketika waktu itu tiba, berjanjilah padaku. Bahwa kamu akan tetap menjadi bunga putih yang cantik, dan sekuat tenaga bertahan dari tiupan angin yang mau mengugurkanmu, karena bagaimanapun. Butuh waktu yang lama untuk membuatmu kembali tumbuh bersama bunga dandelion lainnya. Terakhir. Tetaplah menjadi lambang kesabaran, karena ku tahu, meskipun kamu begitu rapuh tapi kamu bukanlah yang mudah berputus asa. Berjuang kembali tumbuh meski telah hancur, dan berusaha berkembang biak di tempat baru berasama ‘spesiesmu’ yang lain. Teruntuk Dandelion. Dari, Tanpopo.

Cerpen Karangan: Dini Feby
Facebook: Dini Feby

Cerpen Tanpopo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang di Langit

Oleh:
Suatu malam, dua sahabat sedang makan malam di Sheila Resto. Nama kedua sahabat itu Bintang dan Langit. Makan malam mereka dipenuhi canda tawa. Hingga pernyataan dari Bintang yang membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *