Teddy Bear dari Kak Rehan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 April 2014

Di suatu pagi, di sebuah kamar yang tak begitu besar telah sesak karena dipenuhi oleh segerombolan orang. Masing-masing orang memegang 1 kotak hadiah untuk diberikan kepada seorang gadis yang masih tertidur pulas pagi itu.

Ya, Hari ini adalah hari ulang tahun anisa. kebetulan hari ini adalah hari minggu jadi semua orang yang ada di rumah bersiap-siap mengambil posisi di kamar Anisa untuk memberikan surprise kepadanya.

Tepat pada pukul 06.00 pagi. “Kringgg!!, kringgg!!” tiba-tiba terdengar jam weker anisa berdering. Bunyi yang nyaring itu ternyata telah membangunkan seorang gadis yang sedari tadi tertidur pulas di ranjangnya.
“Surpriseee!!!” teriak semua orang serentak.
“Ah! Loh? Mamah, papah, Kak Rehan kok ada disini?” sahutku dengan nada sedikit kaget karena teriakan mereka bertiga tadi.
“Loh? Kamu kan hari ini ulang tahun sayang..” kata mama.
“Iya sayang, masa hari ulang tahun sendiri lupa sih? Hahaha anisa, anisa” kata papa sambil tertawa.
“masa sih? Masa hari ini aku ulang tahun?” sahutku.
“wuuu! Dasar! Masih kecil aja udah pikun. Gimana nanti kalau udah tua tuh? Hahahaha” ejek kak rehan padaku.
“ih kak rehan jahat banget sih sama anisa! Huh! Kak rehan nyebelin!” gerutuku pada kak rehan.
“Idih, gitu aja ngambek wekkk…” kata kak rehan sambil menjulurkan lidahnya untuk kembali mengejekku.
“Sudah-sudah!, kalian ini harusnya akur.j angan seperti ini terus” Kata mama.
“Kan kak rehan dulu mah yang mulai!” kataku sambil cemberut dan menunjuk ke arah kak rehan.
“Sudah Cukup. Anisa, papah harap kamu bisa sedikit bersikap dewasa mulai dari sekarang. Ingat usiamu sudah 14 tahun!” kata papa.
“Tuh anak kecil, dengerin. Harusnya kamu contoh tuh sikap temen-temenmu yang selalu menghormati kakaknya” kata kak rehan.
“Jangan banding-bandingin anisa kak!, kakak itu sukanya ikut campur urusan anisa!” bentakku.
“Anisa, kamu sudah kelewatan! Benar kata kakakmu kamu harus belajar menghargai kakakmu sendiri! Belum tentu tahun depan kakakmu bisa menemanimu lagi!” omel papahku.
Seketika semuanya terdiam, aku pun mencoba mencerna apa sebenarnya arti dari ucapan papahku tadi. Tapi tiba-tiba mamahku mulai membuka pembicaraan kembali dan aku pun meminta maaf pada papahku.
“I.. Iyaa pah. Maafin anisa” kataku menundukkan kepalaku sambil terus menyalahkan kak rehan dalam hatiku.

Setelah kejadian itu, aku merasa campur aduk. Ada perasaan senang juga sebal di hatiku. Bikin bingung juga sih. Aku senang karena dapat banyak kado hari ini, tapi aku juga sebal karena gara-gara kak rehan hari ini aku ikut dimarahi papa.

Perkenalkan, kak rehan adalah kakakku, dia baru saja diterima di salah satu SMA yang terkenal di kotaku. Menurutku kak rehan itu baik, tetapi sikap jahilnya itu yang membuat aku tak bisa akur dengannya.

Malamnya aku terkejut saat membuka kado dari kak rehan. ternyata kak rehan memberiku kado yang berisi barang yang selama ini aku idam-idamkan yaitu, teddy bear berwarna pink dengan topi mungil lucu yang menghias kepala teddy bear itu. Sebenarnya aku ingin mengucapkan terimakasih kepada kak rehan, tetapi aku sudah terlanjur sebal akhirnya ku
kembalikan hadiah itu kepada kak rehan. Jelas saja kak rehan merasa tak dihargai sehingga malam itu aku ribut besar dengan kakakku itu.
“Nih kak! Aku gak butuh kado kakak!” kataku sambil melempar boneka itu.
“Loh? Emangnya kenapa? Kamu nggak suka sa?” Tanya kak rehan bingung.
“Kadonya jelek! Kak rehan gak pernah ngertiin anisa. Aku benci kak rehan!” bentakku pada kak rehan.
“Anisa! Kamu itu harusnya lebih menghargai kakak. Kakak rela menyisihkan separuh uang jajan kakak buat beli boneka itu! Dan itu buat kamu anisa!” kata kak rehan dengan nada kecewa.
“Pokoknya anisa nggak suka titik!” kataku sambil berlalu meninggalkan kak rehan.

Keesokan harinya, aku masih tak mau berbicara kepada kak rehan, begitupun sebaliknya. Aku pun yang biasanya berangkat sekolah bersama kak rehan menolak dan memilih naik angkot saja untuk berangkat ke sekolah. Semenjak kejadian malam itu aku dan kak rehan semakin menjauh. Jarang berbicara maupun di rumah atau saat berpapasan di tempat lain. Aku dan kak rehan sekarang bisa dikatakan bukan seperti orang yang bersaudara apalagi dikatakan sebagai kakak dan adik.

Sepulang sekolah, aku merenung di kamarku sambil menatap sebuah foto yang terpajang di dekat lampu tidurku. Itu adalah fotoku dengan kak rehan sewaktu kecil, aku teringat akan memori-memoriku dengan kak rehan. Aku ingat saat dahulu kak rehan selalu ada untukku disaat aku selalu membutuhkannya, kak rehan sangat baik padaku. Tapi kenapa aku selalu berkelakuan buruk padanya?. Tanpa terasa air mataku telah jatuh membasahi pipiku, aku membenamkan wajahku di bantal dan akhirnya tertidur pulas.

Paginya aku bertekad untuk meminta maaf pada kak rehan, aku menyesal telah menjadi adik yang buruk buatnya. Tetapi saat aku membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya aku setelah melihat kondisi kak rehan yang tergeletak di lantai dengan hidung yang berlumuran darah.
“Kak rehan! Kakak kenapa!, tolong.. tolong.. mamah papah tolong kak rehan!!” teriakku meminta tolong.
“Astagfirullah! Rehan!.” Pekik mama saat melihat kondisi kak rehan.
“Ayo cepat! Kita bawa kakakmu ke rumah sakit!” kata papaku sambil menggendong kak rehan.

Sesampainya di rumah sakit kak rehan dimasukkan ke ruang ICU. Di dalamnya terdapat banyak sekali alat-alat medis, aku juga melihat banyak suster keluar masuk ruangan itu. Aku bertanya-tanya sebenarnya kak rehan itu sakit apa. Maka dari itu aku segera menanyakannya pada mamaku.
“Mah, sebenarnya kak rehan itu sakit apa?” tanyaku penasaran
“Mungkin sudah saatnya kamu tau sa, maafkan mama dan papa karena tak memberitahumu dari awal.” Kata mama.
“Maksud mama apa?, kak rehan itu sakit apa mah? Jawab pertanyaan anisa dong” tanyaku lagi sambil memegang tangan mamahku.
“Sebenarnya kakakmu terkena kanker sayang, dan itu sudah stadium lanjut. Kata dokter usia kakakmu tak lama lagi, Mungkin hanya beberapa bulan. Maafkan mama dan papa yang tak memberitahumu, ini semua mama dan papa lakukan atas permintaan kakakmu, dia tidak ingin kamu tau dan bersedih sayang. Kakakmu sangat menyayangimu.” Jawab mamahku sedih
Betapa terkejutnya aku setelah mendengar penjelasan dari mamahku. Aku tak percaya atas apa yang baru saja kudengar tadi. Aku menangis sambil memanggil manggil nama kak rehan. Aku sungguh menyesal atas apa yang kuperbuat pada kakak yang menyayangiku selama ini.

Beberapa menit kemudian dokter pun keluar dan berkata bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi kondisi kakakku semakin kritis. kemungkinan usia kakakku tak lama lagi. Aku dan kedua orangtuaku segera masuk ruangan itu dan menuju ranjang dimana di ranjang itu terdapat kak rehan yang terbaring sangat lemah.
“Kak rehan.. maafin anisa kak. Jangan tinggalin anisa, anisa janji bakal jadi adik yang baik buat kak rehan.. tapi jangan tinggalin kita semua kak.” Rengekku sambil memeluk tubuh kakakku.
Tiba-tiba aku merasa ada tangan yang memelukku, ternyata kak rehan sudah sadar dari masa kritisnya.
“Kak rehan? Kak rehan sudah sadar!” teriakku sambil tersenyum
“Anisa.. ma.. maafin kakak ya. Kakak gak bisa beliin boneka seperti yang ka.. kamu minta” kata kak rehan terbata-bata.
“Enggak kak, harusnya kak rehan nggak usah minta maaf sama anisa, anisa yang harusnya minta maaf sama kak rehan. Anisa udah jahat sama kakak. Sebenarnya anisa suka benget sama bonekanya…” Jawabku sambil berlinang air mata.
“Ba.. bagus deh kalau gitu, itu baru namanya adik kak rehan. Oh iya dek, kamu janji ya kamu harus jaga baik-baik boneka itu.” Kata kak rehan tersenyum
“Iya kak! Aku bakal jaga baik-baik” kataku
“Kamu harus janji sama kakak ya.. kamu harus jadi anak yang pinter, harus bahagiain mamah sama papah, harus jadi anak yang baik.” Kata kak rehan sambil membelai rambutku.
“Iya kak aku janji, tapi kakak harus sehat” pintaku pada kak rehan.
“Baiklah kalau begitu kakak bisa tenang nanti disana, waktu kakak udah habis sa.. kakak harus pergi.. jaga mamah sama papah baik-baik ya.. kakak sa.. sayang sa.. sama kalian terutama sama kamu sa..” itulah kata terakhir yang diucapkan kak rehan. Setelah itu kak Rehan menghembuskan nafas terakhirnya.
“Kakak! Jangan pergi kak!” teriakku sambil menangis.
Semua keluargaku menangis melepas kepergian kak rehan. Termasuk aku. aku akan selalu mengingat pesan-pesan kak rehan padaku, termasuk menjaga teddy bear dari kak rehan yang diberikan padaku waktu itu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Cristanova Leoni
Blog: http://blogbaruku08.blogspot.com

Cerpen Teddy Bear dari Kak Rehan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Regret

Oleh:
Biar hujan datang membasahi bumi, aku masih termenung dalam renungku. Terdiam, menatap rintik air berjatuhan ke tanah. Enggan ku, untuk beranjak dari disini. Dari tempat ini. Kilatan petir bak

Jendela Kesayangan

Oleh:
Cuaca malam ini begitu tak mendukung. Bukan lagi gerimis, derasnya hujan disertai suara dari cahaya-cahaya yang menghiasi langit malam begitu menggelegar, membuat tubuh semakin gemetar. Sayup-sayup terdengar suara hentakan

I Love You Mom

Oleh:
Pada Tanggal 5 Januari 2014 Semua keluargaku sepakat untuk membawa mamah ku ke rumah sakit, kami memaksa mamah agar mengikuti kemauan kami. Setelah tiba di rumah sakit tersebut sebut

Aku Tak Pernah Membencimu Yah

Oleh:
Gemerlap sinar itu mungkin telah lenyap ditelan ombak di laut, entah ke arah mana, dimana bahkan bagaimanapun aku juga tak tahu pasti, kejadian itu terjadi saat aku masih di

Inikah Hadiah Istimewa Itu?

Oleh:
Ditengah paparan sinar matahari yang menyengat, seorang gadis melangkah dengan riangnya, langkahnya yang cepat dan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya mengiring perjalanan pulangnya. Hari ini adalah hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Teddy Bear dari Kak Rehan”

  1. Adila Megasih says:

    Ceritanya bagus, juga menyedihkan :’)

    • Cristanova Leoni says:

      Makasih banget ya, baca juga cerpenku “anugerah tuhan” di situs ini. dan kujungi websiteku Cristanovaleoni.blogspot.com ada beberapa cerpen disana. semoga bermanfaat 🙂

  2. ara says:

    Bagus cerpennya,mataku sampai berkaca-kaca :’)

  3. celesta alika says:

    Bagus banget!! Aku suka deh. Tapi kok anisa nya malah sebel ya dikasih kado dari kak rehan?

  4. Aku sampai terharu! Hebat, padahal cuma cerita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *