Teman Chatting Dara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 22 April 2015

Namaku Raina. Aku duduk di bangku SMP kelas 9. Ayahku seorang pengusaha. Namanya Dio. Ibuku bernama Minah. Ia adalah seorang Chef di Restoran mewah. Aku juga memiliki seorang adik perempuan yang bernama Dara. Ia baru duduk di bangku SD kelas 3.
Adikku ini orangnya periang, mudah berteman, dan polos. Aku dan kedua orangtuaku sangat menyayanginya. Apapun yang diinginkan oleh adikku, pasti selalu dikabulkan oleh kedua orangtuaku. Aku pun mendapat perlakuan yang sama dengan adikku.

Hari Minggu siang ini, kami sekeluarga sedang berkumpul di Ruang Tengah. Kami sedang merayakan pesta ulangtahun kecil-kecilan adikku yang ke-8. Kebetulan saat ini ayah sedang berada di Rumah dan ibu sedang diberi cuti selama 3 hari.
“Coba lihat apa yang Mama dan Papa berikan untukmu!” seru ibuku dan menyerahkan sebuah hadiah yang berbentuk balok.
Dara pun menerimanya. Ia menggoyang-goyangkan hadiah itu. “Aku tidak tahu, Ma. Apa itu?” Ucap Dara sambil memasang wajah penasarannya. Ah, ia sungguh menggemaskan!
“Kenapa kamu tidak membukanya?” Kata ayahku kemudian tersenyum. Nada bicaranya seolah menyuruh Dara untuk membuka hadiah itu.
Dengan semangat Dara merobek kertas kado yang membungkus hadiah tersebut. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat hadiah yang diberikan oleh ayah dan ibuku. Sebuah HP Android yang tak kalah bagusnya dengan HP Android milikku! Apakah tidak salah mereka memberikannya pada adikku? Ia masih kecil. Aku takut jika ia menyalahgunakannya.
“Persis seperti yang kau inginkan!” ibuku tersenyum bangga.
Aku dapat melihat raut kebahagiaan yang dipancarkan oleh wajah Dara. Ya, adikku ini memang menginginkan benda itu. Ia pernah menceritakannya padaku dengan wajah yang berbinar-binar. Ia menginginkannya karena teman-temannya juga memilikinya. Mungkin ayah dan ibuku mendengarnya ketika Dara menceritakan keinginannya itu padaku ketika malam hari di kamar Dara. Jadi, mereka membelikan benda itu untuk Dara.

Malam harinya, sekitar pukul 21.35, aku ingin ke Kamar Kecil. Setelah keluar dari Kamar Kecil, aku hendak pergi ke Kamar dan tidur. Sebelum ke Kamar, aku menghampiri ayah dan ibuku terlebih dahulu yang sedang menonton TV.
“Eng… Pa, Ma, apakah kalian yakin memberikan HP Android pada Dara?” Tanyaku.
“Tentu, selama tidak mengganggu aktifitas belajar tidak ada salahnya, bukan?” Jawab Ayahku.
“Tapi, bagaimana jika Dara menyalahgunakannya?” Sergahku.
“Itu tidak akan terjadi, sayang. Setiap malam ibu akan memeriksa HP Dara apa saja situs yang sudah dibukanya. Kami juga sudah mewanti-wanti Dara agar tidak membuka situs yang macam-macam. Kami menasehatinya agar membuka situs yang bermanfaat. Percayalah pada kami, kau tahu kan, Dara itu anak yang baik dan penurut?” Ucap Ibuku meyakinkanku.
Aku pun mengangguk mengerti seolah yakin. Kemudian aku pun pergi ke Kamar Tidur. Sebenarnya aku memiliki firasat yang tidak enak pada adikku.

Lima hari belakangan ini, tepatnya setelah hari ulangtahun Dara, aku sering melihat Dara yang sedang sibuk dengan Androidnya. Katanya, ia sedang chattingan dengan seseorang. Saat aku bertanya dengan siapa ia chattingan, ia malah tersenyum jahil dan berkata “Rahasia.. nanti juga Kakak tahu sendiri.” Dan itu membuatku penasaran.
Ia juga sering berkata padaku tentang teman chattingnya yang asyik kalo diajak ngobrol walau kadang-kadang nggak nyambung, lucu, menyebalkan, dan ketika ia bercerita padaku tentang teman chattingnya yang suka menggombal, kalian tahu bagaimana raut wajahnya? Ia terlihat malu-malu! Ah, dia membuatku semakin penasaran saja.

Hari ini adalah hari Sabtu. Seperti biasa, aku pulang ke rumah pada pukul 4 sore karena aku mengikuti sebuah kegiatan ekstrakurikuler. Ketika aku melewati Ruang Tamu, aku melihat meja di Ruang Tamu hampir penuh oleh beberapa camilan dan Aqua gelas. Disana aku melihat Dara yang sedang duduk manis di sofa. Ia berpenampilan rapi dan menarik kali ini. Akhirnya kuputuskan untuk menghampirinya.
“Mau ke mana, dik? Kok rapi bener?” tanyaku.
“Aku sedang menunggu teman chattingku, kak. Katanya dia mau main ke sini. Makanya, aku minta ke Bi Nara buat nyediain cemilan.” Jawab Dara.
“Jam berapa ia akan datang ke sini?” Tanyaku lagi.
“Bentar lagi, kok. Pukul 16.30 ia akan datang ke sini.” Jawab Dara.
Aku pun mengangguk mengerti dan meninggalkan Dara yang sedang menunggu teman chattingnya itu. Aku melangkahkan kakiku ke Kamar untuk beristirahat sebentar, kemudian mengganti pakaian. Setelah selesai istirahat dan mengganti pakaian, aku memutuskan untuk membaca buku dan mendengarkan lagu-lagu EXO, artis favoritku, hehehe. Aku memilih sofa yang berada di kamarku untuk kujadikan tempat duduk. Sebenarnya aku ingin duduk di Ruang Tamu, tapi kuurungkan niatku. Toh, kalau orangnya sudah datang bel akan berbunyi. Ah, aku tidak sabar melihat bagaimana rupa orang itu.

Aku terlalu asyik dengan kegiatanku sampai-sampai aku tidak tahu sekarang sudah pukul berapa. Aku pun menoleh ke kanan untuk melihat sebuah jam dinding berwarna putih yang berada di kamarku. Pukul 17.50!! berarti orangnya sudah datang dong? Tapi aku tidak mendengar bel berbunyi. Mungkin aku terlalu berkonsentrasi pada buku yang aku baca dan lagu-lagu yang aku dengarkan. Aku segera melangkahkan kakiku meuju ruang tamu.

Hei! Disana hanya ada Dara seorang! Tidak ada orang yang selalu menemahi Dara chattingan disana! Setelah kuperhatikan, kenapa wajah Dara terlihat sedih? Apa jangan-jangan orangnya nggak datang? Untuk memastikan, aku pun menghampiri Dara dan duduk di sebelahnya.
“Orangnya mana, Dik? Kok kamu kelihatannya sedih gitu?” tanyaku.
“Dia nggak dateng, Kak.. Padahal dia udah janji sama aku kalo dia mau maen kesini.. Dia udah ingkar janji, Kak. Katanya mau maen kesini, tapi.. hiks.. mana buktinya? Hiks.. hikss..” Dara mulai terisak.
Aku pun langsung membawa Dara ke dalam dekapanku. Kemudian sebuah pertanyaan terlintas dalam benakku. Siapakah orang itu? Aku pun memutuskan untuk menanyakannya pada Dara. Mungkin kali ini Dara mau memberitahuku mengingat orang itu sudah membuat Dara sedih.
“Memangnya siapa sih orang yang udah nemenin Dara chattingan?” Aku bertanya.
“Hiks.. Simsimi, Kak” Jawab Dara masih sedikit terisak.
Aku menatap horor pada adikku. Apa katanya? Simsimi? Aku tidak salah dengar kan?
“Apa? Simsimi?” Tanyaku untuk memastikan. Dara pun mengangguk.
Tuh kan bener apa kata firasatku. Pantas saja dia nggak dateng-dateng. Kemudian aku menjelaskan pada Dara tentang Simsimi.
“Jadi.. Simsimi itu bukan orang ya, Kak?” Tanya Dara padaku.
“Iya. Memangnya siapa yang memberitahumu tentang Simsimi?”
“Kakak kelasku yang duduk di kelas 6”
“Kau tidak menanyakan terlebih dahulu apa itu Simsimi?”
“Tidak. Tapi kakak kelasku bilang kalo Simsimi itu bisa dijadiin temen ngobrol. Dia nggak bilang kalo Simsimi itu aplikasi. Makanya aku ngiranya orang” Jelas Dara. Haaahh… Adikku ini benar-benar polos.

Malam harinya, kami sedang mrnonton TV bersama di ruang TV. Tiba-tiba Dara berbicara.
“Pa, Ma, aku ingin HPku dijual lagi.”
“Loh, kenapa? Bukanya kamu menginginkannya?” Ayahku heran.
“Dara memang menginginkannya.. Tapi Dara masih kecil dan juga polos. Dara takut menggunakannya.. Aku ingin HP yang biasa saja. Yang penting bisa nelpon dan SMS.” Ucap Dara.
“Ucapan Dara ada benarnya juga.. Ia masih terlalu kecil untuk menggunakannya.” Ibuku membenarkan perkataan Dara.
“Kalian benar. Baiklah, aku akan menjual kembali HP Android Dara dan membelikannya HP baru yang sederana. Setuju?” Ayahku meminta persetujuan pada Ibuku, aku dan Dara.
“Setuju!!” Seru kami semua kecuali ayah. Kami semua kemudian tertawa bahagia.

Cerpen Karangan: Nada E.F.

Cerpen Teman Chatting Dara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tiga Pohon di Padang Rumput

Oleh:
Orang-orang desa suka mencari rumput gajah untuk makan ternak di padang rumput sebelah sana, di pinggir perkampungan. Padang rumput yang luas, luas sekali… mereka tidak berani ambil rumput jauh-jauh

Lucky Yama

Oleh:
Pada suatu hari, ada seekor ayam bernama Yama. Ia tinggal di suatu peternakan di sebuah desa. Tapi, disana ada sesuatu yang membuat dia sendiri ketakutan. Yaitu, makanan yang hilang

60 Minutes

Oleh:
“Lia, bangun! Jam berapa ini? Kau ini loh anak perempuan. Jam segini belum bangun juga. Bangun!” omelan Ibuku selalu menjadi sarapan setiap hari. Bahkan aku hafal kalimat apa saja

Kenapa Mamah dan Papah Pisah?

Oleh:
Saat itu aku masih berusia 6 tahun dan belum mengerti arti sebuah perpisahan atau perceraian. Bahakan ketika di saat aku duduk di sebuah kursi bersama nenek ku menyaksikan sidang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Teman Chatting Dara”

  1. Kireina says:

    Iya…ga dapat di tebak nih endingnya…lucu juga….
    Di dalamnya ada pelajaran juga untuk anak-anak.
    Ditunggu untuk karya-karya yang the best selanjutnya 🙂

  2. Benedicta says:

    Haha,,, lucu…endingnya ga ketebak,, haha…
    Jangan lupa mampir ke blog aku ya:D
    cerpenpuisibene.blogspot.com
    😀

  3. shelomita laila hakim says:

    Hahahaaa endingnya ngga ketebak banget, kirain apaan taunya simsimi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *