Terbelenggu Monster

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 February 2016

Pernahkah kau merasakan bagaimana rasanya terbelenggu? ataupun hanya sekedar membayangkan dibelenggu oleh monster ataupun disekap oleh monster? rasanya tersiksa bukan? Dibelenggu oleh monster yang berwujud menakutkan, membelenggumu, mengikutimu, selalu bersamamu. Takut. Bayangkan monster yang membelenggumulah yang membuatmu meninggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Aku Elvaro, seorang remaja yang dibelenggu oleh monster semenjak 2 tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku baru menginjak usia 13 tahun. Aku bukan mengada-ada, aku memang dibelenggu oleh monster yang menakutkan ini, monster kecil yang bisa saja membuatku meninggal.

Tahukah kau monster apa yang membelengguku, menyiksaku, yang selalu bersamaku semenjak 2 tahun yang lalu? Monsternya bernama Kanker, ya. Itulah monster yang membelenggu kehidupanku, menghambat segala aktivitasku. Aku harus berusaha melawan monster itu kalau aku tidak ingin meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Monster yang bersarang di hatiku memang kecil, namun menakutkan. Bisa saja monster ini sewaktu-waktu membunuhku, apabila tidak ada perlawanan dari diriku, perlawanan yang dibantu oleh cairan kimia, obat-obatan, dan kemoterapi, yang bisa saja sewaktu-waktu tubuhku tak lagi bisa menerima rangsangan itu.

Aku terbaring di sebuah kasur putih, lengkap dengan peralatan medis yang menopang hidupku, membantu perlawananku terhadap monster itu. Beberapa selang yang ditempelkan di tubuhku sebagai alat untuk memasukkan cairan tambahan bagi tubuhku, agar tubuhku tetap mendapatkan tenaga untuk sembuh dari penyakit kanker liver ini. Semerbak bau obat-obatan menguasai ruangan ini. Pahit. Busuk. Berbagai macam bau, rasanya terkumpul di ruanganku.

Aku tidak sendirian di ruangan ini, juga ada pasien yang menderita penyakit yang sama denganku, dan rata-rata mereka seumuranku. Contohnya Adnaya, remaja putri yang juga dibelenggu oleh monster itu, dia sudah 5 tahun bersama monster kecil itu. Aku benci dengan keadaan ini. Aku merindukan kehidupanku yang dulu, kehidupan 2 tahun yang lalu, tanpa dibelenggu oleh monster bernama Kanker Liver ini. Aku merindukan bang Rinaldi, abangku yang sekarang bekerja menjadi ABRI di Jakarta, Bang Ojy, abangku yang sedang kuliah di Universitas favorit di Indonesia. Terasakah oleh kalian, kerinduanku? Aku merindukan kalian. Sejenak pikiranku melayang ke masa lalu tentang kita.

“I’ve tried play it cool, girl when I’m looking at you..” terdengar olehku kau menyanyikan sepotong lagu One Thing, sambil bermain gitar klasikmu yang berwarna cokelat di dalam kamar. Aku mendengarnya dari dalam kamarku yang berada di sebelah kamarmu, segera aku menuju kamarmu dan menghentikan gameku. Lagu kesukaanku itu juga lagu kesukaanmu, aku berhenti di depan pintu kamarmu, memerhatikan dirimu menyanyikan lagu itu, sepertinya hari ini kamu sangat bahagia. Tak ku sadarai kau menoleh ke arahku.

“Adek ngapain? masuk aja,” kau menyuruhku masuk, aku pun masuk dan duduk di sampingmu, sepertinya malam ini kita terasa lebih dekat. “Bang Ojy, ajari aku main gitar bang?” pintaku polos. Waktu itu hanya kita yang di rumah, bang Rinaldi sudah bekerja di Jakarta 3 bulan yang lalu, sedangkan mama dan papa sedang bekerja di luar kota untuk satu bulan ini. “Oke, besok ya, sekarang dengerin abang nyanyi aja,” jawabmu, aku mendengarkanmu bernyanyi dan tak terasa akhirnya aku tertidur di kamarmu, dan kau membiarkanku tidur di sana. Kau berhenti bernyanyi dan lebih memilih tidur, karena besok kau harus mendaftar ulang di Universitas favoritmu, dan meninggalkanku sendirian di rumah 2 hari lagi. Hening.

“Adek bangun, udah jam 06.00 WIB,” terdengar suaramu membangunkanku, saat itu kepalaku terasa pusing, perutku sakit, badanku panas, entah kenapa, sepertinya aku sakit pagi ini. Kau letakkan tanganmu ke atas keningku, “Adek demam, ya udah istirahat aja, sarapannya abang taruh di meja makan ya, jangan lupa dimakan, abang pergi dulu, assalamualaikum,” perlahan tubuhmu meninggalkan kamar, dan kemudian hawa keberadaanmu tidak lagi terasa. Beberapa menit setelah kau pergi, aku segera menuju ke kamar mandi, aku merasakan sakit yang hebat di perutku. Setelah balik dari kamar mandi, aku segera melahap sarapan yang kau buatkan untukku, dan setelah itu kembali tidur di kamarmu, sepertinya aku menyukai kamarmu itu. Hening.

“Tinone, tinone.” Terdengar bunyi bel rumah ditekan, segera ku pergi menuju pintu dan membukanya, ternyata kau sudah pulang. “Assalamualaikum, Adek masih deman, kita ke dokter ya?” aku menganggukkan kepalaku, kau segera menuju kamarmu dan mengganti pakaian, dan kau segera menghidupkan mobil dan membawaku ke dokter. Hanya sekitar 15 menit menuju ke sana, dan akhirnya kita sampai di rumah sakit yang bernama Assyifa itu. Kau segera memarkirkan mobil, dan segera mendaftarkan namaku. Dan kita menunggu di ruangan tunggu. Hening. Sepertinya kau mencemasi terjadi apa-apa kepadaku yang dari tadi hanya diam.

“Elvaro,” panggil seorang perawat di depan pintu periksa, aku segera masuk bersamamu, aku segera tidur untuk diperiksa sedangkan kamu duduk di depan meja dokter. Dokter pun mendekatiku, “Sakitnya di mana Nak?” tanya dokter yang memeriksaku, “Perut saya sebelah kanan sakit sekali Pak,” jawabku. Segera dokter memindahkanku ke sebuah ruangan untuk di Rontgen, beberapa menit saja, selesai. Dokter tersebut segera mengambil hasil rontgennya dan melihat-lihatnya, dia mengangguk, sambil sesekali melihat ke arahku, dia segera kembali ke mejanya dan aku mengikutinya. Kemudian dia duduk di atas kursi kerjanya. “Elvaro bisa menunggu di luar? Bapak mau bicara dulu dengan Bang Ojynya,” aku hanya mengangguk dan pergi ke ruangan tunggu.

Sekitar 10 menit aku menunggumu ke luar dari ruangan itu, aku merasakan sebuah firasat buruk yang terjadi kepadaku. Dan akhirnya aku melihatmu ke luar dari ruangan itu, matamu berkaca-kaca, jalanmu terlihat sedikit lemas, aku mulai mencemasi keadaan, kau duduk di sampingku, diam sejenak dan kemudian menjauh dariku, kau mengeluarkan handphone-mu untuk menelepon papa. “Assalamualaikum Pa, apapa sekarang dimana, si Adek sakit, tadi Abang udah bawa ke dokter, si Adek harus segera dioperasi.”

Samar-samar terdengar suaramu menelepon papa, tapi kenapa kau tidak menyebutkan penyakitku dengan jelas, aku hanya mendengar aku harus dioperasi, ada apa denganku? Kau kembali duduk. “Bang, Adek sakit apa? kok harus dioperasi?” kau terdiam sejenak dan menjawabnya dengan jujur, tak peduli aku akan sedih mendengarnya ataupun takut, “Adek sakit kanker liver stadium 2, tapi Adek tenang aja, kan ada Abang, Adek sembuh kok. Tenang. Bentar lagi Papa dan Mama datang kok.” Kau mungkin merasakan kecemasanku, aku merasa langsung terbelenggu oleh monster kecil itu, aku sangat takut mendengar namanya. Sejenak aku terdiam, aku bingung harus bagaimana, air mataku tertahan, seakan aku susah bernapas. Sakit. Perih.

Hari sudah beranjak sore, sudah pukul 18.00 WIB. “Adek, Adek kenapa?” terdengar suara mama yang berjalan ke arah kita, aku segera menoleh ke arahnya, terlihat juga papa dan bang Rinaldi, aku segera berlari memeluknya, aku menangis, mama pun juga menangis, begitu juga kau. Papa segera ke ruangan dokter itu, dia juga mengajakmu, aku hanya menunggu dengan mama di ruangan tunggu, aku hanya memeluknya, tak berkata apa-apa, aku merasa nyaman memeluknya. “Adek tenang aja, sembuh kok,” terdengar suara bang Rinaldi, aku rindu mendengar suaranya. Aku paksakan tersenyum, walaupun hatiku merasa sakit. Sedih.

Singkat cerita, satu jam kemudian, aku dipanggil memasuki ruang operasi, tapi ketika di-check, ternyata tubuhku tidak siap, karena aku demam. Jadi jalan terakhir aku harus mengikuti kemoterapi, agar pertumbuhan kanker itu menjadi lambat. Aku memasuki ruangan yang menakutkan itu, mengganti pakaianku, tidur, dan ikuti kemoterapi itu. Mama duduk di sampingku, sedangkan papa harus kembali ke rumah mengantarkanmu karena besok kau harus pergi ke Universitasmu dan tinggal di dekat kampusmu, dan hanya kembali ke rumah sekali dua bulan. Bang Rinaldi hanya menemaniku hingga pukul 22.00 WIB, dan kembali ke Jakarta. Aku tertidur setelah bang Rinaldi pergi, mama sepertinya juga kelelahan, sehingga ia juga tertidur di sampingku sambil duduk. Sunyi.

“Adek, Abang pergi dulu ya, kalau kangen telepon aja,” ucapmu, aku terbangun dan melihatmu, aku merasa sedih.
“Ya Bang, hati-hati ya,” sebenarnya aku berat melepasmu tapi biarlah.

Sudah 2 tahun kita berpisah, dan sekarang aku kembali sakit, dan masuk rumah sakit. Merasa sepi tanpa adanya kalian menemaniku, hanya mama dan papa di sini. Sepi. Aku merindukan kalian. Tiba-tiba dari arah pintu kau dan bang Rinaldi datang sambil tersenyum, membawakan makanan kesukaanku, aku bahagia. Kau mungkin terlalu rindu, kerinduanku segera terhapus oleh kehadiran kalian. Bahagia. Sakitku seperti tak terasa dengan kehadiran kalian.

Cerpen Karangan: Ferdian Admil Sandika
Blog: ferdianadmilsandika.blogspot.com
Nama: Ferdian Admil Sandika
Kelas: IX-1 (Thaif)
Sekolah: SMPS Perguruan Islam Ar Risalah
Hobi: Menulis, Membaca, listen to music, browsing
Saya dapat dihubungi melalui:
gmail: andika.reinaldiadmil[-at-[gmail.com
Instagram: ferdiandika
Facebook: reinaldi andhika
Twitter: cogan_15

Cerpen Terbelenggu Monster merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bulan Gundah

Oleh:
“Mengapa aku harus memilih, sedang semuanya bukanlah pilihan bagiku.” “Tapi kamu harus cepat-cepat menentukannya.” “Aku tidak bisa.” “Ini bukanlah tentang bisa atau tidak bisa, tapi ini tentang mau atau

Kue Bolu Buat Dimas

Oleh:
Ketika tuhan memberikan ujian kepada hamba-hambanya secara terus menerus, bukan berarti DIA membenci, tetapi malah sebaliknya tuhan sayang kepada hambanya dan akan mengangkat tinggi derajat kita jika kita berhasil

New Mother

Oleh:
“Tunggu Kak!” teriak Nicki sambil menangis, “Cepatlah! kita akan terlambat!” jawab Kak Kemi. ‘Uwi uwi uwi’ sirine ambulan terus terdengar. Banyak korban yang dievakuasi dan dibawa posko terdekat. ‘Brugg’

Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Jam berdetak cepat secepat detak jantung keyla. ia melangkah kesana-kemari layaknya setrika yang sedang menyetrika pakaian. ia tidak memikirkan apa-apa kecuali adiknya reyhan yang sedang operasi. keyla tidak bisa

06.15.30

Oleh:
Minggu, 17.30 WIB. “Keputusan Astrid sudah bulat! Apapun yang ayah dan ibu bilang gak akan mengubah pendirian Astrid untuk kuliah di Yogya!!!” bentak Astrid ketus kepada kedua orangtuanya. Sore

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Terbelenggu Monster”

  1. Waaakereenn :3 Elvaronya kasian masih kecil uda ngerasain begitu.. nice~ tp alur flashbacknya kadang bingung akunyaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *