Terikat Tanpa Mengikat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 30 December 2017

Cahaya redup rembulan menggambarkan suasana hati yang bergemuruh di antara ketidakpastian menerima kenyataan bahwa aku sudah dijodohkan, malam ini terasa seperti mimpi buruk rasanya aku tak ingin bangun dan membenamkan diri di atas tirai selimut dan bantal empuk yang terasa bagaikan duri semak belukar. Banyak orang mengatakan bahwa hidup merupakan suatu pilihan namun pernyataan itu tidak sejalan dengan apa yang ada dalam hidupku, pilihan yang tidak searah membuat hatiku sendu, fikiran yang terus menjalang mengingatkanku pada seorang motivator MUSTOFA BiSRI “bahwa hidup bukan untuk disesali dan bukan beban untuk dirasakan, melainkan harus kita hadapi, jangan hanya terbayang dalam satu titik saja.” Bahkan SALLIM A. FILLAH pernah menulis dalam bukunya “apa yang terpenting untuk kita bayangkan, kita hayati dan kita rasakan sehingga kehidupan terasa bermakna.” Penyair Kahlih Gibra saja pernah mengatakan “jangan biarkan hidupmu berkelabut dalam kegalauan, berfikirlah, bermimpilah untuk hari esok karena mimpi yang sekarang merupakan gambaran untuk hari esok.”

Namun semuanya terasa hambar karena malam ini keluarganya akan datang meresmikan hubungan yang tak pernah kuinginkan, membayangkan wajahnya seperti apa belum pernah terfikirkan dan sebentar lagi aku akan memiliki ikatan dengan orang yang tidak aku kenal, sungguh dunia ini mempermainkanku, baru kemarin aku merasakan kebahagian bersamanya kekasihku, dan sekarang takdir membolak balikkan segalanya.

“mengapa belum bersiap-siap lin? Mereka sudah berangkat, cepat bangun sebelum mereka benar-benar sudah sampai.” Suara ibu membuyarkan lamunanku tentang lelaki yang sebentar lagi menjadi selubung antara aku dan kekasihku.
Aku hanya menatap wajah ibu dengan tatapan lesu dan membiarkannya meninggalkan aku yang tak bergeming dari tempat tidur. Tiba-tiba handphoneku berdering, kudapati nama MAHRUS di layar ponsel, hatiku berdesir, tubuhku terasa kaku, apa yang harus aku katakan? detak jantungku semakin tak beraturan.

Terdengar suara “Halo” dari seberang sana, aku masih tak bergeming terdiam kaku.
“Halo” dia lebih meninggikan suaranya membuatku sedikit kaget “Iya” hanya itu yang mampuku lontarkan.
“kuatkan hatimu, jangan menangis semuanya akan baik-baik saja, aku sudah mendengar semuanya”
Aku terperanjat.. oh tuhan…!!! bagaimana mungkin dia baik-baik saja! sedangkan aku akan bertunangan dengan orang yang tak lain masih memiliki ikatan keluarga dengannya, hatiku terasa dihujani sembilu yang tak berkesudahan, aku yakin hatinya sama terluka dengan hatiku tapi dia masih memikirkan hatiku, aku menangis tersedu-sedu mengingatnya yang begitu tulus mencintaiku.

Aku menutup teleponnya bersamaan dengan deru mobil berhenti di depan rumahku, aku masih tak bergeming di tempat tidur, sampai aku mendengar suara langkah kaki semakin mendekatiku.
“Ayo bangun dan ganti pakaianmu, mereka sudah menunggumu di luar” ucap ibuku seraya mengelus kepalaku.
“aku tak ingin perjodohan ini bu..!!aku tak mengenalnya” rontaku dengan isak tangisku.
“sudahlah nak, jalani saja dulu kita harus menghormati mereka, jika memang dia bukan jodohmu kamu tak akan bersamanya” ucap ibuku sambil lalu membantuku mengambilkan baju yang akan aku kenakan.

Aku memantulkan wajahku di cermin sungguh mirisku dapati mataku bengkak dan hidungku memerah, kubiarkan wajahku tanpa olesan apapun yang membuatku terlihat begitu natural.
Berat rasanya kulangkahkan kaki keluar menuju kerumunan orang yang tengah menunggu kehadiranku, kusalami satu persatu di antara mereka sesekali tersenyum getir tanpa melihat wajah mereka. Tiba-tiba kurasakan mataku mulai memanas saat seorang dari mereka memasangkan cincin di jari manisku, ingin ku meronta memintanya membatalkan semua ini tapi aku hanya bisa menahan gejolak hati yang mulai tak bisa kubendung, kubiarkan kristal itu jatuh mengiringi langkahku meninggalkan tempat itu. Aku masuk ke kamarku lepas cincin itu dan kubanting hingga menggelinding ke kolom tempat tidur, kubenamkan wajahku di balik bantal dan berharap semuanya hanya mimpi buruk.

Seminggu sudah aku menjalani ikatan ini dan pada akhirnya hari itu sudah tiba, dimana aku dan keluargaku akan pergi ke rumahnya. Tiba-tiba handphoneku berdering, panggilan masuk MAHRUS hatiku berdesir semakin tak karuan, dia selalu berhasil membuat detak jantungku tak karuan.
“bagaimana sayang? apa kau sudah siap? kau pasti kelihatan begitu cantik.” dengan suara yang dibuat sedikit tertawa, namun aku bisa merasakan bagaimana hatinya saat ini yang tak beda jauh dengan hatiku.
“lelucon apa ini rus!! aku tak ubahnya mayat hidup hanya raga tapi jiwanya sudah bersemayam bersamamu, bawa aku pergi” ucapku sambil lalu menahan bendungan air mata yang sudah mulai menyeruak di kelopak mata.
“tidak sayang, aku tak akan membawamu pergi dengan cara yang seperti ini, karena dari pertama aku mulai mencintaimu, aku harus bisa menanggung konsekuensinya bahwa cinta tidak selamanya indah namun kadang-kadang membawa luka yang teramat sangat dan cintaku tidak egois namun sebuah kepastian. Cinta kita bukan seperti benang yang bisa putus, bukan kayu yang bisa rapuh, bukan mata yang bisa buta, bukan kulit yang bisa luka melainkan CINTA RAHMATAN LILALAMIN yang bisa menerima kenyataan sepahit apapun itu. Selama janur kuning benar-benar belum melengkung aku tidak akan menyerah untuk menjadikanmu BIDADARI SURGAKU. AKU MENCINTAIMU RAHMATAN LILALAMIN.
Oh Tuhan…!! seberapa kuat, seberapa tegar hatinya aku yakin dia juga menangis di sana.

“Herlin.” Suara ibu mengagetkanku.
“Iya bu!!” Ucapku seadanya.
“ayo nak. Kita harus segera berangkat, mereka pasti sudah menunggu kita.” Teriak ibu dari luar.
Kulangkahkan kaki keluar menuju kerumunan orang yang sudah siap mengantarku.

Tepat di sebelah bangunan yang sepertinya masih baru mobil kami berhenti, kurasakan sekujur tubuhku mulai membeku dan hatiku mulai sesak tak menerima kenyataan pahit ini.
Ayah…!! Seandainya kau berada di sini, kau akan melihat bagaimana keadaanku, ibu tidak pernah melihatku tumbuh karena dia berada jauh dariku tapi dia selalu mengaliri aku dengan do’anya dan sekarang ibu berada di sisiku jadi izinkan aku mengabdi dengan cara yang berbeda, maafkan aku ayah…!!! aku menerimanya untuk melihat surga kecilku tersenyum bangga padaku.

Seminggu dari kejadian itu, ibu memutuskan untuk meninggalkan aku dan adikku kembali karena faktor ekonomi yang tidak mencukupi dan memang ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga setelah penceraian yang terjadi tiga tahun yang lalu antara ayah dan ibuku, Padahal baru kemarin aku merasakan kasih sayangnya, setelah sekian lama dia berada jauh dariku.

“jaga adikmu” ucap ibu sambil mencium keningku, dan berlalu meninggalkan aku yang mematung di depan rumah, melihat kepergiannya.
Aku berlari ke kamar dan menangisi kepergian ibuku, karena sesungguhnya aku tak ingin berpisah darinya, samar-samar kudengar suara adikku menanyakan ibu kepada nenekku, hatiku bergemuruh rasa sesak memenuhi sekujur tubuhku aku takut hari ini dimulai, aku tidak ingin hari ini terjadi.

Cerpen Karangan: Mahmudah
Facebook: Mudah Laura

Cerpen Terikat Tanpa Mengikat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Air Surga (Part 2)

Oleh:
Andrew menatap dalam-dalam. Matanya kelam. “SP yang kedua, seorang pelanggan komplain. Suatu hari saya tidak masuk karena tiba-tiba bayi saya sakit. Sehari sebelumnya saya sudah menitipkan tiket beliau di

Cerita Masa Laluku

Oleh:
Sering kali aku mendengar pertengkaran kedua orangtuaku. Setiap aku pulang berangkat sekolah, selalu dikelilingi dengan kekicauan mereka. Dan itu membuat sekolahku hancur, rasa tidak semangat, takut, benci semua mengelilingi

My Silly Boyfriend (Part 2)

Oleh:
Gessan dan Yoan baru saja pulang dari sekolah. Dugaan Gessan benar, Yoan adalah penolak balanya sebab sejak pagi tadi ia dijemput Yoan dan dia baik-baik saja. Tidak ada luka,

Kecelakaan Berakhir Bahagia

Oleh:
Namaku Neirsya Khumaira Nazaresya, panggil saja Neirsya, aku adalah seorang anak Presdir Mobil, dapat diduga kehidupanku bagaimana, kaya ya tentu saja. “Neirsya, Papa mau kerja, ke tamannya ditemankan Zaenal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Terikat Tanpa Mengikat”

  1. RIZALUROHMAN says:

    MINTAK IJIN SHARE YA KAK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *