Terima Kasih Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 October 2021

Di siang hari ku berdiam diri dan tak lama kemudian masa laluku menghampiriku dan tak mau pergi dari pikiranku. Masa lalu yang akan selalu mengikutiku kemana pun aku melangkah.

Masih bisa kurasakan pukulan, rasa panas di kulit tergesek dengan lantai marmer, maupun gelapnya mata yang tertutup dengan pita perekat (lakban warna coklat). Tak hanya bagian mata yang direkatkan tetapi tangan dan kaki pun juga disatukan menggunakan benda tersebut. Itulah perlakuan yang kuterima disaat diri ku masih anak-anak (Masih TK besar) dan menunjukan nilai yang jelek kepada ibuku.

Aku hanya bisa menangis sekeras-kerasnya dan tak ada satu pun yang bisa menolongku, karena tidak ada yang berani melawan ibuku, semakin keras ku menangis semakin keras juga dia memukulku sambil menyeretku dengan satu tangan. Kemudian dia akan mengurungku di gudang yang sempit, gelap dan tidak ada ventilasi di ruangan itu, di situ aku pun dikunci cukup lama dan aku diharuskan mengerjakan ulang pekerjaan sekolah dengan benar. Yang kulakukan hanya menangis, menahan sedih yang luar biasa (yang pada saat itu aku pun tak paham apa yang kurasakan sebagai anak kecil yang tersiksa) dan sakit fisik yang akan sembuh nantinya. Aku tetap menangis sambil memarahi diriku sendiri untuk bisa berpikir dengan benar dan mengerjakan soal-soal tadi.

Nenekku yang menyaksikan kejadian itu pun tidak bisa berbuat apa-apa karena dalam rumah tangga ini yang berkuasa adalah ibuku, sedangkan bapakku dia terus bekerja dan sangatlah jarang menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah.

Aku bukan anak tunggal di keluarga ini, aku mempunyai kakak perempuan yang sempurna sekali. Seperti yang ibuku harapkan darinya sangat feminin, pintar di sekolah, mempunyai paras yang rupawan dan selalu menurut dengan orangtua. Sangat bertolak belakang dengan diriku yang dilahirkan tidak sesuai dengan gambaran ibuku disaat dia mengandungku. Dia sangat berharap sekali bahwa anaknya yang kedua harus laki-laki, ibuku pergi ke orang pintar diberikan jimat agar anak yang dikandungnya adalah laki-laki. Ku berpikir sebegitu perjuangan ibuku untuk mempunyai anak laki-laki dan tentunya sekarang aku cukup bisa memahami sebagaimana kecewa dan patah hatinya ibuku disaat aku terlahir sebagai perempuan.

Setidaknya itu yang ada di pikiranku disaat ibuku memperlakukanku sangat berbeda dari kakak perempuanku.
Di saat ku beranjak dewasa pun, ternyata perlakuan ibuku berubah. Setidaknya dia sudah tidak terlalu sering menyiksaku seperti itu dan aku pun merasa kuat apabila ibuku menyiksaku lagi aku berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan menunjukkan diriku lemah dengan menangis di depan dia, aku akan memasang wajah berani dan tidak menangis atau pun tersenyum.

Cerpen Karangan: peD
Anak baru yang memulai menulis lagi setelah bertahun-tahun berhenti menorehkan tinta di kertas.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Terima Kasih Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sajadah Biru

Oleh:
Nenekku adalah panutan yang baik. Panutan bagi anak cucunya, termasuk bagiku aku. Nenek adalah orang yang hebat, jarang mengeluh dan tentunya wanita yang sungguh istiqamah. Semenjak ayah dan ibuku

Particle and Iced Tears (Part 1)

Oleh:
Di mana Reyonale punya kesusahan untuk mengerti, mengapa Amarie membenci Suffron yang telah berbuat baik padanya. Dan Amarie yang kebingungan dan iri hati kepada Suffron, serta Suffron yang… Mencoba

All of You

Oleh:
Tring! Tring! Tralala la la! Bunyi alarm membangunkanku dipagi hari, Aku terbangun dengan senyum di wajahku, bergegas mengambil ranselku dan memasukkan beberapa pakaian serta perlengkapan lain, kemudian Aku bergegas

Aku Ingin Pulang

Oleh:
Angin dingin yang berhembus kencang membuat seluruh tubuh ini terasa beku. Sepinya suasana membuat aku terpaku seorang diri. Sudah berapa lama aku melangkah, sudah berapa jauh aku berjalan… Hanya

Antara Dia dan Ayah

Oleh:
Bel akhirnya berdering, pelajaran akhirnya usai. Semua siswa bergembira, wajah-wajah lemas berubah menjadi sorak sorai. Ana, teman sebelahku juga demikian. Dia tadi tertidur sepanjang pelajaran namun saat bunyi bel

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *