Terima Kasih Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Ku lihat seorang wanita tua memunguti sampah dengan anaknya. Mereka berdua mengantarkan ku ke masa lalu ku.

April, 05 2005
“Selamat ulang tahun sayang.. Nggak terasa umur kamu sudah 17 tahun.. Ini kue untuk kamu..”
“Kue apa ini ma? kue kecil seperti ini? tidak bisa di kenang..”
“Angel.. ini mama bikin spesial untuk kamu…”
“Ma, kalau buat surprise yang megah doong, kaya teman-teman ku… di pestain lagi.. bukannya menyenangkan tapi sudah mengecewakan banget!”

Dahulu, waktu umur ku masih remaja, seumuran Andin, anakku yang berumur 17, aku sangat durhaka kepada orang tua, apalagi mama. Mama yang selalu menyuapi ku di saat aku lapar, mama yang menggendong ku di saat aku tak berdaya.

Kembali ku pandangi keluar jendela. Wanita tua itu dan seorang anaknya sedang makan hasil pencarian mereka di tong sampah. Entah apa yang ingin ku lakukan. Aku bingung, tangan ku yang awalnya bertopang dagu, kini melipat rapih di depan dada ku. Tak lama kemudian, rintik-rintik hujan membuat ku tambah kasihan kepada kedua manusia yang sangat sabar menghadapi semuanya. Ya Tuhan, apakah yang harus ku lakukan untuk ke dua manusia ini? Hambamu sedang dilanda kebingungan..

Flashback….
Oktober, 20 2005
Hari itu, genap 34 tahun umur sang ibunda ku. Tapi, saat itu aku tak mengatakan sepatah kata pun. Malah, aku mengecewakannya.
“Angel.. Apakah kamu tidak tau hari ini hari apa?”
“Hari ini? Hari ini tepat…”
Ibunda ku langsung senang tak kebayang..
“Tepat tanggal jadian ku dengan Reno. Oh ya, mana masakan yang ibu janjikan untuk aku? ah.. Lebih baik aku makan di luar bersama Reno. dadah.. Bu..”

Raut wajah ibu yang berubah dari senang ke antara sedih, marah.. Entahlah.. Aku tak tau.. Saat itu aku tak pulang. Aku bermalam di rumah sahabat ku, Evia, semalaman. Besoknya, aku pulang ke rumah. Alangkah terkejut nya aku ketika aku melihat bendera kuning yang sudah kusam dan kotor tertancapkan di tengah-tengah pagar ku. Siapa kah yang meninggal, apakah ibu? Pasti bukan..
“Angel..” Panggil seseorang dengan suara dan nada yang lembut.
Papa. Dia papa ku… mengapa tangan papa di borgol? mengapa harus bersama polisi? aku sungguh pusing dan bingung.
“Angel, maafkan papa.. tadi papa sempat bertengkar dengan mama di ruang tamu. karena sangat marah dan emosinya papa, papa memukul mama mu sebanyak tiga kali dan mendorongnya ke tembok sebanyak 2 kali.. Mama mu jatuh di lantai dengan keadaan luka parah. Dan akhirnya meninggal.. Maafkan papa..”
Aku merasa menyesal karena tak ada di sisi mama saat mama berulang tahun. Dan aku akan membenci papa ku sendiri karena papa sudah berani membunuh seseorang yang sangat berarti dalam kehidupanku.

Aku berlari ke kamar dan melepas jaket ku, aku berbaring di ranjang ku yang berwarna violet bergambar musik. Papa di vonis masuk penjara seumur hidup.

Aku masih menatapi jendela rumah ku, di luar sana basah karena hujan.
Gerimis hujan membuat wanita tua itu masih berteduh di halaman depan rumah tetanggaku yang ada tempat teduhnya itu. Aku langsung ingat suatu kata dari ibuku waktu aku masih kelas 6 SD.
“Ingatlah selalu, Angel.. Kamu harus membantu orang yang kesusahan..”
Tanpa pikir panjang lagi aku memanggil kedua orang itu. Lalu kusuruh masuk kuberi dia pakaian, segelas teh hangat dan sepiring makanan. Anak dari wanita tua itu berumur 5 tahun. Sungguh sangat menyenangkan bagi Andin karena dia mempunyai teman bermain baru.
Aku pun senang dapat membantu orang yang kesusahan. Itu berkat ibu… Terima kasih ibu..

Cerpen Karangan: Daniella Patriciariesta Kindangen
Facebook: Daniella Kindangen

Cerpen Terima Kasih Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Oleh:
“Kay, kamu kenapa lagi? Aku sudah beberapa kali melihatmu seperti ini.” Kata Elly, sahabatku. Aku Kay, aku berumur 16 tahun saat ini. Aku sudah belakangan ini sakit, dan sering

Memories

Oleh:
Gadis itu masih terus menatapi layar ponselnya,berharap layar itu akan menampilkan sebuah pesan atau panggilan masuk dari seseorang yang saat ini sedang ditunggunya.Gadis itu Tiffany,masih setia duduk di salah

Aku, Kamu Sahabat

Oleh:
Kulihat, masih tetap kulihat. Tak akan pernah bosan diri ini menatap sesosok gadis di hadapanku. Ia tetap cantik meski kini ia tengah terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat pasi.

Bidadari di Pintu Multazam

Oleh:
Air mata itu tak berhenti. Tenggorokannya kering, hanya suara serak yang keluar dari mulutnya yang menganga. Hampir dua jam tanggannya mengadah menghadap langit-langit Nabawi. Tapi tak satu kata pun

Lighter (Part 1)

Oleh:
Ku temukan janji manis dari kumpulan kata-katanya, teduh dari gema suara baritonnya. Seperti gulali dari toko manisan di depan rumah, manisnya mengikat lidah. Seperti pohon besar menjulang tinggi di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Terima Kasih Ibu”

  1. alya says:

    ceritanya menyentuh :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *