Terima Kasih, Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 January 2019

Hari itu, Griny mendapat beasiswa untuk belajar di Inggris. Griny yang tidak pernah pergi ke luar provinsi sangatlah senang dengan tawaran tersebut. Lalu, Griny pun mempersiapkan apa saja yang akan dibawa nanti.

3 hari kemudian…
Griny sudah siap dengan barang bawaannya. Selesai berkemas, keluarga Griny mengantar Griny ke bandara. Lalu, mereka menangis.
“Mama, Papa, Grea, jangan kangen sama aku ya. Aku akan baik-baik saja di sana.” ucap Griny sambil menangis.
“Sini mama peluk. Griny, kamu baik-baik di sana ya.” ucap Mama.

“Panggilan terakhir untuk Griny Anastasya, harap segera pergi ke ruang tunggu.” ucap informan.
“Griny pergi dulu ya!” ucap Griny sedih.

3 tahun kemudian…
“Grea, besok aku mau pulang. Dari London jam 4 pagi, berarti di Indonesia jam 11 siang. Kamu tungguin di bandara ya.” ucap Griny lewat video call.
“Oke, Kak.” ucap Grea.

“Kenalin, ini namanya Agatha Christanti, yang ini namanya Hansen William, yang ini namanya Jose Kristian, yang ini namanya Laura Prastika.” ucap Griny.
“Oh, hello all!” ucap Grea.
“Tenang aja, mereka lancar kok bahasa Indonesianya. Bahkan, mereka juga ingin ikut ke Indonesia loh. Iya ‘kan?” tanya Griny.
“Iya.” ucap Jose, Agatha, dan Laura.
“Iya, Grea. Kami bisa ngomong bahasa Indonesia kok.” ucap Hansen.
“Udah dulu ya, aku mau backpacking dulu. Inget, jangan lupa bilang sama mama papa kalo aku mau pulang.” ucap Griny.
“Oke, Kak.” ucap Grea.

Griny dan teman-temannya pun backpacking. Mereka pun berangkat ke bandara.

Pada saat di pesawat…
“Di depan ada awan berbahaya. Hati-hati!” ucap pilot.
“Aargh!!!” teriak seluruh penumpang.

Pesawat yang Griny dan teman-temannya naiki ternyata mengalami kejadian buruk. Beritanya sudah sampai di Indonesia sangat mengejutkan keluarga Griny.
“Pesawat London Air diduga jatuh di dekat Pulau Jawa. Berikut nama korbannya.” ucap reporter.
“Loh? Mama, Papa!!! Ke sini! Cepetan!!!” teriak Grea.
“Ada apaan sih?” tanya Mama.
“Itu, Ma. Pesawat London Air jatuh. Itu ada nama kak Griny!” ucap Grea.
“Astaga, Ya Tuhan! Griny!” ucap Mama mulai menangis.

“Korban yang sudah ditemukan sebanyak 121 orang dalam keadaan tak bernyawa. Korban yang masih dalam pencarian sebanyak 5 orang. Berikut adalah nama korban yang belum ditemukan.” ucap reporter.
“Astaga, itu ‘kan nama teman-teman kak Griny sama kak Griny!” ucap Papa.

1 bulan kemudian…
“Mama! Papa! Grea!” teriak Griny.
“Hah? Griny? Kamu masih hidup?” tanya Mama.
“Iya, Ma.” ucap Griny.
“Bagaimana kamu bisa selamat?” tanya Papa.
“Jadi ceritanya begini…” ucap Griny mulai bercerita.

Flashback 3 minggu yang lalu on
“Ah, ada korban di sini! Ada 5 orang!” teriak tim SAR.

Tim SAR pun menarik 5 orang tersebut ke daratan. Ternyata, mereka masih hidup. Lalu, mereka dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kebetulan, barang bawaan mereka tidak ada yang rusak. Griny berusaha menelepon Mamanya. Namun, tak ada jawaban.
Flashback off

“Makasih, Ya Tuhan! Makasih sudah menyelamatkan putriku.” ucap Mama.
“Terima kasih, Tuhan!” ucap Griny.

Keluarga Griny dan teman-teman Griny pun merayakan keselamatan mereka di sebuah restaurant mewah.

Cerpen Karangan: Dhycia DhyneCia
Blog / Facebook: Dhycia DhyneCia
Hai. Ini cerita baruku. Berasal dari mimpi temanku, lalu dia cerita ke aku dan aku buat cerpennya. Semoga kalian suka. Thanks

Cerpen Terima Kasih, Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Life Live

Oleh:
“Kau tahu, nak. Aku telah mengorbankan perasaanku untuk menikahi si Sugeng sebagai bapak kamu, tujuannya apa ta nak, biar bisa membiayai hidupmu, biar kamu gak hidup di panti Asuhan

Program Penurunan Berat Manja

Oleh:
Melihat aksi tanteku yang lagi sibuk kejar-kejaran dengan Ifha, putrinya yang kelas dua SD, karena susah sekali disuruh mengerjakan PR, diriku teringat pada tulisanku yang akan Anda baca ini.

Ares: The Problem Child

Oleh:
Ares, anak yang selalu dijauhi teman temannya karena hal yang kecil. Semua teman-temannya menjauh, bahkan banyak yang tidak mau mengenalnya lagi. “menjauhlah” kata Ryu. “ya, pergilah. Kau tidak pantas

Rindu Si Anak Pemulung

Oleh:
Entah apa yang sedang dia fikirkan, aku tidak tahu. Sedari, sejam yang lalu dia hanya duduk dan terus memperhatikan langit. Aku mencoba untuk memperhatikan juga apa kira-kira yang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *