Terlalu Cepat Kau Pergi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 November 2017

Derasnya hujan mengiringi kepergian Ayah yang sangat aku cintai. Tangisan pilu Ibu dan Kakak tak bisa dibendung lagi. Sosok yang seharusnya menjadi pelindung kami, kini telah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku tidak pernah menginginkan ini semua, walaupun aku tahu suatu saat Bapak pasti akan pergi. Ia mengidap suatu penyakit yang membuatnya meregang nyawa dan meninggalkan keluarga kecilnya untuk selamanya.

Kabar meninggalnya Bapak telah banyak tersebar di desaku. Para tetangga datang berduyun-duyun untuk membesuk dan mengucapkan bela sungkawa. Aku yang pada saat itu masih kecil, hanya bisa berdiam diri melihat orang-orang berlalu-lalang di depanku.

Tanpa aku sadari, Pamanku telah berdiri di sebelahku dan menatap dengan iba “Lala, kamu harus kuat ya. Ikhlasin Bapak, doakan Bapak agar tenang di sana. Lala nggak perlu takut, di sini ada Om yang bakal jagain Lala”, saat mendengarkan kata-katanya, aku tak kuasa menahan tangis. Aku terisak di pelukannya.

Pada keesokan harinya, Bapak akan dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahku. Banyak orang yang mengiringi kepergian Bapak, tidak sedikit dari mereka yang menitikkan air mata ketika proses pemakaman berlangsung. Aku menatap nanar ke atas gundukan tanah di depanku. Kini aku benar-benar telah kehilangan seorang Ayah dalam hidupku.

Entah akan seperti apa jadinya bila aku tumbuh besar tanpa bimbingan dari Bapak. Namun, aku sadar, aku tidak boleh berkecil hati. Aku masih memiliki Ibu dan Kakak yang akan membimbingku dengan sepenuh hati.

Cerpen Karangan: Tri Kosala Bhisama Tera
Facebook: Tri Kosala

Cerpen Terlalu Cepat Kau Pergi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidup ini Rumit

Oleh:
Perempuan itu menggigil. Dari nafasnya hembus siluet asap sedikit payah, giginya gemerutuk pelan, bukan karena dingin, bahkan siang itu panasnya seperti tengah hari, saat matahari berada di titik zenit

Ujian Nasional, Dilema Sang Guru

Oleh:
Di luar terdengar lagu dangdut murahan dibunyikan keras-keras. Sedangkan aku.. aku menjejalkan lagu korea ke telingaku. Bukan tidak mencintai karya negeri sendiri. Tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan akan

XieZuo Shi

Oleh:
Selamat malam. Ketika aku menulis cerita ini, di istanaku sedang malam. Matahari sudah kembali ke peraduannya semenjak satu jam yang lalu. Sebelumnya, aku ingin mengatakan sesuatu, aku selalu menulis

Kabut Pelangi

Oleh:
“Juni… Ini ibu nak.. Ibu rindu ingin bertemu kamu….” Sayup-sayup, kudengar suara itu. Suara yang acap kali datang merasuki, melebur dan menyesakkan dalam mimpiku. Aku terbangun tiba-tiba dari mimpiku.

Impian Yang Pudar

Oleh:
Angin berhembus kencang. Awan hitam bergulung ria menutup matahari. Rinanti duduk menghadap jendela yang terbuka. Nelangsa suasana meremukkan hati, mati rasa. “untuk kalian yang kucintai, cintaku untuk kalian tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *