Terlambat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 November 2017

Aku bisa menangis saat aku bersedih dan aku bisa tertawa saat aku bahagia. Namun saat ini, perasaanku sudah sangat hancur. Tak tahu sampai berapa lama aku akan menangis dan tak tahu sampai berapa lama aku sanggup mengahadapi cobaan yang kian membuatku ingin menyerah. Andai aku bisa memutar waktu kembali, aku tidak akan ingin melihat dunia ini walau sekejap saja.

Namaku mia, aku adalah seorang mahasiswi tingkat akhir. Sudah dua tahun aku belum bisa menyelesaikan skripsiku dan kemungkinan besarnya jika tahun depan aku masih belum bisa menyelesaikan skripsiku mau tidak mau aku harus di DO. Hidup ini bener-bener gak adil, aku gak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.

Ditengah permasalahan kampus yang aku hadapi, aku juga harus mendengar omelan dari kedua orangtuaku yang malu mempunyai anak sepertiku. Mereka gak pernah ingin mendengar penjelasanku, Yang mereka tahu aku adalah anak yang nakal dan gak pernah mau menuruti perkataan mereka. Makanya, skripsiku gak pernah selesai. Andai mereka menyisihkan sedikit saja waktu mereka untukku. Aku pasti akan lebih bersemangat untuk menyelesaikan kuliahku. Tapi, itulah orangtuaku. mereka sangat berbeda dari orangtua teman-temanku.

Titt… titt… titt
Suara klakson mobil mengagetkanku hingga lamunanku menjadi buyar. Aku pun membuka pintu dan melihat siapa yang datang.

“hai, mia..” ucap siska sambil tersenyum
“loe sis, ada apa ke sini?” ucapku dengan datar
“gue tahu loe pasti lagi galau kan. karena, tahun ini loe gak bisa menyelesaikan skripsi loe lagi.” ucap siska menebak
“tahu saja loe..” ucapku semakin tak berminat

Aku pun menyuruh siska masuk dan duduk di ruang tamu. Dengan perasaan yang masih hancur aku pun membuatkan siska minuman. Sesekali aku terbayang dengan sosok yang selalu ada untukku, Yang selalu menemaniku disaat aku sedih maupun senang. Tetapi sayang, dia harus pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya dan sampai sekarang dia tak pernah menghubungiku. karena terlalu lama melamun, aku jadi tidak sadar kalau siska sudah ada di belakangku.

“siska” ucapku terkejut
“sudah jadi belum tehnya? gue haus loh” tanya siska dengan nada datar
“iya ya sudah, nih tehnya” jawabku sambi memberikan secangkir teh kepada siska.

Karena, sangat terlalu haus. Siska langsung meminum tehnya sampai habis. Aku pun mengajak siska kembali ke ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu aku melamun lagi. Entah mengapa semenjak aku bermasalah dengan orangtuaku aku jadi suka selali melamun

“mi, mia” panggil siska
“eh iya ya, ada apa sis?” tanyaku terkejut
“gue di sini untuk bicara sama loe. Bukan melihat loe melamun gini” ucap siska sambil melihat ke arahku
“gue lagi bad mood, gak mau bicara sama siapa-siapa” ucapku sambil menutup wajahku dengan bantal
“loe pasti berantem lagi ya sama orangtua loe. Apa lagi yang mereka katakan sama loe, Apa lagi yang mereka bisa lakuin sampai buat loe kaya gini” ucap siska emosi
“udahlah sis, tinggalin gue sendiri bisa” ucapku dengan memalingkan wajah

Siska pun pergi meninggalkanku dengan wajah yang kecewa. Siska tidak pernah ingin membuatku berhenti berharap dan berhenti untuk mengejar mimpi. karena, aku dan siska memiliki masalah yang sama. Namun, aku tak sekuat siska dan aku tak sehebat siska. Aku tidak bisa melawan rasa sakit hatiku ini. Aku pun pergi ke kamar untuk melanjutkan lamunanku dan tak beberapa lama aku pun tertidur.

Pagi ini aku dibangunkan oleh pertengkaran kedua orangtuaku. entah, sudah dari jam berapa mereka bertengkar yang jelas hatiku semakin tambah hancur mendengar pertengkaran mereka. Mereka seperti tidak menganggap diriku ini ada. Aku pun mengambil headset dan mendengarkan musik.

Dua jam kemudian aku melepas headsetku dan keluar dari kamarku. Kulihat kedua orangtuaku sudah tidak ada di rumah. Aku pun mengambil handphone dan menelepon siska. Beberapa kali aku menelepon, namun siska tidak mengangkatnya. Aku sangat menyesal sekali berkata kasar kepada siska kemarin. Perasaanku yang hancur membuat emosiku menjadi tidak stabil. Aku pun bersiap untuk pergi ke rumah siska.

Sesampainya di rumah siska, kulihat rumahnya tampak sepi sekali. Aku pun mencoba menelpon siska lagi, tetapi tetap tidak diangkat. Aku memutuskan untuk menunggu siska di depan rumahnya. Kebetulan di depan rumah siska ada tempat duduk yang lumayan panjang. Jadi bisa untuk bersantai.

Tak beberapa lama aku menunggu, kudengar handphoneku berdering. Aku pun mengangkat handphoneku.
“halo, mah” ucapku
“mia kamu ke mana saja sih. Mamah sama papah nungguin kamu dari tadi.” omel mama
“loh mamah sama papah nungguin mia di mana?” tanyaku dengan datar
“gak usah banyak tanya lagi mia. Kamu jangan banyak alasan karena gak mau dijodohin” ucap mama dengan ketus
“dijodohin… ta” ucapku terkejut

Belum sempat aku melanjutkan kalimatku mama sudah menutup telponnya. Aku seakan menjadi anak yang benar-benar gak mereka harapkan. Mungkin kalau aku pergi untuk selamanya hidup mereka akan jauh lebih bahagia.

Tak lama setelah aku selesai menerima telepon siska pun pulang. Aku langsung memeluk siska dan meminta maaf kepadanya. karena emosi yang memang sulit untuk aku kontrol. Siska pun tersenyum dan mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya.

Siska banyak sekali menceritakan hal-hal yang lucu padaku. Hingga aku bisa tertawa lepas. Bebanku terasa sedikit berkurang. Sudah lama rasanya aku tidak bisa tertawa. Aku merasa beruntung, diantara sekian banyaknya orang yang tidak mengharapkan kehadiranku. Ada satu sahabat, yang selalu mengharapkan kehadiranku.

Ketika hari sudah mulai sore aku pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah kulihat mobil mamah dan papahku sudah ada di rumah. Aku pun masuk ke dalam rumah dengan muka yang jutek. Baru beberapa langkah aku berjalan, mama langsung saja memarah-marahiku. Entah, sudah berapa kali hatiku hancur mendengar kata-kata orangtuaku. aku pun pergi meninggalkan rumah sambil menangis. Aku benar-benar gak tau mau ke mana. Aku sudah tidak bisa berfikir lagi, seakan otak ini menolakku untuk berfikir.

Aku terus berjalan tanpa arah tujuan, hujan pun mulai turun membasahiku. Aku mulai menari bersama hujan, aku seperti terbang tinggi. karena, terlalu asyik menikmati dunia. Aku tak sadar jika aku sedang berada di tengah jalan. Aku pun ditabrak oleh sebuah mobil dengan kecepatan yang tinggi.

Aku terbangun dari tidurku, kulihat hari mulai pagi. Kepalaku terasa sangat berat sekali dan aku merasa ada yang aneh pada diriku. Aku pun berusaha berjalan untuk pulang ke rumah. Aku yakin mama dan papa pasti sudah berangkat ke kantor. Sesampainya di rumah, kulihat ada banyak sekali orang yang datang.

“ada acara apa ya?” tanyaku dalam hati

Aku pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang heran. kulihat mama, papa dan siska sedang menangis di depan jenazah. Aku pun semakin mendekat dan semakin penasaran. Kulihat aku terbaring kaku di atas peti. Tiba-tiba aku teringat dengan kecelakaanku semalam. Rupanya saat ini aku bukan lagi manusia. Aku melihat kedua orangtuaku yang menangis dan meminta maaf kepadaku. Tetapi, semua penyesalan mereka sudah terlambat. Aku yang tak pernah mereka inginkan, tidak akan ada di depan mata mereka lagi.

“selamat tinggal mah, selamat tinggal pah.. terima kasih untuk 25 tahunnya. Aku gak tahu apa aku harus sedih atau bahagia dengan semua kenyataan ini. Tapi inilah hidup, mungkin memang jalan hidupku seperti ini. Mia sayang sama mamah dan papah, walau mia gak pernah merasakan kehangatan pelukan mamah dan papah disaat mia kedinginan. Kalian tetap orangtua yang hebat untuk mia. Love you” ucapku sambil pergi menuju ketempat yang seharusnya

Cerpen Karangan: Aprilia Tresia Tang
Facebook: Aprilia Tresia

Cerpen Terlambat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seminggu Bersama Ibu (Part 2)

Oleh:
Waktu mulai berlalu dengan lambatnya sampai sore mulai menjelang, dan pamanku juga datang di rumah. Namun cuaca seolah tidak bersahabat hari ini hujan disertai angin kencang menambah suasana menjadi

Bunda

Oleh:
Aku masih tidak percaya apa yang sedang ku lihat sekarang. Selembar kertas ulangan yang di sana tertera nilai 70. Kenapa nilai ulanganku jelek sekali? Biasanya aku selalu mendapat nilai

Hadiah Kecil Untuk Surga

Oleh:
Ketika yang bernyawa telah tidur lain halnya dengan Aqilah. Malam itu dia masih berlari secepat kilat menembus hujan. Wajahnya tertutup suramnya malam, namun jika diteliti masih dapat terlihat jelas

Kaca Mata Kuda

Oleh:
Angin sepoi menghidangkan asa baru di tengah hiruk pikuk suatu pola. Orang perorangan memperjuangkan kehendak melangkahi karma. Kejengkelan membludak mendesak keluar di tengah sesakan kios toko di pasar seni

Thank’s Mom

Oleh:
Semua orang pernah dimarahi oleh mamanya. Namun, berbeda denganku. Mama memarahiku bukan karena aku melakukan kesalahan. Namun karena aku melakukan suatu kebiasaan yang begitu aku senangi. Menulis. Mama tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *