Teroris

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 29 February 2016

Aku tergeletak di tempat tidur. Perlahan-lahan mulai menarik napas dan menghembuskannya. Hal ini membuatku sedikit tenang, ku lirik jam dinding kamarku pukul 17.28, aku bingung harus berbuat apa, rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk menghilangkan rasa gundah di hati. Suntuk itu yang kini ku rasakan aku ingin keluar rumah dan bermain tetapi tak punya teman rumahku jauh dari pemukiman warga, dekat hutan. Aku mulai mengambil buku tebal di sebelahku kemudian meletakkannya kembali. Aku bosan membaca buku itu berulang-ulang.

Tak lama kemudian aku mulai memejamkan mata, mengingat-ingat kejadian yang telah aku lewati tiga minggu yang lalu, ketika hujan turun dengan derasnya, seorang gadis bekerudung merah sedang duduk sambil menikmati secangkir teh hangat. Rasa dingin mulai menyapa tubuhnya ia kemudian beranjak pergi ke suatu tempat dan dalam sekejap, Dooorrrr!!! sebuah peluru menembus kepalanya kemudian disusul dengan ledakan bom yang membuat belasan orang terluka dan mati mengenaskan dengan darah mengalir di bawahnya. Semua orang di cafe tersebut kaget dan panik mereka berlari ketakutan meninggalkan teh dan kopi yang masih hangat.

Kejadian minggu pagi tersebut membuat heboh masyarakat. Banyak koran dan headline yang bermunculan “SEBELAS ORANG TEWAS DITEMBAK DAN DI BOM.” Topik tersebut masih hangat sampai beberapa pekan. Banyak stasiun TV yang tak hentinya menayangkan berita tersebut. Namun sampai saat ini kasus tersebut belum terpecahkan. Penembak belum diketahui identitas sebenarnya, kemungkinan ia seorang teroris yang handal dalam bidangnya sehingga tidak ada satu pun orang yang mengetahui jejaknya.

Aku mulai risau, perasaan takut mulai melanda. Apalagi ibuku tak kunjung datang. Aku lalu beranjak dari tempat tidurku dan meletakkan kembali buku tebal yang berjudul Harry Potter tersebut ke rak buku. Ku lirik jam pukul 19.00 malam. Ke mana Ibuku? Kenapa belum pulang? Apakah dia baik-baik saja? Mungkinkah dia bertemu teroris itu? Oh Tuhan, pertanyaan aneh tersebut terus melayang-layang di otakku. Rasa takut yang menyelimutiku tak bisa mengalahkan rasa lapar yang menyerangku, aku lalu menuju dapur mengambil cemilan dan sebutir apel dari dalam kulkas lalu memotongnya menjadi beberapa bagian kemudian memakannya dengan lahap.

Sekilas ku pandangi jendela dapurku yang masih terbuka dan tak sengaja mataku melihat sesosok berpakaian hitam dan bertopeng sedang mengendap-endap dari balik jendela tersebut ia membawa sebuah pistol di tangannya. Oh Tuhan, siapakah itu? Apakah ia orang yang selama ini dicari-cari? Badanku lemas seketika, keringat dingin mulai membasahi tubuhku, pisau yang masih berada di tangan ku genggam erat, dengan langkah hati-hati aku menuju kamar lalu bersembunyi di bawah kolong tempat tidurku. Berdoa agar Tuhan menyelamatkanku dari kejahatan.

“Keken, buka pintunya Nak!” sebuah suara memanggil namaku. Sepertinya aku mengenali suara itu, ya! Suara ibuku tersayang. Aku lalu melirik jam di tanganku pukul 22.00 malam. Ternyata aku telah tertidur selama dua jam di bawah kolong tempat tidur. Aku lalu bangkit ke luar, dadaku terasa sakit karena terlalu lama menelungkup. Aku lalu membukakan pintu dan menyambut ibu. “Ibu dari mana? Kenapa lama sekali?” Tanyaku kesal.
“Maafkan Ibu Nak, tadi ibu ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Ucap ibuku lemah, wajahnya tampak sangat letih dan pucat.

“Ya sudah kalau begitu Ibu istirahat saja, nanti Keken buatkan teh dan menyiapkan makan malam,”
“Tidak perlu Ken, Ibu langsung tidur saja badan Ibu sudah sangat letih, Ibu tadi sudah makan di luar. Kamu sudah makan Nak?” Tanya ibuku tampak khawatir.
“Sudah Bu.” Jawabku sedih. Rasanya aku ingin menceritakan semua peristiwa yang ku alami beberapa jam yang lalu tetapi melihat kondisi ibu seperti itu, aku jadi tak tega dan mengurungkan niat tersebut. “Selamat malam Bu, semoga mimpi indah.” ucapku seraya mencium kening ibu dan ia membalasnya dengan penuh kasih sayang.

Keesokkan paginya, aku bangun dengan semangat, membuatkan sarapan pagi, nasi goreng plus telur mata sapi. Ibu yang selesai mandi lalu menghampiriku di meja makan dengan senyum hangat, keadaannya sudah mulai membaik. Dari wajahnya tampak ia seorang wanita yang sangat kharismatik dan tegas, umurnya 30an tetapi tetap awet muda, ia pernah bercerita kepadaku bahwa ketika muda ia ingin menjadi seorang Polwan (Polisi Wanita), tetapi karena masalah biaya ia tak dapat mewujudkan cita-citanya tersebut. Semenjak kematian ayah beberapa bulan yang lalu, aku dan ibu pindah rumah, ibu memilih rumah di tepi hutan. Awalnya aku tidak ingin, tetapi ibu tetap bersikeras tinggal di sana dan aku tidak bisa menolaknya.

“Selamat pagi Bu,” sapaku dengan ceria.
“Selamat pagi sayang, makasih ya sudah menyiapkan sarapan.”

Aku tersenyum mengangguk, kemudian duduk di samping ibu. Pagi ini adalah saat yang paling tepat untuk menceritakan semua kejadian yang aku alami tadi malam. Tetapi, selang beberapa menit ada yang mengetuk pintu rumah. “Tunggu sebentar ya Bu, Keken buka kan dulu pintunya.” Ucapku lalu beranjak dari kursi menuju ruang tamu. Sepanjang perjalanan aku masih bertanya-tanya dalam hati siapakah yang bertamu sepagi ini.

“Selamat Pagi, kami dari kepolisian mencari Dania Marianti, apakah benar ini rumahnya?” Tanya seorang polisi berbaadan tegap ketika pintu telah terbuka.
“Be..be..nar i..i.ni rumahnya, a..ada urusan apa ya Pak?” Tanyaku terbata-bata.
“Kami harus menangkapnya, ia telah menewaskan banyak orang dan termasuk salah seorang komplotan teroris yang selama ini kami cari.” Ucap polisi tersebut lalu bergegas masuk ke dalam rumah mencari ibu. Namun ternyata ibuku telah menghilang. Tak sengaja aku melihat sebuah memo kecil di meja yang terselip di bawah piring, diam-diam aku mengambil memo tersebut dan membacanya.

“Dear anakku tersayang, maafkan Ibu Ken, Ibu terpaksa melakukan semua ini. Suatu saat Ibu akan kembali, kamu jangan membenci Ibu. Ibu akan tetap selalu mencintai dan menyayangimu. Ibumu.” Badanku bergetar, surat tersebut jatuh dari tanganku. Aku ketakutan dan menangis. Apa yang telah terjadi? Ibu? Ibu? Kenapa? Kepalaku tiba-tiba terasa pusing, semua menjadi gelap dan dalam sekejap aku terjatuh tak sadarkan diri.

Tamat

Cerpen Karangan: Aisyah Anuar
Sekolah: SMAN Bernas Binsus

Cerpen Teroris merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Rela Ibu

Oleh:
Resya, nama yang diberikan oleh orangtuanya sejak kecil. Resya sudah berusia 18 tahun. Resya memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Andi, dan kini dia sedang duduk di bangku SMP.

Pucuk Kemuning

Oleh:
Pulang kerja Burkat segera memacu sepeda motornya dengan kencang, maklum dia ingat kalau hari ini dia hampir melewatkan janji untuk mengantar istrinya pergi melihat pasar malam di lapangan dekat

Tanah Merah

Oleh:
Aku masih diam membisu, berteman dengan duka aku sendiri. Melihat keramaian kota di atas bukit paling tinggi, hamparan rumput hijau dan angin merdu sudah lama menjadi temanku. Duduk di

Aku Ingin Disayang Mama

Oleh:
Nama Sanny. aku adalah pelajar di SMPn 01. Umurku baru menginjak 13 tahun. Aku tinggal bersama ayah, ibu dan saudaraku. Aku ingin menceritakan sedikit tentang riwayat hidupku sebelum aku

Fake After School

Oleh:
Hari ke-131, 1 Agustus 2014 “Awaaaas.” Aah, peristiwa ini terjadi lagi. Sebuah truk merah muncul dari perempatan jalan, kelihatannya supir truk tidak melihat lampu lalu lintas berwarna merah, dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *