Tersenyumlah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

Ana tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya berserah diri pada yang kuasa dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Seperti layaknya istri pada umumnya, setiap pagi ia menyiapkan keperluan suaminya. Mulai dari seragam kerja, tas kerja, sarapan, hingga sepatu yang dikenakan suaminya untuk ke kantor. Bahkan setelah suaminya berangkat, ia segera melanjutkan pekerjaan lainnya, menyapu, mengepel, mencuci baju, mencuci piring, dan lain sebagainya. Semua dilakukan secara rutin setiap harinya, untuk suami yang ia sayangi. Nasib baik tak berpihak pada Ana Sasmita, apa yang dilakukan wanita ini tak sebanding dengan apa yang diberikan suaminya pada dirinya.

“Biarlah Fin.. Aku juga tidak boleh memaksakan perasaan seseorang. Insya Allah aku terima.” Jawabnya pada Fina sahabatnya.
“Tapi An… Untuk ini urusannya lain, kalian itu sudah menikah loh.. bukan ta’aruf lagi.” Bantah Fina.
“lya terus mau bagaimana lagi Fin? kalaupun dipaksakan juga hasilnya gak baik.” Jawab Ana singkat.
“Ya.. coba pikirkan cara lain lah..”
“Bercerai maksudmu? ndak aku ndak mau. Sudahlah Fin, kamu ndak usah terlalu memikirkan masalah ini.. insya Allah aku bisa menghadapinya.”
“Ini nih, yang aku sebel dari kamu, selalu ingin menyelesaikan masalahmu sendiri. Mbak yo aku dikasih kesempatan buat ikut bantu toh An.”
“Hehehe, iya iya.. sudah dulu ya, teleponnya. Sebentar lagi Mas Ruri pulang.. aku mau nyiapin air hangat dulu buat dia mandi. Assalamualaikum.”
“Ya sudah, kapan-kapan disambung lagi ya, walaikumsalam..”

Walaupun setiap hari batinnya tersakiti, namun Ana tetap bersikeras untuk mempertahankan rumah tangganya, alasannya karena selain perceraian itu hal yang dibenci oleh Tuhan, juga karena ia tidak mau membuat orangtuanya merasa malu, karena pernikahannya dengan Ruri merupakan perjodohan dari orangtua mereka berdua. Berselang sekitar setengah jam, Ruri pun datang dengan mobilnya. Dan kemudian masuk ke rumah, Ana pun menyambut suaminya dengan senyuman hangat, sambil mengambil tangan Ruri untuk bersalaman. Sedangkan Ruri sendiri tak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya diam. “Mas, udah pulang? aku udah siapin air anget, sama makannya di meja makan ya mas..”
“Hem..” jawab Ruri. Hanya itu yang terdengar darinya. Itulah yang selalu diterima Ana setiap harinya, tak ada pembicaraan sedikit pun dari Ruri. Padahal sebenarnya Ruri termasuk tipe lelaki yang humoris. Semua ini dijalani Ana dengan penuh kesabaran dan keikhlasan hati, berharap agar suaminya kelak bisa berubah terhadap dirinya.

Saat Ruri sedang mandi, handphone-nya berdering. Ana melihat handphone yang tergeletak di meja rias kamar, tak salah lagi telepon itu dari Diyah wanita yang sangat dicintai suaminya itu. Bagi Ana itu merupakan hal yang biasa, jangankan hanya telepon, Diyah dan Ruri jalan berdua pun Ana juga hanya diam saja. Sakit memang, tapi itu semua harus di jalani Ana. Bagaimanapun juga ia telah mengambil keputusan, dan ia menikah dengan suaminya pun, ia sudah tahu jika suaminya tak mencintainya. Bukan hal baru jika ia harus ditinggal suaminya pergi dengan Diyah dan memberikan seluruh perhatiannya pada wanita lain, bukan pada dirinya.

Keputusan menikah dengan Ruri suaminya kini yang sama sekali tidak mencintainya itu, karena perjodohan orangtua Ana yang sudah kenal dekat dengan orangtua Ruri. Tak sanggup hatinya bila ia harus mempermalukan orangtuanya karena alasan kebahagiaannya. Sekitar setahun lalu, perjodohan itu dimulai. Kedua pihak keluarga bertemu pada satu acara yaitu acara pernikahan sepupu dari Ruri. Dari situlah Ana pertama kali melihat Ruri lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Sejak pertama melihat, Ana sudah mulai menaruh hati pada Ruri, mereka berdua pun ada sedikit kontak mata di acara itu.

“Cie.. yang lagi pandang-pandangan. Sana deketin gih,..” goda salah satu tamu di acara tersebut ke temannya.
“Apaan sih.. udah diem deh.. malu tahu! Gue gak suka ya sama dia.” Jawab teman tamu tersebut.
“Beneran gak suka, padahal dia beneran loh.. buktinya tetap sms pakai kata sayang.” Jawab tamu tersebut. Ana tersadar, ternyata yang menjadi topik pembicaraan mereka berdua adalah Ruri yang duduk di dekat pelaminan dan menghadap ke arah mereka.

Ana penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara wanita itu dengan Ruri, tapi sayang Ana tak bisa langsung bertanya pada wanita itu karena tidak mungkin, jika ia bertanya karena alasan Ruri adalah calon suaminya. Setelah dari pernikahan itu, dan mungkin berselang sekitar dua mingguan, barulah Ana menanyakan hal tersebut kepada sepupu Ruri yang baru saja menikah tadi, barangkali sepupu Ruri ini tahu sesuatu tentang Ruri dan wanita itu.

“Oh.. itu toh mbak, iya wanita itu namanya mbak Diyah. Dia teman sekolah Mas Ruri dulu. Aku denger-denger dari Mbak Diyah sih katanya Mas Ruri suka sama dia, tapi setahu aku Mbak Diyahnya gak suka kok Mbak, la wong mbak Diyah aja sudah punya pacar.. jadi mbak tenang aja..” jawab sepupu Ruri pada Ana berusaha menenangkan perasaan Ana. “Oh.. gitu, la kok aku juga denger kalau mereka smsan?” Tanya Ana lagi.
“Wah.. kalau itu aku ndak tahu Mbak, tapi bener kok Mbak. Mbak Diyah udah punya pacar kok.” Jawabnya lagi.
“Ya udah kalau gitu, semoga nanti setelah kami menikah tidak ada apa-apa.” Sahut Ana.
“Amin.. Ya Allah. Apa perlu Mbak ketemu sendiri sama Mbak Diyah? nanti tak atur waktunya.”
“Gak perlu lah.. kok aku terkesan terlalu protektif ya.. hehehe.”
“Hehehe ya.. nggaklah Mbak itu wajar.”

Berselang sekitar satu bulan kemudian, pernikahan itu pun terjadi. Ruri Hardiyanto mengucapkan ijab qobul di hadapan penghulu. “Saya terima nikah dan kawinnya Ana Sasmita binti Abdul kholik dengan maskawin seperangkat alat salat dibayar tunai.”
“Bagaimana para saksi? Sah?” ucap sang penghulu.
“Sah…” jawab para saksi dengan serempak.
“Alhamdulillah…” ucap penghulu kemudian. Setelah mengucapkan ijab qobul, ia membaca janji pernikahan di hadapan penghulu juga.

Setelah pesta pernikahan, mereka beristirahat di kamar. Saat Ana hendak merapikan rambutnya, Ruri masuk dan bilang bahwa ia ingin berbicara penting dengan Ana malam itu. “Sekarang kita sudah menikah, status kita adalah suami dan istri. Tapi jujur aku tak bisa membohongi perasaanku bahwa aku sama sekali tidak ada rasa padamu. Aku telah mencintai wanita lain. Dan aku berusaha untuk memperjuangkan cintaku padanya.” Ucapnya tegas pada Ana. “I..iy..iya Mas.. gak apa-apa, aku tahu itu.” Jawab Ana. Mendengar ucapan suaminya barusan, seakan Ana merasa bahwa ijab qobul dan janji yang diucapkan Ruri di hadapan penghulu tadi tiada artinya, sakit hati Ana sampai-sampai ia tak sanggup menahan air matanya yang tumpah dari kelopak matanya.

Setelah berkata begitu, Ruri segera mengambil bantal dan selimut dari lemari untuk digunakannya tidur di sofa kamar. “Ranjang itu milikmu, sampai seterusnya aku akan tidur di sofa atau karpet saja.” Ucapan kedua yang terlontar dari Ruri, juga telah menambah sakit hatinya Ana. Seharusnya malam itu adalah malam yang spesial buat sepasang pengantin baru, bukannya malah malam yang harus diisi dengan deraian air mata.

Setiap hari Ana menjalani ini semua, dengan banyak keikhlasan berharap agar suaminya dapat berubah padanya. Sampai pernikahan ini bertahan satu tahun pun, tak ada perubahan sikap juga dari Ruri. Malah hubungan Ruri dengan Diyah semakin dekat saja. Mereka sering pergi berdua hanya untuk sekedar menemani Diyah pergi berbelanja dan lain-lain. Entah karena beban pikiran yang ditanggung Ana atau memang ada faktor lain, Ana mengidap penyakit meningitis atau radang selaput otak. Dokter memperkirakan bahwa umur Ana tak lama lagi. Dalam sakitnya ini, Ruri sama sekali tak mengetahuinya, hanya Fina sahabatnya yang ia beri tahu bahkan orangtuanya pun tak diberitahunya. Selama sakitnya ini pula ia masih melayani kebutuhan sang suami yang ia sayangi, tak kurang sedikit pun perhatiannya pada Ruri, setelah apa yang dilakukan Ruri padanya.

“Apa kamu serius dengan keputusanmu ini?” Tanya Fina pada Ana.
“Iya.. Insya Allah aku serius. Besok aku akan menemui Diyah langsung.” Jawab Ana dengan mantap.
“Ya sudah aku mendukung yang menurutmu itu baik..” sahut Fina.

Keesokan harinya ia menemui Diyah dan menceritakan semua apa yang terjadi tentang pernikahannya, bahkan ia juga bercerita tentang sakit yang dideritanya. Ia meminta supaya Diyah mau membalas cinta dari Ruri, dan mau menikah dengan Ruri. Karena Diyah merasa kasihan dengan apa yang dialami Ana, akhirnya ia mau untuk menuruti permintaan dari Ana tersebut. Dengan persetujuan dari Ana, akhirnya pernikahan itu pun terjadi. Tapi sayang kondisi Ana saat itu benar-benar telah kritis, dan harus diopname ke rumah sakit. Tak selang beberapa lama kemudian, dokter menyatakan bahwa Ana sudah meninggal akibat meningitis yang dideritanya. Ruri dan Diyah kemudian datang dengan maksud ingin mengucapkan terima kasih, setelah Ruri tahu bahwa Ana meninggal ia kaget. “Ini peninggalan terakhir dari Ana, gue rasa lo perlu baca ini deh..” kata Fina sambil menyerahkan buku harian milik Ana. Ruri mengambil buku itu dari tangan Fina, kemudian membaca isinya.

“Ya Allaah.. aku tahu dia tak mencintaiku, bahkan dia membenciku. Tapi apakah salah jika aku tetap berusaha menjadi istri yang berbakti padanya? Bukankah istri yang saleha itu adalah istri yang dapat membuat suaminya tersenyum bahagia? Aku ingin membuatnya tersenyum padaku Tuhan, aku ingin melihat senyum yang mengembang di wajahnya. Dan untuk suamiku tersayang, yang sudah bahagia di sana, maafkan aku selama ini tak bisa jadi yang terbaik untukmu, sampai kapan pun aku tetap mencintaimu, semoga kau selalu bahagia.”
Setelah membaca buku itu, Ruri menangis menyesal telah menyia-nyiakan cinta tulus yang pernah hadir dalam kehidupannya.

Cerpen Karangan: Ravita Rahma
Facebook: Raviita Rahmaa
Saya Ravita Rahma, seorang pelajar SMA di sebuah kota kecil di jawa tengah. Kesukaan saya akan dunia bahasa nampaknya tak didukung oleh keluarga saya, namun saya berharap dari tulisan-tulisan saya ini kelak bisa menunjukkan pada keluarga saya bahwa dunia bahasa tidaklah seburuk yang mereka pikirkan.

Cerpen Tersenyumlah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Twin Sister

Oleh:
“Hoam…” uapku setelah bangun tidur di pagi hari. Pagi ini ku rasakan sejuk sekali. Tapi yang ku lihat setiap hari sama tidak ada bedanya, tidak ada warna-warna indah, yang

Impian Di Atas Impian

Oleh:
“Apa aku akan berhasil” gumamku sambil membawa map berkas persyaratan, kemudian melangkah masuk ke gedung sekolah impainku. Sepasang kaki terus melangkah melewati gerbang tinggi dan perlahan sampai ke ruangan

Bintang Kecil (Part 2)

Oleh:
Ia melihat polisi keluar masuk dari dalam rumah Reyhan. Ada seseorang keluar dari rumah Reyhan dengan tangan diborgol dan didampingi polisi di sampingnya. Tirsya terkejut melihat sosok kedua yang

Cerpen Yang Tak Berguna

Oleh:
Setiap hari aku selalu membuat cerpen, sudah beribu-ribu cerpen yang kubuat tetapi ada saja kakakku yang tidak suka dengan semua cerpenku, namanya Zanet dia itu selalu memarahi aku karena

Aku Rindu Ibu

Oleh:
Jam berdeting makin cepat tanpa sarat, jantungku berdetak dag… dig… dug… bak pacuan kuda yang berenergi. Langit seperti menunjukkan suatu kesedihan kepada dunia, ilalang-ilalang sekitar jalan tak berterbangan, menunduk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *