Tertulis Kisah Cinta di Batu Nisan


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 12 June 2013

Kehadiranya tidak pernah terbayangkan sebelumnya..
Andai tidak terjadi kejadian seperti itu apakah aku akan mengetahuinya (aku tidak tahu)

Sudah lama aku seperti ini, aku tidak mampu untuk memulai sesuatu hal, aku terkadang memandang hitam itu putih dan putih itu hitam, namun aku terkadang terbiasa melakukan
hal-hal yang sebenarnya orang anggap aneh bahkan gila, ya itulah aku.
Senada dalam alunan piano yang terdengar indah di ruang tengah, aku selalu terdiam memandangi suara burung yang berkicau seakan bernyanyi diiringi piano yang dimainkan ayahku dengan jari-jari tuanya, piano itu seakan menjadi saksi hidup ayahku, yang dimasa senjanya, sangatlah akrab dengan piano kesayangannya itu.

Semenjak kepergian ibu beberapa tahun yang lalu, rumah ini seakan sepi tanpa kecerian, sosok ibu yang seharusnya ada dalam rumah ini, sekarang sudah tidak ada lagi, di rumah tua yang berdebu ini, mungkin akan aku habiskan berdua bersama ayahku.

Cinta? suatu kata yang memiliki banyak makna, sejak ibu pergi entah kemana rimbanya, aku sudah tidak mengenal apa itu cinta, yang aku ingat adalah bagaimana sosok ayah yang ada di hari-hariku yang selalu memberikan cinta padaku walau tidak sebesar cinta dan kasih sayang dari seorang ibu, apalagi cinta kepada wanita impian, membayangkannya saja aku tidak pernah, aku hanya manusia pendiam tanpa tujuan, aku hanya ingin menjaga ayahku dimasa senjanya dan mencari sosok ibuku yang pergi entah kemana itu.

Walaupun kepergian ibuku tidak aku ketahui kemana, namun perasaanku ini selalu memberi jawaban kemana ibuku pergi, aku tahu ibuku adalah sosok yang sangat berharga bagiku, namun mengapa dia pergi dari rumah dan meninggalkan kami, aku tidak tahu kenapa.
“Aku ingin mencari ibu” sembari memakai sepatu aku mengatakan kepada ayahku
“Mau cari kemana? Apakah kamu sudah gila mau mencari ibumu yang sudah mati itu” ayahku menjawabnya.
Ayahku memang keras, apa yang dia ucapkan selalu tidak dipikirkan dua kali, apakah perkataannya itu membuat orang lain tersinggung atau tidak, apa yang ada di otaknya langsung saja dia lontarkan dengan pedasnya.
“Aku memang sudah gila, tapi aku tidak gila karena aku masih mengingat sosok ibuku sendiri… dan aku yakin bahwa ibu belum mati…” aku kesal akan perkataan ayahku tadi dan kemudian aku pergi mencari ibuku.

Surabaya, 02-05-2013 hari ini aku akan menuju tempat sanak keluarga dari ibuku, mungkin saja ibuku ada disana, dengan menggunakan kereta api aku pergi ke kota pahlawan ini.
Perjalanan dalam kereta, himpitan manusia seakan menyatu dengan keringatku yang basah ini, aku melihat sosok anak kecil dalam kereta yang tertidur dalam pelukan kedua orang tuanya, anak kecil yang sedang berbincang dengan orang tuanya, anak kecil yang sedang disuapi makanan ringan oleh orangtuanya, semua itu dengan jelas aku lihat dengan mataku sendiri, kapan aku bisa seperti itu, dahulu waktu aku kecil aku ini di asuh oleh mbok Rusmi, kedua orangtuaku sibuk dengan rutinitasnya tanpa memikirkan aku.

Tanpa tersadar Stasiun Turi sudah sampai, selamat datang di kota Surabaya, sebuah reklame terpampang jelas di atas kepalaku, dengan tanpa persiapan aku langsung mencari ibuku di kota ini, walaupun terakhir aku kesini adalah ketika umurku 10 tahun, kini umurku sudah 21 tahun, aku lupa dimana tempat saudara-saudaraku lagi, aku mencari dan terus mencari, aku bertanya kesana-kemari bertanya kepada warga sini, apakah mereka mengenali ibuku yang aku perlihatkan foto ibuku yang selalu ada di dalam dompetku yang kosong ini.

Perutku kini terasa lapar, aku mencari penjual makanan yang setidaknya dapat mengganjal perutku ini, ketika aku hendak mencari makanan, aku bertabrakan dengan gadis cantik dan seksi yang melintas melawan arah denganku
“maaf mas aku tidak sengaja” ujar gadis cantik itu
“iya mba, tidak apa-apa” seketika kita saling melempar senyum satu sama lain.

Aku pun terus berjalan mencari warung makan, ketika sampai di depan warung makan, aku mencoba mengecek isi dompetku apakah cukup atau tidak untuk membayarnya nanti, aku cari di dalam saku jeansku dan di dalam tas ranselku namun sial dompetku hilang entah kemana.

“Mami, ini aku dapat satu dompet lagi, cowok yang memnpunyai dompet ini ganteng nampaknya dia pendatang” Renata gadis yang berpura-pura menabraku kemudian mengambil dompetku.
“Dasar kamu ini, sini mana dompetnya” dengan cepat Mami itu mengambil dompet itu
“Sial, cowok ganteng tapi kere… sini kamu lihat, cowok itu hanya menyimpan kartu-kartu tak berguna, tidak ada uang disini” Mami marah dan membuang dompet itu.
“Maaf mami aku tidak tahu” dengan takut Renata pun pergi, namun dia sempat mengambil dompet kosong itu lagi
“Sebaiknya aku kembalikan saja dompet ini, tapi aku takut ketahuan sebagai pencuri dan aku kemudian di penjara, sudahlah aku simpan saja dompet ini di kamarku.

Suasana tempat pr*stitusi milik Mami merupakan salah satu yang terbesar di kota ini, bukan hanya untuk memuaskan nafsu pria hidung belang saja, tempat ini merupakan tempat para gadis-gadis muda itu dipekerjakan sebagai pencuri yang memanfaatkan kecantikan mereka sebagai media untuk mencuri harta dan barang berharga milik korban.

“Apa salahku ini, hingga kejadian seperti ini terjadi padaku, aku harus bagaimana menunjukan wajah ibuku, jika dompet itu kini sudah tiada” dengan menghela nafas aku terdiam di emperan toko.”
“Aku harus bekerja dan mencari uang di kota ini selama aku mencari ibuku”
Sepanjang perjalanan menyelusuri gemerlapnya kota Surabaya, aku mencoba untuk mencari pekerjaan yang sekiranya dapat untuk makan.
“Dalam suara sunyi, aku berkata andai ini adalah gambaran jejak hidupku, aku rela mati, aku rela apapun, asalkan orangtuaku berada dalam satu rumah lagi”
Namun rupanya hal itu menjadi sulit ketika aku di tolak bekerja disana-sini, putus asa sudah aku di kota ini, aku seakan sudah tidak berguna.
“Sepanjang perjalanan berpeluh keringat ini, aku terdiam di sebuah jembatan yang aku tidak ketahui jembatan apa ini namanya. “Aku sudah tidak berguna di dunia, menyatukan keluargaku saja aku tidak bisa”
Aku mencoba bunuh diri dengan menaiki pembatas jembatan ini, namun ketika kaki ini ingin meloncat, tasku di tarik oleh seseorang dari belakang, lepaskan aku, aku ingin bunuh diri, sudah lepaskanlah saja aku, “Bodoh kamu, masalah sebesar apapun, bukan dengan bunuh diri jalan terakhirnya”
“Suara itu adalah suara gadis yang ketika itu bertabrakan denganku” aku pun langsung berbalik badan dan memang benar itu adalah gadis yang waktu itu bertemu.
“Kenapa kamu mau bunuh diri? Aku rasa masalah hidupku lebih besar darimu, tetapi aku tidak terlintas sedikitpun untuk mengakhiri hidupku secara sia-sia dengan bunuh diri sepertimu” ujar gadis itu.
“Aku sudah tidak berarti di dunia, aku berada di kota ini untuk mencari ibuku, dan menenani masa senja ayahku di Jakarta”.
“Memang kemana ibumu? Dan mengapa dia pergi meninggalkan kamu dan ayahmu?”
“Sulit untuk dimengerti, aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ibuku meninggalkan aku”.
“Oh iya kamu ini siapa, kita belum berkenalan rupanya?” dengan menjulurkan tangan aku mengatakannya.
“Aku Renata, kamu ketempatku saja”
“Baiklah, maaf merepotkan”

“Tempat apa ini, suasana penuh lampu dan gadis-gadis berdiri di pinggir jalan bersama pria setengah baya saling bercanda tawa, Apakah kamu seorang pelac*r?” tanpa basa-basi aku mengatakanya
“Kurang ajar kamu” Renata menamparku kemudian ia menangis
“Maafkan aku Rena, aku sudah lancang mengatakan itu, maafkan aku” sembari aku mencoba memegang tangannya
“Pergi kamu dari sini, kamu tidak tahu aku ini siapa… apakah kamu mencari dompetmu yang kosong ini, ini aku kembalikan…
“Kenapa dompet ini ada padamu?” aku sangatlah penasaran akan hal itu
“Ini jalan hidupku, kamu jangan ikut campur” kemudian Renata pergi dengan tangisnya
Dengan sembunyi-sembunyi aku mengikuti Renata dan alangkah terkejutnya aku ketika wanita yang menjadi muc*kari itu adalah ibuku
“Ibu, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Ayah sakit-sakitan di Jakarta, Mengapa ibu tega melakukan ini?” Kamu bukan ibuku… aku pun pergi dengan berlinang air mata meilhat kenyataan ini.
“Nak, dengar ibu, ibu akan jelaskan”

Ketika ibuku mengejarku di sebrang, sebuah truk pengangkut semen menabrak ibuku, dan kemudian tewas seketika dengan sangat mengenaskan, aku langsung berbalik badan dan berlari menuju ibuku.
“Ibu, maafkan aku, kenapa semua menjadi seperti ini? Kenapa semua berakhir seperti ini?” Aku minta maaf bu, mengapa ibu yang pergi terlebih dulu, seharusnya aku saja yang mati, harusnya aku bu!
Ketika polisi dan petugas medis datang, Renata menghampiriku, “walaupun ibuku memperkerjakan kita dengan seenaknya, tetapi ibumu adalah orang yang baik, kamu yang sabar ya” dengan menepuk pundaku Renata pun ikut bersedih sama sepertiku.

Tempat pemakam umun tepat pukul 7 pagi, aku mengantarkan kepergian ibuku untuk terakhir kalinya, kini aku sudah mencoba ikhlas akan tragedi itu.
“Setelah ini, aku harus pergi ke Jakarta untuk memberitahu perihal ini kepada ayahku”
“Apakah secepat itu? Ya sudah hati-hati, semoga kita dapat bertemu kembali” tanya Renata

Perjalanan pilu menuju Jakarta harus kulalui, tidak pernah terbayangkan semua itu berakhir begitu cepat.
Setelah sampai stasiun Gambir aku langsung menuju rumahku, terlihat kotor dan amat berdebu rumahku kini, aku pun langsung menuju kamar ayahku.
“Yah, ayah dimana? Aku datang yah? Aku cari di ruang tengah dan di seluruh isi rumah tetapi ayahku tidak ada.
“Den, kapan datang?” Mbok Rusmi menegurku
“Mbok Rusmi? Kapan mbok datang kesini? Dimana ayahku mbok?”
“Ayahmu sudah meninggal den, kemarin ketika ayahmu berada di kamar mandi, dirinya terpeleset dan akhirnya terbentur bak mandi dan meninggal den” dengan haru Mbok Rusmi mengatakanya.
“Ya tuhan.. cobaan apa lagi yang telah engkau berikan padaku” dengan tertunduk lesu aku mengatakannya.
“Mbok, ibu juga telah tiada, ia meninggal kemarin juga tertabrak truk di Surabaya”
“Inallilahiwainailahirajiun, ya Allah den, mengapa semua terjadi secara bersaaman, yang sabar ya den “
“Iya mbok, mungkin ini adalah jalan yang diberikan Tuhan kepada keluarga kecilku ini mbok”
“Antarkan aku ke pemakaman Ayah mbok”

Sepanjang perjalanan menuju pemakaman Mbok Rusmi bercerita, bahwa ayahku dan ibuku adalah sosok yang hebat, mereka adalah sepasang sejoli yang saling mencintai dan menyayangi, dan mbok masih mengingat dahulu ayahmu dan ibumu pernah berwasiat pada mbok, bahwa anakku ini adalah seseorang yang akan sukses, mereka sudah yakin bahwa kelak kita melihat cucu-cucu kita dan menantu kita, sedang bermain bersama dan memanggil kita denga sebutan nenek dan kakek, dan almarhum ayah dan ibumu kemudian tertawa bersama, Namun hal itu mungkin sudah tidak terjadi, sebelum kamu menikah, kejadian pilu ini menimpa mereka.
“Aku pasti akan bekerja keras demi kalian, dan aku akan menunjukan kesuksesanku kelak dan aku janji, istri dan anak-anaku kelak pasti akan menemuimu, walau hanya pada tancapan nisan dan tanah kuburan yang sepi ini”.

Cerpen Karangan: Sigit Pamungkas

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply