Teruslah Tersenyum Aa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 18 August 2017

Malam itu suasana begitu lembap. Hujan yang turun seharian membawa serta awan pekat yang terseret di antara hamparan mega. Kawanan katak di sela-sela selokan terus menggemakan nyanyiannya, ditimpali suara jangkrik yang mendecitmerdu. Tepat di atas selokan itu suara desingan rel kereta terdengar nyaring, serupa jeritan hening malam.
Dari kejauhan suasana hiruk pikuk nampak jelas tertangkap di sudut jalan raya Serpong, tempat puluhan kendaraan saling berjejal mendahului. Lalu lintas di sana selalu kacau. Trayek-trayek bobrok yang siap mengantar penumpangnya ke berbagai jurusan melintas lambat di sekitaran palang pintu kereta api. Motor-motor dan mobil yang tak sabar saling menjeritkan klakson, sementara petugas Dishub yang kerjanya Cuma mengutil uang retribusi liar kepada angkot-angkot itu tak bisa berbuat banyak mengurai kemacetan.

Saat ini wajah Serpong, sebuah kecamatan di sudut kota Tangerang Selatan memang tak ubahnya seperti daerah-daerah padat di pinggiran kota. Jalan utamanya yang sempit selalu nampak hiruk-pikuk, sementara pasar tradisional Serpong yang tak pernah tidur dari aktifitasnya selalu jadi biang keladi kemacetan. Pedagang-pedagang yang tak tahu aturan, berjualan di area trotoar, sampai memakan sebagian bahu jalan. Petugas Satpol PP yang siaga di sana seolah membiarkan saja kondisi itu. Hanya saat ada kedatangan Walikota atau pejabat penting, pedagang-pedagang liar itu ditertibkan. Akibatnya pengguna jalan yang selalu jadi korban. Mereka terjebak dalam rutinitas kemacetan dan kesemrawutan yang seolah tiada habisnya. Memang begitulah resiko yang mesti ditanggung sebuah wilayah dengan perkembangan progresif, tempat dimana arus urbanisasi tak lagi bisa dibendung. Tempat dimana gairah dan mimpi yang dijanjikan sebuah kota besar telah membuat gang-gang kecil di tiap sudut wilayahnya kini penuh dengan pemukiman.

Sebagian dari pemukiman itu tak layak untuk ditinggali. Seperti sebuah rumah mungil yang letaknya menjorok ke arah rel kereta api. Atapnya beralas asbes tua berwarna kelabu, sedang dindingnya hanya dilapisi papan-papan triplek. Tidak ada apapun di rumah bobrok itu selain ke tiga orang penghuninya yang tengah saling termenung, semuanya berwajah cemasdan kalut seolah mereka baru saja tertimpa musibah.

Lelaki itu berperawakan kurus dengan otot-otot yang saling bertonjolan di lengan dan bahunya yang kokoh. Matanya menyiratkan keteduhan, Rona wajahnya penuh tekad dan keteguhan hati. Garis wajahnya keras namun ekspresinya lembut kebapakan. Orang yang melihatnya selintas, pasti mengira lelaki Sunda berkulit putih itu berusia tiga puluh tahunan. Namun setelah melihat Kartu identitasnya orang akan kaget. Karena usianya tak lebih dari 26 tahun. Kerasnya hidup telah membuat pria bernama Tegar itu, telah mengambil tanggung jawab sebagai seorang Bapak, Kakak, sekaligus paman bagi anggota keluarga kecil itu. Membuatnya terlihat lebih tua dari semestinya.

Ditya memandang kakaknya dengan tatapan sendu. Bocah SMA berambut ikal itu, tak habis pikir akan kejadian yang baru saja berkelabat menghampiri mereka. Satu lagi rentetan adegan pilu yang mengoyak kebahagiaan ia dan keluarga kecilnya. Ia ingin menangis, tapi ia tahu itu akan sia-sia. Kakaknya benci sekali melihat ia menangis. Laki-laki memang harus kuat dan tegar. Ia tak tahan terus berada di ruangan sempit itu, hingga akhirnya ia beranjak pergi, mencoba mengurangi rasa gundah dihatinya dengan bertamasya ke tempat favoritnya. Tempat dimana ia selalu mencurahkan keluh kesahnya dikala ia sedang di landa kesedihan.

Tempat itu serupa ceruk, yang di setiap habis hujan tergenang oleh limpahan air yang jatuh dari dataran yang lebih tinggi di atasnya. Tidak banyak orang yang pergi ke tempat itu, apalagi di malam hari. Karena tempat itu begitu terisolasi di antara rel kereta dan semak belukar yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Ditya menjatuhkan butir-butir batu ke dalam ceruk. Bulan tersembunyi diantara awan mendung. Rimbunan daun bambu seakan berbisik mengejeknya. Tidak ada siapapun yang menemaninya kecuali kesendirian. Dan memang teman setianya itulah yang ia cari.
Ditya benci akan semua yang ada dihidupnya. Ia benci ibunya yang begitu cepat berpulang. Ia benci Teh Lilis yang bodoh dan tak berguna, yang karenanya beban hidup yang ditanggung Aanya semakin berlipat. Dan sungguh demi langit dan bumi, ia sangat benci abahnya. Abahnya, yang penj*di dan pemabuk. Abahnya yang selalu membuat ia merasa berdosa karena membuatnya selalu berharap agar lelaki paruh baya itu cepat mati. Supaya setidaknya ia dapat tinggal di pesantren yatim Darut Tauhid dan tak perlu lagi menyusahkan Aa.
Dan ia juga benci Aa Tegar, yang selalu mengalah terhadap apapun yang terjadi atas dirinya. Hembusan angin yang menampar keras wajahnya membuatnya sadar bahwa ia lebih muak lagi pada dirinya sendiri yang cuma bisa menjadi penonton di antara kesengsaraan yang dialami keluarganya.

Rentetan kejadian itu berkelabat di benaknya. Aa tegar yang dihardik Haji Karmain, si lintah darat bengis, karena tidak bisa membayar hutang j*di abah. Suara Haji Karmain mengaum keras saat Aa Tegar menggumamkan permohonan maafnya karena tidak bisa membayar hutang abah. Lelaki setegar karang itu tak bisa melawan saat anak buah Haji Karmain menjumput kerah bajunya dengan kasar dan mendorong kakak tercintanya itu hingga tersungkur. Teh Lilis Cuma bisa menangis sambil menggendong anak hasil hubungan haramnya melihat adik laki-lakinya dihina dan dilecehkan. Dan Ditya cuma bisa diam terpaku melihat kejadian itu.

Ditya berpaling untuk sekedar menepis kejadian pilu itu dari benaknya. Skenario yang terus berulang dan bertambah hebat setiap harinya. Yang tak pernah sedikitpun beranjak lepas dari kehidupan mereka untuk sekedar memberi mereka nafas kebahagiaan walau hanya sedetik.

Prahara itu datang sejak delapan tahun yang lalu, saat sang nahkoda rumah tangga kehilangan pijakan. Abah yang kesehariannya bekerja sebagai kuli panggul di pasar Serpong, berubah menjadi monster saat kenal dengan dunia j*di dan minuman keras. Tak pernah nasihat lembut emak atau tangis pilu dan ratapan anak-anaknya mampu menyadarkan abah untuk meninggalkan meja j*di.

Perlahan namun pasti, satu-persatu harta yang dimiliki mereka melayang ke rumah gadai. Dan saat emak sakit keras akibat tak sanggup menanggung beban yang dipikulnya, satu-satunya milik mereka akhirnya terjual. Memaksa mereka tinggal di sebuah gubuk kecil tanpa apapun yang tersisa kecuali sepotong harga diri. Yang dengan bodohnya dirusak oleh Teh Lilis, anak perempuan tertua di keluarga itu.
Tapi apapun yang diperbuat abah, tak ada yang lebih kejam dibandingkan dengan apa yang telah dilakukannya terhadap Aa Tegar. Ia telah merenggut paksa masa depan cerah yang seharusnya menjadi milik Aa-nya tercinta.

Aa Tegar semasa sekolah dulu terkenal sebagai siswa yang cerdas dan aktif di berbagai kegiatan. Ia mempunyai sepasang tangan ajaib. Apapun bisa dilakukannya dengan cakap. Mulai dari bermain Basket, Volly, Bulutangkis, hingga memainkan alat musik gitar dan rebana. Ia juga aktif di organisasi. Ia sempat jadi ketua Osis selama satu tahun dan terpilih kembali di periode berikutnya. Sebelum akhirnya ia terpaksa berhenti sekolah saat kelas 2 SMA. Sejak saat itulah masa remaja Aa yang indah perlahan diambil paksa oleh nasib, dan ia terpaksa menjalani kehidupan yang secara tidak adil disodorkan padanya. Kehidupan yang pahit dan penuh aral.

Aa tak pernah mengeluh dan tetap tegar menerima berbagai cobaan hidup yang mesti ia pikul sendirian. Dengan sabar ia menjalani peran sebagai seorang ayah, kakak, sekaligus anak yang berbakti. Ia yang merawat emak sewaktu sakit, ia juga yang mencari uang dengan susah payah, mengais rezeki apapun asalkan halal demi dapur tetap mengepul. Ia seorang kakak yang baik, tiap hari sebelum berangkat kerja di sebuah agen sembako, ia selalu menyempatkan mengantar Ditya ke sekolah dengan sepedanya. Tak peduli ia harus membonceng adiknya di jalan menanjak yang terjal berbatu dan licin ketika hujan, ia tetap mengayuh sepedanya dengan cepat agar adik kesayangannya itu tidak terlambat ke sekolah. Saat pulang sekolah Aa Tegar sudah menunggu untuk menjemput adik kesayangannya.

Ditya kerap merasa iba melihat Aanya yang berbadan kurus itu memikul puluhan karung beras demi upah yang tak seberapa. Ia juga kerap mendapati kakaknya itu terlihat malu apabila bertemu dengan teman satu sekolahnya. Ditya tahu, dalam hati Aa ingin sekali seperti mereka. Mengenakan seragam putih abu-abu, menenteng buku, mengerjakan PR, pergi ke tempat rekreasi ataupun belajar kelompok bersama teman-teman sebayanya. Tapi Aanya hanya bisa menunduk dan mengelus dada, hal itu sudah tercerabut dari kehidupannya dan tak akan pernah kembali. Biarlah cita-cita dan keindahan masa remajanya terkubur di dasar hatinya yang terdalam.

Aa tak banyak mengeluh, tak pernah Ditya melihat bulir air mata di wajah tirus Aa manakala abah memukul dan membentaknya tiap kali Aa berusaha menasehati abah. Aa juga tidak marah kepada abah saat uang hasil jerih payahnya bekerja membanting tulang selama seminggu dirampas dengan paksa dan dihabiskan abah di meja j*di.
Aa juga tidak menangis saat menggenggam lengan emak di pembaringannya dan mengantar emak hingga ke liang lahat. Aa tak pernah, dan tak bisa menangis. Tapi Ditya tahu di lubuk hati Aanya yang terdalam rasa perih itu telah menggoreskan luka. Membuat matanya yang dulu bersinar indah menjadi gelap terselubung kabut. Kabut itu tak jua terangkat. Ditya ingin sekali mengembalikan sinar di wajah itu beserta senyum yang dulu terlukis di wajah Aa. Ditya tahu kalau Aanya itu sebenarnya mempunyai senyuman yang amat manis. Tapi Ditya lupa seperti apa senyum itu, bahkan kini ia lupa kapan tepatnya Aanya itu pernah tersenyum.

Lamunan Ditya buyar manakala sebuah suara memanggilnya. Suara yang lembut kebapakan.
“Ditya, maneh keur naon calik didinya sorangan bae? (Ditya kamu lagi ngapain sendirian di situ?)” suara Aanya, Ditya segera mengusap air matanya, ia tatap Aanya yang dalam keremangan sinar rembulan wajahnya nampak bersinar serupa matahari.
“Ulah sok ngalamun. Komo deui geus peuting kieu, ke’kabadi mah. Hayu sok uih… rek naonatuh maneh didinya wae” Aanya terus berceloteh menyuruh Ditya untuk segera pulang.
“Heu..euh, Aa.” Ditya segera beranjak dari batu besar di pinggir ceruk itu dan menghampiri Aanya. Ia tahu masalah tadi kini telah usai. Dan tak perlu ada lagi penegasan ataupun pertanyaan yang harus di lontarkannya. Meski begitu hatinya perih tiap kali mengingat kejadian tadi. Rasanya ia ingin sekali membalas perlakuan kejam Haji Karmain terhadap Aanya.

Aa Tegar mengusap pelan rambut ikal Ditya dan merangkul bahu adiknya yang kini telah tumbuh hampir setinggi dirinya, untuk kemudian bersama-sama pulang ke rumah. Malam itu gerimis terus menyerbu membuat Ditya menggigil kedinginan. Saat terbangun di malam hari ia dapati Aa Tegar tengah bersimpuh di atas sajadah lusuhnya. Malam kian merayap, gerimis tak jua mereda. Ia tahu pukul 02.00 dini hari atau sekitar satu jam lagi, Aanya sudah harus pergi mencari nafkah untuk biaya sekolah Ditya, untuk susu Rahma -anak teh Lilis, juga untuk melunasi hutang abah.

Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Aa tak pernah lelah menasehati abah, namun nampaknya abah telah tersuruk begitu dalam. Di satu dasawarsa itu, Aa lebih memilih memeras keringatnya, menggeluti setiap pekerjaan yang sekiranya pantas dilakukan oleh orang berijazah SMP seperti dirinya, ketimbang menerima uang dari abah.
“Biarlah kita semua mati kelaparan daripada harus makan uang haram!” Pekik Aa pada suatu waktu ketika ia dengan tegas menolak lembaran rupiah dari abah.

Aa Tegar sudah mencoba berbagai macam pekerjaan mulai dari tukang parkir, cleaning servis, kuli panggul, sales kerupuk, hingga terakhir bekerja di toko sembako. Namun dari kesemua pekerjaan itu ia tak mendapat hasil yang memuaskan, hingga setahun yang lalu ia berkongsi dengan teman karibnya, mencoba peruntungan dengan berjualan kelapa parut di pasar PJKA Serpong. Berkat ketekunannya, usaha kecil-kecilan itu terus berkembang. Namun tak lama pasar itu kena gusur dan Aa terpaksa memulai lagi usaha itu dari nol di tempat yang baru.

Aa kerap tak pulang ke rumah. Bangunan pasar baru yang letaknya di samping terminal dekat stasiun KA Serpong itu ternyata sepi pembeli. Aa sudah mulai menjajakan dagangannya sejak pukul 02.00 dini hari dan baru tutup setelah semua dagangannya habis terjual. Namun butir-butir kelapa itu tak jua tandas. Hingga pukul 5 sore dagangan Aa belum juga habis. Aa terpaksa tidur siang di lapak penjual sayuran yang kosong di siang hari. Tubuhnya makin kurus karena Aa tidak lagi teratur makan. Abah kerapkali mampir ke lapak Aa, bukan untuk membantu tapi untuk meminta uang. Jika Aa menolak memberikan uang, abah akan menceracau dan tak segan menempeleng atau memukul Aa, tak peduli tatapan dan bisikan jahil orang-orang pasar yang senang bergosip. Biasanya Aa akan mengalah dan memberikan beberapa lembar uang yang diperolehnya dengan susah payah.

Cerpen Karangan: Ali Anfal
Facebook: Ali Anfal

Cerpen Teruslah Tersenyum Aa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah Membuat Derita Menjadi Cerita

Oleh:
Sejak pertama aku melihat dunia, aku tak pernah menemukan dia di sampingku. Dia yang mengandungku selama 9 bulan, dia yang memperjuangkan agar aku bisa tetap hidup dalam rahimnya bahkan

Sayap Bidadari (Part 2)

Oleh:
Malam pun tiba. Hawa dingin semakin menyelimuti siapapun yang tengah tertidur nyenyak. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, menemani udara malam. Burung-burung malam mulai berkicau, suara jangkrik mulai terdengar lebih keras

Dirga di Bulan April

Oleh:
Suasana udara dingin di pagi buta, seiring dengan kilaunya mentari yang perlahan menampakkan sayapnya, menemani langkah sepasang Kakak-Adik yang perlahan melangkah satu demi satu pijakan. Panas mentari yang begitu

Badai Pasti Berlalu

Oleh:
‘KRIIING!’ Bel alarm berbunyi tepat pukul setengah enam pagi. Dengan malas, Kintan berusaha meraih jam bekernya, tetapi jam tersebut malah jatuh. Alhasil bunyi alarm mati dengan sendirinya. Sudah 10

Kado Terakhir Untuk Bunda

Oleh:
Jam weker usangku masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun seperti biasa aku terbangun untuk salat tahajud. Aku segera bangkit dari tempat tidur untuk mengambil air wudu. Seusai salat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *