Teruslah Tersenyum Aa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 18 August 2017

Ditya memulai harinya sejak pukul 05.00 pagi. Sebelum berangkat sekolah ia sempatkan membaca buku pelajaran sambil mengasuh Rahma, anak teh Lilis, sementara tetehnya itu menyiapkan sarapan dan mengemasi gorengan yang akan dijajakan Ditya ke sekolah. Ditya belajar prihatin sejak ia duduk di bangku SMP. Ia tak mau membuat beban Aanya semakin berat. Ia tak pernah malu menenteng gorengan ke sekolah, pun ia tak malu berjualan asongan di sekitaran stasiun Rawa Buntu selepas pulang sekolah, apapun rela ia lakukan asalkan mengahasilkan rezeki yang halal.

Jarak rumahnya ke pasar tempat Aa Tegar berjualan tak terlalu jauh. Ia selalu menyempatkan mengantar sarapan untuk Aa. Dan tiap kali Ditya mencium tangan Aadan pamit ke sekolah, Aanya itu akan membelai lembut rambutnya dan menggumamkan sebuah pesan.
“Belajar yang rajin, biar jadi orang pintar, jangan seperti Aa”. Kemudian Aa akan menyelipkan selembar uang pecahan sepuluh ribu ke saku Ditya. Selalu seperti itu. Dan Ditya selalu hanya mengangguk, namun dalam hati ia bergumam kalau ia ingin seperti Aa. Sebagian dirinya yang lain menyangkalnya, bahwa ia tak mungkin dan tak akan pernah bisa setegar dan sekuat Aa.

Saat ini Ditya bersekolah di SMAN 2 Tangsel. Sekolah unggulan yang terkenal mahal. Entah bagaimana Aanya yang berpenghasilan pas-pasan, mampu menyekolahkan Ditya di salah satu sekolah terbaik di daerah Tangsel tanpa sekalipun menunggak SPP.
Ditahun ke duanya menimba ilmu di sekolah elit itu, Ditya memforsir jadwal belajarnya demi mengejar beasiswa yang dijanjikan sekolah untuk siswa dengan nilai akademik terbaik. Ia ingin menghadiahkan itu untuk Aa. Ia tahu sejak dulu Aanya begitu memperhatikan pendidikan Ditya. Semoga hadiah itu bisa membuat Aa tersenyum kembali.

Ditya teringat akan masa lalunya, saat ia kelas 1 SD ia sudah lancar membaca. Aa Tegar sangat senang. Tiap hari Aa Tegar mengantar Ditya ke sekolah dan dengan setia menunggu Ditya hingga jam pelajaran usai. Sepulang sekolah Aanya itu selalu menggendong Ditya apabila Ditya merengek kelelahan. Ditya mendekap erat punggung Aanya. Tak peduli terik panas, Aanya itu terus berceloteh riang menirukan suara mesin pesawat terbang, sedang tangannya ia rentangkan sambil bahunya meliuk-liuk, membuat Ditya yang ada di gendongan Aa tergelak riang.

Sejak dulu Aa Tegar telah terbiasa mandiri, ia tak pernah minta uang jajan ke emak maupun abah. Pulang sekolah Aa langsung meluncur ke pasar Serpong membantu kang Mamad menimbang terigu ataupun memikul karung-karung beras. Saat hujan tiba ia menjajakan jasa ojek payung. Uang hasil jerih payahnya itu ia tabung seluruhnya dan ia janjikan kepada Ditya, bahwa adiknya itu boleh minta di belikan apa saja asalkan saat pembagian raport di akhir Semester nanti Ditya mendapat peringkat pertama di kelas.

Aanya itu tak ingkar janji. Di semester pertama Ditya minta dibelikan mobil-mobilan remote control yang waktu itu sedang populer, dan Aanya benar-benar mengabulkan permintaan Ditya meski harga mainan itu, Ditya tahu sangat mahal. Di semester berikutnya, Aa membelikannya seperangkat mainan robot Gundam, berikutnya Ditya minta sepedaWim Cycle, begitu seterusnya. Hingga di tahun-tahun saat abah berubah menjadi manusia setengah iblis dan Aanya tercinta terpaksa berhenti sekolah, Ditya tak pernah berani lagi meminta mainan-mainan mahal. Meski janji Aanya itu tetap berlaku.

Ditya paham, apabila ia hendak membahagiakan Aanya. Cukuplah baginya berprestasi di sekolah. Sudah sejak enam tahun lalu atau tepatnya saat Ditya kelas 5 SD. Aanyalah yang selalu mengambilkan raport Ditya. Ditya selalu dapat ranking 1. Dan Aa dengan penampilan lusuhnya mengintip Ditya dari balik jendela. Tak seperti orangtua teman-teman Ditya, Aa tak berani masuk kelas. Mungkin Aa malu dengan penampilannya yang lusuh dan belepotan terigu. Tapi Ditya tahu saat bu guru memanggil namanya sebagai juara kelas, Ditya telah membuat Aanya itu bangga. Pulangnya Aa menggandeng lengan Ditya dan membelikan Ditya es krim Paddle Pop. Waktu itu Aa bekerja di toko sembako dengan upah tiga puluh lima ribu rupiah sehari. Meski tak semewah sepeda Wim Cycle yang dulu dibelikan Aa untuknya, Hadiah itu merupakan hadiah terbaik yang akan terus dikenang Ditya di sepanjang hidupnya.

Ditya tengah belajar di rumah kontrakan satu petaknya yang sempit saat pandangannya teralihkan pada seonggok kardus berdebu yang tergolek di antara tumpukan barang-barang milik Aa Tegar. Di ruangan itu memang tidak ada apapun. Tidak jua sebuah lemari. Semua pakaian milik penghuni rumah di jejalkan ke dalam kardus-kardus besar, sementara seragam sekolah Ditya di gantung di tembok triplek dan baru di setrika ketika hendak dipakai.

Ditya penasaran akan isi kardus itu. Ia coba sisihkan barang-barang yang menumpuk di atasnya. Ia terperanjat melihat isi kardus itu. Buku-buku Aa Tegar sewaktu SMA dulu. Ia sibak satu-persatu halamannya. Di sana tertulis nama si pemilik buku, Tegar Agung Saputra. Kelas 1C. Buku Latihan Matematika. Ditya tergelak riang melihat halaman buku bersampul cokelat itu.
Ternyata Aanya pintar. Nilai-nilai di buku ulangan itu rata-rata di atas 80. Tulisan di buku itu juga nampak rapi dan bagus. Gambar-gambar lucu dan tulisan-tulisan model grafiti berceceran di tiap lembar halamannya. Di sepuluh lembar bagian belakang halaman buku, gambar-gambar pesawat terbang dan kaligrafi-kaligrafi arab yang sangat cantik yang dilukis indah dengan pena berujung lancip membuat Ditya berdecak kagum. Tak disangkanya Aanya itu juga pandai menggambar.

Berikutnya Ditya menjamah buku-buku paket tebal yang telah lusuh dimakan usia. Saat mengangkat sebuah buku Fisika, selembar foto berwarna ukuran 3R terbungkus plastik bening tak sengaja jatuh di kaki Ditya. Ditya memandangi foto itu. Disana terpampang gambar seorang anak remaja yang tengah tersenyum. Di sebuah aula luas serupa lapangan dengan puluhan teman seusianya dalam balutan seragam putih abu-abu. Anak lelaki itu terlihat sangat tampan. Wajahnya cerah ceria, kemeja putih lengan panjang dibalut jas hitam yang ia kenakan nampak pas membungkus badannya yang tegap berisi. Kedua tangannya memamerkan sebuah tulisan kecil yang ditulis di atas kertas karton berwarna merah, ‘Ketua Osis terpilih periode 2006-2007’. Anak lelaki di foto itu tak lain dan tak bukan adalah Aa Tegar.
Melihat senyum itu Ditya seakan terlempar ke masa lalu. Kini ia ingat seperti apa senyum itu. Ia pandangi sekali lagi foto lawas yang dipegangnya, dan memang benar itu Aa Tegar. Dan senyum itu adalah senyum yang sama, yang didapatnya saat Ditya bersandar di atas bahu Aanya delapan tahun yang lalu.

Ditya tak menyadari matanya yang tiba-tiba tergenang. Kenapa mesti Aa yang mengalami semua ini? kenapa? Padahal banyak di luar sana remaja-remaja tak berguna yang menyia-nyiakan masa mudanya dengan balapan liar, bolos sekolah, atau nongkrong seharian di warnet. Kenapa malah Aanya yang rajin dan pintar yang harus putus sekolah?

Kapan tepatnya ia pernah melihat senyum itu?
Ia tengah berada di sebuah tanah lapang maha luas bermandikan cahaya matahari. Angin sepoi-sepoi membelai lembut wajahnya, langit biru membubung tinggi di cakrawala seolah tanpa batas. Riak air sungai yang jernih serupa kaca menelusup jemari kakinya, membawa ketenangan dan kedamaian tiada tara. Di manakah ia sekarang? Apa ia tengah berada di surga?
Oooh bukan, ia kini tengah berada di atas punggung seseorang yang kini membawanya berlari menyusuri padang rumput hijau nan indah itu. Ia terus berceloteh menirukan suara jet tempur. Jet tempur yang tertembak musuh. Yang kemudian jatuh di atas rumput yang serupa permadani. Mereka tertawa bersama ditimpali kicau burung yang mengintip keceriaan mereka. Sosok itu kemudian berguling-guling di atas rumput yang terhampar luas. Pucuk-pucuk pohon pinus bergemerisik riang melihat kebersamaan mereka.
“Ayo tangkap Aa kalo kamu bisa” ia berusaha mengejar sosok itu yang terus berguling-guling riang menuruni sebuah bukit kecil.
“Kenaaaaaa!!!”
Sosok itu kemudian memeluk Ditya dalam rengkuhan hangatnya dan merekapun tertawa bersama dalam kebahagiaan yang seolah tanpa batas.
Dan… Ditya melihat senyum itu. Senyum yang serupa tetesan embun surga.
“Teruslah tersenyum Aa… teruslah tersenyum… teruslah…”
Ditya mengerjap-ngerjap saat sepasang lengan kokoh mengguncang lembut bahunya. Hamparan bukit hijau yang barusan dilihatnya berubah menjadi sekat-sekat triplek yang menaungi ruangan pengap tempat Ditya terlelap. Ternyata tadi itu cuma mimpi. Fikir Ditya.

“Bangun Ditya, bangun! katanya kamu mau bantuin Aa jualan” di antara keadaan setengah sadar matanya berhasil menangkap satu sosok yang ia kenali sebagai Aa Tegar. Bukan Aa Tegar yang barusan dilihatnya di alam mimpi. Melainkan sosok yang tiga tahun belakangan ini akrab dalam kesehariannya. Sosok pria berusia dua puluh enam tahun yang terlihat lima tahun lebih tua. Dengan tulang pipi yang begitu tirus, kumis dan janggut yang tak terawat, serta rambut hitam yang jarang disisir.
Ditya mengucek matanya. Dengan malas ia menyibak selimutnya. Pukul 02.00 dini hari. Ia sudah janji akan membantu Aanya berjualan malam ini. Dalam kalender islam, hari ini bertepatan dengan silih Mulud. Tanggal dimana biasanya pasar akan ramai oleh ibu-ibu yang menyerbu pasar untuk berburu bahan-bahan masakan, biasanya Opor ayam dan sambal goreng kentang. Yang nantinya akan diisi ke sebuah besek, untuk kemudian diantarkan ke langgar-langgar dalam rangka sedekah silih Mulud.

“Kalo kamu masih ngantuk gak papa. Lain kali aja temenin Aanya.” Aa Tegar mengelus lembut pipi Ditya. Walau sudah besar Aanya itu tetap memperlakukan Ditya seperti adik bungsu kecilnya yang setiap hari mesti diberi limpahan kasih sayang.
Ditya menggeleng. “Ditya ikut. Ditya kan sudah janji sama Aa.” Ditya beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka. Sebentar kemudian ia sudah berganti mengenakan kaus oblong dibalut sebuah jaket tebal. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan rumah menuju pasar tempat Aa berjualan.

Gemerlap bintang menemani Ditya dankakaknya menyusuri jalan-jalan komplek perumahan yang nampak lengang. Mereka tak banyak bercakap. Ditya sibuk menahan rasa dingin walau ia sudah dibalut jaket tebal. Sedang Aanya yang berbadan lebih tipis darinya nampak nyaman-nyaman saja dengan kaus oblongdan celana pendek yang dikenakannya.

Sebelumnya Ditya tak pernah membayangkan kalau pekerjaan yang digeluti kakaknya teramat berat. Sekitar setengah tiga dini hari, saat sebagian besar manusia masih terlelap dengan mimpinya, truk-truk pemasok kelapa telah siap membongkar muatannya yang berisi ratusan butir kelapa segar. Separuh isi mobil Colt Diesel itu tumpah di lapak Aa. Aa Tegar sendiri yang menurunkan karung-karung seberat lima puluh kilogram lebih itu untuk kemudian membongkar semua isinya dan menaruhnya di gudang penyimpanan.

Pukul setengah empat pagi, pembeli mulai berdatangan. Aa Tegar sibuk menguliti butir-butir kelapa. Mesin kelapa parut bertenaga listrik meraung-raung di telinga Ditya. Pagi yang sibuk. Dan Ditya tak tahu harus membantu apa.
Aa Tegar menyuruh Ditya untuk melayani pembeli. Menerima uang mereka dan memberikan kembalian. Ditya senang dapat membantu. Pagi itu rezeki mereka sedang bagus. Tak kurang Seratus lima puluh butir kelapa telah ludes terjual saat matahari menyembul di ufuk Barat. Pukul sembilan pagi mereka sudah bisa menghitung hasil jerih payah mereka.

“Alhamdulillahirobbilalamin. Kita sedang beruntung hari ini. gak biasanya loh, dagangan Aa udah habis di jam segini” Aa Tegar sumringah menghitung lembar demi lembar rupiah yang mereka peroleh. Namun kebahagiaan mereka surut saat segerombol orang dengan tingkah kasar menyerbu lapak Aa. Bang Roji dan komplotan premannya.

“Bapak lu semalem kalah j*di. Lu harus bayar hutang bapak lu! kalo nggak dagangan lu bakal gua acak-acak.” Bang Roji telah separuh baya. Kulitnya hitam serupa jelaga. Wajah kasarnya yang berminyak menyodorkan sikap bermusuhan kepada siapapun yang berurusan dengannya.
Aa Tegar memasang dadanya yang kokoh di hadapan pria itu. Mereka beradu tatapan. “Maaf bang. Tolong bilang ke abah. Mulai sekarang, saya gak mau bayar hutang j*dinya lagi.” Aa Tegar berbicara dengan ketegasan serupa raja. Bang Roji nampak ciut mendengarnya. Belakangan ini Ditya kerap mendapati Aa begitu mudah tersulut emosi, terutama menyangkut hutang abah yang seolah tak ada habisnya. Ditya sadar kini ia kelas XII. Mau tak mau Aanya itu harus mencari uang ekstra untuk membiayai sekolah Ditya. Karena tak lama lagi Ditya akan daftar kuliah dan itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Ini!!” Aa Tegar melempar lima lembar uang pecahan lima puluh ribu di hadapan bang Roji. “Hutang yang kemarin saya bayar. Tapi yang hari ini saya gak mau tahu. Kalo abah punya hutang ke abang, silahkan abang minta ke abah. Dan mulai detik ini saya minta, abang jangan pernah ganggu hidup saya lagi.”
Bang Roji menatap Aa Tegar nyalang. “Berani lu yah, sama gua. Anak bau kencur kayak lu mau nantangin gua, Hah! Emangnya lu kira lu siapa?.”
Ditya cuma bisa merengut di belakang Aanya, dapat ia rasakan dada Aanya naik turun menahan amarah. Ditya makin ketakutan saat mata bengis bang Roji beralih menatapnya.
“Lu mau adik lu yang keriting itu gua jadiin soun!!”. Teman-teman bang Roji tergelak riang mendengar lelucon itu. Yang justru membuat amarah Aa semakin memuncak. Ditya kaget bukan kepalang saat Aanyamenendang perut bang Roji hingga lelaki bongsor itu terjengkang. Aa Tegar nampak seperti orang kesetanan saat ia meraih sebilah golok dan mengacungkannya ke hidung komplotan preman itu. Orang-orang yang sedari tadi menonton pertengkaran itu kini berusaha melerai.
“Gua gak takut sama loe. Sini lu semua, maju satu-satu” Aa Tegar berteriak nyalang sambil mengacungkan goloknya. Ia sadar tindakan cerobohnya telah membuat bang Roji dan komplotannya naik pitam. Mungkin tak lama lagi mereka akan menyakiti ia dan adiknya apabila ia cuma diam mengalah. Sungguh, apapun akan ia lakukan demi membela adik tercintanya.
Komplotan bandit beranggotakan empat orang itu nampak ketakutan. “Terutama loe Roji. Sekali loe berani nyentuh ade Gua, kepala loe bakalan ngambang di kali Cisadane.” Aa Tegar menyalak parau sambil menebas udara. Kata-katanya tak pantas terucap oleh siapapun. Ditya menggeleng pelan. Itu bukan Aa, tepisnya. Ditya tak pernah menghitung, sudah lebih satu dasawarsa kakak berhati perinya itu, hidup dalam suasana keras. Dunia Aanya tentu tidak cocok dengan jiwa rapuh anak rumahan yang dimilikinya.

Cerpen Karangan: Ali Anfal
Facebook: Ali Anfal

Cerpen Teruslah Tersenyum Aa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih, Ibu

Oleh:
Ibu, setiap pagi dengan senyum mengembang kau menuntun sepeda tuamu menawarkan pisang ke rumah-rumah penduduk. Keringat letih membasahi tubuhmu tetapi tidak terkalahkan oleh semangatmu untuk mencari nafkah. Dengan menuntun

Ibu, Aku Membutuhkan Mu

Oleh:
Hidup memang penuh dengan tantangan, hari ini aku menjalani sekolah seperti biasa. Masih bersama teman-temanku. Namun aku terkejut saat membaca pengumuman di mading sekolah. SMP 007 PANDHU BAKTI 21

Goresan Tinta Cinta Untuk Mama

Oleh:
Dalam coretan tinta, yang kutuliskan di atas kertas putih ini, aku menuliskannya dengan perasaan cinta yang senantiasa menjelma di dalam hari-hariku. Coretan tinta ini, berisikan tentang sebuah perasaan cinta

Jangan Pergi

Oleh:
Aku termenung sendirian di depan rumahku, entah kenapa aku selalu ingat dengan kejadian yang telah menimpaku tiga tahun yang lalu, dimana pada saat itu terjadi pertengkaran hebat antara ayah

Rahasia Mama

Oleh:
Aku bersedekap. Menunggu datangnya mama sambil di tempat tidur. Menurut kakakku, itu sangat membuang waktu. Aku tidak mengerti. Mama kenapa pergi tanpa penjelasan padaku? Aku minta mama memberitahuku kemana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *