Teruslah Tersenyum Aa (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 18 August 2017

Dulu, sewaktu di sekolah Aa pernah belajar pencak silat. Hal itu nampaknya masih membekas saat ini, melihat kuda-kuda yang ia pancangkan terkesan mantap. Juga tendangan menyapu yang dilayangkan Aa tadi, nampaknya telah membuat tulang belikat bang Roji remuk.
Komplotan itu mundur teratur sambil memapah bos mereka. Sebagian dari mereka menunjuk-nunjuk Aa Tegar sambil melontarkan ancaman. Ditya menghambur ke pelukan kakaknya dan menangis parau.
Aanya masih hendak memburu preman-preman pencari onar itu. Ditya semakin mendekap erat bahu Aanya. “Cukup A… cukup! Biarin mereka pergi. Ditya gak mau nanti Aa kenapa-napa” Aa Tegar berusaha meredam tangis itu dengan belaian lembutnya. “Sekali-kali mereka harus dikasih pelajaran” gumam Aa tegas.
Orang-orang yang tadi berkerumun kini serentak menatap mereka dan berbisik penuh tanya. Ditya terus memeluk tubuh kurus Aanya sambil sesenggukan menahan tangis.
“Gak apa-apa Ditya, gak akan ada yang bakalan nyakitin kamu selama ada Aa”

Siangnya abah berkunjung ke rumah. Abahnya yang sudah jarang pulang, selalu memantik pertengkaran tiap kali bertemu Aa. Teh Lilis sedang mencuci baju di sumur pinggir kali, sedang Ditya tengah berbelanja sayuran untuk makan malam mereka. Saat ia sudah berada di pintu rumahnya ia dapati keributan tengah terjadi. Dari dalam rumah terdengar suara jeritan parau Aa Tegar yang ditimpali sumpah serapah abahnya.
“Mau sampai kapan abah begini terus? Tegar mohon sama abah. Buka mata hati abah. tinggalin j*di dan minuman keras. Sudah cukup kita kehilangan emak. Apa jadinya kalo nanti Tegar ikut menyusul emak. Gimana nasib Ditya nanti? Tolong fikirin masa depan dia bah!” Ditya dengan jelas mendengar suara yang dibarengi ledakan emosi itu.
“Abah boleh ngelakuin apa aja ke Tegar. Abah boleh maksa Tegar putus sekolah, abah boleh maksa Tegar kerja keras buat ngelunasin hutang abah. Tapi demi Allah, Tegar gak akan rela kalo sampe abah ngelakuin hal yang sama ke adik Tegar” Ditya yang mencuri dengar dari balik tembok triplek rumah kontrakan bobrok itu, tak kuasa menahan buliran air matanya. Tak disangkanya pengorbanan yang dilakukan Aa selama ini adalah untuk dirinya. Sedangkan apa yang telah ia perbuat untuk Aa? Tidak ada, selain dirinya hanya menjadi benalu bagi kakaknya.
“Gua gak peduli kalo lu mati! Lu jangan sok nasehatin gua! Udah kewajiban anak ngebahagiain bapaknya. Apa pantes lu dibilang anak berbakti kalo lu ngebiarin gua, Bapak lu sendiri, mati di tangan Roji dan komplotannya?”
Ditya mendengar abah menampar Aa Tegar. Ia semakin terisak saat mendengar perkataan abah. Jarinya mengepal erat menjumput kaos dekil yang dipakainya. Dalam hati ia berkata ‘Aa Tegar gak boleh mati. Aa Tegar harus selalu sehat, setidaknya sampai Ditya mampu membahagiakan Aa kelak. Ya Allah Ya Rabb, berikanlah selalu kakak tercintaku kesehatan dan umur panjang yang bermanfaat’
“Gara-gara tadi pagi loe belagak sok jago. Gua dihajar sama Roji ampe babak belur. Lu harus ngerasain sendiri akibatnya”. Lagi. Abah menghajar Aa.
Dan ia dengar Aa terisak pelan. Ditya membatin kenapa Aa tidak membalas pukulan Abah?. Ditya melihat abah merampas uang dari dompet Aa dan menendang tubuh Aa saat Aa Tegar berusaha mencegah abah mengambil uang itu.
“Jangan bah, itu buat sekolah Ditya” jerit Aa Tegar parau. Abah tak menghiraukannya dan membanting pintu di belakangnya dengan keras.
Setelah punggung abah tak terlihat lagi, Ditya segera menghambur merengkuh tubuh Aanya yang nampak kesakitan. Ujung bibir Aanya sobek, tubuh kurusnya remuk redam, namun yang membuat ditya sangat cemas bukan luka-luka itu. Melainkan wajah Aanya yang nampak tengah menahan sakit teramat hebat. Mukanya pucat pasi, keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya, bahunya naik turun, bibirnya mengerjap-ngerjap serupa ikan mas koki, jemarinya terus meremas lengan Ditya dengan keras hingga buku-buku jari Ditya memerah padam. Matanya terpejam setengah tidak sadar saat ia berkali-kali mengucap rentetan kalimat tayyibah dengan terbata.

Gelombang rasa sakit itu akhirnya mereda. Dan wajah kakaknya kembali seperti sedia kala. “Ditya?” suara itu lebih seperti sebuah seruan. Dengan lembut jemari kasar Aa menghapus air mata di pipi Ditya yang kini telah menganak sungai. “Kenapa kamu nangis? Jangan sedih Ditya, Aa gak apa-apa” Ditya terus menggenggam erat jemari kurus itu.
Masih dalam linangan air mata ia rebahkan tubuh kakaknya dan menyelimutinya. Aanya lantas terpejam, dadanya naik turun serupa ban yang tengah di pompa. Ditya bingung harus berbuat apa. Perasaan kalut menyergapnya.
“Sakit Aa parah, Aa harus berobat” Ditya berucap parau. Aanya itu menggeleng pelan.
“Aa gak apa-apa Ditya. Aa Cuma kecapean. Sebentar lagi juga sembuh.”
“Gak Aa. Ditya tahu Aa sakit. Aa harus ke dokter. Kalo Aa gak punya uang biarin pake uang tabungan Ditya aja”
Aa tetap menggeleng, kali ini lebih mantap. “Gak Ditya. Gak perlu! Aa gak papa”
Kemudian dengan setengah dipaksakan Aa Tegar bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Ditya. Dari nafasnya yang memburu Ditya tahu kalau Aanya itu tengah menahan sakit teramat sangat.
“Tolong ambilin Aa minum” Ditya segera menyandarkan tubuh kurus Aa ke tembok dan memberinya segelas air.
“Sudahlah Ditya, kamu jangan nangis terus.” Suara itu kini terdengar normal. Ditya menyeka air matanya. Keadaan Aa sudah membaik, fikirnya.
Aa Tegar mengusap pipi Ditya yang bersih sehalus pipi bayi. “Kamu kan sudah besar. Kamu gak boleh cengeng. Kamu harus bisa jaga dirimu sendiri.” Ditya cuma bisa mengangguk. Nasihat itu lagi. Memang harus diakui Ditya, ia memang tak setegar kakaknya.

Siang itu Ditya bersyukur abah tak kembali lagi ke rumah, dan Aa perlahan membaik keadaannya meski panas tubuhnya tak jua reda. Ditya menyuapi Aanya makan dan memberinya obat. Sepanjang hari itu Aa Tegar yang biasanya tidur siang di lapak penjual sayur sambil menunggui dagangannya, kini tergolek lemah dengan selimut tebal dan kompres yang menempel di dahinya. Ditya tak beranjak sedikitpun menunggui Aanya yang terlelap.
Ba’da Ashar ia panjatkan doa kepada Allah Azza wa jalla, meminta kesembuhan kakak tercintanya. Ia menangis ketika keningnya bersimpuh di atas sajadah lusuhnya, ia tak tahu lagi harus mengadu kepada siapa selain kepada zat yang menciptakannya. Yang mengatur semua yang ada di langit dan bumi. Hanya kepadanyalah ia meminta pertolongan.

Rumah itu sempit. Dengan hanya Sepetak ruangan seukuran 50 Meter peresegidimana barang-barang milik penghuni rumah di jejalkan di sisi-sisinya. Tidak ada sekat sama sekali. Dan memang tidak perlu. Saat siang dan sore hari penghuni rumah itu duduk lesehan bersama menyantap nasi hangat ditemani sambel terasi dan lalapan. Sementara di malam hari selembar tikar tipis terhampar di ruangan itu, cukup untuk menemani para penghuni rumah yang tidur berjejalan serupa ikan sarden.

Ditya tidur bersisian dengan Aa Tegar, sedang teh Lilis dan Rahma tidur agak berjauhan. Malam hari saat rimbunan daun bambu bergemerisik pelan dan serangga malam mulai memainkan lagunya, Ditya tengah berada di alam mimpi. Namun tidurnya tidaklah nyenyak. Bayangan Aa yang tengah di hajar abah, Aa memanggul karung-karung kelapa, Aa yang membelanya dari kebrutalan bang Roji, berkelabat dalam mimpinya.

Kemudian bunga-bunga mimpinya melemparnya pada kilasan masa lalu, saat Aa Tegar masih berbalut seragam SMA. Aa Tegar yang dengan langkah riang berjalan menuju gerbang sekolahnya, Aa Tegar yang selalu tersenyum, Aa Tegar yang diidolakan kawan-kawannya. Aa Tegar yang dulu begitu terobsesi dengan pesawat terbang dan bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia dapat membayangkan Aanya itu belajar dengan giat demi menggapai cita-citanya. Cita-cita yang Ditya tahu, tak akan pernah terwujud.

Alam mimpi Ditya menggelap saat mengenang kembali masa-masa kelam dalam kehidupan Aa yang seolah tak berkesudahan. Entah bagaimana prolog tanpa akhir dari cerita suram itu, perlahan telah merenggut semua hal yang dimiliki Aa. Mata beningnya yang serupa mata air surga kini terselubung kabut pekat, tubuhnya yang dulu tegap berisi kini kurus serupa ranting kering, dan senyumnya yang serupa rona pelangi kini hilang tak berbekas. Aanya itu rela menukar apapun yang ia punya dan berkorban tanpa batas, Demi adik tercintanya. Ditya terisak parau dalam mimpinya kala mengenang hal itu. “Aa harus tetap sehat, setidaknya sampai Ditya kelak bisa membahagiakan Aa” batinnya pelan. Meski ia tak tahu dengan cara bagaimana ia dapat membalas kasih sayang dan pengorbanan yang selama ini tercurah untuknya.

Ditya tak tahu sudah sejak kapan jemari kasar itu mengusap dan membelai lembut wajahnya. Mungkin sudah sedari tadi. Ia tak tahu pasti, namun yang ia tahu, saat ia membuka kedua bola matanya di dapatinya Aa Tegar tengah berbaring menghadapnya dan mengusap pelan rambut keritingnya. Dalam keremangan malam dapat ia lihat mata teduh kakaknya itu terus memandanginya dengan tatapan sejuta arti.
Ditya meraih jemari hangat itu dan menciuminya dengan takzim. Ia tatap mata Aanya dengan menahan buliran air mata. “Ditya sayang Aa!!”, “Ditya sayang Aa…”, “Ditya sayang Aa” diulanginya terus kalimat itu hingga ledakan tangisnya mengubah suaranya menjadi lebih parau.
“Aa juga sayang sama Ditya!” Ditya tak menolak saat Aanya itu merengkuh tubuhnya dan mencium keningnya. Ditya terus terisak sementara Aanya tetap seteguh karang.
“Ditya kalau kamu memang sayang sama Aa, kamu harus berjanji satu hal sama Aa…” Ditya mengangguk mengiyakan perkataan Aanya. Janji seberat apapun akan ia pikul, meskipun itu berarti dia harus terseok-seok memikul janji itu.
“Kamu harus janji sama Aa Kamu harus belajar yang rajin. Dan terus mengejar cita-citamu. Kamu harus jadi orang pintar dan berguna. Jangan seperti Aa.” Ditya semakin tenggelam dalam tumpahan air matanya, sementara Aa Tegar menggenggam lengan Ditya erat.
“Kamu harus janji sama Aa, kalo kamu bakal meneruskan pendidikanmu apapun yang terjadi. Ingat Ditya, apapun yang terjadi!. Meski hal itu berarti jika Aa tak lagi berada di sisimu untuk membelamu.”
Ditya mengangguk parau, tangisnya kian hebat. “Ditya janji A.. Ditya akan rajin belajar dan akan terus mengejar cita-cita Ditya yang juga menjadi impian kita sewaktu dulu.” Ditya ingat kejadian masa silam, saat dimana ia dan kakaknya masih bisa tertawa. Mereka saling menggumamkan mimpi-mimpi mereka di atas rindang pohon kamboja. Saat itu Ditya bercita-cita menjadi insinyur yang bisa membuat pesawat terbang seperti pak Habibie. Cita-cita yang terus di gantungkan Ditya setinggi langit hingga saat ini.
Mendengar ikrar itu, wajah Tegar menjadi lebih cerah. Diusapnya punggung adiknya itu yang terus terisak. Ia rengkuh tubuh adiknya dalam pelukannya.
“Jangan takut Ditya, gak ada yang perlu kamu khawatirkan selama ada Aa”
Ditya bergumam pelan. “Ditya sayang Aa! Ditya gak mau ngeliat Aa terus-terusan seperti ini. Ditya pengen ngebahagiain Aa, Ditya pengen ngeliat Aa tersenyum lagi seperti dulu”
Tegar tersenyum pahit mendengar perkataan adiknya. Andaikan Ditya tahu betapa ia sangat menyayangi adiknya melebihi apapun. Kilasan masa lalunya berkelabat saat dulu ia memilih untuk menerima kehidupan pahit yang sampai sekarang terus ia jalani dan mengorbankan semua yang ia punya. Keindahan masa remaja, peluang untuk menggapai cita-cita, serta keceriaan berteman dengan kawan sebayanya demi memastikan Ditya tetap bisa mengenyam pendidikan.

“Ditya, kebahagiaan sejati tak bisa diukur dengan materi. Bahagia bagi Aa bukanlah berarti Aa harus bisa sekolah seperti kamu, bukan pula dengan Aa mempunyai banyak uang dan bisa hidup berkecukupan. Bagi Aa kebahagiaan sejati adalah, dengan melihat adik Aa satu-satunya dapat tersenyum bahagia. Dengan kamu bisa menggapai cita-citamu suatu saat kelak, itu sudah lebih dari cukup buat Aa. Gak ada yang Aa inginkan lagi di dunia ini selain bisa melihatmu jadi orang yang sukses suatu saat nanti.”
Ditya seakan kehilangan seluruh kata-katanya. Jika memang benar begitu, tak ada lagi yang dapat diperbuatnya selain belajar dengan giat untuk menggapai cita-citanya. Semoga hal itu dapat membuat Aa Tegar kembali tersenyum.
“Ditya sayang Aa!” ledakan tangis Ditya tak dapat di bendung lagi, sebuah tangis haru. Aa Tegar menenggelamkan wajah adiknya dalam dadanya yang bidang. Matanya nampak berkaca-kaca, dalam hati ia terus berucap semoga kebersamaan mereka takkan segera berakhir.

Cerpen Karangan: Ali Anfal
Facebook: Ali Anfal

Cerpen Teruslah Tersenyum Aa (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu Baru Untuk Melli

Oleh:
“Pokoknya aku gak mau kalau Papa nikah lagi!!” kata Melli. “Aku juga gak setuju kalau Papa nikah lagi!!” kata Kak Ardi. “Apa Papa udah gak sayang lagi sama Mama?!”

Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Oleh:
“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri. Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini.

Sajadah Buat Emak

Oleh:
“Endraaa, mandi!” Emak memanggilku. Kutinggalkan lapangan. Itulah tempat bermainku dan kawan-kawan. Tidak luas sih, tapi cukuplah bagi kami bermain kejar-kejaran sampai badan dan baju basah kena keringat. Tak ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *