Tetap Bercahaya, Lilinku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 16 August 2017

Hujan yang turun di sore itu membuat Aditya termenung. Sambil menatap alam sekitar yang dibasahi hujan, Adit pun memanggil “ma..ma, pa..pa” dengan suara yang kedengarannya tak tahan rindu. Mendengar suara Adit, kakek yang sedang membereskan baju hasil jahitan langsung berhenti.
Kakek menghampiri Adit yang sedang berdiri di dekat jendela kamar tidur.
“Dit, jangan sedih. Perceraian mama dan bapakmu 17 tahun yang lalu tak boleh ditangisi terus. Percayalah kita pasti mampu menghadapi keadaan ini.” kata kakek sambil mendekat dan memeluk Adit.
“iya kek” kata Adit.

Sang kakek yang tidak mau melihat Adit sedih langsung melepaskan pelukannya dan berkata “Dit, sudah kakek siapkan ikan goreng, sambal dan nasi hangat untukmu. Ayo makanlah”.
“Makasih kek, maaf Adit tidak membantu kakek masak hari ini” jawab Adit dengan perasaan bersalah.
“Tak usah memikirkan yang lain. Yang harus dipikirkan adalah persiapan untuk Ujian Nasional besok. Malam ini kakek tidak menjahit. Lilin kita tinggal sebatang. Kamu gunakan untuk belajar dan persiapan UN besok.” kata kakek.
Di desa tempat tinggal Adit dan kakeknya belum tersedia listrik. Warga desa tersebut menggunakan lilin sebagai penerang pada malam hari. Lilin yang dibeli pun harus dibeli di kota yang perjalanannya dengan truk desa membutuhkan waktu 5 jam.

Adit melangkahkan kaki menuju ke dapur untuk menyantap makanan yang telah disiapkan kakeknya. Setelah makan Adit menghampiri kakek yang sedang menyalakan lilin untuk dipakai belajar oleh Adit.
Adit bertanya “kek, bolehkah lulus SMA nanti Adit menggantikan kakek bekerja? Adit tidak ingin kakek terus bekerja untuk menghidupi Adit. Kakek sudah tua, bukan waktunya kakek untuk bekerja” dengan meyakinkan ke kakeknya.
Seketika suasana hening. Yang terdengar hanyalah bunyi nafas kakek.
Dalam terangnya sinar lilin di depan mata kakek, terlihat setitik air yang turun dari mata kakek dan mengalir di wajahnya.
Tanpa berkata-kata, Adit mengambil lilin dari sang kakek dan meletakkan di meja yang sudah tersedia buku-buku untuk dipelajarinya.
Kakek duduk di kursi andalannya yaitu kursi tempat Ia biasa menjahit yang hanya berbatas meja dengan kursi yang dipakai Adit untuk belajar.

Beberapa menit kemudian, Adit yang dalam keseriusan belajar, berhenti belajar dan melanjutkan pertanyaan.
“kek, bagaimana dengan pertanyaan Adit tadi? Kakek setuju kan?”
Kakek tak langsung menjawab.
Adit melanjutkan, “kek, dari Adit kecil sampai sudah 17 tahun ini kakek yang bersusah payah setiap minggu ke kota untuk membeli lilin. Kakek menjahit untuk mencari penghasilan demi kehidupan kita setiap hari. Sudah saatnya kita gantian kek, biar Adit yang setiap minggu ke kota untuk membeli lilin. Selama ini kakek tidak pernah memperbolehkan Adit untuk bekerja. Tugas Adit hanyalah belajar setiap hari”.
Adit tak kuasa menahan air mata dan langsung berlari menuju pintu ruang tamu yang masih terbuka.
“Dit kalau kamu mau menggantikan kakek, untuk apa kakek ke kota setiap minggu untuk membeli lilin yang dipakai belajar setiap malam?, untuk apa kakek menyuruhmu belajar setiap hari?, untuk apa kamu peroleh peringkat Pertama setiap semester? Kamu harus kuliah Dit, harus jadi orang yang bekerja di kantor. Buat papa dan mamamu bangga. Kakek tidak meminta hal yang lain, kakek hanya minta kamu sukses”
Adit berlari ke kursi tempat jahitnya kakek dan memeluk erat kakeknya sambil berkata “makasih kakekku sayang” Adit dan kakek saling berpelukan.

3 hari berlalu UN selesai. Sebulan setelah itu hasil UN diterima. Adit mendapat peringkat 1 di UN. Akhirnya Adit mendapat beasiswa dari sekolah kelistrikan (PLN) dan Adit harus pindah ke kota. 1 hari sebelum keberangkatan Adit ke kota, kakek berpesan “Dit, sekolah yang benar ya cucuku. Jadi orang berguna di sana. Kakek akan selalu mendoakanmu”.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Rasa rindu Adit kepada kakek tetaplah di tahan karena selama perkuliahan mahasiswa tidak diijinkan pulang dengan alasan tidak penting.
Masa perkuliahan pun dilewati Adit dengan baik selama 2 tahun. 1 bulan sebelum lulus, sekolah kelistrikan melakukan pengadaan listrik ke tempat-tempat terpencil. Dan desa yang mana Adit berasal merupakan salah satu desa yang dilakukan pengadaan.

Pagi itu dalam perjalanan, rasanya Adit ingin cepat sampai ke tempat tinggalnya untuk segra bertemu dan memeluk erat kakeknya yang Ia tinggalkan 2 tahun.
Sesampainya di desa, tim sekolah kelistrikan dapat melakukan pengadaan listrik dengan baik.
Masih tersisa beberapa menit sebelum waktunya untuk berangkat kembali ke kota. Kesempatan inilah yang yang digunakan Adit untuk ke tempat tinggalnya. Namun sesampainya di rumah, Ia tidak bertemu dengan sang kakek. Akhirnya Adit menulis surat untuk sang kakek.

“Yang tersayang kakek
Halo kek… Adit rindu sama kakek. Kakek sehat kan? Jangan pernah kakek khawatir sama Adit. Adit selalu sehat kek. Kakek pasti ke kota untuk membeli lilin kan? Adit kangen dan ingin bertemu. Tapi keadaan rumah yang masih sama seperti dulu sudah menjawab rasa rindunya Adit. Oya kek, Sesampainya di rumah tekan tombol listrik di dinding dekat pintu depan ya kek. Namun ini mungkin tidak penting untuk kakek. Bulan depan Adit wisuda kek, nanti kakek dijemput petugas dari sekolah Adit. Salam sayang dan rindu, cucumu Adit ”

Waktu menunjukan pukul 19.00 WIB tibalah Adit dan tim dari sekolah kelistrikan di kota. Di jam yang sama, tibalah juga kakek di desa.
Kakek kaget melihat surat di atas meja. Di bukalah surat tersebut.
“terima kasih Tuhan” sambil menangis.

Hari yang ditunggu oleh kakek dan Adit telah tiba. Kakek tiba di tempat wisuda 30 menit sebelum dimulainya acara tersebut.
Acara wisuda pun dimulai.
“Lulusan terbaik angkatan ke 10 ini adalah Aditya Yuliando. Aditya Yuliando silahkan naik ke panggung”. Kata Pak Joko, pimpinan sekolah kelistrikan
Tepukan tangan terdengar dari seluruh penjuru di ruangan tersebut sambil Adit berjalan menuju ke panggung.
“Adit, silahkan berbicaralah”. kata pak Joko sambil memberikan mic kepada Adit.
“Saya menyadari ini hanya anugerah Tuhan. Pada hari ini saya resmi menjadi seorang tenaga kelistrikan. Juga saya ingin mengatakan bahwa saya memiliki penerang yang cahayanya selalu menyinari dan ada di dalam hati saya. Cahaya yang tidak pernah redup”. air mata Adit membasahi wajahnya
“LILIN… Lilin terus memberi cahaya, terus menyala menyinari kegelapan. Tanpa ia peduli pada dirinya. Walaupun terkikis tubuhnya, ia tetap memberi cahaya yang sempurna. Lilin bukan hanya sebuah benda tetapi ada lilin yang tidak pernah redup yaitu kakek tersayang.”
Air mata mengalir membasahi wajah kakeknya dan hadirin ikut menangis

“Walaupun listrik di desa sudah ada kek, tapi kakek harus tau kalo cahaya kakeklah yang lebih terang.
Kakek, tolong jangan pernah lelah menjadi lilin yang cahayanya selalu ada di dalam hatiku”. suara Adit tersendat-sendat. Adit turun dari panggung dan berlari memeluk erat kakeknya.
Dalam kehangat pelukan, kakek berkata “terima kasih cucuku”

Sejak saat itu Adit bekerja sebagai pimpinan di PLN desa, tempat ia dibesarkan itu. Bersama kakek menjalani kehidupan yang baru.
Adit tidak pernah mendapat kasih sayang dari orangtua kandung. Adit mendapat kasih sayang dari seorang kakek. Kakek yang sudah Adit anggap sebagai orangtua. Entah kasih sayang kakek ke Adit seperti kasih sayang yang biasa diberikan orangtua atau tidak, namun bagi Adit kasih sayang kakek terbaik. Kakek adalah orangtua bagi Adit yang posisinya tidak bisa digantikan oleh siapaun
Kakek tidak pernah lelah memperjuangkan masa depan Adit. Kini saatnya Adit memperjuangkan kebahagiaan kakek dan menjadi lilin yang selalu bercahaya

SEKIAN

Cerpen Karangan: Yohana Magdalena Kaimat
Facebook: Yohana Magdalena

Cerpen Tetap Bercahaya, Lilinku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menghadapi Segala Cobaan

Oleh:
Hal yang menyedihkan terjadi pada akhir tahun 2010, tepatnya ketika aku duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama. Di mana semua hal indah yang ku miliki hilang perlahan. Seperti

Perjalanan Hidup Ami

Oleh:
Hi, namaku Ami. Aku seorang PRT, janda beranak satu. Ziandra nama anakku. Pendidikanku yang rendah membuatku harus pasrah membesarkan anakku sendirian sambil mengais rezeki demi membesarkan si kecil. Asalkan

Amazing Grace

Oleh:
Kuhentikan langkahku persis di depan pintu ruang musik. Terlihat di dalam sana, ada seorang gadis sedang menarikan jari-jemarinya di atas tuts-tuts piano putih. Ya, dialah Isabella Kira Gotzoen, yang

Penyesalan Nara (Part 2)

Oleh:
Sudah hampir seminggu anaknya Rayan, Danar dan bibinya menginap di rumahku karena Rayan harus tugas keluar pulau selama dua minggu. Aku sebenarnya yang menawarkan diri untuk menjaga mereka, kasihan

Lelaki Kembang Api

Oleh:
“Sudah siap, Ra?” ucap seseorang yang akan membawaku pergi ke suatu tempat yang sudah lama menjadi kota impianku. Aku terkesiap, tersadar dari lamunan yang entah bagaimana harus kuceritakan. “Kara,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *