Thank You Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 July 2016

“bangun.. bangun. Apa kamu gak sekolah?” teriak ayah dari luar kamarku.
Aku menguap sambil mengucek mata “iya yah, aku udah bangun” sahutku.

Oh iya kenalin aku Nurmala Dwi Ningtiyas. Biasa dipanggil Nurma. Hampir setiap pagi teriak ayah menggema di rumah untuk membangunkan putri kecilnya. Siapa lagi kalau bukan aku. Aku hanya tinggal dengan Ayah karena Ibu sudah lama meninggal saat aku berumur 3 tahun. Aku memang rada susah kalau disuruh bangun pagi, padahal aku cewek loh hehehe. Alhamdulillah ayah sangat baik kepadaku, dia juga sekaligus ibu bagiku. Walaupun ayah juga sering marah-marah tapi aku tahu kalau ayah sangat sayang kepadaku. Dia mendidikku dengan caranya sendiri.

“Nurma berangkat sekolah dulu yah” ucapku sambil mencium tangan ayah.
“gak sarapan dulu?” kata ayah.
“nggak yah udah telat nih, dahhh” sahutku sambil berlari ke garasi.

Dengan motor vespa bututku aku menyusuri jalanan perdesaan yang masih asri. Akhinrya aku nyampai juga di sekolahku tercinta SMK Nahdlatul Ulama Sugio, saat ini aku udah kelas 12 dan sebentar lagi aku akan UN. Aku parkir rapi motorku dan berjalan ke kelasku 12 IPA 2.

Guru keluar diikuti oleh para siswa-sisiwi. Yaa istirahat tiba. Perutku udah keroncongan hehe.
“Len, temenin aku makan yuk” ajakku pada sahabatku Leni.
“Tadi pagi emang gak sarapan Nur?” Tanya Leni.
“Hehe nggak. Yuk buruan” Paksaku.
“Kalau nggak aku antar juga kamu tetep maksa kan” ucapnya
“hehehe” cengengesanku.
Aku tarik dia menuju kantin. Kantin penuh sekali tapi untung kami masih mendapatkan tempat walaupun di pojokan.
Aku memesan makanan favoritku. Siapa yang tau? Yapz bakso.
Aku memesan dua mangkuk bakso dan langsung aku lahap saat bakso itu datang. Leni hanya geleng-geleng kepala aja karena dia sudah tau kebiasaanku saat aku kelaparan hehe. Kalau Leni mah udah pasti pesen jus alpuket buket buket hehe *maap yak*. Perlu anda ketahui bahwa bakso semangkuk itu Cuma Rp. 2000 saja. Murah ya? Yaiyalah desa keles. Hehe *plakkk malah promosi hehe*

KBM berlanjut hingga bel pulang terdengar.
Sebelum pulang ibu guru menyampaikan agar kami belajar yang rajin untuk menghadapi UN yang sudah di depan mata.
“Cepetan Nurma, lelet amat kayak siput” ucap Leni.
“Enak aja” sambil noyor kepala Leni.
“Udah nih, yuk pulang.” Ucapku.
“Yuk. Aku jadi nebeng ya.” Ucap Leni sambil memanis-maniskan wajahnya.
“iyeee jangan sok manis deh tambah sepet dilihatnya hehehe” ucapku sambil berjalan lebih cepat.
Sambil memanyunkan bibirnya “eh tungguin” ucap Leni

Kubonceng Leni dengan kecepatan sedang. Kami bercerita ngalor ngidul dan sesekali tertawa. Menertawakan masa-masa dulu saat kami kelas 10. Masa yang sangat lucu dan tak terasa kami sudah akan lulus.
Kami sudah sampai di rumah Leni.
“gak mau masuk dulu Nur” ajaknya.
“nggak deh, lain kali aja ya makasih tawarannya’ ucapku.
“bye Len” sambungku sambil meninggalkan rumah Leni.
Kubuka pintu rumah sambil kuucapkan salam.
Seperti biasa ayah belum pulang karena ini baru jam 2 siang. Ayah masih jaga toko kami.
Aku masuk kamar untuk ganti baju. Kurapikan rumah dan kusapu karena aku tak ingin ayah pulang dan rumah masih berantakan. Aku kembali ke kamar dan belajar untuk UN senin nanti.

Tak terasa ini sudah jam 5 sore dan aku ketiduran setelah belajar tadi. Aku ke luar kamar dan melihat ayah sedang menonton tv. Ku hampiri ayah.
“ayah jam berapa pulang? Kok gak bangunin Nurma?” tanyaku.
“barusan ayah pulang nak” sambil mengelus rambutku.
“kamu mau ujian nak, belajar yang rajin ya.” Ucap ayah.
“pasti yah, Nurma kan mau bikin ayah bangga.” Ucapku.
Ayah tersenyum tulus kepadaku.

Aku mempelajari kisi-kisi yag diberikan guru-guru. Mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Hingga hari UN pun tiba.
Sebelum aku berangkat sekolah aku meminta doa kepada ayah agar diberi kelancaran. Dan tak lupa kepada Allah SWT.
Kami melewati 4 hari yang mendebarkan dengan lancar. Alhamdulillah. Dan kami tinggal menunggu pengumuman kelulusan. “Semoga aku lulus” harapku.
Setalah UN kami bebas mau masuk sekolah atau tidak. Aku memutuskan selama menunggu pengumuman kelulusan aku membantu ayah di toko.

Tiba saatnya pengumuman, jantungku berdetak lebih cepat, keringat dingin keluar. Aku begitu harap-harap cemas dan dalam hati aku berdoa agar aku lulus. Ayah duduk di sampingku. Dan saat namaku dipanggil Nurma Dwi Ningtiyas. Aku membaca bismillah dan menaiki panggung untuk menerima amplop. Aku turun dari panggung dan kembali duduk di samping ayah. Kubuka amplop secara perlahan dan disana tertulis dengan jelas bahwa aku “tidak lulus” tangisku pecah dan ayah ikut menangis. Ya Allah aku tidak lulus. Aku kecewa sekali.
Aku masih tersedu-sedu padahal aku sudah belajar dengan giat namun ternyata aku harus megulang setahun lagi. Pak guru membacakan nilai siswa-siswi yang tertinngi dari nomor urut 3 sampai 1. Aku hanya diam membisu saat guru membacakan siswa-siswa yang berprestasi tersebut. Dan saat namaku disebut pun aku masih diam dalam lamunan. Aku tersentak saat guru memanggilku kedua kalinya untuk menaiki panggung dan mengatakan bahwa aku lulus dengan nilai terbaik. Aku sangat bahagia dan memeluk ayah. Aku tak menyangka bahwa aku dikerjai oleh siswa-siswa termasuk guru-guru. Aku sangat terharu hingga air mataku membanjiri pipiku.

Aku dan ayah pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Kami merayakan dengan makan malam bersama. Ya Allah terima kasih engkau mengabulkan doaku. Thank You Ayah. Tanpamu aku takkan bisa seperti ini.

Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik

Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku tlah jauh darimu

SELESAI

Cerpen Karangan: Nilawati
Facebook: Nillawati Nilla
Nama saya Nilawati saya sekarang kelas 11 di SMK NU Sugio, saya hobby menulis dan mendengarkan musik.

Cerpen Thank You Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lebaran Terakhir

Oleh:
Bulan ramadhan akan segera menghilang dan berganti dengan lebaran. Aku tak tau apa yang bisa aku berikan untuk orang yang paling aku sayang seumur hidupku. Yaitu ayah. Ya, ayahlah

Sial Membawa Untung

Oleh:
“Ok class hari ini kuliah kita cukup sampai disini dulu, jangan lupa kerjakan tugas kalian dan kumpulkan di meja saya besok jam 9 tepat, selamat siang” “Siang paak..” ucap

Sepupuku Idolaku

Oleh:
“Suci.. Suci..” Suara itu terdengar keras di telingaku. Dengan kesal aku membuka mataku dan menemukan Ibuku sedang menatapku. “Apa sudah pagi?” Tanyaku pada Ibu. “Ini masih sore, masih pukul

Everything About You

Oleh:
Dear diary “perlahan aku menjadi jatuh saat melihatnya, wajahnya mengalihkan duniaku, sehari aku tak melihat wajahnya serasa hatiku tak tenang. Okey cukup sampai sini puitisku.” Namanya Diara, gadis berumur

Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
“Pergi jauh-jauh dari hidup gua!” jerit Chela. “Chela, gua itu gak pacaran lagi sama cewek laen kecuali lu!” “Udah, Rizky, gua udah tau Semuanya tentang lu! Lu cari cewek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Thank You Ayah”

  1. kamila ahmad says:

    Sugio itu daerah mana ya? Aku taunya sugio lamongan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *