Thank You, God

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 March 2016

Hati Mono amat terpukul, saat mengetahui bahwa istrinya yang sedang hamil tua tidak bisa melahirkan secara normal, satu-satunya jalan adalah tindakan operasi sesar. Tapi dari manakah ia mendapatkan uang biaya operasi istrinya. Yang membuat Mono semakin merasa tak enak, setiap ia butuh sesuatu, ia selalu meminta pada orangtuanya. Karena kepada siapa lagi ia akan meminta bantuan. Mana ada yang sudi memberi pinjaman pada orang yang tidak punya penghasilan seperti dia, bahkan biaya untuk makan saja istrinya yang menanggung.

“Apa lagi? kau ke sini mau meminta uang kan?” Rasty menatap Mono dengan sinis. “Kau tahu, Ibu juga sedang kesulitan sekarang!” kata Rasty menambahkan. Rasty, adik Mono itu seolah tak mau memberi ruang sedikit pun bagi Mono untuk memberi penjelasan. “Pergilah sana! Pergi!!” mata Rasty melotot memandang Mono.
“Ada apa ini ribut-ribut?” Nampaklah seorang wanita paruh baya hendak melerai pertengkaran itu. Wanita itulah Ibu mereka. Ibu yang bagi Mono sudah seperti malaikat yang selalu membelanya. “Ibu!!” Mono berseru lalu menghampiri Ibunya, lalu mencium tangannya. “Mono, ada apakah?” kata Ibunya lembut.
“Huh, dibela lagi lah tuh.” sahut Rasty kesal. Lalu berjalan meninggalkan Ibu dan kakaknya.

Sebetulnya ia sangat geram melihat Mono, yang hanya datang bila sedang didera kesulitan saja. Dan pada ibunya, betapa ia ingin menegaskan bahwa Mono adalah anak yang tak tahu diri. Tak perlu dipedulikan lagi. Dalam hati, Rasty menyalahkan Mono. Mengapa dia terlalu cepat menikah, padahal mengurus dirinya sendiri saja tak becus. Harusnya Mono menanggung semuanya sendiri, tanpa perlu campur tangan orangtuanya. Entah apa yang membuat Ibunya begitu menyayangi Mono. Rasty tak mengerti. Dan ia tak mau lagi dibuat pusing karena tingkah laku Mono.

Setelah Rasty pergi, Mono segera bercerita panjang lebar mengenai istrinya. Ibunya cukup terkejut, karena biaya operasi sesar itu sangat mahal. “Apakah kamu tak pernah mencoba mencari pekerjaan, Mono?” sang Ibu berkata, seolah sudah lelah dengan segala permasalahan yang ada pada Mono. Mendengar apa yang diucapkan Ibunya itu, Mono menjadi malu akan dirinya. “Maafkan aku, Ibu..”

“Baiklah, kali ini Ibu akan membantumu, tapi besok tidak lagi, kau harus mampu membiayai seluruh keperluanmu dan keluargamu. Kau sudah dewasa Mono. Terimalah pekerjaan apa pun, tak peduli berapa bayarannya, yang penting halal dan kau bisa mandiri. Yakinlah, kelak kamu akan mendapatkan yang terbaik.” Kata ibunya bijak. Mono terdiam beberapa saat. Kini pikirannya sedikit terbuka. Yang dikatakan Ibunya adalah benar. “Baik, Ibu. Terima kasih atas nasihatmu. Aku berjanji tidak akan bergantung pada orangtuaku lagi.” Mono tersenyum.

Setelah mendapat uang dari Ibunya, segeralah dia pergi ke rumah sakit menemui istrinya. Operasi pun dilangsungkan. Mono bersyukur pada yang maha Kuasa. Pikirannya tak lagi terbelenggu. Ia menepati janjinya. Bekerja. Kini ia tak lagi merepotkan Ibunya. Dan ia bersyukur atas apa yang didapatkannya. Terima kasih Tuhan, telah membuka pikiran Mono.

Cerpen Karangan: Sumarni

Cerpen Thank You, God merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pagi Kuning Keemasan

Oleh:
“Badrol! Yok cari karang!” Seru Kentang pada sohib akrabnya yang kini tengah menengadahkan kepalanya mengarah ke mercusuar. Melihat kawannya tak merespon, Kentang-pun setengah berteriak, “Woy! Lihat apa pula kau?”

Kesedihanku

Oleh:
21 tahun yang lalu Inikah nasib? terlahir tanpa seorang ayah, ayah yang keberadaannya entah dimana. Dia meninggalkan ibuku di saat aku masih dalam kandungan ibuku. Tapi aku tetap bangga

Tuhan Kenapa Kau Berikanku Sedikit Waktu

Oleh:
Di sebuah Desa terdapat sebuah keluarga yang hidup miskin. Karena sedikitnya gaji yang diterima sang suami, Mereka selalu berhutang dan telat membayar pajak maupun Kos-kosan. Suatu hari karena mereka

Kado di Hari Ibu

Oleh:
Di siang yang panas, aku mengendarai sepedaku dengan cepat. Aku ingin segera sampai ke rumah karena perutku ini sudah tak tahan untuk diisi. Sesampainya di rumah, aku langsung memarkirkan

My Beloved Brother

Oleh:
Aku terlahir di dusun pegunungan yang jauh dari Kota. Hawa di sini begitu dingin, jika hari berganti malam rasa dingin itu seperti menusuk tulang kecilku. Aku memiliki seorang Adik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *