The Father

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 October 2013

“kak… pesan beliau, ia ingin kau yang memandikannya!” suara lirih dengan isak tangis berdenging-denging di telinga Daffa, sesekali dalam lamunannya ia tampak kesal, marah, jengkel, dan ia pun mengacak-acak rambutnya yang tersisir rapi. Sesekali muncul bayangan ayahnya sedang berdiri sambil tersenyum namun matanya berkaca-kaca menatap diri daffa yang sedang gusar. Lalu datang seorang pria berbadan tinggi dan kemudian menepuk pundaknya

“bila kau tak mau, biarlah aku yang melakukannya” sambil merendahkan tubuhnya yang tinggi
“zal, aku bukan tak mau!” terdengar seperti berbisik padahal Daffa berusaha teriak dengan suaranya yang serak nyaris tak terdengar “hanya saja aku belum siap melakukannya… selama ini aku terlalu membencinya, di hidupku hanya dia yang menjadi musuhku dan ia tahu aku sangat benci padanya, lalu mengapa ia meminta aku yang melakukan tugas ini?”
“itu berarti selama ini ia sangat menyayangimu, mas…” Tegas rizal sambil tersenyum “ayah memang orangnya kurang pandai mengekspresikan kelembutan hatinya, maklumlah darah militer” candanya membuat Daffa merendahkan volume emosinya yang dari tadi bergejolak semrawutan

Cerpen The Father

Enam tahun sebelumnya…
Daffa bersama Ana duduk berdekatan di sebuah sofa panjang yang diperuntukkan untuk diduduki tiga orang, sementara ayahnya duduk di sofa yang ada di sebelah kanan mereka
“jadi apa keputusanmu?” Tanya Ayahnya lantang
“sesuai adat, yah!” jawab Daffa “kita harus mengadakan acara di tempat wanita, lagipula Ana adalah anak wanita satu-satunya, dan orang tua Ana ingin acaranya diadakan di rumah mereka”
“kalau ayahmu ini setuju saja, namun masalahnya ibumu yang kepingin acaranya diadakan di rumah kita, dan kau telah dengar sendiri darinya, bila keinginan ibumu tak bisa kau penuhi maka jangan berkecil hati bila ia tak bisa menghadiri pernikahanmu. Dan bila ibumu tak hadir sudah pasti ayah pun tak bisa mendampingimu di pelaminan!” lembut namun terdengar seperti petir di telinga Daffa “itu pilihanmu, fa… ayah hanya mengikutinya saja”

Walau kesal namun Daffa tak dapat berkata apa-apa, dengan perasaan sedih ia menatap wajah Ana yang sepertinya kecewa mendengar ucapan ayah Daffa, lalu Ana pun mencoba bicara

“kalau ibu tak mau, biarlah ayah saja yang hadir…” Rayu Ana dengan senyum kecilnya. Namun ayah Daffa menjawabnya dengan menggelengkan kepala
“Ana tidak mengerti dengan keadaan ayah, bila ibu tidak hadir tentu akan jadi pertanyaan banyak orang, dan sudah pasti orang akan salah paham menilai keluarga kita!” terang ayah Daffa “untuk kesekian kalinya ayah akan mengalah seperti biasanya, masih ada mamakmu, biarlah mamakmu yang menyertai kalian, ini sudah takdir kalian” ayah Daffa mengakhiri kalimatnya, lalu ia mengambil sebatang rok*k dari bungkusnya dan kemudian menyalakannya. Ia pun menghembuskan asap yang dihisapnya dengan panjang seperti kepulan asap kereta api, seolah ia memberitahukan betapa penatnya pikiran yang ia miliki.

Mendengar jawaban sang calon mertuanya, mata Ana berkaca-kaca namun ia memaksa bibirnya yang terlihat mungil itu tetap tersenyum manis. Hati Daffa berbaur antara kesal dan sedih, iapun tertunduk lemas dan tertawa kecil menyeringai kuda

“Mengapa kami harus ditakdirkan seperti ini, yah? Mengapa ayah tak bisa memberikan hak kami padahal itu adalah kewajiban ayah! selama ini aku tak pernah mengeluhkan tentang hakku padamu yah… Namun kali ini aku minta padamu, yah… Tunaikanlah apa yang telah menjadi kewajibanmu!” dengan nada keras Daffa memelas
“kau harus memaklumi keadaan ayah nak! Ayah tidak ingin melakukan kesalahan terhadap rumah tangga ayah untuk kedua kalinya. Apa kau mau melihat rumah tangga ayah hancur setelah selesai acara pernikahanmu?” jawab ayahnya dengan suaranya yang sedikit lebih tinggi.
“sebesar itukah ancaman ibu terhadap ayah?!” Daffa dengan hati kesalnya
“jika kau ingin ayah bersamamu di acara pernikahanmu nanti, maka turutilah apa permintaan ibumu, jika kau tak bisa membujuk keluarga Ana, maka jangan sekali-kali kau menyalahkan ayah” tegas Ayahnya sambil tangan kanannya yang memegang rokok menunjuk wajah Daffa. Ana yang semula matanya hanya berkaca-kaca akhirnya tak mampu membendung tangisnya yang sedari tadi ia tahan, ia pun mencubit kecil lengan Daffa lalu ia pun berucap tanpa suara “cukup, ayo kita pulang!”
Daffa menghela nafas panjang “hahmmm… Skak mat lagi! Seperti biasanya aku harus menyalahkan diriku sendiri dari kekalahanku, tanpa bisa menyalahkan ayah kalau sebenarnya ayah lah yang selalu tak pernah ingin kalah dariku”
“nasibmu adalah hasil dari pilihanmu!”
“ya benar, yah…!” Daffa berdiri lalu berpamitan keayahnya dengan menempelkan keningnya di tangan ayahnya sambil menyambung ucapannya “ nasibku terjebak dari pilihan yang telah direkayasa ibu, kami memang tak pernah diberi kesempatan untuk memiliki diri ayah” lalu disusul Ana berpamitan “kami pulang dulu yah”
“ayah merestui kalian, maaf kalau ayah telah berbuat kesalahan terhadap kalian” Ayah Daffa mengakhiri dengan tetap tersenyum…

Daffa merasa hari itu seolah baru kemarin terjadi, dan ia tak menyangka kalau hari itu adalah hari terakhir bertemu dengan Ayahnya tersebut. Bahkan beliau belum sempat bertemu dengan anak dari Daffa yang merupakan cucu yang belum dia temui dan ingin ia temui.

“Entah bagaimana kau bisa memaafkan kesalahan ayah selama ini terhadap kita zal?” ucap Daffa di atas pusara ayahnya yang tanahnya masih harum bertabur dengan kembang “dibanding rasa cintaku terhadapnya mungkin rasa kesalku lebih besar terhadapnya?”
Rizal tersenyum “coba kau tanya Tuhan, mengapa Dia hanya membuat doa ampunan untuk kedua orang tua dan tidak membuat doa ampunan untuk anak?” spontan hati Daffa yang masih menyala seperti bara api itu seolah diguyur hujan lebat, dalam fikirannya ia dengan begitu cepat membenarkan adanya doa ampunan untuk kedua orang tua, dan fikirannya menjadi sibuk mencari dimana tersimpan doa ampunan untuk anak “Bila Tuhan saja berkenan mengampuni segala kesalahannya, mengapa kita berat mengikhlaskan kesalahannya” Rizal pun meninggalkan Daffa yang masih mengusap-usap pusara ayahnya
“ayah, maafkan kesalahanku selama ini” airmata Daffapun menghujani tanah pusara Ayahnya yang masih wangi semerbak bunga melati. Ana kemudian mengusap-usap pundak suaminya
“sabar, yah… Sabar..!” bujuk Ana, namun hal itu tak meredakan kesedihan Daffa, lalu anaknya menarik lengan baju Daffa
“Ayah kenapa nangis?” tanya anaknya lugu “siapa yang dikubur ini?”
Daffa pun menoleh kewajah anaknya “dia kakekmu juga, bapaknya ayah…” Sambil mengusap sisa airmata yang mengalir di pipinya “namanya sama denganmu”
“sidik juga ya, yah…?“ lanjut anaknya, Daffa pun mengangguk tersenyum.

Cerpen Karangan: Muhammad Ali Sidik Maulana
Blog: sidik57.blogspot.com
Facebook: Sidik Sama Akatsuki

Cerpen The Father merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan Kosong :(

Oleh:
Alina Nur Meilani anak pertama dari 2 bersaudara ini selalu mendapatkan nasib jelek dalam hal PACARAN. Tetapi sekarang saat alin merasa hidupnya sangat hampa ,seorang lelaki bernama Reza Arveadi

Inikah Arti Semuanya?

Oleh:
Aku kembali melihat album foto berdebu yang di sana terdapat foto kami. Andai semua tak terjadi begitu cepat. Pasti sekarang kita masih berkumpul bersama. Andai kau masih ada di

Sampai Sirna

Oleh:
Siapa yang menyangka kalau pagi ini adalah pagi yang terasa baru bagi Kristin. Rumah sebelah yang semula kosong sekarang sudah ada yang menempati. Rasa penasaran mendorong tubuh kecil Kristin

Aku Rindu

Oleh:
Debu-debu berserakan, seakan menjadi penghias di kampung sudut kota. Menuangkan diri ke suasana desa yang cukup ramah dan penuh kesunyian. Entah apa yang para penduduk itu lakukan, mungkin sebuah

Ketika Hancur Hati Ibu

Oleh:
Banyak orang bilang surga itu di telapak kaki Ibu. Ya benar, aku pun mengakuinya, karena Ibu adalah orang yang paling berharga dalam hidup ku. Aku Fara, dan aku mempunyai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *